Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Serangan mendadak
Langit di atas Arena Cakrawala yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi kelabu pekat.
Atmosfer kemenangan di babak final antara Yan Bingchen dan lawannya seketika sirna ketika ledakan hebat menghancurkan gerbang utama arena.
Ribuan penonton berteriak histeris, berlarian menyelamatkan diri saat bayangan-bayangan hitam meluncur dari langit seperti hujan meteor.
Para pembunuh bayaran dari Benua Binghuo dan tentara bayaran yang haus akan inti energi Yan Bingchen telah tiba. Mereka tidak datang untuk bertanding; mereka datang untuk panen darah.
"PENGKHIANATAN! LINDUNGI ARENA!" teriak Panglima Kekaisaran Shan. Pasukan berbaju zirah perak segera mencabut pedang mereka, membentuk barikade di sekeliling panggung utama. Pertempuran besar pecah dalam sekejap.
Yan Bingchen berdiri di tengah kekacauan, napasnya memburu. Denyut di matanya mencapai titik puncak rasa sakit yang tak tertahankan.
Deg! Deg!
Mata kanannya yang merah kini membara hingga mengeluarkan uap panas yang membakar udara, sementara mata kirinya yang biru memancarkan cahaya kristal yang sanggup membekukan debu yang beterbangan.
Pandangannya tidak lagi melihat dunia fisik; ia melihat garis-garis nyawa, titik kelemahan Qi, dan aliran energi yang mengalir di setiap tubuh manusia di sana.
Melihat musuh yang mengepung dari segala arah, pandangan Yan Bingchen terfoto pada podium tertinggi di ujung arena.
Di sana, di dalam kotak kaca yang dilindungi segel energi, terletak hadiah utama: Pedang Langit Penembus Awan.
Ia tahu, pedang tumpulnya tidak akan sanggup menahan gempuran ribuan musuh. Ia butuh artefak itu sekarang.
Tanpa sepatah kata pun, Yan Bingchen melesat.
Wush!
Tiga pembunuh berbaju hitam menghadangnya dengan rantai besi berduri. Yan Bingchen tidak menghindar.
Mata kirinya berkilat, dan dalam sekejap, gerakan rantai itu melambat di penglihatannya. Ia menekankan telapak tangannya ke lantai arena.
Krak!
Gelombang es raksasa mencuat dari tanah, membekukan kaki ketiga pembunuh itu sebelum mereka sempat menarik napas.
Belum sempat mereka meronta, tangan kanan Yan Bingchen mengayunkan tebasan udara yang membara, menghanguskan mereka menjadi abu dalam satu gerakan mengalir.
Ia melompat ke atas kepala pasukan Kekaisaran Shan yang sedang bertarung sengit. Dari atas, ia melihat sekelompok pembunuh tingkat tinggi sudah berada di dekat podium artefak.
"Jangan biarkan dia menyentuh pedang itu!" teriak pemimpin pembunuh.
Yan Bingchen mendarat di tengah kepungan sepuluh pendekar tingkat Pembentukan Fondasi.
Di titik ini, kekuatan matanya benar-benar bangkit sepenuhnya. Dunia di sekitarnya seolah membeku. Ia bisa melihat setiap tarikan pelatuk panah, setiap getaran otot lawan, bahkan arah angin yang berembus.
Sret! Sret! Sret!
Ia bergerak seperti hantu ungu. Pedang tumpulnya menebas leher, menembus jantung, dan mematahkan tulang dengan presisi yang mengerikan.
Setiap serangan musuh hanya mengenai bayangan kosong. Mata dualitasnya memberinya kemampuan presisi yang sangat menakutkan.
Dengan satu lompatan terakhir yang diperkuat ledakan api dari kakinya, Yan Bingchen sampai di depan kotak kaca artefak. Ia menghantamkan tinjunya yang terbungkus es padat ke arah segel pelindung.
PYARR!
Kaca itu hancur berkeping-keping. Yan Bingchen mencengkeram gagang Pedang Langit Penembus Awan.
Seketika, energi emas yang luar biasa besar meledak dari pedang itu, menyatu dengan energi api dan es di dalam tubuhnya.
Rambut merah-putihnya berdiri tegak karena tekanan energi yang dahsyat.
Pedang itu seolah mengenali tuannya; bilahnya yang jernih mulai berpendar dengan warna ungu yang tajam, mengikuti resonansi mata Yan Bingchen.
Sepuluh pembunuh elit melompat secara bersamaan dari berbagai arah, senjata mereka terangkat tinggi untuk menghancurkan kepala Yan Bingchen.
Yan Bingchen membuka kedua matanya lebar-lebar. Lingkaran energi muncul di pupil matanya.
Sring!
Ia melakukan putaran 360 derajat dengan pedang barunya. Sebuah gelombang kejut berbentuk cakram yang terdiri dari api putih dan es merah melesat keluar, membelah udara dan segala sesuatu yang dilewatinya.
Jleb!
Sepuluh pembunuh itu terhenti di udara. Sedetik kemudian, tubuh mereka terbelah menjadi dua bagian—setengah membeku, setengah hangus—sebelum terjatuh ke lantai dengan suara berdebam yang mengerikan.
Yan Bingchen berdiri di atas podium, memegang pedang emas yang kini dialiri aura ungu pekat.
Di bawahnya, arena telah menjadi lautan darah dan api. Pasukan Kekaisaran Shan masih berjuang menahan gelombang musuh yang terus berdatangan.
Di kejauhan, Mo Ran bersembunyi di balik perisai besar Si Hitam. Si serigala menggeram liar, mencabik siapa pun yang berani mendekati temannya.
Yan Bingchen menatap ke arah langit, ke arah Benua Binghuo yang jauh di sana.
Matanya yang berdenyut kini memancarkan aura dingin yang sangat tenang, namun menjanjikan kematian bagi siapa pun yang mengejarnya.
Ia tidak lagi merasa takut. Dengan pedang ini dan kekuatan matanya yang telah bangkit, ia bukan lagi seorang pelarian. Ia adalah bencana yang berjalan.
Tanpa suara, ia melompat turun dari podium menuju kerumunan musuh yang paling padat. Setiap langkahnya membekukan tanah, dan setiap ayunan pedangnya membakar jiwa musuh-musuhnya.