NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duel Dua Wajah

Ekantika mengangguk, meyakinkan. "Iya! Kebetulan banget ya, Ton. Aku juga bingung kenapa bisa sampai tertukar. Tante-ku itu sering banget ceroboh."

"Ekantika Asna... CEO Garuda?" Riton mengulangi, terdengar familier dengan nama itu. Matanya menyipit, seolah sedang berpikir keras. "Nama itu... aku kayak kenal."

Jantung Ekantika berdegup tak karuan. Tidak, Riton, jangan!

"Oh!" Riton tiba-tiba memekik kecil, matanya melebar. Ia menatap Ekantika, lalu ke kartu di tangannya, lalu kembali ke Ekantika. "Nana, Tante kamu ini... bos lamaku!"

Ekantika merasakan bumi berhenti berputar. Bos lamaku? Sebuah bola es terasa membeku di perutnya.

"Dunia sempit ya!" Riton tersenyum tipis, tapi ada nada aneh dalam suaranya. Ada campuran antara rasa penasaran, geli, dan... entahlah. Ekantika tidak bisa membaca ekspresinya dengan jelas. "Wah, kalau begitu, kebetulan sekali. Aku bisa sekalian mengembalikan kartu ini besok. Aku akan antar langsung ke 'Tante Nana' di kantornya."

Riton menatapnya, senyumnya tidak lagi polos. Ada kilatan aneh di matanya yang membuat seluruh saraf Ekantika menjerit. Tidak. Dia pasti sudah curiga. Sangat curiga.

Ekantika hanya bisa membeku di tempatnya, menelan ludah. Lidahnya kelu. Besok? Di kantor? Sebagai Ekantika Asna? Sebuah bayangan kengerian mencengkeramnya. Ini belum tamat. Ini baru saja dimulai.

"Dunia sempit ya!" Riton tersenyum tipis, tapi ada nada aneh dalam suaranya. Ada campuran antara rasa penasaran, geli, dan... entahlah. Ekantika tidak bisa membaca ekspresinya dengan jelas. "Wah, kalau begitu, kebetulan sekali. Aku bisa sekalian mengembalikan kartu ini besok. Aku akan antar langsung ke 'Tante Nana' di kantornya."

Riton menatapnya, senyumnya tidak lagi polos. Ada kilatan aneh di matanya yang membuat seluruh saraf Ekantika menjerit. Tidak. Dia pasti sudah curiga. Sangat curiga.

Ekantika hanya bisa membeku di tempatnya, menelan ludah. Lidahnya kelu. Besok? Di kantor? Sebagai Ekantika Asna? Sebuah bayangan kengerian mencengkeramnya. Ini belum tamat. Ini baru saja dimulai.

*

Malam itu terasa sangat panjang bagi Ekantika. Ia tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Riton dengan senyum tipisnya yang penuh tanda tanya muncul di benaknya. Ia membayangkan skenario terburuk: Riton akan datang ke kantor besok, menatapnya, dan tiba-tiba menyadari bahwa "Tante CEO yang ceroboh" ini adalah Nana, wanita 26 tahun yang baru saja menghabiskan kencan paling menyenangkan dalam hidupnya.

Pagi harinya, Ekantika sudah berdiri di depan cermin riasnya jauh sebelum matahari terbit. Di sampingnya, Dimas dengan mata sembab menyodorkan aneka make up dan perkakas rias yang belum pernah Ekantika sentuh seumur hidupnya.

"Bu, ini dia contour kit dari Youtuber kecantikan yang lagi viral," kata Dimas, menunjukkan sebuah palet besar berisi berbagai warna cokelat dan krem. "Kata mereka, ini bisa mengubah bentuk wajah secara drastis. Sculpting wajah Ibu jadi lebih tegas, lebih... dewasa."

Ekantika menatap pantulan dirinya, lalu ke palet di tangan Dimas. "Maksudmu, aku harus terlihat lebih tua?"

"Bukan lebih tua, Bu," Dimas mengoreksi, hati-hati. "Tapi lebih... berwibawa. Nana kan terlihat lembut dan ceria. Bu Ekantika harus terlihat... Ekantika Asna. Tajam. Dingin. Mengerikan." Ia menekankan kata terakhir dengan ekspresi serius.

Ekantika mendengus. "Terima kasih atas pujiannya, Dimas."

Ia mulai mengaplikasikan krim berwarna gelap itu ke tulang pipinya, rahang, dan dahi, mengikuti instruksi video tutorial yang Dimas putar di ponselnya. Tangannya gemetar. Biasanya, riasannya hanya tipis, natural, untuk menonjolkan kecantikan alaminya. Sekarang, ia seperti sedang mengecat topeng. Semakin tebal contour itu menempel di wajahnya, semakin asing pantulan dirinya di cermin. Pipinya jadi lebih tirus, rahangnya lebih tajam, hidungnya lebih mancung. Ia memandang dirinya, bukan lagi Ekantika yang ia kenal, bukan pula Nana yang ia ciptakan. Ini adalah entitas ketiga, sebuah perpaduan kebohongan dan ketakutan.

"Bagaimana dengan gaya rambut, Bu?" Dimas bertanya, memegang sisir. "Biasanya Ibu kepang atau ponytail kencang. Hari ini, mungkin kita bisa mencoba yang lebih... severe."

"Kepang kencang saja, Dimas. Yang paling ketat. Aku ingin terlihat seperti tidak punya waktu untuk hal-hal remeh," perintah Ekantika, suaranya terdengar lebih dingin dari yang ia harapkan. Rasa perih menusuk dadanya. Haruskah aku sekasar ini pada diriku sendiri?

Pakaiannya sudah ia siapkan: sebuah power suit hitam yang dibuat khusus, menonjolkan lekuk tubuhnya yang ramping namun kuat. Stiletto hak tinggi mengkilap di samping meja rias, siap membawanya menaklukkan lantai marmer kantornya. Anting berlian yang berkilau di telinganya, bukan anting mutiara mungil yang Nana pakai.

"Ada lagi, Bu," Dimas menambahkan, menyodorkan sebotol parfum. "Ini parfum yang paling jarang Ibu pakai. Aroma melati dan kayu cendana, kesan mahal tapi... misterius."

Ekantika mengambil botol itu, menciumnya. Aromanya memang berbeda dari parfum hariannya. Fresh, tapi ada nada berat. Ia menyemprotkannya ke leher dan pergelangan tangannya. Aroma itu terasa asing, seperti gaun yang terlalu ketat.

Aku harus menjadi orang lain hari ini. Demi Nana. Demi Riton.

*

Pukul sembilan pagi, Ekantika sudah duduk di kursi kebesarannya, di balik meja CEO yang panjang dan mengintimidasi. Ruangannya steril, modern, dengan pemandangan langsung ke cakrawala Jakarta yang sibuk. Berbanding terbalik dengan kedai kopi hangat di Tebet semalam. Ia meneguk kopi pahitnya, mengabaikan getaran halus di tangannya.

Asistennya, Vina, masuk dengan membawa tumpukan dokumen. Vina menatap Ekantika, dahinya sedikit berkerut. Matanya berhenti di wajah Ekantika, lalu ke bahu, seolah mencari sesuatu yang aneh.

"Selamat pagi, Bu," Vina berkata, suaranya datar. "Rapat dengan divisi marketing jam sepuluh. Dan... Pak Riton dari Aksara Digital sudah tiba di lobi. Dia bilang ada janji untuk mengembalikan sesuatu."

Ekantika mengangguk kaku. "Baik. Suruh dia tunggu lima belas menit. Aku tidak ingin terlihat terlalu... bersemangat." Ia sengaja menunda, menunjukkan kekuasaannya. Aku tidak pernah bersemangat bertemu mantan bawahan.

Vina mengangguk, namun tatapannya masih penuh pertanyaan. "Maaf, Bu. Tapi... riasan Ibu hari ini terlihat agak... berbeda. Lebih... tebal?"

Ekantika menatap Vina tajam. "Aku ada janji penting sore ini, Vina. Ada apa? Ada masalah dengan penampilanku?" Nada suaranya dingin, membuat Vina langsung mengalihkan pandangannya.

"Tidak, Bu. Tidak ada. Hanya saja... agak tidak biasa," Vina tergagap, lalu buru-buru keluar ruangan.

Ekantika mengembuskan napas panjang. Bahkan Vina pun curiga. Ini akan sulit. Sangat sulit. Ia tahu ia harus bersikap kejam, dingin, agar Riton tidak punya alasan sedikit pun untuk mengaitkannya dengan Nana yang ceria. Ia harus menghancurkan kesan manis semalam, menghancurkan Nana di mata Riton. Sebuah tugas yang meremukkan hatinya sendiri.

Lima belas menit terasa seperti satu jam. Akhirnya, Vina kembali, mengantar Riton masuk.

Riton berdiri di ambang pintu, tampak sedikit ragu. Ia mengenakan kemeja biru muda dan celana chino, penampilan yang profesional namun tetap terlihat santai. Matanya langsung bertemu dengan mata Ekantika. Senyum kecil di wajahnya—senyum yang tadi malam membuat kupu-kupu beterbangan di perut Ekantika—kini mengendur, tergantikan oleh ekspresi kebingungan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!