Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sebuah vila elit yang mewah dan sunyi.
Lampu gantung memancarkan cahaya hangat, memantul pada lantai marmer yang mengilap. Di ruang tamu yang luas, layar televisi menampilkan berita yang tengah menggemparkan kota—nama Adrian Li terus disebut oleh para reporter.
Di atas sofa panjang, Holdie Fu duduk dengan santai.
Kakinya disilangkan elegan, sementara satu tangannya memegang gelas anggur merah. Ia menatap layar televisi dengan senyum tipis yang sulit ditebak—antara kagum… dan penuh ambisi.
“Pria idamanku… walau hampir kepala empat, pesonamu tetap kuat,” lanjutnya, matanya menelusuri wajah Adrian di televisi. “Wajahmu sama sekali tidak terlihat seperti pria berusia tiga puluh delapan tahun. Adrian… aku senang kau belum menikah. Kali ini aku tidak akan pergi lagi. Aku akan tetap di sisimu… mendukungmu..Aku tidak sabar melihat hasil persidangan itu,” lanjutnya.
“Jessica Zhou… apakah kau akan bebas?” Ia tertawa kecil, dingin. “Atau justru… dihukum mati? Kalau itu terjadi, saingan cintaku akan berkurang. Jessica Zhou…” ucapnya lagi. "Sejak kecil kau hidup manja dan berkecukupan. Tapi kali ini… aku lebih unggul darimu.”
Senyumnya berubah menjadi dingin dan penuh percaya diri.
“Bagaimanapun juga, kau memiliki catatan sebagai mantan narapidana,” lanjutnya. “Sementara aku… memiliki rekam jejak yang sempurna. Karierku sukses. Aku membangun semuanya dengan usaha dan pengorbanan. Aku harus belajar lebih banyak… dan mengorbankan lebih banyak lagi... agar bisa berdiri sejajar denganmu, Hakim Li.”
Dua hari kemudian.
Gedung pengadilan dipenuhi lautan manusia.
Sejak pagi, wartawan sudah berjejer di depan pintu utama. Kamera menyala tanpa henti, menyorot setiap mobil yang masuk ke area pengadilan.
Hari itu, seluruh kota menunggu satu hal—
persidangan keluarga Zhou.
Di dalam ruang sidang, suasana jauh lebih sunyi… namun justru terasa menekan.
Tak lama kemudian, pintu samping terbuka.
Petugas membawa masuk para terdakwa satu per satu.
Nico Zhou dan Catty Zhou masuk dengan wajah tegang. Di belakang mereka, Jeff Zhou berjalan dengan langkah berat, tatapannya tajam namun gelisah.
Beberapa detik kemudian…
Jessica Zhou juga dibawa masuk. Wajahnya tenang. Tatapannya sekilas menyapu ruangan, seolah mencari sesuatu… atau seseorang.
Di kursi lain, JJ duduk dengan tubuh yang masih terlihat lemah. Ia mengundang pengacara terbaik untuk membela sang ayahnya.
Semua orang telah berada di tempatnya.
Ketegangan semakin terasa.
Tok! Tok! Tok!
Suara palu sidang menggema.
Semua orang langsung terdiam.
Adrian Li memasuki ruang sidang dengan langkah tenang dan wajah dingin. Jubah hakimnya berkibar ringan saat ia berjalan menuju kursinya.
Ruang sidang masih dipenuhi suara pelan para pengunjung yang menunggu jalannya persidangan dimulai.
Pintu terbuka kembali.
Holdie Fu masuk dengan langkah tenang.
Tidak ada yang memperhatikannya. Ia berjalan biasa saja, lalu duduk di bangku pengunjung seperti tamu lainnya.
Di kursi hakim, Adrian menyapu ruangan dengan tatapan datar.
Pandangan itu berhenti sejenak.
Pada Holdie.
Hanya sesaat.
Lalu kembali ke depan, seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun Jessica menangkap perubahan kecil itu. Ia mengikuti arah pandangan Adrian. Dan saat melihatnya—
“Holdie Fu? Kenapa dia bisa hadir di sini?” gumam Jessica pelan.
Adrian mengetukkan palu.
“Sidang dimulai.”
Jaksa Wu berdiri dari kursinya.
Ia melangkah ke depan dengan membawa berkas di tangannya.
Tatapannya tajam menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya membuka suara.
“Yang Mulia, pada persidangan hari ini, saya akan menyampaikan fakta penting terkait terdakwa, Jessica Zhou.”
Ia membuka berkas tersebut.
“Berdasarkan hasil penyelidikan, ditemukan bahwa sebelum penahanan, Jessica Zhou berada dalam kondisi tidak sadar penuh.”
Beberapa orang mulai berbisik pelan.
Jaksa Wu melanjutkan tanpa ragu. “Terdakwa diduga telah disuntik dengan zat tertentu yang memengaruhi kesadarannya. Zat tersebut tidak hanya melemahkan kondisi fisik, tetapi juga diduga menyebabkan gangguan ingatan sementara.”
Beberapa orang tampak terkejut.
“Dengan kata lain… kondisi Jessica Zhou saat ditemukan tidak sepenuhnya sadar, dan tidak dalam keadaan mampu memberikan kesaksian yang stabil.”
Ia menutup berkasnya perlahan.
“Hal ini menimbulkan pertanyaan besar—apakah seseorang dengan kondisi seperti itu layak langsung ditetapkan sebagai pelaku utama?”