Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Madu dan empedu di serambi madrasah
Pagi di pesantren biasanya diawali dengan simfoni yang menenangkan; suara sapu lidi yang bergesekan dengan tanah, lantunan selawat yang samar dari asrama putra, dan aroma sisa embun yang membasuh daun-daun mangga. Namun bagi Zayna Almeera, pagi ini aromanya berbeda. Ada bau persaingan yang menyengat, lebih tajam dari parfum high-end yang biasa ia pakai di Jakarta.
Zayna berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Ia sedang berjuang dengan jarum pentul. Sejak kejadian "Lodeh Asin" itu, ia merasa punya tanggung jawab moral untuk tampil lebih... santriwati.
"Zoy, ini kerudungnya miring nggak?" tanya Zayna frustrasi.
Zoya, yang sedang merapikan kitab-kitabnya, menoleh dan tersenyum tulus. "Sudah cantik, Mbak Zay. Malah terlihat lebih bercahaya. Seperti bulan sabit yang baru muncul di balik awan."
"Bulan sabit apa bulan kesiangan?" gerutu Zayna, meski hatinya sedikit mekar mendengar pujian itu. "Aku cuma nggak mau Gus Haidar malu punya calon yang kalau pakai kerudung kayak mau ikut tawuran."
Zoya terkekeh, namun raut wajahnya mendadak berubah serius. "Mbak Zay, bicara soal calon... Mbak harus lebih sabar hari ini. Di kelas Diniyah nanti, Mbak Najwa yang akan jadi asisten pengajar karena Ibu Nyai sedang ada tamu."
Zayna menghentikan gerakannya. "Najwa? Si 'Santriwati Teladan' yang hafalannya sekeren Google Translate itu?"
"Iya. Dia sangat dihormati di sini. Dan... orang-orang di pesantren ini, sejak lama mengira dia adalah pasangan yang paling pas untuk Gus Haidar. Mereka bagaikan kitab dan maknanya, Mbak. Saling melengkapi," suara Zoya mengecil, seolah takut menyinggung perasaan Zayna.
Zayna terdiam. Ia merasakan sebuah kerikil tajam masuk ke dalam hatinya. Kitab dan maknanya? Terus aku apa? Sampulnya yang robek?
Zayna melangkah menuju kelas dengan kepala tegak, meski jantungnya berdegup seperti drum band. Saat ia memasuki ruang kelas, suasana mendadak sunyi. Puluhan pasang mata menatapnya—ada yang kagum, ada yang sekadar penasaran, dan ada yang menatap dengan pandangan menilai.
Di depan kelas, berdiri sosok wanita yang sangat anggun. Najwa. Ia mengenakan gamis berwarna hijau lumut dengan kerudung lebar yang menjuntai rapi tanpa satu pun serat kain yang berantakan. Wajahnya bersih tanpa riasan, namun memancarkan wibawa yang membuat siapapun segan.
Zayna duduk di barisan tengah, mencoba tidak mencolok. Namun, Najwa memulai pelajarannya dengan sebuah mukadimah yang terasa sangat spesifik menembus jantung Zayna.
"Adik-adik sekalian," suara Najwa lembut namun berwibawa, "Menjadi seorang muslimah yang baik bukan hanya tentang merubah penampilan luar. Karena kain yang indah bisa dibeli di pasar. Namun, akhlak dan kedalaman ilmu adalah perhiasan yang harus ditempa bertahun-tahun dalam kesunyian dan ketaatan."
Najwa mengalihkan pandangannya, sejenak matanya bertemu dengan mata Zayna. "Ada orang yang merasa sudah pantas hanya karena ia berada di lingkungan yang baik, padahal hatinya masih terpikat pada gemerlap dunia yang semu. Itulah yang dinamakan 'fitnah kecantikan' tanpa kedalaman jiwa."
Zayna merasakan telinganya memanas. Ia tahu, setiap kata itu adalah peluru yang diarahkan kepadanya.
Saat jam istirahat tiba, Zayna sengaja tidak langsung keluar. Ia melihat Najwa sedang merapikan beberapa kitab di meja depan. Zayna melangkah maju.
"Mbak Najwa," panggil Zayna.
Najwa mendongak, tersenyum sangat tipis—jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Iya, Mbak Zayna? Ada yang bisa saya bantu? Mungkin Mbak masih kesulitan mengeja huruf Hijaiyah?"
Zayna tersenyum miring. "Ejaannya sih aman, Mbak. Saya cuma mau tanya soal materi tadi. Soal 'gemerlap dunia'. Bukankah merasa diri paling benar dan paling suci juga termasuk 'fitnah hati' yang lebih berbahaya?"
Najwa meletakkan kitabnya dengan pelan. Suara benturannya dengan meja kayu terdengar tegas. "Saya hanya menyampaikan apa yang ada di dalam kitab, Mbak Zayna. Seorang Gus seperti Haidar Ali membutuhkan pendamping yang bisa menjadi madu bagi dakwahnya, bukan menjadi beban bagi langkahnya. Beliau adalah gunung yang tinggi, dan pendampingnya haruslah hamparan lembah yang hijau oleh ilmu, bukan kerikil kota yang berisik."
Zayna merasa dadanya sesak, tapi ia menolak untuk terlihat lemah. "Gus Haidar mungkin gunung yang tinggi, Mbak. Tapi gunung yang tinggi pun butuh angin untuk bernapas, dan terkadang angin itu datang dari arah yang tidak terduga. Bukan dari lembah yang itu-itu saja."
"Kita lihat saja nanti, Mbak Zayna. Siapa yang akan bertahan saat badai ujian sesungguhnya datang. Karena di sini, cinta bukan soal perasaan yang menggebu, tapi soal kesetiaan pada aturan dan tradisi," pungkas Najwa sebelum pergi meninggalkan Zayna yang berdiri mematung.
Sore harinya, Zayna pergi ke sudut pesantren yang paling sunyi, dekat kolam ikan di belakang ndalem. Ia ingin sendiri. Kata-kata Najwa terus terngiang, membuatnya merasa sangat kecil dan tidak berharga.
Apa benar aku cuma beban buat Gus Haidar? Apa benar aku cuma kerikil yang berisik?
Tiba-tiba, ia melihat bayangan seseorang terpantul di permukaan air kolam. Ia menoleh dan menemukan Gus Haidar sedang berdiri di sana, memegang sebuah ember kecil berisi pakan ikan.
"Sedang menghitung jumlah ikan, Mbak Zayna?" tanya Haidar pelan, tanpa menatap.
Zayna menghapus air mata yang nyaris jatuh dengan punggung tangannya. "Gus, kalau saya pergi dari sini, apa langkah Gus akan jadi lebih ringan?"
Gerakan tangan Haidar terhenti. Ia meletakkan embernya. Perlahan, ia memutar tubuhnya menghadap ke arah Zayna, meski pandangannya tetap tertuju pada bebatuan di pinggir kolam.
"Kenapa Mbak bicara begitu?"
"Tadi Mbak Najwa bilang, saya ini beban. Saya ini kerikil berisik. Saya nggak punya ilmu, nggak punya hafalan. Saya cuma... orang kota yang nggak sengaja nyasar ke sini gara-gara perjodohan kuno," suara Zayna bergetar.
Haidar terdiam cukup lama. Angin sore memainkan ujung sarungnya. "Zayna," panggilnya, kali ini tanpa embel-embel 'Mbak'.
Zayna tersentak mendengar namanya dipanggil begitu intim.
"Gunung tidak pernah merasa terbebani oleh angin yang berhembus di puncaknya. Justru angin itulah yang membawa aroma bunga-bunga dari tempat jauh yang tidak pernah dilihat oleh gunung. Tanpa angin, gunung hanyalah batu yang mati dan sunyi," Haidar berkata dengan nada yang sangat teduh.
Haidar mengambil sebuah batu kecil, lalu melemparkannya ke kolam. Riaknya melingkar, meluas hingga ke pinggir.
"Najwa mungkin adalah hamparan lembah yang tenang, tapi kamu adalah riak di kolam ini. Tanpa riak, air ini hanya akan menjadi genangan yang statis. Kamu membuat saya berpikir, kamu membuat saya merasa hidup, dan kamu membuat saya belajar bahwa sabar itu tidak hanya soal menunggu, tapi soal menerima badai dengan senyuman."
Zayna menatap Haidar dengan pandangan tak percaya. "Gus... beneran nggak anggap saya beban?"
Haidar akhirnya sedikit mengangkat pandangannya, tepat di bawah mata Zayna, memberikan sebuah pengakuan bisu yang lebih kuat dari ribuan kata. "Menjagamu adalah amanah yang paling manis yang pernah saya terima. Jangan dengarkan suara lain yang mencoba membuatmu layu sebelum kamu mekar sempurna di taman ini."
Zayna merasakan madu yang sebenarnya kini mengalir di hatinya, menghapus empedu yang tadi disuntikkan oleh Najwa. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di babak selanjutnya, tapi sore itu, di tepi kolam ikan, Zayna berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan membiarkan siapapun merebut gunungnya.
Zayna tidak menyadari, di balik rimbunnya pohon kamboja, Najwa berdiri mendengarkan setiap kata. Wajahnya yang semula tenang kini memucat oleh rasa iri yang membakar. Sementara itu, di luar gerbang pesantren, sebuah mobil sport merah mulai memasuki area pedesaan, membawa sosok dari masa lalu Zayna yang akan mengubah kedamaian ini menjadi kekacauan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp