Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan untuk Ara
Waktu balapan terus berjalan.
Setelah melewati tikungan tajam di belokan pertama, lintasan langsung berubah menjadi jalan sempit dengan turunan panjang yang cukup curam.
Lampu motor para pembalap menyorot jalanan gelap yang berkelok di antara pepohonan.
Angin malam bertiup kencang, menemani deru mesin motor yang terus meraung di sepanjang lintasan gunung itu.
Derren yang memang sejak awal berniat menyingkirkan Ara, tiba-tiba memperlambat laju motornya.
Dengan cepat dia mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya.
Segenggam paku kecil.
Tanpa ragu, Derren menaburkan paku-paku itu di tengah jalan sebelum kembali memacu motornya.
Paku-paku kecil itu hampir tidak terlihat di aspal yang gelap.
Sangat mudah bagi pembalap yang lewat untuk menginjaknya.
" Lihat saja, Queen kamu tidak akan berhasil mengejarku," gumam Derren sambil tersenyum tipis.
Setelah menaburkan paku itu, dia kembali memacu motornya lebih cepat dan menjauh dari lokasi tersebut.
Benar saja.Beberapa saat setelah Derren pergi, para pembalap yang berada di belakang mulai melewati jalan itu.
Salah satu dari mereka tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
Motor yang dia kendarai sedikit oleng sebelum akhirnya berhenti.
"Sial! Kenapa tiba-tiba bannya kempes?" ucap pembalap itu dengan kesal.
Dia langsung turun dari motornya lalu menendang ban yang sudah kempes itu dengan penuh emosi.
Bukan hanya dia.Beberapa pembalap lain juga mengalami hal yang sama.
Suara desisan angin keluar dari ban yang bocor terdengar di sepanjang jalan sempit itu.
"Sial! Ban gue juga bocor!"
"Apa yang sebenarnya terjadi di jalan ini?"
Mereka semua mulai bertanya-tanya tentang kejadian ini yang menurut mereka semua terasa begitu aneh dan mencurigakan.
Para pembalap mulai panik dan kesal karena motor mereka tidak bisa melanjutkan balapan.
Sementara itu dari arah belakang, motor Ara mulai mendekat.
Lampu motornya menyorot jalanan yang kini dipenuhi beberapa pembalap yang berhenti.
Ara memperlambat laju motornya ketika melihat pemandangan itu.
"Kenapa mereka berhenti di sini?" gumam Ara pelan.
Tatapannya menyapu satu per satu para pembalap yang sedang memeriksa motor mereka.
"Ada apa dengan motor mereka semua?"
Ara merasa ada yang tidak beres.
Tidak mungkin begitu banyak ban motor bisa kempes secara bersamaan tanpa alasan.
Kecurigaannya semakin besar.
"Aku harus hati-hati," gumam Ara.
Matanya menatap tajam ke arah jalan di depannya.
"Sepertinya ada yang tidak beres di jalan ini."
Ara pun memperlambat laju motornya sambil memperhatikan permukaan aspal dengan lebih teliti.
Sementara itu, reaksi para penonton di sepanjang lintasan tidak kalah ramai.
Mereka sangat terkejut melihat bagaimana Ara berhasil menyalip banyak pembalap dalam waktu singkat.
"Gila! Queen mulai mengejar mereka semua!" teriak salah satu penonton dengan sangat antusias.
"Cara dia masuk tikungan tadi kayak pembalap profesional," timpal penonton lain.
Beberapa orang bahkan mulai berdiri dari tempat mereka untuk melihat balapan dengan lebih jelas.
Semua mata kini tertuju pada satu orang. Arabella.
Di antara kerumunan penonton itu, Rafaell juga ikut menyaksikan semuanya dengan tatapan serius.
Dia mulai merasa ada yang aneh.
" Bukannya Ara bilang dia lupa cara balapan?" gumam Rafaell pelan pada dirinya sendiri.
Tatapannya terus mengikuti motor Ara yang melaju di lintasan.
" Tapi kenapa cara dia membawa motor persis seperti dulu?"
Rafaell semakin curiga.
Seolah-olah sosok Queen yang dulu perlahan mulai kembali muncul malam ini.
Ara terus melajukan motornya dengan hati-hati.
Lampu motor itu menyapu jalanan sempit di depannya. Asapal hitam terlihat sedikit berkilau terkena cahaya lampu.
Tatapan Ara menjadi semakin fokus.
Entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di jalan ini.
Angin malam terus menerpa tubuhnya saat motor itu meluncur menuruni turunan panjang lintasan gunung tersebut.
Beberapa meter di depan, Ara tiba-tiba menyipitkan matanya.
Ada sesuatu yang berkilau di jalan.Sangat kecil.Namun cukup untuk menarik perhatiannya.
"Apa itu?" gumam Ara pelan.
Motor itu masih melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Jika dia salah mengambil keputusan, motornya bisa saja kehilangan keseimbangan di jalan sempit ini.
Dalam sepersekian detik, mata Ara akhirnya menangkap benda kecil yang tersebar di aspal.
"Paku." Umpat Ara dengan kesal.
Banyak sekali paku kecil berserakan di sepanjang jalan.
"Sial!" desis Ara.
Tanpa berpikir panjang, Ara langsung memiringkan sedikit motornya sambil memutar setang dengan cepat.
Motor itu bergeser beberapa sentimeter dari jalur sebelumnya.
Ban depannya hampir saja menginjak salah satu paku yang berkilau di jalan.
"Brakkk!"
Ban belakang motor Ara sedikit tergelincir saat dia melakukan manuver mendadak.
Motor itu sempat sedikit bergoyang.Beberapa penonton yang melihat dari kejauhan langsung menahan napas.
"Hati-hati, Queen!" teriak salah satu dari mereka tanpa sadar.
Namun Ara tidak panik.Tangannya tetap mantap memegang setang motor.
Tubuhnya sedikit memiring mengikuti arah motor yang hampir kehilangan keseimbangan.
Dalam satu gerakan cepat, Ara menarik gas dan menstabilkan kembali motornya.
Ban motor itu berhasil melewati area penuh paku tanpa terkena satu pun.
Motor Ara kembali melaju stabil.
Dari kejauhan, beberapa penonton langsung bersorak lega.
"Gila! Dia hampir saja kena paku!"
"Refleksnya cepat banget!"
"Kalau tadi telat sedikit saja, bannya pasti bocor!"
Sementara itu Ara menoleh sebentar ke arah jalan yang baru saja dia lewati.
Matanya menyipit.
Sekarang dia semakin yakin.
"Itu bukan kecelakaan," gumamnya pelan.
"Ada yang sengaja menjebak di lintasan ini."
Ara kembali memutar gas motornya.Suara mesin motor Queen kembali meraung memecah udara malam.
Di kejauhan, lampu motor Derren masih terlihat.Jarak mereka kini semakin dekat.
Sementara itu, Derren yang sedang melaju di depan sempat melirik kaca spion motornya.
Alisnya langsung berkerut.
Motor Ara masih terlihat mengejarnya.
"Bisa-bisanya dia lolos dari jebakan itu?" gumam Derren kesal.
Padahal dia sangat yakin paku-paku tadi akan membuat Ara berhenti seperti pembalap lainnya.Namun ternyata dia salah Ara secerdik itu.
Sudut bibir Derren perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
"Menarik," gumamnya pelan.
Dia kembali memutar gas motornya lebih dalam.
"Kalau begitu kita lihat sampai sejauh mana kamu bisa bertahan, Queen."
Ara terus mempercepat laju motornya.
Lampu motornya kini semakin mendekati motor Derren yang berada di depan.
Di lintasan gelap itu, jarak antara pemburu dan yang diburu mulai semakin tipis.
Derren yang menyadari hal itu kembali melirik kaca spion motornya.
Sorot lampu motor Ara kini sudah terlihat sangat jelas di belakangnya.
Rahang Derren langsung mengeras.
"Dia sudah sedekat ini?" gumamnya tidak percaya.
Padahal dia sudah menyiapkan jebakan untuk menyingkirkan para pembalap di belakangnya.
Namun ternyata Ara masih bisa mengejarnya.Sudut bibir Derren perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
Seolah-olah dia sama sekali tidak merasa khawatir.Karena sebenarnya jebakan yang dia siapkan malam ini belum berakhir.
Beberapa ratus meter di depan mereka, sebuah tikungan tajam menunggu di ujung turunan.
Tikungan itu dikenal sebagai tikungan maut di lintasan gunung tersebut.
Banyak pembalap pernah jatuh di sana.
Derren kembali memutar gas motornya.Suara mesin motornya meraung semakin keras.
"Kalau kamu bisa melewati ini baru aku akui kamu Queen," gumamnya pelan.
Sementara itu, Ara yang berada di belakangnya sama sekali tidak memperlambat laju motornya.
Tatapannya tetap tajam menatap lintasan di depan.
Namun tepat saat dia semakin mendekat lampu motornya tiba-tiba menyorot sesuatu di ujung tikungan itu.
Ara langsung menyipitkan matanya.Karena di tengah tikungan maut tersebut terlihat sebuah motor tergeletak di jalan.
Dan seseorang terbaring tepat di jalur lintasan balapan.
Sedangkan motor Ara masih melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah itu.
"Sial, Jebakan apa lagi ini," gumam Ara.