Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringkat Pertama Yang Kontoversial
Episode 24 - Bagian Akhir
Matahari sore mulai condong ke ufuk barat, membiarkan langit Kota Hijau berubah warna menjadi jingga yang membara. Di depan gerbang utama Akademi Elang Hijau, suasana sangat riuh. Kereta kuda medis berlalu lalang mengangkut murid-murid yang terluka dari Hutan Elang. Wajah-wajah yang tadinya penuh semangat di pagi hari, kini hanya menyisakan kelelahan dan trauma.
Di tengah keramaian itu, papan pengumuman sihir raksasa di tengah alun-alun akademi mulai berpendar. Tulisan-tulisan cahaya muncul satu per satu, mengurutkan hasil poin dari babak penyisihan The Survival Hunt.
"Lihat! Hasilnya sudah keluar!" teriak salah satu murid yang kepalanya masih terbalut perban.
Ribuan pasang mata tertuju pada papan tersebut. Nama demi nama muncul dari peringkat bawah ke atas. Lani dan Dito berada di peringkat 30 dan 35 posisi yang sangat aman untuk masuk ke babak final. Elara, berkat sepuluh lencana dari Reno, melesat ke peringkat 5.
Namun, saat cahaya keemasan muncul untuk posisi peringkat pertama, seluruh alun-alun mendadak sunyi senyap.
[Peringkat 1: Reno – 42 Lencana Kristal]
Keheningan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya ledakan suara protes dan ketidakpercayaan pecah seperti badai.
"Empat puluh dua lencana?! Itu hampir seperempat dari total lencana di seluruh hutan!"
"Tidak mungkin! Dia hanya penjinak cacing! Bagaimana bisa dia mengalahkan murid-murid berbakat lainnya?"
"Pasti ada kecurangan! Dia pasti mencurinya saat murid lain sedang bertarung dengan monster!"
Reno berdiri di pinggiran kerumunan, tetap tenang dengan tangan bersedekap. Di bahunya, Nidhogg sedang tertidur pulas, seolah tidak peduli bahwa majikannya baru saja menjadi musuh nomor satu di akademi.
"Reno... angka itu... kau benar-benar keterlaluan," bisik Dito dengan wajah pucat. "Empat puluh dua? Kau bahkan mengalahkan poin gabungan lima tim bangsawan!"
"Aku hanya mengambil apa yang sudah dikumpulkan orang lain untukku, Dito," jawab Reno santai. "Itu namanya efisiensi kerja."
Lani menatap Reno dengan tatapan cemas. "Tapi Reno, lihatlah sekelilingmu. Orang-orang sangat marah. Bahkan para instruktur senior pun tampak sedang berdiskusi serius di atas panggung."
Reno melirik ke arah podium. Di sana, Master Gandos dan beberapa jajaran dewan akademi sedang berkumpul, menatap Reno dengan tatapan yang sangat tajam. Instruktur Raka berdiri sedikit terpisah, wajahnya tetap datar, namun Reno tahu bahwa Raka sedang menunggu reaksi Reno.
Tak lama kemudian, suara Master Gandos menggema. "Murid Reno, harap maju ke depan podium!"
Reno melangkah maju melewati kerumunan murid yang memberinya jalan sambil melemparkan tatapan sinis dan bisikan kebencian. Ia menaiki tangga podium dengan langkah mantap, kepalanya tegak, menunjukkan karisma seorang pemimpin yang tidak bisa digoyahkan oleh gertakan massa.
"Reno," Master Gandos memulai, suaranya mengandung tekanan energi mental yang berat. "Empat puluh dua lencana adalah rekor tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir sejarah akademi ini. Namun, ada laporan dari beberapa murid bahwa kau melakukan sabotase, pembakaran fasilitas, dan bekerja sama dengan orang asing untuk merampas lencana secara paksa. Apa pembelaanmu?"
Reno menatap langsung ke mata Gandos. Ia tidak terlihat gugup sedikit pun.
"Master, aturan turnamen yang Anda bacakan pagi tadi adalah: Tidak ada aturan. Selama tidak membunuh teman sendiri, semuanya diizinkan. Apakah saya benar?" tanya Reno dengan suara yang jelas dan tenang.
Gandos terdiam sejenak. "Benar."
"Maka, sabotase dan perampasan lencana adalah bagian dari strategi bertahan hidup," lanjut Reno. "Mengenai pembakaran fasilitas, itu adalah tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa saya dan rekan saya, Elara, dari serangan murid senior yang menyusup ke area ujian. Jika Anda ingin menyalahkan seseorang, mungkin Anda harus bertanya mengapa keamanan akademi begitu lemah hingga seorang murid senior bisa masuk dan menyerang murid baru di tengah ujian."
Pernyataan Reno yang berani itu membuat para instruktur tersentak. Reno secara tidak langsung menyerang kredibilitas sistem keamanan akademi di depan umum.
"Lancang sekali kau!" salah satu instruktur jubah perak berteriak.
"Saya hanya bicara fakta, Tuan," Reno menanggapi dengan dingin. "Hasil akhir adalah poin. Dan poin saya murni didapat dari tangan murid-murid yang mencoba merampas milik saya terlebih dahulu. Jika akademi ingin mendiskualifikasi pemenang hanya karena dia lebih pintar dalam menyusun taktik daripada menggunakan otot, maka reputasi akademi ini sebagai tempat melatih petarung sejati patut dipertanyakan."
Instruktur Raka tiba-tiba melangkah maju. "Cukup. Aku telah memverifikasi lencana-lencana itu. Tidak ada bukti kecurangan sihir. Reno mendapatkan lencana itu melalui duel fisik yang sah. Mengenai masalah murid senior, itu akan kami selidiki secara internal."
Raka menatap kerumunan murid. "Peringkat tetap tidak berubah. Reno adalah peringkat pertama babak penyisihan!"
Meskipun masih banyak suara ketidakpuasan, keputusan dewan akademi sudah bulat. Reno turun dari podium dengan kepala tegak. Ia tahu, mulai saat ini, ia bukan lagi "si penjinak cacing yang beruntung". Ia adalah ancaman nyata.
Malam harinya di asrama, suasana masih sangat panas. Reno duduk di kamarnya, sementara Nidhogg sedang menyerap energi dari sisa-sisa kristal inti yang Reno ambil dari rawa.
"Kau terlalu berani bicara tadi, Reno," ucap Nidhogg. "Manusia jubah hijau itu hampir saja menyerang mu dengan energinya."
"Di dunia bisnis, Nidhogg, kalau kau dipojokkan, kau harus menyerang balik bagian paling lemah dari lawanmu. Bagian terlemah akademi adalah reputasi mereka. Mereka tidak akan berani mendiskualifikasi ku secara tidak adil di depan tamu-tamu undangan dari luar," jawab Reno sambil mengasah sabit kecilnya.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk. Bukan ketukan kasar seperti penjaga, melainkan ketukan yang sangat pelan.
Reno membuka pintu dan menemukan seorang pemuda dengan pakaian yang sangat rapi dan lencana perak di dadanya. Pemuda itu memiliki wajah yang tampan namun terlihat sangat misterius.
"Reno? Perkenalkan, namaku Arvin. Aku adalah Ketua Dewan Murid Akademi Elang Hijau," ucap pemuda itu dengan senyum ramah yang terlihat sangat terlatih.
Reno tetap waspada. "Ada urusan apa Ketua Dewan Murid datang ke kamar murid desa seperti aku?"
Arvin terkekeh. "Jangan rendah hati. Kau adalah orang yang paling menarik di akademi ini sekarang. Aku datang untuk memberimu peringatan... sekaligus tawaran."
Arvin melirik ke arah Nidhogg sebentar sebelum melanjutkan. "Besok adalah babak final 64 besar. Sistemnya adalah duel eliminasi di arena utama. Kau telah ditempatkan di blok A, dan lawan pertamamu adalah murid jenius dari Kota Pusat, Oliver. Tapi itu bukan masalah utamanya."
"Lalu apa?" tanya Reno.
"Kael, murid senior yang kau permalukan di benteng tadi siang, memiliki saudara di babak final ini. Namanya Vance. Dia berada di peringkat dua. Vance bukan orang sembarangan, dia adalah penjinak Tingkat Perak Tahap Menengah yang sudah memiliki teknik pembunuhan yang nyata. Dia telah bersumpah untuk mematahkan setiap tulangmu di arena besok."
Reno menyandarkan tubuhnya di pintu. "Terima kasih informasinya. Lalu apa tawarannya?"
"Bergabunglah dengan faksi Dewan Murid kami," Arvin mendekat, suaranya merendah. "Kami bisa memberimu perlindungan dari Gerhana Hitam dan pengaruh keluarga Vance. Sebagai gantinya, kami ingin kau memberikan informasi tentang bagaimana kau melatih cacing mu hingga sekuat itu."
Reno tersenyum, kali ini senyumannya terlihat sangat tajam. "Arvin, aku menghargai tawarannya. Tapi di duniaku, aku lebih suka menjadi pemilik saham mayoritas daripada menjadi karyawan. Aku tidak butuh perlindungan. Aku hanya butuh lawan yang sepadan."
Arvin tertegun sejenak, lalu ia tertawa lepas. "Luar biasa! Kau benar-benar arogan, Reno. Baiklah, aku akan melihat sejauh mana keangkuhanmu bertahan besok. Tapi ingat satu hal... Vance tidak akan bermain cantik sepertiku."
Setelah Arvin pergi, Reno menutup pintunya kembali.
"Reno, kau baru saja menolak sekutu yang kuat," Nidhogg berkomentar.
"Bukan sekutu, Nidhogg. Dia hanya ingin memanfaatkan kita sebagai alat penelitian," jawab Reno. "Kita tidak butuh mereka. Besok, di babak final, kita akan menunjukkan pada seluruh kerajaan bahwa ukuran dan jenis binatang tidak menentukan pemenang, tapi siapa yang berdiri di belakang binatang itu."
Reno duduk kembali di tempat tidurnya. Ia memejamkan mata, memulai meditasi Arus Bumi. Ia merasa energinya sudah mencapai ambang batas Tingkat Perunggu. Satu dorongan lagi, dan fisiknya akan menyentuh Tingkat Perak sejati.
"Vance, Gerhana Hitam, atau siapa pun... silakan datang," bisik Reno dalam kegelapan.
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang dingin, Reno mempersiapkan dirinya untuk panggung terbesar dalam hidup barunya. Babak penyisihan hanyalah pemanasan. Turnamen yang sesungguhnya, yang penuh dengan darah, intrik, dan pembuktian, baru akan dimulai besok pagi.