Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah di Atas Darah
Kapal melaju tak kenal ampun, membelah ombak liar yang menderu sementara bayangan Pelabuhan Teluk Utara perlahan menghilang, berubah menjadi siluet kelam yang dilahap kobaran api. Di kejauhan, kilau lampu sirene FBA memudar seperti bintang yang nyaris padam. Namun, di dalam kabin kapal, suasana justru membara, bukan oleh api, melainkan ketegangan yang menyesakkan. Aara masih terperangkap, tubuhnya terjepit erat antara dinding baja dingin dan sosok Kenzo yang menjulang dengan aura penuh tekanan. Napas mereka saling berkejaran, menyatu dengan bau asin laut dan sisa aroma mesiu yang tebal mengendap di seragam mereka. Kenzo akhirnya mengendurkan cengkramannya, namun langkahnya tak bergeser sedikit pun. Matanya yang tajam tetap menelusuri wajah Aara—menyimpan lautan emosi yang bercampur aduk. Ada amarah yang tak terbendung, kecurigaan yang mengintai, tetapi di balik itu terselip sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, dan lebih sulit ditutupi—semburat hasrat yang entah kenapa tak mampu ia rundung sepenuhnya.
"Kau berani sekali menendang Marco di depan mataku, Agen," bisik Kenzo. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh deru mesin kapal.
Aara memperbaiki tatanan rambutnya yang berantakan dengan gerakan yang kembali centil, mencoba menguasai keadaan. "Dia menyentuh kakiku dengan tangannya yang kotor. Kau sendiri yang bilang, Kenzo... aku adalah 'propertimu'. Aku tidak suka propertimu dikotori oleh pengkhianat seperti dia."
Kenzo menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak sangat berbahaya di bawah lampu kabin yang berkedip-kedip. "Kau pandai bicara. Tapi malam ini, FBA datang terlalu cepat. Jika bukan karena aku yang mengatur skenarionya, kita berdua mungkin sudah membusuk di sel bawah tanah sekarang."
### **Pelarian ke Pulau Terpencil**
Kapal itu tidak kembali ke kediaman Kenzo di pinggir kota. Kenzo tahu tempat itu sudah tidak aman lagi setelah penggerebekan di dermaga. Mereka menuju ke sebuah pulau pribadi kecil di tengah laut—sebuah tempat persembunyian yang tidak tercatat di peta mana pun.
Begitu kapal merapat di dermaga kayu yang sunyi, Kenzo menarik tangan Aara. "Turun. Ini adalah satu-satunya tempat di dunia di mana FBA tidak bisa menjangkaumu... dan di mana aku bisa mengawasimu 24 jam penuh tanpa gangguan."
Aara melangkah turun, kakinya sedikit gemetar karena kelelahan. Di depannya berdiri sebuah villa modern yang terbuat dari kaca dan batu alam, berdiri angkuh di atas tebing laut. Tempat itu indah, namun bagi Aara, itu hanyalah sangkar emas lain yang lebih terisolasi.
Malam itu, di balkon villa yang menghadap langsung ke laut lepas, Kenzo berdiri sambil menatap cakrawala. Ia telah mengganti kemejanya yang berdarah dengan jubah mandi hitam yang longgar. Di tangannya terdapat dua gelas kristal berisi cairan amber.
Aara mendekat, kali ini ia tidak mengenakan gaun merahnya. Ia hanya mengenakan kemeja putih milik Kenzo yang terlalu besar untuk tubuhnya, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus. Ia kembali ke karakternya—wanita manis yang menggoda.
"Minuman untukku, Tuan Arkana?" tanya Aara manja, merayap masuk ke dalam pelukan Kenzo dari belakang dan melingkarkan lengannya di pinggang pria itu.
Kenzo memberikan salah satu gelas itu tanpa menoleh. "Kau tahu, Aara... di pulau ini, hanya ada kita berdua. Tidak ada Vico, tidak ada pengawal, dan tidak ada tim ekstraksi FBA-mu."
Aara menyesap minumannya, merasakan sensasi hangat yang membakar tenggorokannya. "Itu terdengar sangat romantis... atau sangat menakutkan, tergantung bagaimana kau memperlakukanku malam ini."
Kenzo berbalik, menatap Aara dengan intens. Ia mengambil gelas dari tangan Aara dan meletakkannya di meja, lalu mencengkeram dagu wanita itu agar menatapnya.
"Berhenti bersandiwara," perintah Kenzo. "Aku tahu kau masih memiliki pemancar di bawah kulitmu. Aku tahu kau sedang menunggu waktu yang tepat untuk menusukku dari belakang."
Aara terdiam. Detak jantungnya berpacu. Ia tidak menyangka Kenzo mengetahui soal pemancar subkutan itu. Namun, bukannya takut, Aara justru tertawa renyah tawa centil yang kini terdengar lebih berani.
"Jika aku ingin membunuhmu, Kenzo, aku bisa melakukannya saat kau sedang tidur di hotel kemarin. Atau saat kita di kapal tadi," Aara mendekatkan wajahnya, membiarkan bibirnya nyaris menyentuh bibir Kenzo. "Aku memilih tetap di sini karena aku ingin melihat... apakah monster sepertimu benar-benar punya hati, atau hanya bongkahan es.
Kenzo tidak bisa lagi menahan diri. Ia membopong Aara dan membawanya masuk ke dalam kamar tidur utama yang berdinding kaca. Di bawah sinar rembulan yang masuk melalui jendela, ia menjatuhkan Aara di atas ranjang.
"Aku akan menunjukkan padamu apa yang ada di dalam hati seorang monster," geram Kenzo.
Malam itu, di pulau yang terisolasi dari peradaban, mereka kembali tenggelam dalam gairah yang lebih liar dari sebelumnya. Setiap sentuhan terasa seperti perebutan kekuasaan. Kenzo sangat dominan, seolah ingin memastikan bahwa setiap jengkal tubuh Aara adalah miliknya. Aara, di sisi lain, menggunakan setiap pesona dan kelincahannya untuk tetap mengimbangi pria itu, membalas setiap ciuman dengan intensitas yang sama.
Di tengah percumbuan panas itu, Aara berbisik di telinga Kenzo, "Jika aku berkhianat, bunuh aku dengan tanganmu sendiri, Kenzo. Jangan biarkan orang lain yang melakukannya."
Kenzo berhenti sejenak, menatap mata Aara yang berkaca-kaca namun penuh keteguhan. Ia mengecup dahi Aara dengan lembut—sebuah gestur yang sangat tidak biasa bagi pria sedingin dia. "Aku tidak akan membiarkanmu mati, Aara. Kau terlalu berharga untuk menjadi sekadar mayat."
Saat fajar mulai menyingsing, Kenzo tertidur karena kelelahan yang luar biasa. Aara bangkit perlahan, memastikan pria itu benar-benar lelap. Ia berjalan menuju ruang kerja Kenzo di villa tersebut.
Dengan jemari yang gemetar, ia mencoba mengakses komputer satelit Kenzo. Ia harus mengirimkan laporan. Namun, saat ia berhasil menembus enkripsinya, ia menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Ada sebuah folder rahasia berjudul **"PROJECT CHERRY"**.
Aara membukanya dan matanya terbelalak. Di dalamnya terdapat profil lengkap dirinya sejak ia masih di akademi, foto-foto penyamarannya di masa lalu, bahkan nama asli orang tuanya.
Kenzo sudah tahu siapa dia sejak hari pertama. Selama ini, Aara bukan sedang menjebak Kenzo. Kenzo-lah yang sedang menjebaknya ke dalam sebuah rencana yang jauh lebih besar dari sekadar penyelundupan barang terlarang.
Tiba-tiba, lampu ruangan menyala. Kenzo berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, menatap Aara dengan senyum kemenangan yang paling mengerikan yang pernah dilihatnya.
"Selamat pagi, Agen Aara. Senang melihatmu akhirnya menemukan kebenaran di rumahmu sendiri," ucap Kenzo tenang.
Aara menyadari, ia tidak pernah menjadi pemangsa. Ia hanyalah seekor burung kecil yang dengan sukarela terbang masuk ke dalam sangkar emas sang predator paling berbahaya di dunia. Dan sekarang, pintu sangkar itu telah terkunci selamanya.