NovelToon NovelToon
Cinta Posesif Arlan

Cinta Posesif Arlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Posesif
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Voyager

"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."

Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.

Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mobil Mewah

Cklik!

Pintu kantor kepala sekolah terbuka. Mika melangkah keluar dengan tubuh lesu dan wajah pucat. Setiap langkahnya diiringi helaan napas yang berat, seolah dadanya ditekan beban berat.

Ia menyusuri lorong menuju perpustakaan.

“Ikuti aturanku!” Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya.

Bagaimana bisa manusia iblis seperti itu masih hidup dan berkeliaran bebas? Pria itu bukan sekadar orang kaya. Ia seperti memiliki andil di berbagai aspek kota—intimidatif, berkuasa, dan sanggup melakukan apa pun demi mendapatkan apa yang ia inginkan.

Mika duduk di salah satu kursi perpustakaan, tenggelam dalam lamunannya. Ingatan tentang perkataan pria itu kembali menghantam pikirannya.

“Huff … kenapa, sih, hidupku begini?” batinnya lirih.

Ia menyandarkan kepalanya di ujung meja, memejamkan mata sejenak.

Dug! Dug!

Suara langkah sepatu mendekat. Seorang pria berjas hitam berhenti di hadapannya dan menyodorkan sebuah ponsel.

“Buat apa ini?” tanya Mika tegas, meski suaranya terdengar lelah.

“Perintah Bos. Buat komunikasi,” jawab pria itu singkat, lalu pergi begitu saja.

Mika menatap ponsel tersebut. Ia membolak-baliknya perlahan. Mewah, elegan, dan sialnya—warnanya sesuai dengan seleranya.

Namun, saat teringat siapa pemiliknya, rasa kagum itu seketika berubah menjadi kebencian.

“Cuih … orang kaya sombong,” gumamnya pelan.

Bip! Bip!

Ponsel itu kembali bergetar. Terlihat jelas di layar—nama Arlan. Mika tidak segera mengangkatnya. Bahkan, keinginan untuk menjawab panggilan itu terasa begitu jauh dari pikirannya.

Ia kembali meletakkan kepalanya di ujung meja, menghela napas berulang kali. Namun, ponsel itu terus bergetar tanpa henti.

Klik!

“Apa perlu aku ajarin cara ngangkat telepon?” Suara pria itu terdengar dingin di ujung sana.

“Hem … ada apa?” jawab Mika lesu.

Nada suara pria itu kini lebih tegas dari sebelumnya.

“Aku bakal suruh pengawalku jemput kamu di sekolah. Jangan coba-coba nolak kalau kamu masih pengin hidup tenang.”

Sambungan terputus begitu saja. Mika bahkan tak sempat menjawab.

Ia meremas ponsel itu erat-erat, lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berniat menghempaskannya ke lantai. Namun, teringat ucapan pria itu yang jelas bukan candaan, Mika mengurungkan niatnya.

“Argh! Cowok iblis!” teriaknya kesal.

“Ssst! Jangan berisik. Ini perpustakaan!” tegur penjaga perpustakaan dengan tajam.

Mika refleks menutup mulutnya. Ia kembali menghela napas—entah untuk keberapa kalinya. Sayangnya, helaan itu tetap tak mampu menenangkan hatinya sepenuhnya.

“Huff … beginikah nasib yang harus aku jalani?” gumamnya lirih sambil menyandarkan kepala di meja. “Di rumah aku dimanfaatin, sekarang ketemu orang baru yang sama aja, nasibku malang.”

Di sela keluhannya, seorang siswi teman sekelas Mika datang menghampiri. Tak lama kemudian, ia duduk tepat di hadapan Mika sambil menyodorkan beberapa camilan yang dibawanya.

“Eh, tadi di ruang kepala sekolah ngapain? Habis dapat jackpot, ya?” tanyanya santai.

Mika terdiam. Jelas sekali pikiran temannya itu sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Namun, Mika juga tak sanggup menjelaskannya.

“Oh, atau kamu—hem!” Siswi itu menyipitkan mata. Tangannya menopang dagu, tanda pikirannya mulai melayang ke arah yang aneh.

Mika yang menyadari ekspresi itu langsung mengerutkan kening.

“Aku dengar kamu sama Pak Kepala Sekolah punya hubungan … sesuatu?!” lanjutnya dengan nada penuh selidik.

Mendengar itu, Mika spontan berdiri. Ia tidak menjawab apa pun dan langsung melangkah pergi.

“Heh, tunggu! Berarti omongan orang-orang selama ini benar, ya!” teriak siswi itu dari belakang.

Mika berhenti sejenak dan menoleh. Tatapan matanya tajam, menusuk tepat ke mata siswi tersebut. Namun, tetap saja ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Belum selesai sampai di situ. Hingga area parkiran sekolah, gosip itu terus mengikutinya. Teman-teman sekelasnya membicarakan hal-hal yang sama sekali tidak masuk akal.

“Apaan, sih?” Mika menggerutu kesal.

Tatapan-tatapan tajam mengarah padanya. Ada yang berbisik, ada pula yang terang-terangan berteriak menyebut namanya. Tepat saat suasana itu semakin tidak nyaman, sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti pas di depan Mika.

Semua mata yang semula sinis mendadak berubah tercengang. Beberapa mulut ternganga—bukan hanya karena mobil itu mewah, melainkan karena logo yang terpampang jelas di bodinya.

“Itu mobil Grup Gavriel!”

“I-iya … itu punya Arlan Gavriel!”

“Mau jemput siapa?”

Saat sopir keluar dari mobil dan menunduk hormat ke arah Mika, keterkejutan itu kembali memuncak.

“Silakan. Ini perintah Bos besar,” ucapnya tegas.

Tanpa menoleh ke kanan atau kiri, Mika langsung masuk ke dalam mobil. Bukan karena ia senang dijemput dengan mobil mewah, melainkan karena ia sudah muak mendengar celotehan orang-orang di sekitarnya.

Mobil itu pun melaju pergi, meninggalkan halaman sekolah yang masih dipenuhi bisik-bisik dan tatapan tak percaya.

Tanpa Mika sadari, di dalam mobil itu Arlan sudah duduk santai dengan kaki menyilang, layaknya seorang bos besar.

“Hem, ketahuan sifat aslimu, ’kan?”

Pundak Mika langsung terangkat karena terkejut.

“Kamu … ngapain di sini?”

Arlan melirik malas. “Kamu kira ini mobil siapa?” jawabnya ketus.

“Oh … iya, benar juga,” batin Mika kesal.

Tatapan Arlan lalu menelusuri penampilan Mika dari ujung kepala hingga kaki. Merasa diperhatikan seperti itu, Mika langsung bereaksi.

“Apa, sih? Dasar laki-laki mesum!” bentaknya sambil menutup bagian dadanya.

Arlan menyeringai tipis di ujung bibirnya.

“Aku nggak mungkin tertarik sama anak kecil,” katanya sinis.

“Meski kamu pakai baju seksi sekalipun, aku juga nggak tertarik. Dipajang di depan kaca pun, tubuh sekecil itu mana ada daya tariknya.”

“Heh!” Mika spontan menunjuk wajah pria itu. “Jangan mentang-mentang kamu banyak duit, seenaknya hina orang, ya! Coba lihat dirimu sendiri. Bertato, tampan juga nggak—malah lebih mirip setan yang nggak punya hati!” hina Mika.

Sopir yang mendengar percakapan mereka menatap lurus ke depan dengan wajah tegang.

“Berani banget anak ini. Belum pernah ada yang sedekat dan seberani ini sama Bos,” batinnya. “Kurasa sebentar lagi hidupnya bakal tamat.”

Sementara itu, Arlan terdiam sejenak. Tatapannya tajam, penuh tekanan. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Mika, cukup dekat untuk membuat napas Mika tertahan.

“Kamu tahu,” ucap Arlan rendah, “posisi kamu sekarang itu nggak menguntungkan sama sekali.”

Nada suaranya tenang, tapi justru itulah yang membuat Mika mulai menciut. Dadanya terasa sesak. Napasnya tak lagi teratur.

“Ja-jangan macam-macam,” ucap Mika lirih, suaranya bergetar.

Namun, tiba-tiba tubuh Mika menegang. Tangannya mencengkeram ujung kursi. Napasnya tersengal-sengal, seperti tercekik udara.

“Hei … kamu kenapa?” Arlan spontan menarik tubuhnya menjauh, nada suaranya berubah panik.

Mika tidak menjawab. Tubuhnya gemetar hebat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Wajahnya memucat lalu memerah. Napasnya terdengar pendek dan terputus-putus.

“Bos, ada apa?” tanya sopir cemas sambil melirik lewat kaca spion yang juga tidak begitu tembus ke kursi belakang.

“Cepat! Ke rumah sakit!” perintah Arlan tegas, tanpa ragu.

Mobil melaju kencang membelah jalanan. Lima belas menit lebih dua puluh detik kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Mika tampak lemas, wajahnya memerah, bibirnya bergetar.

“Dokter!” Arlan menghampiri tenaga medis yang datang. “Tolong periksa dia!”

“Tuan Arlan, siapa gadis ini?” tanya seorang dokter dengan cepat.

“Jangan banyak tanya. Selamatkan dia!” jawab Arlan tegang.

1
Moon
ak jdi mika langsung ku tonjok itu
Voyager: sabar bro jangan emosi ah, nggak jelas kali kau. ayo serbu yang di sebelah
total 1 replies
Moon
model!????
Moon
entah kenapa Arlan ini aku bingung sama sifatnya. lanjut Thor. apa nanti si Mika ketemu lagi dg Arlan ? soalnya Arlan itu kn sangat berkuasa! eh iya Thor sepertinya belum di Spil perlkerjaab Arlan pngen tau
Moon
hm, knp ya orang kyak Mika gini selalu digituin dlm novel cba Thor karakter Mika jadi tangguh aj gtu biar nggk di tindas orang. sih Kamalia juga cewek lenje 😤😤😤
Moon: haha GG bxa sbr ak. tau NDRI kesabaranku setipis tisu
total 2 replies
cleo lara91
lanjut lg dong kak , seruu😍
Moon
Rekomendasi banget ini cerita. tokoh pria bikin mengubah emosi pembaca, greget, sifatnya bener" bikin geleng kepala. tokoh wanita pun bikin kita iba, apalagi ketika penyakitnya kambuh. oh ya keluarga tokoh wanita ih bikin emosi parah apalagi dengan saudara tiri yang mokondo
Moon
up 5 bab sehari thor
Voyager: busett haha nanti ya. ayo nulis juga
total 1 replies
Voyager
Arlan gila. anak SMA dibuat nggak berkutik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!