Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Inti yang Terbangun (
Rasa sakit itu tidak berhenti.
Di dalam kamar kecilnya di Akademi Kerajaan Averion, Sakura tergeletak di lantai dingin. Tubuhnya melengkung tak wajar, jemarinya mencengkeram lantai kayu hingga memutih.
Napasnya terputus-putus.
Pendek.
Patah.
“Ha… ha…”
Racun itu menyebar tanpa ampun.
Bukan seperti sebelumnya yang hanya menekan dan menyiksa.
Kali ini, racun itu hidup.
Ia bergerak.
Mencari.
Menggerogoti.
Meridian di dalam tubuh Sakura mulai retak satu per satu.
Aliran energi yang selama ini ia tahan kini pecah seperti bendungan yang jebol.
“Tidak… cukup…”
Suaranya hampir tak terdengar.
Ramuan yang ia buat yang selama ini cukup untuk menahan rasa sakit,kini tidak berarti apa-apa.
Racun itu telah berubah.
Lebih dalam.
Lebih kejam.
Lebih cerdas.
“Kalau begini…”
Tangannya gemetar hebat.
“...aku benar-benar mati…”
Pandangan Sakura mulai kabur.
Langit-langit kamar perlahan memudar.
Suara dunia di sekitarnya menghilang.
Yang tersisa hanya
duk…
duk…
duk…
Detak.
Bukan jantungnya.
Sesuatu yang lain.
Lalu
gelap.
Tidak ada rasa sakit.
Tidak ada suara.
Tidak ada waktu.
Sakura berdiri.
Sendirian.
Di ruang yang tidak memiliki batas.
Tidak ada langit.
Tidak ada tanah.
Tidak ada arah.
Hanya kehampaan.
“...Ini…”
Suaranya menggema.
Namun tidak ada yang menjawab.
Ia melangkah satu langkah.
Lalu berhenti.
Karena sesuatu sudah lebih dulu ada di sana.
Sebuah kehadiran.
Tidak terlihat sepenuhnya
namun cukup untuk membuat udara terasa berat.
Tekanan itu perlahan memenuhi ruang.
Dalam.
Tenang.
Namun… menakutkan.
“...”
Tidak ada suara.
Namun Sakura tahu ia tidak sendirian.
Di kejauhan sepasang mata terbuka.
Ungu gelap.
Dalam.
Tanpa dasar.
Sama seperti yang pernah ia lihat sebelumnya.
Saat pemanggilan.
Saat sesuatu itu… pertama kali muncul.
Napas Sakura tertahan.
Tubuhnya menegang.
Namun ia tidak mundur.
“...Kau.”
Tidak ada jawaban.
Namun tekanan itu… sedikit berubah.
Seolah merespon.
Sakura menggertakkan gigi.
“Apa yang terjadi padaku…”
Hening.
Lalu—
retakan halus terdengar.
CRACK…
Bukan dari luar.
Dari dalam dirinya sendiri.
Mata itu menyala sedikit lebih terang.
Dan untuk pertama kalinya
sebuah suara muncul.
Namun bukan dari depan.
Bukan dari belakang.
Melainkan… dari dalam dirinya sendiri.
“...rapuh.”
Sakura membeku.
Suaranya rendah.
Dalam.
Tidak memiliki emosi.
Namun cukup untuk membuat seluruh ruang terasa bergetar.
“Aku tidak akan mati,” ucap Sakura pelan.
Tidak ada keraguan dalam suaranya.
Hanya keinginan.
Untuk bertahan.
Untuk hidup.
Hening.
Lalu tekanan itu mendekat.
Tanpa bentuk yang jelas.
Namun terasa.
Sangat dekat.
“...tidak cukup.”
Detak itu kembali terdengar.
Lebih keras.
duk…
duk…
duk…
Sakura mencengkeram dadanya.
“Racun itu…”
Ia bisa merasakannya.
Untuk pertama kalinya
bukan sebagai rasa sakit.
Tapi sebagai sesuatu yang bergerak.
Mengalir.
Menyebar.
“Dia menghancurkan segel…”
Kalimat itu muncul begitu saja di kepalanya.
Bukan pikirannya.
Bukan juga suara tadi.
Seolah sebuah pemahaman yang dipaksakan masuk.
Retakan itu semakin jelas.
CRACK… CRACK…
Sakura menunduk.
Melihat tubuhnya sendiri
atau apa pun yang tersisa dari dirinya di ruang ini.
Garis-garis halus mulai muncul.
Seperti retakan pada kaca.
“...Kalau aku hancur…”
Ia mengangkat wajahnya.
Menatap mata itu.
“...kau juga akan keluar, bukan?”
Hening.
Lama.
Lalu untuk pertama kalinya
tekanan itu berhenti mendekat.
Tidak menjawab.
Namun juga tidak menyangkal.
Sakura menghela napas berat.
“Kalau begitu…”
Ia mengepalkan tangannya.
“...aku tidak akan hancur.”
Seketika—
CRACK!!
Seluruh ruang retak.
“AAAAHHH!!”
Sakura tersentak bangun.
Tubuhnya melengkung.
Rasa sakit itu kembali
lebih ganas dari sebelumnya.
Namun kali ini
ia tidak sepenuhnya tenggelam.
Ia bisa melihatnya.
Aliran racun itu.
Di dalam tubuhnya.
Seperti arus hitam keunguan yang menyebar liar.
Menghancurkan.
Melahap.
Tidak terkendali.
“...Aku bisa melihatnya…”
Napasnya terengah.
Tangannya gemetar.
Namun matanya
tetap fokus.
Untuk pertama kalinya ia tidak hanya merasakan.
Ia memahami.
“Jangan… hancurkan semuanya…”
Ia tidak melawan secara membabi buta.
Tidak menekan.
Tidak menolak.
Melainkan mengarahkannya.
Perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Aura gelap keunguan itu muncul.
Berdenyut.
Namun tidak liar seperti sebelumnya.
Lebih stabil.
Lebih… patuh.
Racun yang mengamuk perlahan berubah arah.
Sebagiannya masih menghancurkan.
Namun sebagian lain
mulai berkumpul.
Ditarik.
Dipaksa mengikuti aliran baru.
“Ke sini…”
Sakura menggertakkan gigi.
Keringat membasahi seluruh tubuhnya.
“Sedikit lagi…!”
Meridiannya menjerit.
Tubuhnya hampir menyerah.
Namun ia tidak berhenti.
Rasa sakit itu masih ada.
Masih brutal.
Namun tidak lagi kacau.
Ia mulai memiliki bentuk.
Arah.
Tujuan.
Dan untuk pertama kalinya Sakura merasa…
ia tidak sepenuhnya lemah.
BRAKK!!
Energi di dalam tubuhnya bergetar keras.
Lalu
hening.
Tubuhnya jatuh lemas ke lantai.
Napasnya berat.
Namun… stabil.
Perlahan ia membuka matanya.
Langit-langit kamar kembali terlihat.
Dinding kayu.
Jendela kecil.
Cahaya pagi yang samar mulai masuk.
“...Aku hidup…”
Suaranya lirih.
Hampir tidak terdengar.
Tangannya bergerak perlahan.
Aura itu masih ada.
Namun berbeda.
Tidak liar.
Tidak menghancurkan.
Melainkan
tenang.
Dalam.
Seperti sesuatu yang sedang menunggu.
Sakura menutup matanya sebentar.
Mengatur napasnya.
“Jadi… selama ini…”
“...aku hanya tidak tahu cara menghadapinya…”
Ia membuka matanya lagi.
Tatapannya berubah.
Lebih dalam.
Lebih tenang.
Di dalam dirinya
tidak ada suara lagi.
Namun ia tahu sesuatu itu masih ada.
Mengamati.
Menunggu.
Di tempat lain
jauh dari Akademi Kerajaan Averion
di dalam kamar pribadi yang sunyi
Sang Ratu perlahan membuka matanya.
Lilin di sekitarnya bergetar.
Udara terasa lebih dingin.
“…Apa ini…”
Ia berdiri perlahan.
Tangannya menyentuh dadanya.
Ia merasakannya.
Perubahan itu.
Kecil.
Namun jelas.
Seperti sesuatu yang seharusnya padam—
namun justru… menyala.
Tatapannya mengeras.
“Anak itu…”
Suaranya pelan.
Namun penuh tekanan.
“…masih bertahan.”
Ia berjalan perlahan ke arah jendela.
Menatap kegelapan di luar.
Pikirannya bergerak cepat.
Menghitung.
Menilai.
Dan akhirnya memutuskan.
“Kalau manusia tidak cukup…”
Ia tersenyum tipis.
Dingin.
Berbahaya.
“...maka aku akan menggunakan sesuatu yang bukan manusia.”
Lilin di ruangan itu tiba-tiba padam.
Satu per satu.
Menyisakan kegelapan.
Dan di dalam kegelapan itu
sepasang mata terbuka.
Bukan milik manusia.
Dan bukan milik makhluk biasa.
Sementara itu di kamar kecilnya
Sakura perlahan bangkit.
Tubuhnya masih lemah.
Namun berbeda.
Ia menatap tangannya.
Aura gelap keunguan itu masih berdenyut pelan.
Tidak liar.
Tidak menakutkan.
Namun jelas
bukan sesuatu yang biasa.
“Ini…”
Ia mengepalkan tangannya perlahan.
“…baru permulaan.”
Dan untuk pertama kalinya
bukan rasa takut yang muncul.
Melainkan
keyakinan.
Bahwa ia bisa bertahan.
Apa pun yang akan datang selanjutnya.