NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Di rumah bibinya, suasana terasa hangat sejak pintu dibuka. Aroma teh manis dan gorengan langsung menyambut, seolah-olah tempat itu memang diciptakan untuk menenangkan siapa pun yang datang dengan hati berantakan. Bibi Aira keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil.

“Masuk dulu, jangan berdiri di luar seperti tamu penting saja,” ujar sang bibi dengan nada ringan.

Ayunda tidak perlu disuruh dua kali. Ia langsung duduk dan mengambil salah satu gorengan. “Wah, ini kelihatannya enak sekali, Bi.”

Begitu digigit, matanya langsung berbinar. “Serius, ini enak banget. Aira, kamu beruntung punya bibi seperti ini.”

Desi ikut mencoba. Awalnya hanya sekadar sopan santun, tapi setelah satu gigitan, ekspresinya berubah. “Ini benar-benar enak. Saya sampai lupa mau jaga image.”

Bibi Aira tertawa kecil. “Makan saja yang banyak, masih ada.”

Aira hanya tersenyum kecil melihat keduanya menikmati hidangan. Ada rasa nyaman yang perlahan mengisi dadanya, sesuatu yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini.

Setelah suasana sedikit tenang, Aira mulai bercerita.

“Tadi di kantor… aku sempat memperhatikan tim finance,” katanya pelan. “Ternyata mereka baik-baik saja padaku. Bahkan… lebih dari yang aku kira.”

Ayunda mengangguk, seolah sudah menebak arah pembicaraan itu. “Ya jelas. Semua orang tahu apa yang kamu lakukan.”

Desi menimpali, “Bukan cuma finance. Di pemasaran juga banyak yang dengar. Mereka justru kagum kamu berani melawan orang seperti Pandu.”

Aira menunduk sedikit. “Aku pikir… setelah kejadian itu, semua orang akan menjauh.”

“Menjauh?” Ayunda mengangkat alis. “Justru sebaliknya. Kamu berdiri untuk sesuatu yang benar. Itu jarang.”

Desi tersenyum tipis. “Kadang orang hanya butuh satu orang untuk berani duluan.”

Aira terdiam sejenak, mencerna kata-kata itu. Perasaan hangat kembali muncul, kali ini lebih kuat. Ia tidak sendirian. Ternyata tidak pernah benar-benar sendirian.

Ia lalu menoleh ke arah Ayunda. “Terima kasih… waktu itu.”

Ayunda berhenti mengunyah. “Untuk apa?”

“Di kost. Kalau bukan karena kamu… mungkin aku sudah…” Aira tidak melanjutkan kalimatnya.

Suasana mendadak hening.

Ayunda menatap Aira beberapa detik, lalu menarik napas panjang. “Bukan aku yang menolongmu.”

Aira mengernyit. “Maksudnya?”

“Yang benar-benar menolongmu… Pak Bima.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi dampaknya langsung terasa.

“Apa?” Aira langsung menatapnya, tidak percaya. “Tidak mungkin.”

“Aku juga awalnya tidak percaya,” jawab Ayunda tenang. “Tapi itu yang terjadi.”

Desi ikut menatap Ayunda, penasaran. “Ceritakan dari awal.”

Ayunda menyandarkan tubuhnya ke kursi, mengingat kembali kejadian itu. “Sebelum semuanya terjadi… Pak Bima datang kepadaku.”

“Untuk apa?” Aira bertanya cepat.

“Dia minta alamat kost kamu.”

Aira langsung menggeleng. “Dan kamu kasih begitu saja?”

“Tidak.” Ayunda tersenyum tipis. “Aku menolak. Sebagai pemilik kost, aku punya tanggung jawab melindungi penghuni.”

“Lalu?” Desi mendesak.

Ayunda terdiam sebentar, lalu berkata pelan, “Dia… memohon.”

Aira membeku. “Memohon?”

“Bukan cuma sekadar bicara,” lanjut Ayunda. “Dia benar-benar memohon. Bahkan… sampai bersujud.”

Ruangan kembali sunyi.

Desi sampai berhenti bergerak. “Kamu serius?”

Ayunda mengangguk. “Aku tidak pernah melihat dia seperti itu sebelumnya. Aku pikir… kalau seseorang sampai seperti itu, pasti ada sesuatu yang benar-benar penting.”

Aira menatap kosong ke meja. Bayangan Bima yang selama ini ia kenal tidak pernah seperti itu. Tegas, dingin, selalu terkendali. Bukan seseorang yang akan merendahkan dirinya.

“Jadi kamu… memberikan alamatku?” tanya Aira pelan.

“Iya.”

Aira menggenggam tangannya sendiri. “Lalu?”

Ayunda menatapnya, kali ini dengan ekspresi serius. “Dia langsung pergi ke kost. Saat dia sampai… pintu kamarmu terkunci.”

Aira menahan napas.

“Dia memanggilmu, tapi tidak ada jawaban,” lanjut Ayunda. “Akhirnya dia mendobrak pintu.”

Desi menelan ludah.

“Apa yang dia lihat…” Ayunda berhenti sejenak. “Kamu tergeletak di lantai. Pergelangan tanganmu berdarah.”

Aira memejamkan mata.

“Dia tidak pikir panjang. Langsung membawamu ke rumah sakit.”

Beberapa detik tidak ada yang berbicara.

Desi menghela napas pelan. “Gila…”

Aira masih diam. Pikirannya kacau. Semua ini bertentangan dengan apa yang ia lihat sebelumnya.

“Dia diam saja waktu Pandu menghinaku,” gumam Aira. “Kenapa…?”

Ayunda mengangkat bahu. “Itu yang juga membuatku marah.”

Aira menoleh.

“Aku bahkan mengusirnya setelah itu,” lanjut Ayunda. “Aku pikir dia bagian dari masalah. Kalau dia mau bertindak sejak awal, kamu tidak akan sampai sejauh itu.”

Desi mengangguk pelan. “Masuk akal.”

“Tapi…” Ayunda menatap Aira, “kenyataannya dia tetap datang. Dan dia menyelamatkanmu.”

Aira menggigit bibirnya. “Aku… tidak mengerti.”

“Tidak semua orang mudah dimengerti,” kata Ayunda.

Suasana kembali hening, sampai Desi akhirnya membuka suara.

“Aku penasaran,” katanya sambil menatap Aira. “Kenapa kamu sampai sejauh itu? Maksudku… itu keputusan yang sangat ekstrem.”

Aira terdiam lama. Pertanyaan itu menggantung, berat dan tidak nyaman.

“Aku…” Ia menarik napas dalam. “Aku takut.”

“Takut apa?” tanya Desi.

Aira menunduk. “Ayahku.”

Ayunda dan Desi saling pandang.

“Ayahku sangat… keras soal prestasi,” lanjut Aira. “Sejak kecil, aku selalu dituntut disiplin. Tidak boleh gagal.”

Ia tersenyum pahit. “Baginya, kegagalan itu memalukan.”

Desi mulai mengerti. “Dan kamu pikir…”

“Kalau aku sampai dipenjara karena kasus itu,” potong Aira pelan, “dia tidak akan memaafkanku.”

Ayunda menegang. “Dia akan…?”

“Mengusirku,” jawab Aira tanpa ragu. “Atau lebih buruk.”

Ruangan terasa semakin berat.

“Itu sebabnya aku panik,” lanjut Aira. “Aku tidak tahu harus bagaimana. Rasanya semua jalan tertutup.”

Desi menghela napas panjang. “Jadi kamu memilih jalan itu…”

Aira mengangguk pelan. “Aku tahu itu salah. Tapi saat itu… aku tidak melihat pilihan lain.”

Ayunda tiba-tiba bangkit dari kursinya dan mendekat, lalu memeluk Aira erat.

“Jangan pernah lakukan itu lagi,” katanya tegas.

Aira terkejut, tapi tidak menolak.

“Dengar,” lanjut Ayunda, suaranya sedikit bergetar. “Kalau ayahmu benar-benar mengusirmu… kamu masih punya tempat.”

Aira menatapnya.

“Di tempatku,” kata Ayunda. “Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian.”

Mata Aira mulai berkaca-kaca. Ia membalas pelukan itu, lebih erat.

“Terima kasih…” bisiknya.

Desi tersenyum kecil melihat mereka. “Sepertinya aku juga harus ikut daftar kalau ada lowongan tempat tinggal.”

Ayunda tertawa kecil. “Silakan, tapi bayar tepat waktu.”

Suasana kembali hangat, meskipun sisa-sisa emosi masih terasa.

Di tempat lain, suasana jauh berbeda.

Parkiran apartemen yang sepi menjadi saksi dari pertarungan yang baru saja berakhir. Lampu-lampu redup memantulkan bayangan dua pria yang berdiri di antara napas berat dan tubuh yang penuh luka.

Bima berdiri tegak meskipun wajahnya lebam. Nafasnya berat, tapi matanya tetap tajam.

Di hadapannya, Pandu tergeletak di tanah. Bajunya kotor, wajahnya tidak kalah babak belur.

Beberapa detik tidak ada suara selain napas mereka.

Akhirnya Bima berbicara.

“Kamu sudah paham?” suaranya rendah tapi tegas. “Pergi dari perusahaan. Dan jangan pernah mendekati Aira lagi.”

Pandu tidak langsung menjawab. Ia malah tertawa pelan, meskipun jelas menahan sakit.

“Kamu…” katanya sambil mencoba bangkit sedikit. “Sampai seperti ini… hanya karena dia?”

Bima tidak menjawab. Tatapannya tetap dingin.

Pandu tersenyum, kali ini lebih lebar meskipun berdarah. “Aku tidak mengenalmu seperti ini.”

Bima tetap diam.

“Dulu kamu tidak pernah melibatkan perasaan,” lanjut Pandu. “Sekarang kamu menghajarku seperti ini… demi seorang wanita?”

Bima akhirnya melangkah mendekat. “Ini bukan soal perasaan.”

“Lalu apa?” Pandu menantang.

Bima menatapnya lurus. “Batas.”

Pandu tertawa lagi, kali ini lebih pelan. “Batas, ya?”

“Serahkan surat pengunduran dirimu,” kata Bima. “Atau kita lanjutkan.”

Pandu menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas. “Baiklah. Aku keluar.”

Bima tidak bereaksi berlebihan. Hanya sedikit mengendurkan bahunya.

Namun saat ia berbalik untuk pergi, suara Pandu kembali menghentikannya.

“Bima.”

Langkah itu berhenti, tapi tidak berbalik.

“Setelah semua ini…” Pandu berkata pelan, “kita masih sahabat?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Beberapa detik berlalu.

Bima tidak menjawab.

Ia hanya melanjutkan langkahnya, meninggalkan Pandu sendirian di lantai parkiran yang dingin.

Jawaban yang tidak diucapkan sering kali lebih jelas daripada kata-kata.

1
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!