Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Estetika Es dan Nyala Api yang Mengancam
Montreal sedang berada di puncak egonya. Suhu udara turun drastis, membekukan apa pun yang diam terlalu lama di luar ruangan. Tapi di dalam studio L’Aube de Sheilla, suasananya justru mendidih. Bukan karena marah, tapi karena adrenalin.
Sheilla menatap tumpukan ranting pohon birch kering, lumut musim dingin, dan bunga-bunga liar lokal yang baru saja dibeli Alex dari petani pinggiran kota. Nggak ada anggrek, nggak ada sedap malam. Hanya ada material yang bagi orang awam mungkin terlihat seperti sampah kebun.
"Lex, kamu yakin konsulat bakal suka? Ini... ini beda banget sama gaya high-end yang biasanya mereka mau," tanya Sheilla, tangannya sibuk mengikat ranting-ranting itu dengan kawat tembaga.
Alex, yang lagi sibuk setting lampu studio buat motret progres kerja Sheilla, menoleh sambil nyengir. "Sheil, dengerin aku. Orang-orang konsulat itu sudah bosan sama anggrek mahal. Mereka mau sesuatu yang punya cerita. Kita bakal kasih mereka tema 'Resilience of the North'. Keindahan yang lahir dari kebekuan. Itu bukan cuma soal bunga, itu soal kamu."
Sheilla tersenyum, hatinya menghangat. Chemistry mereka tuh emang aneh tapi nyata; Alex selalu bisa bikin rasa insecure Sheilla menguap begitu saja. Sheilla pun mulai merangkai. Dia memadukan kristal es buatan dengan rangkaian ranting yang meliuk artistik. Hasilnya? Magis. Kayak hutan peri yang membeku.
--
Di sisi lain kota, di dalam sebuah SUV hitam yang mesinnya terus menyala, Ardhito menatap layar tabletnya. Dia bisa melihat postingan Instagram Story studio Sheilla yang mulai memamerkan cuplikan konsep baru mereka. Komentar-komentar pujian mulai membanjiri, bahkan akun resmi konsulat memberikan emoji api.
"Dia selalu punya jalan keluar," gumam Ardhito, suaranya dingin, seolah-olah dia sendiri adalah bagian dari musim dingin Montreal.
"Pak," Rio, sekretarisnya, bersuara pelan dari kursi kemudi. "Rencana beli gedung di depan studionya gagal total. Pengacara Alex itu... mereka bergerak sangat lincah. Mereka mulai mengendus aliran dana dari perusahaan cangkang kita. Kalau kita teruskan, otoritas Canada bisa membekukan aset Bapak di sini."
Ardhito mengepalkan tangan sampai buku jarinya memutih. "Aku nggak peduli soal aset. Aku mau Sheilla sadar kalau dunia tanpa aku itu nggak aman. Kalau dia merasa aman karena ada si fotografer itu, berarti fotografer itu masalahnya."
"Maksud Bapak?"
"Bikin dia nggak bisa datang ke acara konsulat besok malam. Aku nggak mau ada pahlawan di samping Sheilla saat dia menghadapi krisis."
Rio terdiam sebentar, dia tahu bosnya sudah kehilangan akal sehat. "Tapi Pak, ini Canada. Kekerasan fisik bisa bikin kita dideportasi seumur hidup."
"Siapa yang bilang soal kekerasan fisik? Gunakan kecelakaan, Rio. Seperti kecelakaan yang dialami tunangannya dulu. Bukankah itu akan jadi deja vu yang manis buat Sheilla?"
--
Malam itu, studio Sheilla lembur total. Maya dan dua pegawai lokal lainnya sibuk memasukkan instalasi es dan ranting ke dalam truk berpendingin. Alex ada di sana, membantu mengangkat beban berat sambil sesekali mencuri waktu buat mengecup dahi Sheilla.
"Besok pagi aku yang antar truk ini ke gedung konsulat ya," kata Alex sambil meneguk kopi hitamnya. "Kamu berangkat duluan saja sama Maya buat koordinasi lokasi. Aku mau mampir ke studio foto bentar buat ambil lensa makro. Aku mau dokumentasiin detail instalasi kamu secara profesional."
Sheilla memegang lengan Alex, perasaannya tiba-tiba nggak enak. "Lex, perasaan aku nggak enak. Kenapa nggak bareng aja?"
Alex tertawa, mengacak rambut Sheilla pelan. "Hey, my brave florist. Jangan paranoid. Ardhito itu cuma menggonggong, dia nggak bakal berani gigit di negara orang. Besok malam adalah malam kemenanganmu. Aku nggak mau kamu telat cuma karena nungguin aku ambil lensa."
Sheilla mencoba tersenyum, meski hatinya masih terasa seperti diremas. "Janji ya, jangan telat?"
"Janji. Setelah ini, kita bakal liburan ke Quebec City. Cuma kita berdua."
--
Keesokan harinya, salju turun sangat lebat. Jarak pandang terbatas. Sheilla sudah berada di gedung konsulat sejak jam 8 pagi, sibuk mengatur tata letak instalasi 'Resilience of the North' di aula utama. Semua orang berdecak kagum. Konsul Jenderal bahkan menyalaminya, memuji keberaniannya keluar dari pakem bunga konvensional.
Jam menunjukkan pukul 11 siang. Alex seharusnya sudah sampai dengan truk lensa dan peralatan fotonya.
Sheilla mencoba menelepon Alex. Tidak diangkat.
Sekali. Dua kali. Lima kali.
"Mbak Sheilla, mungkin Mas Alex kejebak macet karena badai salju," Maya mencoba menenangkan, meski wajahnya sendiri terlihat khawatir.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi berita lokal muncul di ponsel Maya. Wajahnya mendadak pucat pasi. "Mbak... ada kecelakaan di jalan raya menuju Old Port. Sebuah truk box ditabrak lari oleh mobil sedan hitam. Truknya terguling..."
Dunia Sheilla serasa berputar. Truk box. Itu jalur yang dilewati Alex dari studionya.
Sheilla nggak pikir panjang. Dia menyambar mantelnya, mengabaikan teriakan Maya dan petugas konsulat. Dia berlari keluar, menerobos badai salju, mencari taksi dengan nafas yang tersenggal. Di kepalanya, memori tentang Adrian yang bersimbah darah berputar seperti kaset rusak.
Jangan lagi, Tuhan. Jangan Alex. Jangan ambil dia juga.
--
Saat Sheilla sampai di lokasi, garis polisi sudah terpasang. Dia melihat truk box studionya terbalik di pinggir jalan yang licin. Kaca depannya hancur. Hati Sheilla hancur berkeping-keping. Dia berteriak memanggil nama Alex, mencoba menerobos kerumunan.
"Maaf, Ma'am, Anda tidak boleh masuk!" seru seorang polisi Canada bertubuh besar.
"Itu tunangan saya! Di mana dia?!" jerit Sheilla histeris.
Tepat saat itu, dia melihat sosok pria keluar dari mobil ambulans dengan kepala dibalut perban, tapi dia berjalan dengan kakinya sendiri. Itu Alex.
Sheilla berlari dan langsung menghambur ke pelukan Alex, menangis sejadi-jadinya. Alex meringis kesakitan karena bahunya yang cedera, tapi dia memeluk Sheilla dengan satu tangan yang bebas.
"Aku nggak apa-apa, Sheil... aku nggak apa-apa," bisik Alex parau. "Mobil itu... dia sengaja menabrak bagian belakang truk sampai aku hilang kendali. Tapi aku sempat melihat plat nomornya. Itu mobil sewaan atas nama perusahaan yang kita curigai."
Sheilla melepaskan pelukan, menatap Alex dengan mata merah. Ketakutannya berubah menjadi amarah yang murni dan membara. Dia menoleh dan melihat sebuah mobil SUV hitam terparkir agak jauh dari lokasi, seolah sedang memantau hasil karyanya.
Sheilla tahu siapa di dalamnya.
--
Sheilla berjalan menuju SUV hitam itu dengan langkah yang mantap. Dia nggak peduli lagi sama badai salju. Dia menggedor kaca jendela SUV itu dengan keras.
Kaca turun perlahan. Ardhito duduk di sana, wajahnya tampak kecewa karena melihat Alex masih hidup.
"Kamu bener-bener iblis, Dhito," suara Sheilla tenang, tapi sangat mematikan. "Kamu pikir dengan ngebunuh orang yang aku cintai, aku bakal lari ke kamu? Kamu pikir aku selemah itu?"
Ardhito menatap Sheilla dengan obsesi yang mengerikan. "Dia nggak pantas buat kamu, Sheilla. Lihat, dia bahkan nggak bisa jaga dirinya sendiri. Dia hampir mati cuma karena kecelakaan kecil."
"Itu bukan kecelakaan. Itu percobaan pembunuhan. Dan tebak apa? Alex sudah mencatat semuanya. Polisi di sini nggak bisa disuap seperti di tempat yang kamu tahu," Sheilla meludah ke arah pintu mobil Ardhito. "Dulu aku takut sama kamu karena aku nggak punya apa-apa. Sekarang, aku punya segalanya. Aku punya bukti, aku punya cinta yang tulus, dan aku punya keberanian buat hancurin kamu."
"Sheilla, aku lakuin ini karena aku cinta"
"Jangan sebut kata cinta!" bentak Sheilla. "Kamu nggak tahu apa itu cinta. Kamu cuma tahu cara memiliki barang. Dan aku bukan barang. Pergi dari Canada sekarang, atau aku pastikan kamu membusuk di penjara sini. Alex punya bukti rekaman dashcam dari truk. Kamu tamat, Dhito."
Ardhito terdiam. Untuk pertama kalinya, dia melihat kilat di mata Sheilla yang benar-benar membuatnya bergidik. Sheilla yang dulu lembut dan penurut sudah mati. Yang ada di depannya adalah singa betina yang siap mencabik siapa pun yang mengganggu dunianya.
--
Malam itu, acara di konsulat berjalan sukses luar biasa tanpa kehadiran Ardhito yang sudah kabur menuju bandara karena panik dengan ancaman laporan polisi federal. Alex tetap datang ke acara dengan tangan digendong (arm sling), berdiri dengan bangga di samping Sheilla saat semua orang memberikan standing ovation untuk instalasi bunga es mereka.
Chemistry mereka malam itu terlihat sangat nyata bagi semua orang yang hadir. Mereka bukan cuma pasangan, mereka adalah tim yang tak terhentikan.
"Sakit?" tanya Sheilla pelan sambil membetulkan posisi sling Alex di tengah pesta.
"Sedikit. Tapi melihat muka Ardhito yang pucat tadi... itu obat paling ampuh," Alex nyengir, meski wajahnya masih penuh luka gores.
Sheilla mencium pipi Alex di depan semua tamu penting. Dia nggak peduli lagi. "Kita menang, Lex. Kita bener-bener menang."
Sheilla melihat ke arah jendela besar yang menampakkan pemandangan kota Montreal yang tertutup salju. Dia tahu, Ardhito mungkin akan tetap menjadi hantu di masa lalunya, tapi hantu itu nggak punya kekuatan lagi buat menyentuhnya. Dia sudah menemukan akarnya, dan akarnya itu bernama keberanian.
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --