Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Ketuk palu persidangan menjadi saksi berakhirnya pernikahan Vania juga Satria. Keduanya duduk dengan raut wajah yang sama datarnya.
Satria cukup merasa bersalah karena sudah menghancurkan rumah tangganya sendiri karena tidak bisa menjaga diri juga tergiur oleh kemewahan.
Vania sendiri, hatinya memang kecewa tapi setelah berdamai dengan keadaan perasaannya cukup lega dengan keputusannya untuk bercerai.
Satria di dampingi oleh Irene juga kedua orang tua Irene. Mereka bersama-sama menghampiri Vania yang terlihat sedang berpelukan dengan Liliana.
"Mba Vania." sapa Irene.
Vania dan Liliana saling pandang saat keempat orang itu datang padanya.
.
.
"Maafkan atas kesalahan putri saya." ucap Daddy Alex mengawali pembicaraan.
Vania di ajak untuk berbicara di salah satu kafe terdekat. Liliana juga ikut mendampingi sahabatnya karena melihat rombongan mantan suami Vania itu. Liliana khawatir Vania akan disakiti oleh mereka.
"Untuk saat ini Saya tidak bisa mengatakan kalau saya baik-baik saja. Tapi Saya menjamin tidak akan ada tuntutan apapun di kemudian hari." jawab Vania.
Satria dan Irene semakin menundukan kepala mereka malu karena merasa sudah menyakiti wanita sebaik Vania.
Bahkan wanita paruh baya yang mengaku sebagai Ibu Irene terus meminta maaf dan menangi di depan Vania. Menyesal karena putrinya harus menjadi perebut suami wanita lain.
"Nyonya dan Tuan tidak perlu meminta maaf seperti ini, Saya sudah merelakan semuanya." jelas Vania lagi.
Liliana semakin tersentuh dengan keluasan hati Vania yang menerima keadaan ini juga tidak banyak mengeluh atau menyalahkan siapapun.
"Kamu tenang saja, untuk Resa sendiri Saya sendiri yang akan memastikan kebutuhan dan pendidikannya terpenuhi." ucap Daddy Alex.
Untuk yang satu ini Vania mengangguk menerima, sebab Satria juga Irene sendiri yang meminta untuk terlibat langsung dalam pengasuhan Resa sampai dewasa.
Lagipula Vania tidak mau munafik karena Resa memang tanggung jawab Satria sepenuhnya. Dirinya juga saat ini masih belum memiliki penghasilan sendiri untuk menghidupi Resa.
"Aku akan menemui Resa setiap akhir pekan." ucap Satria sebelum mereka berpamitan untuk pulang.
Liliana dan Vania juga memutuskan untuk pulang. Vania ingin beristirahat sekarang juga. Tubuh dan fikirannya cukup lelah dengan semua yang terjadi di rumah tangganya.
"Vania."
.
.
"Kita mau kemana?" tanya Vania pada Nathan.
Bukannya menjawab, Nathan hanya memberikan senyum tipis pada Vania.
Ya, saat Vania dan Liliana keluar dari kafe, Nathan datang menemuinya. Liliana cukup mengerti situasi dan menyuruh Vania untuk pergi dengan Nathan. Biar Resa bermain dulu di rumahnya, jadi Vania tidak perlu khawatir.
Nathan membawa Vania ke tempat bermain paralayang. Vania kaget saat Nathan tiba-tiba ingin mengajaknya untuk menaiki paralayang itu sendiri.
"Aku gak bisa Nathan, jangan gila deh." gerutu Vania pada Nathan yang memaksa nya untuk memakai alat keamanan di tubuhnya.
"Kamu gak usah takut, Kita akan naik ini sama-sama." bujuk Nathan menenangkan.
Vania sudah ingin menolak karena merasa takut. Dia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Tentu Vania takut terjadi sesuatu di atas sana.
"Trust Me Vania, ini menyenangkan."
Vania menatap kedua mata Nathan yang terlihat jujur. Pada akhirnya Vania mengangguk setuju, Nathan segera membantu Vania untuk menggunakan perlatan keamanan itu di tubuh Vania.
Saat sudah siap, Nathan yang berdiri tepat dibelakang Vania terus meyakinkan Vania jika mereka akan baik-baik saja.
"Nathan kamu yakin?" tanya Vania gugup. Tangannya menggengam erat tali yang dikatakan Nathan untuk pegangannya.
"Tenanglah Vania, Aku akan menunjukan hal menakjubkan di atas sana." bisik Nathan di telinga Vania karena jarak mereka yang begitu dekat.
Vania bahkan sampai merinding saat hembus nafas Nathan mengenai tengkuknya. Vania hanya menganggukkan kepalanya untuk merespon Nathan.
Pemandu memberi aba-aba pada Nathan dan menyuruh Nathan untuk bersiap terbang. Vania hanya mengikuti arahan Nathan meski matanya sesekali terpejam.
Dan saat Mereka mulai terbang, Vania menjerit sesaat sebelum Nathan kembali menyuruhnya tenang.
"Buka matamu Vania." ucap Nathan sedikit kencang karena angin cukup berhembus.
Perlahan Vania membuka kedua matanya. Dan benar saja, kini Vania terbang di atas. Menoleh sejenak pada Nathan yang terus tersenyum padanya.
"Nathan, ini indah sekali." ungkap Vania.
"Rentangkan saja tanganmu Vania."
"Apa boleh?"
Nathan mengangguk, dan tanpa ragu Vania merentangkan kedua tangannya dan merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Vania sangat menikmati suguhan pemandangan indah serta perasaan terbang yang turut membawa kesedihannya pergi.
Cukup 30 menit mereka mengudara di atas sana. Kini Vania dan Nathan sudah turun dari tempat paralayang.
Vania yang kesulitan membuka helm di kepalanya dibantu Nathan untuk membuka helm itu.
Jantung Vania terus berdebar saat berdekatan dengan Nathan.
Bahkan saat mereka mengudara di atas sana, Vania merasakan tidak ada jarak di antara mereka. Nathan selalu mendekatkan dada bidangnya pada Vania seolah mendekap agar memberikan perlindungan untuk Vania.
"Sudah." ucap Nathan.
Vania tersenyum setelah Nathan berhasil membuka pengait helmnya.
Keduanya memutuskan untuk mencari tempat makan disana sebelum pulang. Saat menunggu pesanan makanan, ponsel Vania berdering karena panggilan video dari nomor Liliana.
"Bundaaaa."
Wajah Resa muncul pertama kali di layar ponselnya.
"Ya Sayang ada apa? Bunda sebentar lagi akan pulang." ucap Vania.
"Tidak Bunda, Resa cuma mau izin kalau Daddy Sely mengajak kami untuk pergi ke Villa. Apa boleh Bunda?" tanya Resa.
"Ke Villa?" Resa mengangguk kemudian Liliana muncul juga di layar ponselnya.
Liliana mengatakan mereka akan menghabiskan akhir pekan di Villa keluarga dan ingin mengajak Resa.
"Apa tidak merepotkan kamu Lili?" tanya Vania.
Resa tidak membawa pakaian sama sekali untu pergi. Tapi Liliana mengatakan tidak perlu khawatir karena Resa bisa memakai beberapa setelan baju Sely yang bisa dipakai anak laki-laki.
"Lili, berikan Aku nomer rekeningmu."
Tiba-tiba saja Nathan ikut muncul dalam pembicaraan dan membuat Vania terkejut.
"Nathan tidak perlu."
"Cepat kirimkan Lili." kekeh Nathan dan di angguki oleh Liliana.
Nathan merebut ponsel Vania begitu saja dan melihat pesan yang dikirim Liliana. Tanpa ragu dia mengirimkan sejumlah uang untuk Liliana membelika. pakaian Resa juga keperluan mereka berlibur di Villa.
"Aku akan mengganti uangnya." ucap Vania setelah ponselnya dikembalikan Nathan.
"Baiklah, ganti segini sekarang." unjuk Nathan memperlihatkan berapa jumlah uang yang di kirimkan Nathan pada Liliana.
Mata Vania membola melihat nominal di ponsel Nathan. Vania menggaruk dahinya dan menatap ragu pada Nathan.
"Kenapa banyak sekali, boleh aku menyicilnya?" cicit Vania pelan.
Nathan tertawa melihat tingkah Vania yang lucu menurutnya. Nathan bersedekap dada dan memicingkan matanya.
"Berapa lama kamu akan mencicilnya?" tantang Nathan.
Vania mencebik karena kesal. Lagipula kenapa juga Nathan sampai mengirimkan uang sebanyak 10 juta.
"Aku tidak tahu." ketus Vania.
Nathan tertawa keras melihat kekesalan Vania. Tapi tidak lama, Nathan memegang tangan Vania yang ada di atas meja.
"Jangan di fikirkan, Aku tidak mau kamu mengembalikan itu, karena..."
.
.
......................
Jangan lupa Like ya teman-teman.. Tinggalkan komentar juga untuk cerita baru ini.
Terima kasih semuanya. 🙏😇