NovelToon NovelToon
Di Jual Kepada Mafia Rusia

Di Jual Kepada Mafia Rusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.

"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. PERSEMAYAMAN PARA SERIGALA

Salju turun semakin lebat, seolah-olah langit Rusia sedang berusaha mengubur dosa-dosa yang baru saja terjadi di gereja tadi. SUV lapis baja itu melaju menembus hutan pinus yang hitam dan rimbun, sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa setinggi lima meter. Di atas gerbang itu, lambang keluarga Dragunov, dua serigala yang saling membelakangi berkilat dingin tertimpa lampu sorot.

Alana menatap keluar jendela dengan tangan yang masih gemetar. Liontin perak milik ibunya kini tergenggam erat di telapak tangannya, pinggirannya yang tajam menusuk kulitnya, namun rasa sakit fisik itu jauh lebih baik daripada rasa hampa yang menghisap dadanya.

"Turunlah," suara Alexei memecah keheningan yang menyesakkan di dalam kabin mobil.

Alexei keluar lebih dulu, membiarkan udara musim dingin yang membeku masuk dan menyapu sisa-sisa kehangatan di dalam mobil. Ketika Alana melangkah keluar, kakinya yang hanya beralaskan sepatu pengantin tipis langsung tenggelam dalam salju. Ia menggigil hebat. Gaun sutranya yang compang-camping sama sekali bukan tandingan bagi iklim Rusia yang brutal.

Di hadapannya berdiri sebuah bangunan megah bergaya Gothic-Baroque. Itu bukan sekadar rumah; itu adalah benteng. Dinding batunya yang gelap ditumbuhi tanaman rambat yang telah mati karena beku, memberikan kesan bahwa bangunan ini telah berdiri selama berabad-abad untuk menyaksikan ribuan kematian.

"Selamat datang di Volch'ye Logovo (Sarang Serigala)." ucap Alexei tanpa menoleh. Ia berjalan mendahului Alana dengan langkah mantap, jubah bulunya berkibar ditiup angin kencang.

Ivan Petrov muncul di samping Alana, memberikan sebuah jubah wol tebal berwarna hitam. "Pakai ini, Gospozha (Nyonya). Udara malam ini bisa membunuh mereka yang tidak terbiasa."

Alana menerima jubah itu tanpa suara. Kata 'Nyonya' terasa seperti racun di lidahnya. Ia mengikuti Alexei masuk ke dalam mansion. Begitu pintu kayu ek raksasa itu tertutup di belakang mereka, keheningan yang mencekam langsung menyelimuti. Interior mansion itu sangat kontras dengan eksteriornya yang kasar, lantai marmer hitam yang dipoles hingga mengkilap, lampu gantung kristal yang menjuntai dari langit-langit setinggi sepuluh meter, dan lukisan-lukisan minyak berukuran raksasa yang menggambarkan pria-pria dengan tatapan mata yang sama dengan Alexei.

Alexei berhenti di tengah aula luas itu. Ia melepas jubah bulunya dan menyerahkannya pada seorang pelayan yang membungkuk rendah tanpa berani menatap matanya.

"Di mana dia?" tanya Alexei pada pelayan itu dalam bahasa Rusia yang cepat.

"Di ruang pustaka, Pakhan. Dia sudah menunggu sejak kabar pernikahan sampai," jawab pelayan itu dengan suara berbisik.

Alexei beralih menatap Alana. "Ikut aku. Dan jangan mengatakan sepatah kata pun kecuali aku mengizinkanmu."

Alana ingin membantah. Ia ingin berteriak bahwa ia bukan anjing peliharaan yang bisa diatur, namun rasa ingin tahu tentang liontin ibunya dan sosok yang "seharusnya sudah mati" menahan egonya. Ia mengikuti Alexei melewati lorong-lorong panjang yang dindingnya dipenuhi dengan koleksi senjata antik, mulai dari pedang shashka Cossack hingga senapan runduk modern.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda dengan ukiran mawar yang rumit. Alexei membukanya perlahan.

Ruangan itu adalah sebuah perpustakaan raksasa yang berbau kertas tua, kayu cendana, dan obat-obatan medis. Di tengah ruangan, di depan perapian yang menyala terang, duduk seorang wanita di atas kursi roda. Wanita itu mengenakan gaun beludru biru tua. Rambutnya putih sempurna, disanggul rapi, namun wajahnya...

Alana merasa jantungnya seakan berhenti berdetak.

Wajah wanita itu adalah versi tua dari wajah yang selalu Alana lihat di cermin setiap pagi. Struktur tulang pipinya, bentuk matanya yang sedikit naik di ujung, bahkan cara wanita itu menautkan jari-jarinya.

"Elena?" bisik Alana, suaranya nyaris tidak terdengar. "Ibu?"

Wanita di kursi roda itu perlahan memutar kursinya. Matanya yang berwarna abu-abu redup menatap Alana. Ada kilatan air mata di sana, namun juga ada ketakutan yang mendalam.

"Bukan," suara wanita itu serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak menggunakan suaranya. "Aku bukan Elena, anakku. Aku adalah Sofia Volskaya. Nenekmu."

Alana terhuyung mundur. "Nenek? Ayah bilang... Ayah bilang seluruh keluarga ibuku sudah tewas dalam perang Bratva dua puluh tahun lalu. Dia bilang tidak ada yang tersisa!"

"Wira Naratama adalah pembohong yang sangat berbakat, Alana," Alexei menyela, suaranya tenang namun tajam. Ia berjalan menuju meja kerja di sudut ruangan dan menuangkan vodka ke dalam gelas kristal. "Dia tidak membunuh mereka semua. Dia hanya menyembunyikan mereka yang dianggapnya bisa menjadi ancaman bagi klaim kekuasaannya di masa depan. Sofia adalah salah satunya. Dia 'disimpan' di biara terpencil di Siberia selama dua dekade, dibiarkan membusuk sebagai orang mati agar tidak ada yang bisa menggugat takhta Volskaya yang diambil alih oleh ayahmu dan Sergei."

Sofia mengulurkan tangannya yang kurus ke arah Alana. "Kemarilah, Alana. Biarkan aku melihat putri dari Elena. Kau sangat cantik... sama seperti dia sebelum hari berdarah itu."

Alana mendekat dengan ragu. Saat jemari Sofia yang dingin menyentuh pipinya, Alana merasakan gelombang emosi yang menghancurkan. Seluruh hidupnya di Jakarta adalah sebuah kebohongan besar. Ayahnya bukan hanya seorang mafia, dia adalah seorang arsitek penderitaan keluarganya sendiri.

"Kenapa Alexei membawaku ke sini?" tanya Alana, matanya beralih pada suaminya yang kini berdiri di dekat jendela, menatap kegelapan malam. "Jika kau membenciku karena aku putri Wira, kenapa kau menyelamatkan nenekku? Kenapa kau menikahiku?"

Alexei membalikkan tubuhnya. Cahaya api dari perapian memberikan bayangan panjang yang menyeramkan di wajahnya.

"Karena aku membutuhkan darahmu, Alana. Bukan dalam artian harfiah," Alexei berjalan mendekat, langkah sepatunya bergema di lantai kayu. "Sergei Volsky telah menguasai jalur Barat dengan kekerasan. Para tetua Bratva tidak lagi menghormati garis keturunannya karena dia hanyalah sepupu jauh. Tapi kau... kau adalah garis keturunan langsung Volskaya. Dengan nenekmu di sisiku dan kau sebagai istriku, aku memiliki legitimasi penuh untuk menghancurkan Sergei dan mengambil alih seluruh Rusia Barat."

Alana tertawa getir, tawa yang terdengar seperti tangisan. "Jadi, aku benar-benar hanya sebuah kunci untuk membuka pintu kekuasaanmu?"

"Awalnya, ya," jawab Alexei jujur. "Tapi ada satu hal yang tidak diberitahukan ayahmu padamu, Alana. Sesuatu yang bahkan Sofia tidak berani mengatakannya."

Alana menatap neneknya, dan ia melihat Sofia menunduk, wajahnya pucat pasi seolah-olah Alexei baru saja membocorkan rahasia yang paling terlarang.

"Apa?" tuntut Alana. "Katakan padaku!"

Alexei meletakkan gelasnya dan berdiri tepat di depan Alana, menginvasi ruang pribadinya hingga Alana bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu.

"Pernikahan ini bukan sekadar aliansi politik yang diatur ayahmu dalam satu malam. Wira berhutang nyawa pada ayahku lima belas tahun yang lalu. Dan harga yang diminta ayahku saat itu bukan uang, bukan juga jalur senjata."

Alexei meraih dagu Alana, memaksa gadis itu menatap matanya yang kini berkilat dengan intensitas yang mengerikan.

"Ayahku meminta anak pertama dari rahim Elena Volskaya. Kau sudah dijanjikan untukku sejak kau berusia tujuh tahun, Alana. Ayahmu tidak menjualmu hari ini. Dia hanya menyerahkan apa yang sebenarnya sudah menjadi milikku sejak lama."

Dunia Alana seolah runtuh untuk kedua kalinya dalam satu malam. Setiap kenangan masa kecilnya, setiap pelukan ayahnya, setiap ulang tahun yang ia lalui, semuanya adalah persiapan untuk penyerahan dirinya kepada pria ini.

"Dan ada satu lagi," Alexei menambahkan, suaranya kini berubah menjadi seringai dingin. "Ayahmu memberikan instruksi tambahan dalam surat rahasianya. Jika kau mencoba melarikan diri dariku, atau jika kau menolak untuk memberikan ahli waris dalam satu tahun pernikahan kita..."

Alexei menjeda kalimatnya, menatap Sofia yang kini terisak pelan.

"...maka aku memiliki izin penuh untuk mengakhiri hidup nenekmu di depan matamu sendiri."

Alana membeku. Oksigen di paru-parunya seolah menghilang. Ia menatap pria yang baru saja menjadi suaminya, menyadari bahwa Alexei Mikhailovich Dragunov bukan hanya seorang monster; dia adalah pemilik nerakanya yang baru.

"Sekarang, pelayan akan mengantarmu ke kamar kita," ucap Alexei dingin, melepaskan dagu Alana. "Bersihkan dirimu. Hapus darah dan debu itu dari kulitmu. Aku akan menyusul dalam sepuluh menit, dan Alana..."

Alexei melangkah menuju pintu, namun berhenti sejenak untuk menoleh.

"Jangan mencoba mengunci pintunya. Di rumah ini, tidak ada pintu yang tertutup untukku."

Alana berdiri terpaku di tengah perpustakaan yang megah itu, sementara bayangan Alexei menghilang di balik pintu. Ia menatap neneknya yang malang, lalu menatap cincin di jarinya. Ia baru saja menemukan keluarganya, namun di saat yang sama, ia baru saja menyadari bahwa ia hanyalah seekor domba yang telah dikelilingi oleh kawanan serigala sejak lahir.

Dan serigala yang paling lapar, baru saja memberikan perintah untuk malam pertama mereka.

1
Mia Camelia
haduh kok jadi rumit sih😔
My: Kalau terasa rumit, berarti kamu mulia melihat potongan puzzle- nya.. 👀
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰👍
Mia Camelia
cerita nya menarik
Mia Camelia
lanjut thor, cerita nya seru banget👍👍👍
putri
Alexei.. neraka yang indah itu macam mana?? 😄
My: wahh, terimakasih kehadirannya kak-
🥰
total 1 replies
putri
aku suka ceritanya.. tetap semangat kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!