NovelToon NovelToon
Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Romansa
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: BOCCI

Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐

baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tiba² nembak

Hari Senin pagi setelah kemping yg uwawww dimulai dengan atmosfer yang sangat berat. Selena berjalan melewati koridor dengan Rora, berusaha menyembunyikan jam tangan perak di balik lengan almamaternya. Namun, baru saja sampai di depan loker, kerumunan murid sudah berkumpul.

Di sana, Lucas berdiri bersandar di pintu loker Selena. Ia memegang satu tangkai mawar hitam yang dibungkus plastik transparan dengan pita merah darah.

"Pagi, Kecil," sapa Lucas dengan senyum miringnya yang membuat siswi-siswi di sekitar histeris.

"Minggir, Cas. Gue mau ambil buku sejarah, bukan mau jualan bunga," ketus Selena.

Tanpa aba-aba, Lucas menarik tangan Selena—bukan dengan kasar, tapi dengan gerakan yang sangat pasti. Dia menatap mata Selena dalam-dalam, mengabaikan kerumunan yang mulai mengeluarkan ponsel untuk merekam.

"Sel, gue nggak suka basa-basi. Camp kemarin bikin gue sadar satu hal," suara Lucas merendah, tapi cukup keras untuk didengar semua orang. "Gue pengen lo jadi milik gue. Bukan cuma sebagai 'mainan' Red Snake, tapi sebagai pacar gue. Gue serius."

DEG.

Satu koridor mendadak senyap. Selena melongo. Mulutnya sedikit terbuka, matanya berkedip berkali-kali seolah sedang memproses bahasa asing.

"H-hah? Lo barusan... nembak gue?" tanya Selena tak percaya.

"Iya. Jadi, jawaban lo?"

Selena menelan ludah. Dia melirik ke arah tangga, di mana Zeus dan Leon baru saja muncul. Wajah Zeus sudah seperti awan badai yang siap menyambar petir, sementara Leon berhenti melangkah dengan tatapan tajam yang tak terbaca.

Selena kembali menatap Lucas. Dia menarik napas panjang, mencoba tetap tenang meski jantungnya marathon.

"Lucas..." Selena memulai dengan nada bicara yang sangat lembut, membuat Lucas sempat percaya diri. "Lo itu ganteng. Banget. Lo ketua geng, keren, pinter atletik juga. Tapi..."

Selena menjeda kalimatnya, lalu tersenyum tipis. "Gue ini orangnya ribet. Gue hobi makan seblak level 10 yang baunya menyengat, gue hobi nonton drama Korea sampe pagi, dan gue butuh cowok yang tahan sama kegilaan gue tiap detik."

Selena menepuk bahu Lucas pelan. "Lo itu ibarat motor sport limited edition, Cas. Mahal dan mewah. Tapi sayangnya... gue itu lebih butuh cowok yang kayak 'gardu listrik'. Walaupun serem, nyetrum, dan sering bikin korslet, tapi dia yang bikin lampu di rumah gue tetep nyala."

"Jadi?" Lucas menyipitkan mata.

"Jadi, mending kita temenan aja ya? Gue nggak mau ngerusak reputasi lo sebagai ketua geng keren karena harus nemenin gue beli pembalut ke minimarket tiap bulan," ucap Selena sambil nyengir lebar.

Lucas terdiam. Penolakan itu halus, sopan, tapi sangat telak. Dia ditolak demi "gardu listrik"—yang semua orang tahu itu merujuk pada Zeus.

Zeus yang mendengar itu dari kejauhan perlahan mengendurkan kepalannya. Sudut bibirnya terangkat sedikit—sangat sedikit, tapi cukup untuk menunjukkan kemenangan.

"Lo denger itu, Snake?" Zeus berjalan mendekat, menaruh tangannya di bahu Selena secara posesif. "Ibu Dirut gue nggak butuh motor sport. Dia cuma butuh sumber tenaga yang stabil."

Lucas membuang mawar hitamnya ke tempat sampah di sebelah loker. Dia tidak terlihat marah, justru tawanya pecah. "Oke, satu sama, Zeus. Tapi inget, gardu listrik itu kalau meledak, semuanya gelap. Dan saat itu terjadi, gue bakal ada di sana buat ngasih dia cahaya."

Lucas melirik Selena sekali lagi. "Penolakan yang bagus, Kecil. Tapi jangan kira gue bakal nyerah segampang itu."

Leon yang masih berdiri di dekat pilar tangga hanya memperhatikan drama "Gardu Listrik vs Motor Sport" itu dengan wajah tanpa ekspresi. Namun, tangannya bergerak cepat di atas layar ponselnya.

Sebagai otak dari segala teknologi Thunder, Leon tahu bahwa situasi ini

Chat Leon ke Zeus:

Leon: Gak usah senyum-senyum sendiri. Analoginya emang bagus, tapi detak jantung lo kegedean sampai kebaca di sistem jam tangan dia.

Leon: Fokus. Lucas nggak bakal berhenti di sini. Gue baru aja deteksi sinyal asing dari arah loker Selena setelah Lucas buang bunganya.

Leon: Amankan 'Dirut' lo ke kelas. Gue urus sisanya di lab.

Zeus yang sedang asyik "menikmati" kemenangannya merasa ponsel di saku celananya bergetar. Dia merogoh HP-nya, membaca chat dari Leon, dan seketika ekspresinya kembali dingin.

Zeus melirik ke arah Leon yang memberikan kode lewat anggukan kecil, lalu Leon berbalik arah menuju laboratorium komputer dengan langkah cepat.

"Ayo, ke kelas," kata Zeus sambil menarik pelan kerah jaket Selena (lagi-lagi).

"Ih, Zeus! Gue kan lagi mau ngerasain momen keren abis nolak cowok ganteng!" protes Selena sambil meronta-ronta kecil.

"Nggak ada momen-momenan. Lo hampir bikin satu sekolah kena serangan jantung," ucap Zeus tanpa menoleh. "Dan Sel... soal analogi gardu listrik tadi..."

"Kenapa? Keren kan?" Selena nyengir bangga.

Zeus berhenti melangkah sebentar, menatap Selena dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara gemas dan... sesuatu yang lebih dalam. "Korsletnya gue emang cuma buat lo. Tapi kalau lo berani nolak gue pake alasan 'seblak' juga nanti, gue beneran putusin aliran listrik rumah lo."

"Dih! Pengancam!"

Sementara itu, Leon sudah duduk di depan jajaran monitor. Jarinya menari lincah di atas keyboard. Dia membuka akses dari jam tangan perak Selena.

"Cerdik juga lo, Lucas," gumam Leon sendirian.

Ternyata, saat Lucas membuang mawar hitam itu ke tempat sampah, dia menjatuhkan sebuah mikro-chip pelacak yang menempel di bagian bawah loker Selena. Chip itu didesain untuk menyadap pembicaraan dalam radius 5 meter.

Leon tersenyum miring—sesuatu yang sangat langka. Dengan satu tekanan tombol Enter, Leon melakukan counter-hack.

"Lo mau dengerin suara Selena? Oke, gue kasih bonus," ucap Leon dingin.

Leon mengalihkan output sadapan Lucas bukan ke suara Selena, melainkan ke frekuensi radio pengajian subuh dan lagu anak-anak yang diputar berulang-ulang dengan volume maksimal di perangkat penerima Lucas.

Sepulang sekolah.......

Rencana Selena untuk langsung pulang dan "hibernasi" setelah drama nembak-menembak tadi pagi sepertinya hanya tinggal rencana. Saat dia dan Rora baru saja melangkah keluar dari lobi sekolah sambil menenteng tas masing-masing, sebuah mobil hitam mewah dengan kaca gelap sudah terparkir manis di depan gerbang.

"Sel, itu bukan jemputan Mama lo kan?" bisik Rora sambil menyenggol lengan Selena. "Soalnya yang keluar dari mobil bukan supir, tapi... eh, Leon?!"

Benar saja, Leon keluar dari pintu kemudi dengan wajah datarnya yang legendaris. Dia tidak memakai jaket Thunder, hanya kemeja sekolah yang lengannya digulung sampai siku, menambah kesan "mas-mas IT keren".

"Masuk," ucap Leon singkat begitu jarak mereka sudah dekat.

"Loh, Leon? Gue mau balik bareng Rora naik ojek langganan!" tolak Selena. "Lagian tumben lo bawa mobil? Biasanya kan naik motor bareng Zeus."

Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menunjukkan layar ponselnya kepada Selena. Di sana ada koordinat titik merah yang berkedip-kedip di sekitar area perumahan Selena.

"Ada pergerakan nggak wajar dari anak-anak Red Snake di jalur pulang biasa lo," jelas Leon tenang namun serius. "Zeus lagi urus 'pembersihan' di depan, gue dapet tugas buat evakuasi lo lewat jalur aman."

"Tuh kan, Sel! Apa gue bilang, lo itu aset negara!" seru Rora panik. "Ayo masuk aja, daripada kita dicegat ular-ular itu terus disuruh bayar pajak jadian yang gagal tadi pagi!"

Selena menghela napas pasrah. "Oke, oke. Tapi Rora ikut ya? Gue nggak mau ya berduaan sama lo di mobil, Yon. Lo terlalu diem, ntar gue ngerasa kayak lagi diangkut ambulans jenazah."

Leon hanya mengangguk kecil, membukakan pintu untuk mereka berdua. "Rora di belakang. Selena di depan."

Begitu mobil melaju, suasana di dalam sangat hening. Hanya ada suara pendingin udara dan dentingan instrumen musik lo-fi dari tape mobil Leon. Selena sesekali melirik Leon yang fokus menyetir.

"Yon," panggil Selena.

"Hm?"

"Soal tadi pagi... lo juga denger ya gue bilang apa ke Lucas?" tanya Selena sedikit malu.

Leon terdiam sejenak, matanya tetap menatap jalanan di depan. "Denger. Analogi 'Gardu Listrik' lo lumayan cerdas untuk ukuran orang yang pingsan liat burung hantu."

Selena cemberut. "Ih, jangan diingetin soal itu kenapa sih! Gue kan cuma mau bilang kalau gue lebih milih yang pasti-pasti aja kayak Zeus daripada yang penuh kejutan kayak Lucas."

"Terus kalau gue?" tanya Leon tiba-tiba. Pertanyaan itu keluar begitu saja, datar tanpa intonasi, tapi sukses bikin Rora di kursi belakang langsung pura-pura pingsan karena kaget.

Selena mengerjapkan mata. "Hah? Lo kenapa?"

"Kalau Zeus itu gardu listrik yang nyetrum," Leon melirik Selena sekilas lewat sudut matanya, "Gue ini apa di hidup lo?"

Selena terdiam, otaknya yang biasanya cepat merangkai kata-kata mendadak macet total. Dia menatap Leon, lalu menatap jam tangan perak di tangannya yang merupakan hasil karya Leon.

"Lo itu..." Selena menjeda, "Lo itu kayak Wi-Fi, Yon. Nggak kelihatan, nggak berisik, tapi kalau nggak ada lo, dunia gue error total. Gue nggak bisa 'konek' ke mana-mana kalau nggak ada bantuan lo."

Leon tertegun mendengar jawaban itu. Sudut bibirnya yang jarang bergerak itu tampak bergetar sedikit—sebuah usaha keras untuk menahan senyum.

"Analogi yang buruk," gumam Leon pelan. "Tapi gue terima."

Tiba-tiba, jam tangan Selena bergetar hebat. Kali ini bukan warna merah, tapi hijau.

"Sinyal dari Zeus," ucap Leon sambil mempercepat laju mobilnya. "Jalur sudah bersih. Tapi dia nunggu di depan kompleks rumah lo. Dia kayaknya nggak suka liat lo pulang bareng gue kelamaan."

Rora langsung bangkit dari posisi pura-pura matinya. "MAMAM TUH! Perang saudara Thunder dimulai! Sel, siap-siap ya, kayaknya lo bakal diperebutkan di depan pagar rumah lagi!"

Bersambung...

maaf ya kalau gk menarik

1
aytysz
Semangat yaa kak-- kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku -- di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka ♡
bochi to the light: thanks suportnya ya 😊 btw cerita kamu bagus banget loh
total 1 replies
bochi to the light
minta dukungan nya ya biar aku lebih banyak up nya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!