NovelToon NovelToon
Belaian Kakak Iparku

Belaian Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: syizha

Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Plot twist

Naasnya_

Alana tiba-tiba membalikkan tubuhnya. Dia yang berposisi membelakangiku, jadi menghadap ke arahku.

Aku kelincutan. Aku cepat-cepat menegakkan kembali kepalaku. Untung Alana tak curiga dengan perbuatanku.

"Mana lagi ya yang aku harus aku bersihkan?" Alana bergumam sendiri.

Dia melihat ke arah rak obat yang bertengger di sebelahku. Dia pun mendekat. Menghampiri rak yang dimaksud. Berdiri di depan rak obat tersebut.

Posisinya tepat di samping keberadaanku. Lagi-lagi membelakangiku. Bedanya, kini ia jauh lebih dekat denganku.

Aku diam-diam melirik ke arahnya. Kembali tatapanku tertuju ke bongkahan besar milik Alana. Bongkahan yang seolah sengaja Tuhan sajikan tepat di hadapanku.

Glekkkk....

Untuk kesekian kalinya aku menelan ludah. Cepat-cepat kuluruskan pandanganku. Aku tak boleh melirik lagi ke aset milik Alana yang memang menggiurkan. Pikirku, ini godaan. Aku harus mengabaikannya.

Alana berjinjit. Kini sapuan kemocengnya tertuju ke figura besar yang tertempel di dinding. Figura yang letaknya di atas meja yang baru saja ia bersihkan.

"Ih, ada laba-laba." Alana sedikit memekik. Ia mundur selangkah sambil mengibaskan laba-laba kecil yang semula tertempel di punggung tangannya. Sayangnya, langkahnya tersandung kakiku.

Ia terhuyung ke belakang. Lalu__

Pukkkk.....

Untung ia jatuh tepat di pangkuanku. Tetapi, bukankah itu adalah bencana bagiku? Bongkahan Alana yang sedari tadi menjadi pusat perhatianku, kini menempel di kedua pahaku.

Setelah menyadarinya, aku tertegun. Aku syok. Untuk beberapa detik aku tak bisa berkata-kata.

"Maaf, Dok." Alana seketika merasa tak enak. Tetapi bukannya segera beranjak berdiri, ia malah seolah nyaman duduk di pangkuanku. Apalagi ia sambil melingkarkan tangannya di bahuku.

"T-tak apa-apa. Santai aja." Dan bodohnya aku menjawab seperti itu.

"Pak Dokter nggak sakit karena kujatuhi?"

"Enggak."

"Btw. Tapi kok__" Alana menghentikan kalimat yang akan ia ucapkan.

"Ada apa?" Aku pun penasaran.

"Ada yang keras."

"Maksudnya?"

"Aku menduduki sesuatu yang keras."

Deg ....

Aku tercekat setelah mengetahui maksud ucapannya. Aku buru-buru menegakkan tubuh Alana. Aku tak boleh keterusan membiarkan dia duduk di pangkuanku.

"Pbhhhhtttt ...." Alana seperti ingin tertawa. Sedang aku sangat malu. Mungkin wajahku saat ini terlihat merah seperti tomat.

"Ternyata juniornya Pak Dokter sensitif banget ya. Gampang berdiri." Bisa-bisanya Alana berkata demikian. Aku jadi semakin malu.

Tok ... Tok ... Tok ....

Untung sebuah ketukan pintu terdengar.

Cekrekkk....

Pintu pun terbuka.

"Prakteknya bisa kita mulai sekarang, Dok?" Kepala Rini sedikit melongok ke dalam.

"Ya." Aku setuju. Selain untuk menghindari suasana yang baru saja, juga saat ini waktu memang sudah menunjukkan jam sepuluh tepat.

Setelah mengatakan itu Rini meninggalkan ruanganku. Aku lagi-lagi hanya berdua saja dengan Alana.

"Kalau gitu aku keluar ya, Pak Dokter. Pak Dokter met kerja aja." Alana melangkah menuju ke pintu. Tetapi___

Srettttttt...

Langkah itu terhenti. Gadis remaja itu kembali menoleh ke arahku.

"Tapi jangan lupa juni_ornya Pak Dokter dibobokin dulu. Hihihihi ....." Dia tertawa kecil. Kemudian meneruskan langkahnya. Dia benar-benar keluar dari ruanganku.

Brukkkkk....

Kujatuhkan kepalaku di atas meja. Kubenturkan jidatku ke permukaannya.

"Bodoh ... Bodoh... Bodoh....!" Aku merutuki diri sendiri.

***

Beberapa jam kemudian.....

Aku meregangkan otot-ototku. Hari ini lumayan capek. Pasienku membludak. Dan semuanya perlu penanganan serius.

Sekarang akhirnya aku sudah bisa beristirahat. Pasien habis tepat di jam makan siang.

Tok ... Tok ... Tok ....

Ketukan pintu terdengar.

Alana masuk. Sambil membawa tempat makanan di kedua tangannya.

"Aku bawain bekal makan siang buat Mas Juna." Dia berkata demikian. Ia kembali memanggilku Mas, bukan Pak Dokter lagi. Mungkin karena saat ini jam istirahat.

"Kenapa perlu dibawain. Mas kan bisa pulang ke rumah."

"Ya nggak pa-pa. Seru aja. Aku jadi kayak berasa Istri yang sedang membawakan bekal makan siang untuk suaminya yang lagi kerja." Dengan santainya dia berbicara seperti itu.

Alana berjalan ke arahku. Menggeret kursi untuk ia letakkan di samping keberdaanku. Posisinya lumayan dekat, bahkan menempel di kursiku.

"Makan dulu, Mas."

"Mas nanti aja. Mas lagi mau rekap data pasien dulu." Aku malah sibuk mengutak-atik komputer di hadapanku.

Alana tak menimpali ucapanku. Ia sibuk membuka bekal makanan yang kini bertengger di atas meja. Aku melirik sekilas, ia membawakan bekal orak arik daging kremi.

Tentu buatannya sendiri seperti biasa.

Alana menyendok makanan tersebut. Kemudian ia arahkan ke bibirku. Aku tertegun. Dia mau menyuapiku?

"Buka mulut Mas Juna!" perintahnya. Karena bibirku malah masih terbungkam.

Aku patuh. Bibirku menganga. Satu suapan pun masuk ke dalam mulutku.

"Pinter." Dia tersenyum. Dia memperlakukanku seperti bocah kecil yang masih butuh perhatian orang tua. Atau, dia menganggapku seolah seorang suami yang sedang ingin dimanja.

Aku tak lagi fokus ke layar komputerku. Kuraih bekal makanku.

"Mas akan makan sendiri."

Aku tak mau Alana terus menyuapiku. Aku tak enak. Dan rasanya tak begitu pantas.

"Lho, kenapa? Aku suapin aja, Mas. Nggak pa-pa. Mas Juna terusin aja kerjanya."

"Ini bisa Mas lakukan nanti, kok." Aku bersikeras.

"Yang bener?"

"Iya."

"Yaudah kalau gitu."

"Kamu juga makanlah." Aku menunjuk bekal makanannya dengan tatapanku.

"Oke."

Alana membuka bekal makan miliknya. Kini kami makan sama-sama. Menikmatinya tanpa obrolan untuk beberapa saat. Bodohnya, aku diam-diam melirik ke arahnya.

Memperhatikan wajahnya. Jika sedang diam seperti ini, dia benar-benar mirip Liliana. Hidungnya, bibirnya, semua sama. Hanya saja dia dalam versi yang berbeda. Dia lebih ceria, aktif, energik dan tentunya dia masih begitu muda.

"Mas!" Alana kemudian memanggil.

"Hmmm...."

"Mas Juna pernah ngen_tttttot."

"Uhukkk... Uhukkk...Uhukkk...." Aku langsung terbatuk-batuk mendengar pertanyaannya. Aku terdesak makananku sendiri.

"Mas Juna nggak pa-pa? Ini diminum dulu, Mas." Alana menyodorkanku air mineral yang ia taruh di wadah minuman. Aku meneguknya. Batukku pun jadi mereda. Aku lega.

"Jadi gimana?" tanya Alana.

"G-gimana apanya?"

"Pernah ngent_oooot?" Ia mengulangi pertanyaannya yang tadi. Yang membuatku tak habis pikir, bisa-bisanya dia berkata sefrontal itu.

"Kamu kenapa bertanya seperti itu" ucapku pada Alana

"Ya nggak pa-pa, aku cuma ingin tahu. Mas Juna kan nggak pernah nyentuh Mbak Liliana. Jadi aku penasaran, apa Mas Juna pernah menyentuh orang lain?"

Aku diam. Aku mengulak-alik makananku. Tetapi pikiranku sedang begitu riuh. Aku bingung menjawab pertanyaan Alana.

"Gimana, Mas? Pernah nggak?" Gadis itu terus mengejar.

"Belum."

"Dih! Kenapa perlu bohong sih." Belum apa-apa Alana sudah tahu jawaban dustaku. Aku heran, kenapa dia bisa semengerti itu.

"Ayolah, Mas, jujur sama aku!"

Aku kembali terdiam.

Tanganku kembali refleks mengulak-alik makananku.

"Pernah, sekali," lirihku.

Aku akhirnya mengatakan kebenaran. Dia langsung tersenyum.

"Kapan?"

"Sebelum menikah."

"Tepatnya?"

"Malam sebelum Mas menikahi Mbak kamu."

"Oh." Alana mengangguk-anggukkan kepala. Ekspresi nya aneh. Dia tak marah. Juga tak berusaha mengintimidasiku. Dia datar.

"Tapi kamu jangan bilang-bilang Mbak kamu ya. Anu, soalnya itu di luar kemauanku. Aku nggak sengaja. Pokonya ceritanya panjang. Aku waktu itu_"

"Iya-iya, aku nggak akan cerita sama dia. Pokoknya aman." Alana memotong ucapanku.

Aku lega. Semoga Alana bisa dipercaya.

"Mas Juna nggak gantian nanya sama aku?"

"Nanya apa?"

"Apa aku juga pernah ngelakuin yang kayak gitu."

"Nggak perlu Mas nanya, pasti belum kan?"

"Siapa bilang, aku juga udah pernah, kok."

Deg....

Aku tertegun. Aku refleks menatap lekat Alana.

"Kamu serius?"

"Ya."

"Kapan? Terus sama siapa? Kenapa kamu ngelakuin itu? Kamu kan masih muda. Harusnya kamu__" Aku menghentikan omelanku.

"Maaf," lirihku. Aku

menyesal. Harusnya aku tak boleh bersikap seperti ini.

Harusnya aku tak boleh langsung menyalahkannya. Ini bukan ranahku. Aku memang Abangnya, tetapi hanya Abang Ipar. Kami tak memiliki hubungan darah.

Tok ... Tok ... Tok ....

Ketukan pintu terdengar. Rini melongok dari ambang pintu tersebut.

"Dokter Kliwon sudah datang, Dok," kata Rini.

Aku janjian bertemu dengan Dokter Kliwon. Dia juga Dokter gigi. Tetapi bagian spesialis Ortodonsia.

"Oke. Aku akan temui dia." Aku berdiri. Aku tinggalkan makananku.

"Alana, Mas keluar dulu ya," pamitku terhadap Alana.

"Iya, Mas."

Aku pun benar-benar meninggalkan Alana sendirian di ruangan ini.

***

POV AUTHOR ....

Setelah kepergian Juna, Alana berdiam diri untuk beberapa saat. Tak lagi menikmati makanannya. Ia malah tiba-tiba meraih figura foto yang bertengger di atas meja. Figura yang berisikan foto Juna yang tengah mengenakan jas Dokter. Terlihat gagah dan tampan.

Alana tersenyum kecil. Ia mengelus foto tersebut dengan jarinya.

"Apa kamu tahu, Mas, aku tuh ngelakuin itu pertama kali sama kamu. Ternyata benar, kamu memang lupa," lirihnya. Ia berbicara terhadap foto Juna.

1
Anna leticia
baru mampir Thor, penasaran banget semoga aja ceritanya seru dan berkesan sampai keakhiir🌹🌹❤️😊
Anna leticia
penasaran mampir, penasaran banget, cuma kata plakor,itu merusak mata, cerita cinta dimulai dari kesalahan 🌹🌹🤔😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!