NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Boleh minta tolong, Abi?"

Sebelum pamit, tiba-tiba kalimat itu keluar begitu saja dari Ilzam--tanpa melalui pertimbangan panjang.

Kyai Fakih mengangguk, tanpa ragu.

"Salam saya buat Ning Shafiyah."

Ilzam lalu menunduk, bersama harapannya yang dipaksa gugur sebelum sempat tumbuh.

"Salam-mu sudah sampai, Nak," kata kyai cepat. "Shafiya mendengar."

Di balik gorden panjang selantai yang sesekali meliuk ringan oleh terpaan kipas angin tengah ruangan, di sana Shafiya duduk. Ia mendengarkan semuanya. Setiap kata, dari awal hingga akhir, tak luput dari ruang dengarnya.

Dan ke titik itu pula, Ilzam melabuhkan pandangannya, meski gorden tebal itu membatasi jangkauan penglihatan, namun serasa ia menemukan wajah Shafiya di sana.

"La'llallaaha yarhamuki, Ning Shafiya."

Sebuah doa tulus--harapan yang ikhlas terlafadz dari Ilzam dengan suara lirih.

(Semoga Allah senantiasa merahmati kamu, Ning Shafiya)

Doa yang diaminkan dalam tunduk oleh kyai Fakih. Doa yang sementara ini---sejak kebenaran itu didengarnya dari tadi---menjadi satu-satunya kekuatan untuknya tetap berdiri tegak, meski setiap sendi di tubuhnya seakan dipatahkan oleh fakta tentang putri yang tak pernah ia duga.

Dan di balik gorden itu, Shafiya juga mendengar.

Diam.

Shafiya tidak berkata apa pun. Tidak juga berkompromi dengan keinginan yang meronta untuk berbicara barang satu atau dua kata dengan Ilzam.

Semua keinginan ia tahan.

Semua harapan ia pendam.

Juga ia tak lagi bertanya, kenapa, ada apa?

Shafiya hanya bisa menunduk lebih dalam.

Di kepalanya terlintas kisah yang sejak kecil ia dengar di majelis-majelis ilmu---tentang perempuan suci yang melahirkan tanpa disentuh lelaki. Tapi Shafiya tahu, dunia tidak hidup dalam mukjizat.

Jika ia mengucapkan itu, yang hancur bukan hanya dirinya.

Nama abinya. Pesantren. Orang-orang yang selama ini menjaga kehormatan keluarga mereka.

Fakta itu yang membuat setiap kalimat---yang sedianya akan diucapkan ke Ilzam--- mati di ujung tenggorokan.

Di luar, Ilzam berpamitan.

Satu kalimatnya yang membuat air mata Shafiya jatuh, dan sesak menghantam dada kyai Fakih.

"Jika, Abi membutuhkan saya untuk menjelaskan ke orang-orang, saya ada."

**

**

**

Hening kembali menyelimuti kediaman sang kyai. Hening yang dalam.

Hening yang tajam.

Dan waktu yang berlalu terasa merangkak di jalanan gelap penuh duri. Lambat. Sesak.

Hingga hari itu tiba.

Hari di mana seharusnya acara sakral terjadi di Darun najah.

Pernikahan Shafiyya dengan Ilzam.

Tapi, yang ada hanya hening. Sepi.

Sementara di luar riuh oleh suara, bisik-bisik, tanda tanya, prasangka buruk, hingga vonis sebelum tahu faktanya secara utuh.

Hingga malam menjelang, dan hingga pagi akan kembali bertandang, hanya dua hal itu yang menghantam. Hening di dalam. Riuh, bahkan gemuruh di luar---penuh nada-nada sumbang.

Dan pagi itu, pesantren belum sepenuhnya ramai. Suara sapu lidi terdengar dari halaman depan, bersahut pelan dengan lantunan hafalan santri yang belum selesai selepas Subuh.

Shafiya berdiri di ambang pintu ruang kerja abinya. Tangannya terlipat di depan perut, jemarinya saling menggenggam seolah menahan sesuatu yang tak ingin jatuh.

“Abi…?”

Suaranya keluar setelah melalui banyak sekali pertimbangan.

Kyai Fakih mengangkat wajah. Sorot matanya lelah, dan Shafiya tak lagi temukan tatap hangat seperti biasa. Beliau hanya mengangguk singkat. Menyilakan putrinya masuk.

Shafiya duduk. Tidak terlalu dekat. Seperti menjaga jarak yang sejak beberapa hari terakhir terasa berubah.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

“Ada yang ingin saya sampaikan,” akhirnya ia berkata pelan.

Kyai Fakih tidak menyela. Ia hanya menunggu.

“Saya ingin keluar dari pesantren … sementara waktu.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi cukup membuat udara di ruangan terasa lebih menekan.

“Kamu tidak diusir,” ujar Kyai Fakih tenang. Bukan bertanya, melainkan memastikan.

Shafiya menggeleng cepat. “Bukan, Bi.”

Ia menunduk. Menyusun kata-kata yang sejak semalam ia ulang berkali-kali.

“Justru karena saya tahu ini rumah saya … saya tidak ingin orang-orang melihat Abi dengan pertanyaan yang sama setiap hari.”

Kyai Fakih diam. Pandangannya tidak lepas dari wajah putrinya.

“Saya hanya ingin … menemukan yang harus bertanggung jawab atas apa yang saya alami." Shafiya menjeda kalimatnya cukup lama. Sampai kyai Fakih menemukan wajah lelah dan pucat itu di ujung penglihatannya.

"Jika sudah ketemu, saya akan kembali."

Kalimat itu tidak menjelaskan apa pun. Tapi cukup bagi seorang ayah untuk mengerti bahwa anaknya sedang membawa beban yang tidak ingin ia bagi.

“Sejak kecil,” suara Kyai Fakih akhirnya terdengar, pelan, “Abi mengajarkan kamu pulang ke sini kalau dunia terasa berat, Shafa."

Shafiya tersenyum tipis. Matanya mulai basah. Panggilan kesayangan abinya ia dapatkan lagi, meski ia tahu, jiwa cinta pertamanya itu sedang penuh luka.

“Terima kasih, Abi." Shafiya tidak menangis. Air matanya sudah selesai. Ia kini hanya menguatkan tekad untuk menanggung semuanya sendirian.

Shafiya juga tidak meminta kepercayaan abinya yang mungkin sudah retak dan koyak.

Ia hanya punya janji pada dirinya sendiri, bahwa kondisi ini pasti ada penjelasannya tersendiri. Meski saat ini ia harus menjadi tersangka yang memikul dosa.

Kyai Fakih mengangguk pelan. Tidak menahan. Tidak juga merelakan sepenuhnya. Tangannya terangkat, lalu berhenti sejenak sebelum akhirnya diletakkan di kepala Shafiya.

Doa yang biasa ia panjatkan sejak putrinya kecil kembali terucap lirih.

Kali ini, dengan harapan yang jauh lebih berat.

Detik berikutnya, saat sinar matahari jatuh menebar hangat ke setiap sudut pesantren, Shafiya justru memeluk jiwanya yang terasa dingin, saat tapak kaki menjejak gerbang rumah yang selama ini menjadi surganya,

Ia berhenti, menoleh sesaat. Menyapu pandangan ke setiap sudut---yang pasti akan dirindukan. Hanya sesaat, sebelum langkahnya kembali terayun berat, juga mantap secara bersamaan.

Shafiya sudah memetakan langkah. Meski kepergiannya untuk mencari arah, tapi langkahnya bukan tak terarah.

Pertama yang akan ia lakukan tentu memastikan keadaaan, yang sebenar-benarnya, tentang lara yang tiba-tiba telah ditanggung tubuhnya. Tanpa ia tahu kenapa, dan bagaimana.

Ia akan menemui dokter Zulaika---salah satu kerabatnya yang bekerja di sebuah rumah sakit paling besar di kota ini.

**

***

Bangunan itu menjulang dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari. Berbeda dengan halaman pesantren yang akrab dengan suara manusia, tempat ini dipenuhi bunyi yang lebih teratur---langkah cepat sepatu, pintu otomatis yang terbuka tanpa suara, dan pengumuman singkat yang terdengar datar dari pengeras suara.

Udara di dalamnya dingin. Bersih. Terlalu bersih, hingga terasa asing.

Aroma antiseptik menyambut lebih dulu sebelum suara-suara terdengar. Orang-orang datang dan pergi dengan wajah yang sama: terburu-buru, cemas, atau berusaha terlihat tenang.

Tak ada yang saling mengenal. Tak ada yang bertanya.

Di sudut dinding, logo Adinata Medical Center terpasang besar--huruf-huruf logam mengilap yang mencerminkan sesuatu yang berbeda dari rumah sakit yang lain. Di sini jelas terlihat, ketertiban yang dibangun oleh sistem, bukan oleh kedekatan.

Di antara semua itu, seorang lelaki melangkah tergesa seraya menatap penunjuk waktu di pergelangan tangannya.

Ia sadar, sudah seterlambat apa. Sebuah kejadian tak terduga telah merampas waktunya.

Teleponnya berbunyi.

Nama dokter Raka Pradipta Sp PD, tertera di layarnya.

Ia mengangkat, berbicara singkat.

"Aku sudah di sini."

Dan ia menutup telpon itu tanpa menunggu jawaban dari seberang sana.

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!