Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 Menanti dengan Penuh Harap
Rabu pagi, tiga minggu setelah kamar Kirana selesai direnovasi, kehidupan keluarga Mahardika berjalan dengan ritme yang padat tapi bahagia. Setiap hari ada saja cerita baru, tantangan baru, tapi mereka hadapi bersama.
Kehamilan Alya memasuki minggu ke-19. Perutnya sudah membuncit dengan jelas, dan Kirana semakin aktif bergerak. Setiap malam sebelum tidur, Arka akan berbaring di samping ibunya, berbicara dengan adiknya yang belum lahir. Cerita tentang apa yang ia pelajari hari ini, tentang teman-temannya, tentang betapa ia tidak sabar bertemu Kirana.
Tapi pagi ini, ada yang berbeda.
Arka turun untuk sarapan dengan wajah pucat. Lingkaran hitam di bawah matanya jelas terlihat tanda ia tidak tidur nyenyak semalaman.
Alya yang sedang menyiapkan nasi goreng di dapur langsung khawatir. "Nak, kamu baik-baik saja?"
Arka duduk di meja makan dengan gerakan lambat. "Aku baik, Ma. Cuma capek dikit."
Reyhan yang sedang membaca email di laptop mengangkat kepala. Satu lirikan saja cukup untuk membuatnya tahu ada yang tidak beres. "Arka, kamu tidur jam berapa semalam?"
Arka diam sebentar, seperti mempertimbangkan apakah harus jujur atau tidak. Akhirnya ia menjawab pelan, "Jam sebelas, Yah. Aku harus selesaiin project buat program highly gifted."
"JAM SEBELAS?"
Reyhan menutup laptopnya dengan keras. Suaranya meninggi sangat jarang terjadi. Arka tersentak, matanya langsung berkaca-kaca.
"Arka, kamu anak lima tahun! Kamu seharusnya tidur jam delapan!"
"Maaf, Yah... tapi project-nya harus dikumpulin hari ini. Aku nggak mau telat." Suara Arka kecil, nyaris berbisik.
Reyhan menarik napas panjang. Ia berusaha menenangkan diri, menyadari nada bicaranya terlalu keras. Ia berdiri, berjalan mendekat, lalu berlutut di depan Arka.
"Nak, dengerin Ayah." Suaranya sekarang lembut, tapi tegas. "Nggak ada project apapun yang lebih penting dari kesehatan kamu. Kamu harus tidur cukup. Kalau nggak, kamu bisa sakit."
"Tapi Bu Nina bilang"
"Ayah nggak peduli Bu Nina bilang apa." Reyhan memotong dengan tegas. "Kesehatan kamu nomor satu. Dan kalau program ini bikin kamu nggak tidur, kita akan berhenti."
Mata Arka melebar panik. "NGGAK, YAH! Kumohon jangan berhentiin aku! Aku suka program itu! Aku happy di sana!"
"Tapi kamu nggak bisa happy kalau kamu sakit, Nak."
Alya yang melihat situasi mulai memanas menghampiri mereka. Tangannya mengusap punggung Arka lembut. "Rey, Arka, kita tenang dulu. Ayo sarapan dulu, terus kita ngobrol pelan-pelan."
Suasana makan pagi itu tegang. Nasi goreng kesukaan Arka terasa hambar di mulutnya. Ia hanya menyendok-nyendok tanpa benar-benar makan.
Pukul Delapan Pagi Perjalanan ke Sekolah
Di dalam mobil, suasana masih tegang. Arka duduk di belakang dengan wajah cemberut. Reyhan mengemudi dengan rahang mengeras. Alya di kursi depan menatap jalan, sesekali melirik ke kaca spion untuk melihat Arka.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Akhirnya Reyhan membuka suara. Nadanya lebih lembut sekarang.
"Arka, Ayah bukan marah sama kamu. Ayah cuma khawatir. Kamu itu masih kecil, Nak. Tubuh kamu butuh istirahat."
"Aku nggak capek, Yah. Aku bisa handle."
Reyhan melirik melalui kaca spion. "Kamu bilang nggak capek, tapi mata kamu hitam. Kamu kelihatan pucat. Itu tanda tubuh kamu capek, Nak."
Arka terdiam. Tidak bisa membantah.
"Hari ini, setelah sekolah, kamu langsung pulang. Nggak ada enrichment class. Nggak ada program highly gifted. Kamu istirahat."
Mata Arka berkaca-kaca. "Tapi Yah, hari ini kan ada program"
"Nggak ada tapi-tapian." Suara Reyhan tegas tapi tidak marah. "Kamu istirahat. Itu final."
Arka menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangis.
Sesampainya di sekolah, sebelum Arka turun, Reyhan memanggilnya. "Nak, sini sebentar."
Arka mendekat dengan langkah ragu.
Reyhan memeluknya erat. "Ayah sayang sama kamu. Makanya Ayah strict soal ini. Ayah nggak mau kamu sakit. Ngerti?"
Arka mengangguk dalam pelukan ayahnya. "Aku ngerti, Yah. Maaf aku bikin Ayah khawatir."
"Nggak apa-apa." Reyhan melepas pelukan, menatap mata Arka. "Sekarang masuk. Belajar yang baik. Tapi jangan terlalu keras, ya?"
"Oke, Yah."
Arka turun dari mobil, melambai kecil, lalu berjalan masuk ke sekolah dengan langkah pelan.
Reyhan menghela napas panjang, menyandarkan kepala di setir.
Dari kursi penumpang, Alya berkata pelan, "Rey, kamu terlalu keras tadi."
"Aku tahu." Suaranya lelah. "Tapi Alya... aku lihat mata dia. Dia kelelahan. Dan aku takut... kita push dia terlalu keras."
Alya meraih tangan Reyhan. "Mungkin kita harus evaluasi lagi schedule-nya. Sekolah regular, enrichment class dua kali seminggu, program highly gifted tiga kali seminggu... itu terlalu banyak untuk anak lima tahun."
"Aku setuju. Aku akan telepon Bu Ratna hari ini. Kita harus adjust."
Pukul Sepuluh Pagi Telepon dengan Bu Ratna
Di kantornya, Reyhan segera menelepon Bu Ratna. Kepala sekolah Arka itu mengangkat dengan cepat.
"Pak Reyhan, ada yang bisa saya bantu?"
"Bu, saya mau diskusi tentang Arka. Saya khawatir dia overwhelmed dengan semua program yang dia ikut."
Kejutan di seberang. "Pak Reyhan, kebetulan sekali Bapak telepon. Saya juga ingin diskusi hal yang sama. Kemarin Bu Nina lapor ke saya Arka terlihat kelelahan di kelas. Matanya sayu, kurang fokus."
Jantung Reyhan berdegup cemas. "Jadi apa yang Ibu sarankan?"
"Saya rasa kita harus kurangi beban Arka. Mungkin program highly gifted dikurangi jadi dua kali seminggu instead of tiga kali. Dan enrichment class bisa di-hold dulu."
"Tapi Arka sangat menikmati program-program itu. Dia nggak mau berhenti."
"Saya mengerti, Pak." Suara Bu Ratna lembut. "Tapi anak gifted itu kadang nggak tahu kapan harus berhenti. Mereka terlalu excited dengan belajar sampai lupa bahwa tubuh mereka punya limit. Tugas kita sebagai orang tua dan pendidik adalah melindungi mereka dari diri mereka sendiri."
Kata-kata itu menohok tepat di hati Reyhan.
"Bapak benar, Bu. Oke. Mulai minggu depan, kita adjust schedule Arka. Program highly gifted dua kali seminggu Selasa dan Sabtu. Enrichment class di-hold sampai Arka lebih besar."
"Keputusan yang bijak, Pak." Suara Bu Ratna terdengar lega. "Dan Pak Reyhan, Bapak orang tua yang sangat baik. Banyak orang tua anak gifted yang justru push anaknya lebih keras. Tapi Bapak prioritaskan kebahagiaan dan kesehatan Arka. Itu luar biasa."
Reyhan tersenyum tipis. "Terima kasih, Bu. Tapi bisakah Ibu yang menjelaskan ke Arka? Saya takut dia akan kecewa kalau saya yang bilang."
"Tentu, Pak. Saya akan bicara dengan Arka hari ini."
Pukul Dua Siang Di Rumah
Sementara Reyhan sibuk di kantor, Alya berada di rumah sendirian. Ia sedang melipat cucian di ruang keluarga, menikmati ketenangan siang hari.
Tiba-tiba, perutnya mengencang. Seperti ada yang meremas dari dalam.
Alya berhenti, memegang perutnya dengan napas tercekat. Rasa kencang itu bertahan sekitar 30 detik, lalu mereda.
Mungkin cuma Kirana gerak, pikirnya. Ia kembali melipat baju.
Lima menit kemudian, rasa kencang itu datang lagi. Kali ini lebih kuat.
Alya duduk di sofa, memegang perutnya. Wajahnya pucat.
Ini kontraksi? Tapi usianya baru 19 minggu. Terlalu awal...
Tangan gemetar meraih ponsel. Menelepon Reyhan.
"Rey..." Suaranya bergetar.
Reyhan yang sedang meeting langsung berdiri. "Alya? Kamu kenapa?"
"Aku... aku rasa aku kontraksi. Perutku kencang-kencang... Rey, aku takut..."
"AKU PULANG SEKARANG!" Reyhan sudah berlari keluar ruang meeting. "Kamu jangan kemana-mana! Duduk atau berbaring! Aku akan sampai dalam 15 menit!"
Telepon terputus. Reyhan melesat ke parkiran, menyalakan mobil, dan melaju secepat mungkin.
Kumohon... kumohon jangan sampai terjadi apa-apa dengan Alya dan Kirana...
Pukul Dua Seperempat Sampai di Rumah
Reyhan sampai dalam 12 menit. Ia melanggar beberapa rambu, tapi tidak peduli. Yang penting Alya dan Kirana selamat.
Ia berlari masuk, menemukan Alya berbaring di sofa. Wajahnya masih pucat, tapi tidak separah tadi.
"Alya!" Reyhan langsung berlutut di sampingnya. "Kamu masih kontraksi?"
Alya menggeleng lemah. "Udah berhenti. Tadi cuma beberapa kali, terus hilang."
"Kita ke rumah sakit sekarang."
"Rey, mungkin ini cuma kontraksi palsu"
"Aku nggak mau ambil risiko." Suaranya tegas. "Kita ke rumah sakit. Sekarang."
Dengan hati-hati, Reyhan membantu Alya berdiri, menuntunnya ke mobil. Sepanjang perjalanan, tangannya tidak lepas dari genggaman Alya.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya setiap beberapa menit.
"Iya. Perutnya udah nggak kencang lagi."
"Syukurlah. Tapi kita tetep periksa ke dokter."
Pukul Tiga Sore Rumah Sakit
Di ruang pemeriksaan, Dr. Sari melakukan USG dengan teliti. Reyhan berdiri di samping Alya, tangannya menggenggam erat tangan istrinya.
Setelah beberapa menit, Dr. Sari tersenyum.
"Bu Alya, yang Ibu rasakan tadi itu namanya Braxton Hicks atau kontraksi palsu. Ini normal terjadi pada trimester kedua."
Reyhan dan Alya menghela napas lega bersamaan. Lega luar biasa.
"Tapi," lanjut Dr. Sari dengan nada serius, "ini juga bisa jadi tanda Ibu terlalu lelah atau stress. Ibu akhir-akhir ini banyak aktivitas?"
Alya berpikir. "Nggak juga, Dok. Cuma akhir-akhir ini saya worry sama anak pertama. Dia kelihatan kelelahan."
"Ah, stress emosional. Itu bisa trigger Braxton Hicks. Bu Alya, Ibu harus lebih banyak istirahat. Kurangi stress. Dan kalau kontraksi datang lagi apalagi kalau teratur langsung ke rumah sakit."
"Baik, Dok."
"Dan baby-nya?" tanya Reyhan dengan cemas. "Kirana baik-baik saja?"
Dr. Sari tersenyum menenangkan. "Baby-nya sehat. Detak jantungnya bagus. Gerakannya normal. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi Ibu harus istirahat lebih banyak. Minimal dua jam tidur siang setiap hari. Jangan angkat barang berat. Jangan terlalu stress."
Reyhan mengangguk tegas. "Saya akan pastikan dia istirahat, Dok. Janji."
Pukul Lima Sore Menjemput Arka
Dari rumah sakit, mereka langsung ke sekolah untuk menjemput Arka. Ketika Arka keluar, wajahnya sedikit lebih ceria dari pagi tadi. Tapi begitu melihat orang tuanya terutama Mama yang duduk di kursi depan dengan wajah pucat ia langsung tahu ada yang tidak beres.
"Mama kenapa?" tanyanya begitu masuk mobil. "Mukanya pucat."
Alya memaksakan senyum. "Mama baik-baik aja kok, sayang."
Arka tidak percaya. Ia menatap ayahnya dengan tatapan serius tatapan yang meminta penjelasan.
Reyhan menghela napas. "Tadi siang, Mama kontraksi palsu. Kami ke rumah sakit. Tapi baby Kirana baik-baik aja. Mama juga baik-baik aja."
Wajah Arka langsung pucat. "Kontraksi? Itu berarti Kirana mau lahir?"
"Bukan, Nak. Ini cuma kontraksi palsu. Normal. Tapi dokter bilang Mama harus lebih banyak istirahat dan kurangi stress."
Arka terdiam lama. Tangannya meremas ujung baju. Lalu dengan suara sangat kecil, ia bertanya, "Ini gara-gara aku ya? Karena aku bikin Mama worry?"
"Sayang"
"Maafin aku, Ma." Suara Arka bergetar. "Maafin aku udah bikin Mama stress. Maafin aku udah egois..."
Air matanya jatuh. Tangisnya pecah.
Alya langsung berbalik sesusah apapun dengan perut buncitnya meraih tangan Arka. "Sayang, ini bukan salah kamu. Sama sekali bukan. Ini cuma tubuh Mama yang lagi adjust dengan baby. Kamu nggak salah apapun."
"Tapi Mama worry sama aku... dan itu bikin Mama stress..."
Reyhan menepi di pinggir jalan. Mematikan mesin. Berbalik menatap Arka.
"Nak, dengerin Ayah." Suaranya tegas tapi penuh cinta. "Mama kontraksi palsu itu normal. Nggak ada hubungannya dengan kamu. Tapi Ayah dan Mama memang worry sama kamu. Bukan karena kamu salah, tapi karena kami peduli. Kami nggak mau kamu kelelahan."
"Aku janji akan tidur lebih awal. Aku janji nggak akan begadang lagi. Kumohon jangan marah sama aku..."
Reyhan keluar dari mobil, membuka pintu belakang, lalu memeluk Arka erat. Sangat erat.
"Ayah nggak marah. Ayah nggak pernah marah sama kamu. Ayah cuma pengen kamu sehat dan happy. Itu aja."
Arka menangis di pelukan ayahnya. Melepaskan semua ketakutan dan rasa bersalah yang dipendam sejak pagi.
Malam Hari Family Meeting
Setelah makan malam, mereka bertiga duduk di ruang keluarga. Alya berbaring di sofa dengan bantal-bantal menopang punggungnya. Arka duduk di lantai sambil memegang tangan ibunya. Reyhan duduk di kursi di dekat mereka.
"Oke," Reyhan memulai, "kita harus ngobrol serius. Tentang schedule Arka, tentang kesehatan Mama, tentang bagaimana kita akan manage semuanya."
Arka mengangguk serius. Wajahnya terlihat lebih dewasa dari usianya.
"Mulai minggu depan, program highly gifted Arka dikurangi jadi dua kali seminggu Selasa dan Sabtu. Enrichment class di-hold dulu."
Arka membuka mulut hendak protes, tapi Reyhan mengangkat tangan.
"Ini bukan negotiable, Nak. Ini demi kesehatan kamu. Kamu masih lima tahun. Kamu butuh waktu untuk jadi anak-anak. Main, istirahat, tidur cukup."
"Tapi aku suka program itu, Yah..."
"Ayah tahu. Dan kamu tetap bisa ikut, cuma frekuensinya dikurangi. Nggak dihilangkan sama sekali. Oke?"
Arka mengangguk pelan, meski kekecewaan terlihat di wajahnya.
Alya menambahkan, "Dan Mama juga harus lebih banyak istirahat. Mulai sekarang, Mama akan tidur siang dua jam setiap hari. Mama nggak akan lagi worry berlebihan. Mama akan fokus sama kesehatan Mama dan baby Kirana."
"Mama janji?" tanya Arka dengan mata berkaca-kaca.
"Mama janji."
Reyhan melanjutkan, "Dan Ayah akan adjust jadwal kerja. Ayah akan pulang lebih cepat setiap hari minimal jam 5 sore. Biar Ayah bisa bantu di rumah dan spend more time sama kalian."
"Tapi Ayah kan sibuk"
"Nggak ada yang lebih penting dari keluarga." Reyhan memotong tegas. "Kerja bisa di-manage. Tapi keluarga nggak bisa ditunda."
Arka menatap kedua orang tuanya. Matanya basah. "Ayah, Mama... maafin aku. Maafin aku udah bikin kalian khawatir"
"Hey." Alya menarik Arka naik ke sofa, memeluknya lembut. "Nggak ada yang perlu dimaafin. Kamu anak yang baik. Kamu cuma terlalu semangat. Dan itu nggak salah."
"Kami cuma perlu adjust," tambah Reyhan. "Cari balance yang lebih baik. Biar semua orang happy dan sehat."
Arka mengangguk dalam pelukan ibunya. "Aku akan coba balance, Yah. Aku janji."
Dua Hari Kemudian Program Highly Gifted dengan Schedule Baru
Kamis sore, Arka masuk ke kelas program highly gifted dengan perasaan campur aduk. Senang bisa kembali, tapi juga merasa bersalah karena schedule-nya dikurangi.
Bu Nina menyambutnya dengan senyum hangat. "Arka! Senang lihat kamu lagi!"
"Halo, Bu Nina..."
Bu Nina tahu ada yang berbeda. Setelah kelas dimulai dan anak-anak lain sibuk dengan project masing-masing, ia menghampiri Arka.
"Arka, boleh ngobrol sebentar?"
Mereka duduk di sudut ruangan, jauh dari anak-anak lain.
"Bu Ratna sudah cerita ke Bu Nina tentang adjustment schedule kamu." Suara Bu Nina lembut. "Bu Nina mau kamu tahu... ini bukan karena kamu nggak bisa handle. Ini karena kamu masih anak-anak. Dan anak-anak butuh waktu untuk istirahat dan bermain."
"Tapi aku nggak mau ketinggalan dari temen-temen..."
"Kamu nggak akan ketinggalan." Bu Nina tersenyum. "Kamu tahu kenapa? Karena kamu smart. Kamu bisa catch up dengan mudah. Yang nggak bisa kamu catch up adalah masa kecil kamu. Kalau kamu spend semua waktu kamu untuk belajar sekarang, nanti waktu kamu dewasa, kamu akan nyesel. Kamu akan ngerasa kehilangan childhood kamu."
Arka menatap gurunya dengan mata lebar. Seperti mendengar sesuatu yang belum pernah ia pikirkan.
"Bu Nina dulu juga anak gifted." Suara Bu Nina pelan, seperti berbagi rahasia. "IQ Bu Nina 148. Orang tua Bu Nina push Bu Nina sangat keras. Bu Nina nggak pernah main, nggak pernah punya temen, nggak pernah jadi anak-anak. Dan sekarang, waktu Bu Nina dewasa, Bu Nina nyesel. Bu Nina ingin punya kenangan masa kecil yang happy. Tapi Bu Nina nggak punya."
Air mata Arka menggenang. "Bu Nina... nggak happy?"
"Dulu nggak." Bu Nina tersenyum sedih. "Tapi sekarang Bu Nina happy. Karena Bu Nina bisa membantu anak-anak seperti kamu untuk nggak melakukan kesalahan yang sama. Bu Nina mau kamu smart, tapi Bu Nina juga mau kamu happy. Ngerti?"
Arka mengangguk. Lalu tiba-tiba ia memeluk Bu Nina.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih udah ngerti aku."
Bu Nina membalas pelukan itu dengan lembut. "Sama-sama, Arka. Sekarang, ayo kita continue project kamu. Tapi kalau kamu capek, bilang ya. Kita bisa break."
Minggu Sore Quality Time Keluarga
Minggu sore, mereka menghabiskan waktu di taman dekat rumah. Sesuatu yang jarang dilakukan akhir-akhir ini karena jadwal padat.
Arka bermain di playground. Berlari-lari dengan anak-anak lain, tertawa lepas, memanjat perosotan, berayun di ayunan. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia terlihat seperti anak lima tahun yang sebenarnya.
Reyhan dan Alya duduk di bangku taman, menatap Arka dengan senyum lega.
"Rey." Alya menyandarkan kepala di bahu suaminya. "Kamu lihat dia? Dia happy."
"Iya. Dia butuh ini. Main tanpa tekanan. Jadi anak-anak."
"Kita hampir kehilangan ini. Kita hampir push dia terlalu keras."
Reyhan meraih tangan Alya, menggenggamnya erat. "Tapi kita sadar. Kita adjust. Dan sekarang kita di track yang benar."
"Aku takut, Rey. Takut waktu Kirana lahir, kita terlalu fokus sama dia dan Arka akan terabaikan."
"Itu nggak akan terjadi." Suara Reyhan tegas. "Kita akan pastikan Arka tetap dapat perhatian yang sama. Kita akan belajar. Trial and error. Tapi yang penting, kita komunikasi. Selalu."
"Kamu benar."
Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman. Menikmati sore yang tenang. Menikmati kebersamaan.
Arka berlari menghampiri mereka. Wajahnya berkeringat, tapi berseri-seri.
"Ayah! Mama! Tadi aku bikin temen baru! Namanya Riko! Dia suka dinosaurus kayak aku dulu!"
Alya mengusap keringat di dahi Arka dengan sapu tangan. "Wah, bagus, Nak. Kamu happy?"
"Sangat happy, Ma! Ini fun banget! Aku lupa terakhir kali aku main di playground kapan."
Reyhan merasakan dadanya sesak. Kami hampir merebut masa kecilnya. Syukurlah kami sadar sebelum terlambat.
"Nak." Reyhan merangkul Arka. "Mulai sekarang, setiap Minggu kita akan spend time kayak gini. Main di taman, nggak ada belajar, nggak ada pressure. Cuma keluarga. Oke?"
Mata Arka berbinar. "SERIUS, YAH?!"
"Serius. Ini janji Ayah."
Arka memeluk Reyhan erat. "Terima kasih, Yah. Terima kasih, Ma. Kalian orang tua terbaik di dunia."
Sore itu, dengan matahari yang hangat dan suara tawa anak-anak di playground, mereka bertiga merasakan sesuatu yang sangat berharga.
Keseimbangan yang akhirnya ditemukan.
Prioritas yang akhirnya jelas.
Keluarga yang utuh dengan cara yang benar.
Dan pelajaran berharga: cerdas itu penting, tapi bahagia jauh lebih penting.
[Bersambung]