NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUARA DARI RADIO TUA

Keheningan yang pekat seketika menyelimuti ruang guru yang gelap gulita. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menggeser kaki atau sekadar mengubah posisi berdiri. Semua pasang mata kini tertuju lurus pada sesosok radio komunikasi tua berdebu yang tergeletak pasrah di atas meja kayu lapuk yang mulai digerogoti rayap.

Di sudut perangkat usang itu, sebutir lampu indikator kecil tampak berkedip-kedip lemah, memijarkan warna merah yang samar.

*Krrrttt...*

*Krrrtttt...*

Suara statis kembali menyengat kesunyian.

Damar bisa merasakan detak jantungnya berpacu jauh lebih cepat dari biasanya. Selama berbulan-bulan berjuang mati-matian untuk bertahan hidup di dalam kota yang hancur ini, mereka sama sekali tidak pernah menerima sinyal ataupun transmisi dalam bentuk apa pun. Tidak ada komunikasi, tidak ada tanda-tanda bantuan, bahkan tidak ada kabar dari dunia luar yang bisa mereka jangkau. Yang menemani langkah mereka selama ini hanyalah kesunyian yang mati.

Karena itulah, kemunculan suara sekecil apa pun dari radio tua tersebut malam ini terasa seperti sebuah mukjizat yang mustahil.

"Radio itu... beneran masih hidup?" gumam Alya lirih, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri.

Kapten Rendra melangkah perlahan mendekati meja. Ia mengambil posisi berjongkok tepat di depan perangkat tersebut, menyorotkan senter taktisnya untuk memeriksa kondisi fisik benda itu.

Itu adalah radio militer model lama. Lapisan debu tebal menyelimuti permukaannya, dan sebagian dari *casing* bajunya bahkan sudah retak parah. Secara logika, benda itu seharusnya sudah mati dan menjadi rongsokan tak berguna sejak lama. Namun, kenyataan di depan mata mereka berkata lain. Lampu indikator itu terus berkedip, menolak untuk mati.

*Krrrtttt...*

Tiba-tiba, di antara derau statis yang bising, menyelinap sebuah suara yang sangat samar.

"...llo..."

Ruangan itu seketika membeku.

Rudi bahkan tersentak dan bangkit berdiri terlalu cepat, hingga kaki kursinya membentur lantai ubin dan terjatuh menimbulkan suara berdentum. "Apa... apa lo semua denger itu?"

Damar mengangguk pelan dengan tatapan yang tak beralih dari radio. Mereka semua mendengarnya dengan sangat jelas. Itu adalah suara manusia. Terdengar lemah dan terputus-putus oleh gangguan sinyal, namun tidak salah lagi, itu adalah suara seseorang yang sedang berbicara dari seberang frekuensi.

Kapten Rendra dengan cekatan segera memutar kenop pencari frekuensi, mencoba mengunci gelombang. Suara statis di dalam ruangan itu pun berubah-ubah.

*Krrrttt... Kshhhh... Krrrtttt...*

Hingga akhirnya, suara misterius itu kembali timbul ke permukaan secara utuh.

"...apakah ada... yang menerima sinyal ini..."

Alya refleks menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan, menahan napas yang memburu. Sementara Rania yang sejak tadi hanya duduk meringkuk di pojok ruangan, perlahan-lahan ikut mengangkat kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak insiden tragis yang merenggut nyawa ayahnya, secercah binar kehidupan kembali muncul di sepasang mata bocah itu.

"Manusia..." bisik Rania terkesiap.

Ya, itu adalah suara manusia. Bukan geraman mengerikan dari para *infected*, dan bukan pula rekaman pesan otomatis yang diputar berulang-ulang oleh sistem komputer yang tersisa. Seseorang di luar sana sedang berbicara secara langsung. Seseorang yang entah bagaimana caranya, masih berhasil bertahan hidup.

Dengan tangan yang terlihat sedikit bergetar—sebuah pemandangan yang sangat langka dari seorang perwira tangguh—Kapten Rendra segera meraih mikrofon radio tersebut. Mungkin untuk pertama kalinya sejak wabah jahanam ini meletus, ada setitik harapan yang membakar dadanya.

Ia menekan tombol transmisi kuat-kuat. "Di sini kelompok *survivor*. Apakah ada yang menerima?"

Semua orang menahan napas, menunggu dalam ketegangan yang menyiksa. Beberapa detik berlalu, berganti menjadi satu menit yang terasa berjalan sangat lambat. Tidak ada jawaban yang kembali. Hanya suara desis statis yang konstan mengisi keheningan.

Rudi menghela napas berat, bahunya merosot kecewa. "Mungkin cuma sisa sinyal lama yang baru ketangkap..."

Namun, tepat saat kalimat Rudi baru saja tuntas—

*Krrrtttt...*

"...kami menerima transmisi kalian."

Darah mereka seolah berhenti mengalir seketika. Suara itu kembali terdengar, dan kali ini artikulasinya jauh lebih jelas dan nyata di telinga mereka.

"Kami menerima transmisi kalian. Tetap berada di jalur."

Damar dan Alya saling melempar pandang dengan mata membelalak. Mereka benar-benar sedang melangsungkan komunikasi dua arah dengan kelompok *survivor* lain. Ini bukan mimpi di siang bolong, dan bukan pula halusinasi kolektif akibat kelelahan mental. Seseorang yang waras memang masih hidup di luar sana.

Kapten Rendra kembali menekan tombol komunikatornya. "Siapa kalian?"

Butuh waktu beberapa detik sebelum gelombang radio kembali mengirimkan jawaban.

"Kami tidak bisa menjelaskan detail identitas kami lewat frekuensi terbuka ini," suara yang terdengar adalah milik seorang pria yang diperkirakan berusia sekitar empat puluh tahunan. Intonasinya terdengar tenang, berat, dan dipenuhi wibawa. "Kami hanya bisa menyampaikan satu hal penting kepada kalian."

Radio kembali dipenuhi desis statis selama sesaat, sebelum suara pria itu kembali memecah udara.

"Kalian harus segera keluar dari kota itu."

Suasana di dalam ruang guru itu mendadak mendingin. Damar merasakan bulu kuduk di sepanjang tengkuknya meremang sempurna. Keluar dari kota—itulah satu-satunya tujuan utama yang selama ini mereka kejar mati-matian hingga mengorbankan banyak nyawa. Dan sekarang, orang asing misterius di balik radio ini langsung menyebutkannya tanpa ragu.

Kapten Rendra menurunkan pandangannya, menatap nanar ke arah peta militer di genggamannya. "Semua jalur keluar utama dari kota ini sudah ditutup total."

Jawaban dari seberang sana datang jauh lebih cepat kali ini.

"Kami tahu."

"Jembatan utama diledakkan."

"Terowongan jalan tol disegel mati."

"Dan seluruh perimeter Tembok Karantina dijaga ketat."

Mendengar penuturan itu, semua orang di dalam ruangan saling berpandangan dengan rahang mengeras. Pria misterius itu mengetahui seluruh kondisi geografis dan rintangan di perbatasan secara mendetail, seolah-olah dia pernah berada di posisi mereka, atau mungkin pernah mencoba meloloskan diri dengan cara yang sama.

"Kalian... siapa sebenarnya?" tanya Damar, akhirnya tidak bisa menahan diri untuk ikut bersuara di dekat mikrofon.

Saluran radio terdiam cukup lama, menyisakan kesunyian yang menegangkan, sebelum akhirnya suara itu kembali berkata:

"Kami adalah orang-orang yang telah berhasil keluar dari sana."

Kalimat singkat itu menghantam seisi ruangan layaknya sambaran petir di siang bolong. Orang-orang yang berhasil keluar.

Damar bahkan tidak menyadari bahwa tubuhnya kini sudah bangkit berdiri tegak. "Mustahil," sahut Rudi lebih dulu, menyuarakan isi pikiran semua orang yang ada di sana.

Sebab, mereka baru saja melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kondisi nyata di perbatasan kota. Jalur transportasi dihancurkan, pembatas beton dibangun sekokoh benteng, dan tidak ada satu pun celah yang tersisa untuk meloloskan diri. Namun, nada suara dari seberang radio itu terdengar teramat yakin tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Kami berhasil keluar dari kota itu sekitar delapan bulan yang lalu."

Atmosfer di dalam ruangan seketika bergeser. Delapan bulan. Fakta itu menandakan bahwa kelompok di seberang sana telah berhasil bertahan hidup di luar sana dalam kurun waktu yang sangat lama—bahkan mungkin jauh lebih lama dibanding mayoritas *survivor* yang tersisa di dalam kota penjara ini.

Kapten Rendra langsung mengesampingkan keterkejutannya dan kembali fokus pada inti masalah. "Bagaimana caranya? Lewat mana?"

Suara desis statis sempat merajai udara selama beberapa saat, sebelum pria itu memberikan jawabannya.

"Ada jalur keempat."

Semua orang serentak menahan napas mendengar dua kata tersebut. Jalur keempat. Sebuah rute pelarian yang tidak pernah tercantum di dalam lembaran peta manapun, tidak terdata dalam arsip resmi militer, dan tidak diketahui oleh khalayak umum.

"Di mana lokasinya?" tanya Alya dengan nada mendesak.

Namun, pria di seberang sana tidak langsung membeberkan jawaban yang mereka inginkan. "Kami tidak bisa membocorkan koordinat lokasinya melalui frekuensi radio yang terbuka secara bebas seperti ini."

Kapten Rendra langsung menangkap maksud tersembunyi di balik ucapan tersebut. Jika kelompok mereka bisa menangkap sinyal ini dengan radio tua, maka siapa pun di luar sana yang masih memiliki perangkat pemancar serupa juga bisa menyadap percakapan mereka—termasuk pihak-pihak berbahaya yang tidak mereka ketahui keberadaannya.

"Kami butuh bukti nyata," tegas Rendra dengan nada menuntut. "Bagaimana kami bisa tahu kalau kalian beneran *survivor*, dan bukan jebakan?"

Pria itu terdiam sejenak. Tak lama kemudian, terdengar gesekan mikrofon yang berpindah tangan, disusul oleh suara baru yang muncul dari corong radio. Kali ini, suara seorang wanita.

"Kamp Harapan."

Kening Damar dan Rendra seketika mengernyit dalam. "Apa?" tanya Damar ragu.

"Kamp Harapan," ulang suara wanita itu dengan intonasi yang tegas. "Pos evakuasi militer sektor tiga."

Tubuh Damar seketika membeku di tempat, begitu pula dengan Kapten Rendra. Mereka berdua mengenali nama tempat itu dengan sangat baik. Kamp Harapan—titik evakuasi pertama yang pernah mereka tuju pada hari-hari awal runtuhnya peradaban, tempat yang pada akhirnya berubah menjadi neraka jahanam akibat serbuan wabah. Tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan atau sejarah kelam dari lokasi tersebut, apalagi setelah seluruh areanya hancur berantakan dan ditinggalkan.

Kapten Rendra menatap tajam ke arah radio tua di depannya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat serius. Mereka kini tahu bahwa mereka tidak sedang berbicara dengan seorang penipu.

Percakapan lintas frekuensi itu terus berlangsung selama hampir satu jam penuh. Kelompok Damar membagikan informasi mengenai kondisi terkini mereka secara garis besar, sementara pihak di seberang radio memberikan rentetan informasi balik yang jauh lebih mengejutkan nalar.

Ternyata, kelompok misterius itu bukanlah sekumpulan kecil manusia yang bersembunyi di dalam gua. Mereka adalah bagian dari sebuah komunitas *survivor* dalam skala yang jauh lebih masif. Ada ratusan kepala yang tinggal di luar zona karantina, membangun permukiman mandiri yang aman, bercocok tanam, dan mulai menata kembali sisa-sisa peradaban demi bertahan hidup.

Mendengar penuturan itu, sudut mata Alya tampak berkaca-kaca, hampir meneteskan air mata. Karena selama ini, di dalam benak mereka, dunia luar telah sepenuhnya berakhir dan musnah. Namun ternyata dugaan mereka salah besar. Masih ada kehidupan di luar sana. Masih ada harapan yang nyata, dan masih ada manusia yang berjuang keras untuk merajut masa depan baru.

Namun, seolah semesta enggan membiarkan mereka bernapas lega, kabar baik itu segera disusul oleh rentetan kabar buruk. Kabar yang teramat buruk.

"Virus ini tidak pernah berhenti bermutasi. Mereka terus berevolusi," ujar pria di seberang radio, suaranya mendadak berubah berat. "Dan prosesnya berjalan jauh lebih cepat dari yang pernah kami prediksikan sebelumnya."

Kapten Rendra seketika teringat akan barisan tentara terinfeksi yang mereka temui beberapa hari lalu. "*Super infected*," gumamnya lirih. "Jadi... kalian juga sudah pernah bertemu dengan mereka?"

"Ya," jawab suara itu singkat namun sarat akan kengerian. "Dan ancamannya bukan cuma sekadar barisan tentara yang terinfeksi."

Atmosfer di dalam ruangan guru itu mendadak berubah drastis menjadi mencekam. "Apa maksud lo?" tanya Damar dengan nada menuntut.

Jawaban yang keluar dari corong radio berikutnya sukses membuat darah di sekujur tubuh mereka terasa membeku seketika.

"Ada jenis baru yang lahir dari mutasi itu."

Kesunyian kembali merajai ruangan. Bahkan suara rintik hujan yang mulai membasahi halaman sekolah di luar sana seakan-akan meredup, kalah oleh ketegangan yang mendera.

"Jenis baru?" ulang Alya dengan suara bergetar.

"Mutasi generasi berikutnya," sahut suara di radio. "Kami sudah kehilangan beberapa tim pengintai terbaik kami akibat berhadapan dengan mereka."

Kapten Rendra mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Seperti apa karakteristik mereka?"

Suara desis statis sempat terdengar cukup lama, seolah-olah pria di seberang sana sedang memilah kata-kata yang tepat agar tidak menimbulkan kepanikan yang berlebihan. Hingga akhirnya, ia kembali bersuara.

"Mereka tidak berburu secara babi buta seperti *infected* biasa yang sering kalian lihat. Mereka... mengintai. Mereka mengamati pergerakan kalian dari kegelapan. Mereka belajar."

Pikiran Damar seketika melayang, teringat kembali pada pemandangan mengerikan di atas atap gedung beberapa hari yang lalu—saat barisan tentara terinfeksi hanya berdiri diam dalam kesunyian, mengawasi pergerakan kelompok mereka dengan tatapan yang seolah-olah sedang berpikir. Rasa dingin yang pekat perlahan menjalar di sepanjang tulang belakangnya.

"Dan yang menjadi bagian paling berbahaya dari segalanya..." lanjut suara itu lagi, "mereka mulai menunjukkan kemampuan untuk bekerja sama satu sama lain."

Tidak ada satu pun dari mereka yang mampu mengeluarkan kata-kata untuk beberapa saat. Informasi itu terlampau berat dan mengerikan untuk bisa dicerna oleh akal sehat. Jika para monster itu mulai membentuk koloni, dan jika mereka mulai memiliki kemampuan kognitif untuk berpikir dan menyusun strategi, maka masa depan umat manusia berada dalam ancaman yang jauh lebih mengerikan dari apa yang pernah mereka bayangkan selama ini.

Kapten Rendra memejamkan matanya erat-erat. Potongan-potongan teka-teki informasi yang berhasil mereka kumpulkan sepanjang perjalanan ini perlahan-lahan mulai tersusun membentuk sebuah gambaran utuh yang mengerikan.

Proyek Genesis. Eksperimen rahasia militer. Zona uji coba buatan. Hingga lahirnya tentara mutasi. Semua itu mengarah pada satu kesimpulan mutlak yang sama: virus itu tidak pernah gagal. Eksperimen mereka berhasil dengan sangat sempurna—bahkan terlampau sempurna hingga menumbangkan penciptanya sendiri.

Menjelang tengah malam, kualitas tangkapan sinyal radio mulai memburuk secara drastis. Derau statis terdengar semakin dominan, menandakan bahwa percakapan ini tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Menyadari hal itu, Kapten Rendra langsung memotong pembicaraan dan melempar pertanyaan paling krusial yang mereka butuhkan.

"Bagaimana cara kami bisa menemukan rute kalian?"

Suara radio kembali dipenuhi desis bising yang memekakkan telinga, sebelum akhirnya jawaban yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi meluncur keluar.

"Ada sebuah fasilitas bawah tanah."

"Lokasinya berada di sektor selatan kota."

Mendengar penuturan itu, Damar langsung memutar memori otaknya, mengingat kembali detail peta taktis militer. Sektor selatan adalah satu-satunya wilayah yang hampir tidak pernah mereka jamah sama sekali sepanjang pelarian. Wilayah itu terlampau berbahaya, karena posisinya berbatasan langsung dengan pusat dari episentrum awal mula wabah meletus.

"Fasilitas apa yang dimaksud?" tanya Alya tergesa-gesa.

"Terowongan servis utilitas lama," jawab suara itu di antara desis sinyal yang kian melemah. "Jalur itu digunakan secara rahasia sebelum proyek tembok karantina resmi dibangun dan dikunci mati."

Kapten Rendra dengan cepat mencatat setiap poin informasi penting itu di atas secarik kertas kosong.

"Di sanalah titik awal dari jalur keempat itu berada," sambung pria itu lagi. "Jalur rahasia yang membawa kami keluar menuju kebebasan."

Titik harapan yang tadinya sudah padam dan mati di dalam diri mereka, perlahan-lahan mulai memercikkan api kehidupan kembali. Untuk pertama kalinya sejak mereka kehilangan markas utama, sejak kehilangan rekan-rekan seperjuangan, dan sejak kepergian tragis Pak Rangga, mereka akhirnya kembali memiliki sebuah tujuan. Sebuah tujuan nyata yang memandu langkah mereka.

Namun, tepat sebelum koneksi komunikasi itu benar-benar terputus sepenuhnya, suara di seberang radio kembali melontarkan sebuah peringatan yang sanggup mengembalikan ketegangan di dalam ruangan.

"Dengar baik-baik," nada suaranya berubah menjadi teramat serius dan dingin. "Sektor selatan yang kalian tuju sekarang... sudah bukan lagi tempat yang sama seperti yang kalian ingat dulu."

Kapten Rendra mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"

"Kami baru saja kehilangan kontak dengan beberapa tim pengintai terbaik yang kami kirim ke wilayah sana."

Desis statis terdengar semakin keras menenggelamkan suara. Kemudian berlanjut:

"Mereka tidak pernah kembali ke permukiman."

Suasana di dalam ruang guru itu seketika kembali berubah menjadi sedingin es.

"Kalian harus ekstra hati-hati," sambung pria itu lagi. "Ada sesuatu yang sangat besar... yang sedang bergerak di bawah tanah kota itu."

*Krrrtttt...*

Sinyal radio tampak sudah menyentuh batas maksimalnya dan mulai meredup drastis.

"Kami akan mencoba menghubungi frekuensi ini lagi jika situasinya memungkinkan... Segera bergerak menuju sektor selatan... Itu adalah satu-satunya kesempatan yang kalian punya..."

Kapten Rendra menganggukkan kepalanya mantap, meski ia tahu pria di seberang sana tidak akan bisa melihat responsnya. "Kami mengerti."

"Semoga berhasil... tetap bertahan hidup..."

Dan beberapa detik kemudian, perangkat radio tua itu kembali dipenuhi oleh suara desis statis yang bising dan panjang.

*Krrrtttt... Krrrtttt...*

Hingga akhirnya, suara itu lenyap sepenuhnya, berganti menjadi kesunyian yang absolut. Komunikasi mereka telah terputus secara total.

Tidak ada satu pun dari mereka yang langsung mengeluarkan suara. Semua orang masih terduduk diam, mencoba mencerna rentetan informasi masif yang baru saja menghantam benak mereka. Informasi yang terlampau banyak, dan terlampau besar untuk dihadapi sekaligus. Namun, ada satu hal yang tidak bisa disangkal oleh siapa pun malam itu: mereka kini memiliki sebuah harapan baru. Harapan yang nyata.

Rania menjadi orang pertama yang memecah keheningan yang mencekam itu. Dengan volume suara yang sangat kecil dan bergetar, ia mendongak dan bertanya, "Kalau... kalau kita beneran bisa keluar dari kota ini..."

Semua mata sontak beralih, menatap lurus ke arah bocah perempuan itu.

"...apakah di luar sana masih ada tempat yang aman buat kita?"

Damar menatap lekat-lekat wajah polos Rania. Di detik itu, memori tentang janjinya kepada Pak Rangga kembali berputar kuat di dalam kepalanya. Dengan gerakan perlahan, ia menurunkan tubuhnya, berlutut tepat di hadapan Rania hingga pandangan mereka sejajar. Sebuah senyuman tipis, namun sarat akan ketulusan, terukir di wajahnya yang lelah.

"Mungkin saja, Rania."

Rania mengeratkan dekapannya pada boneka beruang lusuhnya. "Benarkah, Kak?"

Damar menganggukkan kepalanya mantap. "Kita pasti akan cari tahu jawabannya bersama-sama."

Untuk pertama kalinya sejak kepergian sang ayah, sebaris senyuman kecil yang teramat tulus tampak merekah di sudut bibir Rania. Dan bagi Damar, senyuman sederhana dari bocah itu terasa jauh lebih berharga daripada apa pun yang ada di dunia yang hancur ini.

Larut malam pun tiba menyelimuti bumi. Anggota kelompok yang lain akhirnya mulai terlelap satu per satu akibat didera kelelahan fisik dan mental yang luar biasa. Semua orang tertidur, kecuali Damar.

Pria itu memilih untuk berdiri sendirian di dekat celah jendela ruang kelas yang kacanya sudah pecah berantakan. Matanya menatap lurus keluar, memandang lanskap kota yang tenggelam di dalam kegelapan malam yang pekat. Kota jahanam yang telah merenggut begitu banyak hal berharga dari dalam hidupnya; teman, rumah, harapan, hingga sosok keluarga. Namun kini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka memiliki sebuah alasan yang solid untuk terus melangkah maju.

Suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat dari arah belakang, sebelum akhirnya Kapten Rendra mengambil posisi berdiri tepat di sampingnya, ikut menatap keluar jendela.

"Ada sesuatu yang lagi lo pikirin?" tanya pria berseragam itu pelan.

Damar tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya. "Banyak hal, Kapten."

Rendra ikut melemparkan pandangannya ke arah deretan gedung-gedung mati di kejauhan. "Lo... merasa takut?"

Damar terdiam selama beberapa saat, membiarkan keheningan malam meresap ke dalam dirinya, sebelum akhirnya memberikan jawaban yang jujur. "Iya. Gue takut."

Kapten Rendra menganggukkan kepalanya pelan, memahami jawaban tersebut. "Gue juga."

Angin malam kembali berembus masuk melalui celah jendela yang menganga, membawa serta aroma tanah basah akibat hujan yang kian menderu deras di luar sana. Namun, entah mengapa, kali ini sensasi dingin yang dibawa oleh angin tersebut terasa berbeda di kulit Damar. Aroma itu tidak lagi terasa seperti sebuah pertanda buruk atau lonceng kematian yang mengintai, melainkan terasa seperti sebuah babak pembuka dari sebuah perjalanan yang baru.

"Sektor selatan," gumam Damar lirih. "Kelihatannya tempat itu bakal berubah jadi neraka yang sesungguhnya buat kita."

Mendengar hal itu, Rendra justru terkekeh kecil, sebuah tawa pendek yang langka. "Sejak kapan emangnya hidup kita gak berada di dalam neraka, Dam?"

Mendengar gurauan sarkas itu, keduanya akhirnya sama-sama menyunggingkan senyuman tipis yang tulus. Sebab, setelah sekian lama dipaksa berjalan terombang-ambing tanpa arah dan kepastian di tengah badai, akhirnya ada secercah cahaya penuntun yang menanti mereka di ujung jalan yang gelap.

Mereka memang belum tahu pasti hal mengerikan apa lagi yang sedang menunggu mereka di sektor selatan sana. Mungkin sebuah keselamatan, mungkin kematian yang tragis, atau mungkin sesuatu yang jauh lebih buruk dari imajinasi terliar mereka. Namun satu hal yang pasti: perjuangan mereka belum berakhir di sini.

Justru dari titik inilah... babak yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.

1
adib
kok kenapa jadi alya yang punya antivirus.. bukannnya alya dr awal
Adira Malam: waduh, bentar ya ka saya coba cek lagi. takutnya saya salah tulis. di episode berapa ya ? 🥲
total 1 replies
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!