"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02// MBKCM
Setelah gairah yang terpuaskan itu, Ardan memakai kembali bajunya. Satu per satu kancing kemejanya dikembalikan ke tempatnya, disusul dengan celana kain mahalnya yang sempat teronggok di lantai mobil. Dia melirik ke gadis yang bernama Kiana itu yang kini sudah terkulai lemas tertidur. Wajah gadis itu tampak begitu polos di bawah temaram lampu kabin yang redup, dengan sisa-sisa air mata yang mengering di sudut matanya yang indah.
Ardan menghela napas berat. Ada rasa bimbang yang sempat mampir di kepalanya. Namun, egonya sebagai seorang pria berkuasa kembali mengambil alih. Ardan tidak memakaikan baju Kiana kembali, merasa itu bukan kewajibannya dan hanya akan mengganggu tidur lelap gadis yang kelelahan tersebut. Tapi dia hanya menyelimutkan jas miliknya, membiarkan wanita itu tidur untuk mengumpulkan kesadarannya sesaat. Kain jas tebal itu kini membungkus tubuh polos Kiana, menyebarkan aroma parfum maskulin khas Ardan yang kuat.
Setelah memastikan Kiana tertutup rapat, Ardan berpindah ke kursi depan. Dia menyandarkan kepalanya di kemudi, menatap lurus ke depan, ke arah jalanan jembatan yang masih sepi dan berkabut. Pikirannya melayang jauh, memikirkan bagaimana takdir membawanya ke dalam situasi sekotor ini. Jam digital di dasbor mobil terus berputar, merayap perlahan membelah keheningan malam yang dingin.
Waktu berlalu, dan atmosfer kegelapan mulai menipis berganti abu-abu keperakan. Sebelum fajar terbit, Kiana terbangun. Kelopak matanya yang lentik bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Hal pertama yang menyerang indranya adalah rasa sakit yang luar biasa di bagian atas kepalanya. Dia memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit, berdenyut-denyut kejam akibat efek sisa alkohol semalam. Namun, rasa sakit di kepala belum seberapa dibandingkan dengan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya jauh terasa lebih terasa remuk, otot-ototnya kaku, dan dia merasakan nyeri di area intinya. Rasa perih yang asing dan menusuk-nusuk.
Kiana terlonjak, mencoba untuk duduk tegak, namun gerakan itu justru membuat jas yang menyelimutinya merosot. Kiana terkejut setengah mati saat dirinya sadar tidak memakai apa-apa di balik jas wangi yang menyelimutinya. Detak jantungnya berpacu gila-gilaan, memompa adrenalin yang seketika mengusir sisa-sisa rasa kantuknya. Dengan mata membelalak panik, Kiana melihat seluruh bajunya tergeletak di kursi sampingnya tertidur. Dress sederhananya kusut, terlipat asal di sudut jok kulit.
"Astaga... apa yang terjadi?" bisik Kiana, suaranya gemetar hebat menahan tangis.
Ingatannya masih buram. Potongan-potongan kejadian semalam berputar acak seperti kepingan puzzle yang rusak. Kiana belum ingat apapun, justru panik mengira berhasil dilecehkan oleh rentenir tua itu semalam. Pikirannya langsung melompat pada skenario terburuk bahwa pria tua bangka bertubuh tambun itu telah berhasil menangkapnya dan merenggut kesuciannya.
"Gak... gak mungkin... itu tidak mungkin terjadi..." rintih Kiana mulai histeris. Dia bergerak rusuh di kursi belakang, mencoba meraih pakaiannya dengan tangan yang bergetar hebat, menimbulkan suara gesekan kain dan kepanikan yang bising.
Sampai suara berisiknya membuat Ardan bangun dari tidur yang tidak benar-benar tidur itu. Ardan, yang sejak tadi hanya memejamkan mata di kursi kemudi, langsung menegakkan tubuhnya. Suasana bising di belakangnya membuat ketenangannya terusik.
"Bisa diam tidak? Berisik sekali," suara bariton yang berat dan dingin memecah kepanikan Kiana.
Kiana tersentak. Suara itu bukan milik si rentenir tua. Suara itu terlalu berwibawa, terlalu muda, dan sangat asing. Dengan tubuh yang masih terbungkus jas hitam tebal, Kiana memundurkan tubuhnya hingga merapat ke pintu mobil, menatap ngeri ke arah kursi depan.
"Ka-kamu siapa?!" tanya Kiana dengan nada bergetar, menyembunyikan rasa takutnya yang membubung tinggi.
Ardan menoleh ke belakang, membuat wajah tampannya kembali terlihat oleh Kiana. Di bawah pencahayaan lampu mobil yang redup, garis rahangnya yang tegas, hidung mancungnya yang sempurna, dan mata elangnya yang tajam terpampang jelas.
Begitu melihat wajah itu, ingatan Kiana seperti dihantam ombak besar. Kilasan-kilasan memori semalam mendadak berputar jernih di otaknya. Jembatan sepi, rasa frustrasinya, genggaman erat pria ini yang menyelamatkannya dari maut, dan yang paling memalukan... Kiana langsung ingat kejadian semalam dia yang dengan bodohnya mencium pria yang ingin menolongnya dan berakhir di dalam mobil ini. Wajah Kiana seketika memucat, berganti merah padam karena rasa malu dan syok yang luar biasa. Dia sendiri yang memancing pria ini. Dia yang menarik kerah kemejanya.
Ardan menatap Kiana dengan pandangan datar tanpa emosi, menyadari perubahan ekspresi di wajah gadis itu. "Sudah ingat?" tanya Ardan dingin, nadanya terdengar begitu sinis. "Baguslah kalau ingatanmu sudah kembali. Aku tidak mau mendengar penyesalanmu."
Kiana hanya bisa terpaku, bibirnya kelu tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Rasa malu, bersalah, dan hancur bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
Ardan tidak berniat memperpanjang interaksi itu. Dia memutar tubuhnya, lalu membuka pintu kemudi. Ardan keluar dari mobil memberi ruang Kiana untuk memakai bajunya. Dia tahu gadis itu butuh privasi untuk merapikan diri dari kekacauan yang mereka buat bersama.
Brak
Pintu mobil tertutup, menyisakan Kiana yang langsung menangis dalam diam, dengan cepat memakai kembali pakaiannya yang kusut.
Sementara itu, di luar mobil, angin pagi bertiup sangat dingin menusuk kulit kemeja Ardan yang sudah tidak serapi biasanya. Ardan berjalan beberapa langkah menjauh dari mobilnya, merogoh saku celana, dan mengeluarkan ponselnya. Di luar, Ardan langsung menelpon asisten pribadinya, Bimo.
Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum akhirnya terdengar suara parau dari seberang sana. 📞 "Halo pak,"
"Halo, Bimo. Kemari sekarang juga. Bawa uang cash 10 juta, aku sudah mengirim lokasinya," perintah Ardan tanpa basa-basi, suaranya mutlak tidak menerima bantahan.
Bimo di seberang telepon dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya di pagi itu, mengerang pelan sambil mengucek matanya. Jam dinding di kamarnya bahkan belum menunjukkan angka empat, dan bosnya sudah memberikan perintah yang tidak masuk akal.
📞 "Ini masih pagi buta, Pak..." gumam Bimo dengan suara khas orang baru bangun tidur. Bimo sembari menjawab telepon itu sembari membuka pesan di ponselnya, melihat koordinat lokasi yang dikirimkan oleh sang bos. Matanya yang mengantuk langsung melebar begitu melihat titik merah di aplikasinya.
📞 "Pak... Anda berada di tempat yang cukup sepi. Anda tidak sedang dirampok kan? Kenapa di pagi buta seperti ini Anda meminta uang cash 10 juta?" tanya Bimo panik, suaranya mendadak melengking penuh kekhawatiran. Lokasi jembatan itu terkenal sepi dan rawan di jam-jam rawan seperti ini.
Ardan berdecak kesal, memijat pelipisnya yang mendadak pening mendengarkan kecerewetan asistennya. "Sudah jangan banyak bicara. Cepat kemarilah. Aku beri waktu dua puluh menit."
Mendengar nada suara Ardan yang mulai meninggi dan tidak ingin didebat, Bimo langsung menegakkan tubuhnya di atas kasur. 📞 "Baik, Pak. Saya segera kesana sesuai perintah Anda. Saya cari ATM atau membuka brankas kantor dulu."
Telepon ditutup sepihak oleh Ardan. Pria itu memasukkan kembali ponselnya ke saku, lalu bersedekap dada sambil bersandar di bagian depan mobilnya, menunggu dengan tidak sabar.
***
20 menit berlalu tepat, sebuah mobil sedan perak membelah kabin pagi dan berhenti tepat di belakang mobil Ardan. Pintu terbuka, dan Bimo keluar dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya tampak cemas dengan rambut yang sedikit acak-acakan karena terburu-buru. Bimo sampai di sana dengan sebuah amplop cokelat tebal di tangannya.
Ardan melirik asistennya itu dengan pandangan datar. Di sisi lain, Kiana masih belum keluar dari mobil. Gadis itu masih menyiapkan diri untuk berhadapan dengan pria yang semalam dia panggil mas bidadari dengan lancang. Di dalam mobil, Kiana terus meremas jemarinya, menahan rasa takut dan gemetar yang belum sepenuhnya hilang.
"Pak Ardan! Anda tidak apa-apa kan?" Bimo setengah berlari menghampiri bosnya, matanya menyapu seluruh tubuh Ardan untuk memastikan tidak ada luka. "Ini uangnya, Pak. Mana penjahatnya? Mau saya panggilkan polisi?" tanya Bimo bertubi-tubi sambil menyodorkan amplop cokelat tersebut.
Bertepatan dengan itu, pintu belakang mobil Ardan terbuka perlahan. Kiana akhirnya keluar dari mobil.
Bimo kaget melihat ternyata bosnya bersama seorang wanita. Matanya melotot sempurna, mulutnya sedikit menganga menatap sosok gadis yang baru saja keluar dari kursi belakang mobil mewah bosnya yang terkenal anti-wanita itu.
Kiana terlihat berantakan meski dia sudah mencoba merapikan penampilannya. Rambut panjangnya yang indah sedikit kusut, cardigannya terlihat tertekuk karena semalam ditaruh begitu saja dan wajahnya pucat pasi tanpa riasan dengan mata yang sedikit sembap. Kiana melangkah mendekat dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap langsung ke arah dua pria di depannya.
Kiana mendekat ingin minta maaf, bibirnya baru saja terbuka untuk mengucapkan kata penyesalan atas kelancangannya semalam. "Maaf... soal semalam, saya—"
Tapi sebelum itu, Ardan memotong kalimatnya dengan dingin. Dia merebut amplop cokelat dari tangan Bimo, lalu memberinya uang cash 10 juta itu langsung ke hadapan Kiana.
Kiana tertegun, menatap amplop tebal di tangan Ardan dengan pandangan tidak mengerti.
"Ambil ini," ucap Ardan, suaranya terdengar seperti perintah mutlak tanpa bantahan. Ardan mengatakan lupakan kejadian semalam, anggap itu tidak pernah terjadi, anggap kita tidak pernah bertemu. "Aku rasa uang itu cukup untukmu. Pergilah dan beli obat atau apa pun yang kamu butuhkan."
Kiana merasa dadanya sesak, seperti dihantam batu besar. Dia bukan wanita bayaran, dan dia tidak melakukan ini demi uang. Uang ini terasa seperti sebuah hinaan bagi harga dirinya yang sudah hancur. Kiana sedikit merasa tertekan dengan perkataan itu, matanya berkaca-kaca menatap Ardan.
Namun, Ardan belum selesai dengan kalimatnya. Dia menatap Kiana dengan kilat mata yang tajam, memberikan peringatan keras. "Dan satu hal... aku tidak mau suatu hari nanti kamu datang denganku, mencari perhatian, atau menuntut hal konyol dengan alasan palsu tentang kehamilan."
Sebelum Kiana sempat membalas, Ardan melanjutkan dengan suara yang lebih rendah, namun sarat akan kepahitan yang tersembunyi. "Karena aku mandul. Jadi, jangan pernah bermimpi untuk menggunakan alasan anak untuk menjebakku."
Deg
Kata 'mandul' itu terngiang di telinga Kiana. Kiana hanya mengangguk patuh, tidak ingin memperpanjang perdebatan atau membela diri. Dalam kondisinya yang hancur dan tidak punya apa-apa lagi setelah dikhianati Dafa, dia tahu dia tidak berada di posisi untuk melawan seorang pria kaya raya seperti Ardan. Dia memeluk erat uang itu, merasakan kertas tebal di dalam amplop itu menekan dadanya, lalu berniat pergi dari tempat terkutuk itu.
Namun baru dua langkah Kiana berjalan, Ardan mencegahnya sebentar. "Tunggu!"
Langkah kaki Kiana terhenti saat suara dingin itu kembali terdengar.
"Ingat, jangan katakan pada siapapun soal ini, dan apapun yang sudah kamu ketahui tentangku. Termasuk apa yang baru saja aku katakan. Atau kamu akan menanggung akibatnya. Aku bisa membuat hidupmu jauh lebih sulit dari ini," ancam Ardan kejam.
Kiana mengangguk patuh sekali lagi, tanpa berani menoleh ke belakang. Air matanya menetes pelan, membasahi pipinya yang dingin terkena angin subuh. Kiana benar-benar pergi dengan langkah yang sedikit tertatih, menahan rasa perih di area intinya. Sosoknya yang ringkih perlahan menjauh, tenggelam di balik kabut pagi yang mulai menipis di ujung jembatan.
Sementara Bimo yang sejak tadi hanya memperhatikan dengan mata membelalak dan mulut terkunci, akhirnya bersuara setelah memastikan wanita itu sudah cukup jauh.
"Wah, Pak..." Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap bosnya dengan pandangan tidak percaya sekaligus takjub. "Ini maksudnya... Anda melakukan itu dengan wanita tadi? Di dalam mobil?!"
Ardan tidak menjawab, dia hanya menatap lurus ke arah perginya Kiana dengan pandangan yang sulit diartikan.
Bimo yang terkenal bermulut ember dan akrab dengan bosnya itu terus mengoceh, merasa mendapat keajaiban dunia kedelapan. "Hebat sekali dia bisa meluluhkan Anda, Pak! Bahkan Anda tidak tertarik dengan wanita seseksi apapun yang disodorkan paman atau kakek Anda selama ini. Tapi gadis sederhana seperti dia... luar biasa."
Ardan tidak menanggapi jauh ocehan asistennya itu. Wajahnya kembali mengeras, dipenuhi topeng kedataran yang biasa dia tunjukkan pada dunia. Dia melangkah masuk ke mobilnya sendiri, membuka pintu kemudi tanpa memedulikan tatapan usil Bimo.
Sebelum menutup pintu mobil, Ardan melirik Bimo dengan tatapan membunuh. "Diamlah. Pulang dan mandilah, kamu harus sampai tepat pukul 7 di depan kamarku nanti. Jangan terlambat satu menit pun, atau aku potong bonus bulananmu."
Brak!
Pintu mobil mewah itu ditutup dengan keras, disusul dengan deru mesin yang meraung membelah kesunyian pagi. Mobil Ardan melesat pergi, meninggalkan Bimo yang melongo di tepi jembatan sambil meraba tengkuknya yang mendadak dingin.