NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aby dan Anin

Hanya seminggu Nina menempati apartemen milik Damian, dia mengirim pesan singkat pada pria itu untuk tinggal di rumah kontrakannya sendiri. Pada akhirnya Nina sendiri yang menceritakan tentang rencananya guna menyambut putra dan putrinya pulang dari pondok.

Damian tidak masalah, tapi memberi peringatan padanya untuk tidak menemui Ammar.

Siapa juga yang mau menemui pria beristri?

Karena penampilan Nina yang selalu mengenakan jilbab besar dan gamis longgar. Damian tidak menaruh curiga soal dirinya yang sudah hamil.

Dini hari, Nina sudah tiba di stasiun seorang diri. Bagi warga yang tinggal di ibu kota, ini tidak masalah sama sekali. Jalanan ramai, seolah warganya tak kenal waktu tidur. Apalagi letak stasiun yang tak jauh dari pasar subuh.

Tadi Nina berangkat menumpang ojek online. Damian sudah memberikannya ponsel pintar baru, walau untuk komunikasi keduanya masih menggunakan ponsel jadul. Damian mengatakan agar Nina tak banyak bertanya soal alasan mereka berkomunikasi dengan cara seperti itu.

Nina yang sudah terlanjur berjanji akan melakukan apapun, asal tidak bertemu dengan Ammar. Menurut apapun yang dikatakan oleh lelaki bermata biru itu.

Jantung Nina berdebar tak karuan, rasanya tak sabar melihat dua anaknya yang sudah berbulan-bulan tak dia temui.

Liburan semester satu kemarin, terpaksa mereka harus menahan rindu. Karena keadaan ekonomi yang carut marut. Tapi kini, Nina bahkan sudah memiliki rumah kontrakan dengan dua kamar tidur, juga uang pegangan cukup banyak. Damian memberikan salah satu kartunya. Sedangkan kartu milik Nina sendiri, tidak boleh dipergunakan hingga batas waktu yang akan Damian tentukan nanti. Sekali lagi, Nina tidak perlu tau apa yang sebenarnya dilakukan pria itu. Yang Nina tau, Damian berniat melindunginya dari pria beristri.

"Ibuuuuu ...."

Suara melengking yang sudah beberapa bulan ini, hanya bisa Nina dengar di telepon. Dia tersenyum lebar dan merentangkan tangannya. "Anin ..."

Grep ... Ibu dan putrinya berpelukan erat.

"Assalamualaikum ibu ..." Suara berat itu menyapanya lembut.

Nina membuka satu tangannya, agar anak laki-lakinya bergabung. "Walaikumsalam, Nak!"

Remaja yang memakai kopiah putih itu memeluk ibu dan adik perempuannya. Ketiganya tenggelam dalam tangis kebahagiaan. Tak peduli tatapan orang yang kebetulan lewat. Mereka hanya ingin melampiaskan kerinduan.

"Pulang yuk! Kangen-kangenan-nya lanjutin di rumah aja." Seruan Nina membuat si kembar melepaskan pelukan mereka.

Ketiganya sempat menunggu sejenak taksi online yang akan membawanya menuju rumah kontrakan.

"Anin nggak sabar pengen lihat kamar baru." Ujar remaja berusia lima belas tahun itu. "Ibu bilang aku punya kamar sendiri."

Nina menceritakan tentang rumah kontrakan mereka yang baru. Anin sempat meminta agar kamarnya dicat warna hijau tosca. Sementara Aby, tak meminta apapun. Putra pertama Nina itu lebih kalem.

"Kamarnya bareng, ibu lah." Sahut Aby yang duduk di samping jok kemudi. "Kan kamarnya dua."

"Nggak apa-apa dong, kan sama ibu." Sahut remaja yang mengenakan jilbab hitam itu.

Obrolan beralih soal menu makanan yang tadi sempat si kembar beli di restoran kereta. Anin mengatakan membelikan satu menu, yang menurutnya enak untuk sang ibu.

Dari pihak Pondok memperbolehkan santrinya pulang tanpa orang tua, karena ada Aby yang sudah dianggap bisa menjaga adik perempuannya. Nina hanya mentransfer sejumlah uang untuk dibelikan tiket kereta dan uang pegangan selama perjalanan.

Ada banyak rencana yang sudah mereka susun, selama menghabiskan masa liburan puasa hingga usai hari raya.

***

Akhir pekan seminggu setelah keluarga kecil itu berkumpul, si kembar meminta pada Nina untuk mengunjungi mall. Katanya ingin makan di restoran yang mereka lihat pada ponsel sang ibu.

Dan di sinilah mereka bertiga sekarang. Senyuman tak luntur di wajah Anin, remaja yang wajahnya mirip dengan mendiang ayahnya itu pertama kalinya makan di tempat seperti ini.

Himpitan ekonomi semenjak si kembar lahir, membuat Nina nyaris tak pernah mengajak anak-anaknya makan di tempat yang menurut mereka cukup mahal.

Dan setelah lebih dari lima belas tahun, si kembar lahir. Ini kali pertama mereka memiliki kesempatan yang dulu hanya bisa dibayangkan. Atau mungkin justru tak berani membayangkan.

"Bu, entar ajarin Anin cara makannya." Anin berbisik.

Bukan hanya si kembar, ini juga kali pertama Nina menyambangi restoran yang menyediakan makanan Western itu. Tapi tak mungkin mengakuinya.

Sebagai perempuan yang lahir dan besar di desa. Nina muda, paling jauh datang ke kota kabupaten untuk mengikuti eskul renang. Atau mengurus administrasi kependudukan.

Di desa juga belum ada pusat perbelanjaan semacam mall. Hanya ada Toserba yang terdiri dari tiga lantai saja.

"Sama aja kalau kita lagi makan aja, Nin! Nggak usah norak deh!" Aby memutar bola matanya malas. Sejak mereka berkumpul kembali, menurutnya Anin semakin manja dan banyak menuntut pada ibu mereka.

Anin mengerucutkan bibirnya, dia merajuk. Nina hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah kedua anaknya.

Aby dan Anin adalah anak kembar tidak identik, juga memiliki sifat dan watak berbeda. Mereka lahir dengan dua plasenta.

Nina menyentuh perutnya yang mulai membuncit. Di dalam rahimnya kini terdapat dua nyawa. Akankah mereka juga sama dengan anaknya yang sudah remaja itu?

Anin sempat bertanya, kenapa perutnya agak buncit. Tapi Nina berkilah, jika majikan barunya memberinya banyak makanan. Sehingga berat badannya naik cukup banyak.

Nina tidak ingin anak-anaknya mengetahui, tentang pekerjaan yang dia lakoni. Biar ini menjadi rahasianya saja.

"Iya entar ibu ajari." Sahut Nina. "Atau Aby mau ajarin adiknya, juga boleh." Dia tersenyum menatap lembut dua buah hatinya.

"Aby kan belum pernah makan steak, Bu! Pegang pisau aja masuk kaku." Anin mencibir kakaknya yang lebih tua sepuluh menit darinya.

Si kembar terkadang memang seperti ini. Sering berdebat, lebih tepatnya Anin yang memancing supaya kakaknya mengomel. Aby yang aslinya pendiam, juga gampang terpancing dengan sikap manja dan menyebalkan kakaknya. Walau begitu, mereka saling sayang dan melindungi satu sama lain.

"Udah tau nggak bisa makan pake pisau, pake acara ngajak makan ditempat kayak gini. Mana mahal lagi, kalau uang ibu habis, gimana?" Remaja lelaki itu kembali mengomel. "Mendingan makan bakso atau mi ayam aja, Bu!"

"Sudah-sudah, jangan ribut. Sambil nunggu kita lihat video cara makan steak, gimana?" Dari pada berdebat terus, Nina memilih menengahi. Dia mengambil ponselnya dan membuka salah satu aplikasi. Lalu menunjukkannya pada dua anaknya yang duduk berdampingan di depannya.

Si kembar terlihat serius memperhatikan cara memotong daging dan memakannya. Anin sempat berkomentar, tapi langsung ditimpali oleh Aby. Mereka kembali berdebat sambil terus menonton video hingga makanan pesanan mereka datang.

Nina membantu Anin memotong-motong daging sapi yang perseratus gramnya mencapai ratusan ribu rupiah. Daging berkualitas tinggi asal negara matahari terbit itu. Terasa lembut begitu masuk pada mulut.

Makanan utama habis, berganti desert andalan restoran. Sama seperti tadi, Anin yang paling antusias. Remaja berjilbab abu tua itu, memejamkan mata sambil menggoyangkan kepalanya saking menikmati makanan manis itu.

Nina sempat mengabadikan ekspresi menggemaskan putrinya dan lirikan sinis sang putra.

Namun saat hendak mengambil gambar ke dua, Matanya Bersi tatap dengan mata orang yang sudah lama tak dia temui.

Sontak dadanya berdebar tak karuan. Rasa takut mulai menjalar, dia ketahuan.

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
update lagi kak 🙏🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
Leti konsumsi pil kontrasepsi karena memang nggak msu hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!