NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Lama Tak Pernah Terganti

Seorang wanita dengan daster batik berlari kecil dari arah dapur. Dia buka pintu utama begitu mendengar bunyi bel yang ditekan satu kali. Tak ada deru mobil yang terdengar sebelumnya. Hanya ada langkah kaki lesu yang berjalan dari gerbang dan berhenti di depan pintu utama.

Seorang wanita lain dengan rol rambut yang melekat di kepalanya berdiri di pertengahan tangga yang melingkar di tengah ruangan. Langkahnya sudah didahului oleh asisten rumah tangga yang sudah mengabdi dengan keluarganya selama puluhan tahun lamanya.

Begitu pintu terbuka, seorang pria dengan bahu layu berdiri di sana. Kepalanya menunduk dalam, menyembunyikan matanya yang memerah. Seluruh bajunya setengah basah. Sisa air hujan menitik pelan dari helai rambutnya.

"Siapa, Mbok?" tanya Ella sembari kembali menuruni tangga.

Wanita berdaster batik yang berdiri di depan pintu itu buru-buru mengusap lengan pria di hadapannya. Rautnya tampak begitu khawatir dengan keadaan pria di hadapannya. Pria yang dia saksikan pertumbuhannya sejak kecil hingga sedewasa ini.

Wanita yang dipanggil 'Mbok' itu menoleh ke arah Ella. "Mas Kinan, Bu," ucapnya tepat setelah Ella menghabiskan anak tangga di bawahnya.

Melihat anaknya yang tampak kacau di depan sana, Ella melebarkan langkah kakinya mendekat. "Kenapa, Ki?"

"Mbok, tolong siapkan handuk sama baju kering di kamar Kinan," pinta Ella.

Wanita itu menarik lembut tangan anaknya. Matanya memandangi Kinan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Memastikan tak ada luka di tubuh anaknya.

"Nggak apa-apa, Ma. Aku cuma mau tidur di sini malam ini," ucap Kinan sembari melepaskan tangan Ella yang masih mendekap lengan kanannya.

Mendapat sorot khawatir dari ibunya, Kinan lantas memutuskan kontak mata dari Ella. Dia cengkeram tali tas di bahunya seraya berdeham ringan. "Aku ke kamar dulu, Ma," pamitnya.

"Makan dulu, Ki," pinta Ella.

Kinan menggeleng dan kembali menoleh ke arah Ella. Dipaksanya kedua sudut bibirnya untuk mengulas sebuah senyum tipis. "Nanti aja, Ma. Aku juga masih ada beberapa kerjaan yang belum selesai."

Langkah kaki Kinan yang tampak begitu berat membawanya menaiki satu per satu anak tangga yang melingkar. Sebuah jas kerja yang basah kuyub bertengger di salah satu lengannya. Sejak payung hitam miliknya dia berikan kepada Alana, jas itulah yang dia gunakan untuk menghindari rintik hujan.

Pintu kamar bercat putih kembali dia datangi setelah sekian lama. Kinan tak yakin kapan terakhir kali dia menginjakkan kaki di sana. Dia hanya mengingat suara tawa hangat dua perempuan yang dia cintai dari arah dapur kala itu.

Begitu pintu terbuka, sepasang baju bersih sudah tergeletak di atas kasur bersama dengan sebuah handuk biru muda yang dulu sering dia gunakan. Kamar ini tak lagi menyimpan aroma tubuhnya. Hanya ada wangi dari pelembut kain yang sudah pasti berasal dari sprei yang terpasang di sana.

Pandangan Kinan berhenti pada sebuah benda begitu dia meletakkan tas dan jas miliknya di atas lantai. "Udah gue duga, barang-barang itu ada di sini."

Membiarkan tubuhnya mengering dengan sendirinya, Kinan menarik sebuah kotak besar yang tergeletak di atas meja kerjanya. Tidak adanya penutup yang terpasang di sana membuat Kinan bisa langsung melihat apa isi dari kotak tersebut. Barang-barang yang selalu dia cari sejak pulang dari rumah sakit.

Sebuah jas putih dengan noda kehitaman ada di bagian paling atas, menutupi barang-barang lain yang ada di dalamnya. Jas yang seharusnya dia gunakan di hari pernikahannya dengan Olin. Tersisa sekitar satu minggu lagi, seharusnya dia sudah bisa memakai jas itu.

"Ibu yang bawa itu ke sini waktu Mas Kinan masih di rumah sakit. Mbok kira Mas Kinan bakal tinggal di sini begitu keluar dari rumah sakit, jadi Mbok taruh di sini saja," ucap seorang wanita tua dari arah pintu kamar.

Pintu kamar memang Kinan biarkan terbuka. Mbok Wati berdiri di sana dengan senyuman lembut yang tak pernah berubah sejak menemani Kinan menonton kartun sembari disuapi dengan semangkuk kecil sayur sop di depan televisi.

Kinan ikut tersenyum. "Makasih ya, Mbok. Karena nggak buang barang-barang ini gitu aja," ucap Kinan.

Alih-alih Kinan, air mata itu turun dari mata sendu Mbok Wati. Wanita itu bahkan menarik lengan dasternya guna menyeka tangis yang terus keluar. Matanya yang keabuan kini basah begitu saja.

"Seharusnya kalian lagi bahagia nyiapin pernikahan toh, Mas? Kok ya malah kayak gini kejadiannya," ujar Mbok Wati di sela tangisnya.

Melihat itu, Kinan terkekeh pelan. Dia hampiri wanita tua yang sudah seperti keluarga sendiri bagi Kinan. Wanita itu bukan sekedar asisten rumah tangga, dia juga teman curhat bagi Ella dan sosok ibu kedua bagi Kinan.

Dengan usapan pelan di punggung, Kinan menenangkan Mbok Wati. "Udah, Mbok.... Nggak apa-apa. Namanya juga takdir kan nggak ada yang tahu," ucap Kinan.

"Tapi kok ya pas banget waktu kalian mau nikah? Terus iki move on e piye, Mas?" balas Mbok Wati yang tangisnya sudah mulai mereda.

Kinan terdiam sebentar. Alih-alih memikirkan bagaimana cara melupakan Olin seperti yang Mbok Wati katakan, Kinan malah berpikir bagaimana caranya untuk terus bertahan hidup dengan bayang-bayang Olin yang tak pernah hilang dari kepalanya. Bagaimana dia harus beristirahat dengan tenang, padahal rasa bersalah dalam dirinya semakin pekat di setiap malamnya.

Pria itu menarik nafas dalam-dalam. "Sabar ya, Mbok," kata Kinan sambil terus mengusap punggung Mbok Wati.

Mendengar itu, Mbok Wati lantas mendongak. Air matanya kering seketika. Lalu, tangannya memukul pelan lengan Kinan, membuat usapan pada punggungnya berhenti begitu saja.

"Mas Kinan yang sabar! Kok malah Mbok yang disuruh sabar iki piye ceritane?" omel Mbok Wati dengan mata melotot. Pasalnya, wanita itu sedang menangisi nasib Kinan yang kurang beruntung, bukan menangis karena ikut kehilangan.

Kinan kembali tersenyum kecil. Kehadiran Mbok Wati sepertinya cukup membuatnya bisa sedikit bernafas di antara berbagai kejadian yang menimpanya berturut-turut. Bukan sekedar kecelakaan dan trauma yang dia alami, permintaan Ella agar dia menikah dengan Alana juga cukup memenuhi kepalanya.

"Mbok Wati istirahat sana. Aku mau bersih-bersih terus lanjutin kerjaan," ucap Kinan.

Mendengar itu, Mbok Wati mengangguk sekali. "Kalau nanti butuh apa-apa, panggil Mbok aja. Nggak usah sungkan!"

Setelah Mbok Wati menghilang dari pandangannya, Kinan menutup pintu. Dia kembali memeriksa isi kotak yang masih belum sepenuhnya dia buka. Hanya sebuah jas pengantin lusuh yang kini tergeletak di atas kasur miliknya.

Senyuman getir kembali menguar dari wajahnya begitu menangkap sebuah kotak beludru kecil berwarna merah di dalam sana. "Cincinnya sudah jadi ternyata," gumamnya.

Sepasang cincin perak tertancap serasi di dalam sana. Batu permata kecil yang menempel di salah satunya mampu membuat siapa pun terpesona. Sebuah tanggal yang sudah ditentukan juga terukir di permukaan cincin itu.

"15 Desember 2025," gumam Kinan membaca sekumpulan angka di sana.

Jika sudah membahas tanggal itu, Olin sudah pasti tak pernah berhenti bersuara. Taburan bunga yang menyambut mereka, alunan musik lembut nan manis yang mengiringi langkah keduanya dan aroma khas pengantin, tak pernah tertinggal dari setiap kalimatnya. Semuanya diceritakan seolah membawa Kinan ke hari yang belum pernah mereka jejaki.

Dan kini... semua hanya menjadi angan belaka. Kini hanya tinggal Kinan sendirian bersama dengan berbagai kenangan. Baik yang mati dan tersentuh, maupun yang hidup hanya dalam memori ingatannya.

Bersama dengan itu, sebuah flashdisk putih mencuri perhatian Kinan. "Pre-wedding?" guma Kinan pelan.

Dia tak pernah ingat bahwa dia dan Olin sempat menjalani foto pre-wedding sebelumnya. Apa mungkin ada yang salah dengan ingatannya akibat kecelakaan itu?

Untuk mendapatkan jawabannya, Kinan langsung meraih laptop yang ada di dalam tasnya. Beruntungnya benda itu masih cukup kering dan bisa berfungsi dengan baik meski tasnya hampir basah seluruhnya.

Begitu dia buka folder yang ada dalam flashdisk itu, Kinan terdiam. Ini bukan tentang ingatannya yang salah atau menghilang sejak kecelakaan. Bukan juga karena dia tak pernah benar-benar melakukannya. Semua momen yang ada di dalam foto itu tampak cukup natural.

Jemari Kinan berhenti pada satu foto yang cukup membuat darahnya berdesir hangat. Foto yang ditangkap saat dia tak sadar dan Olin sedang tertawa lepas sambil berlari menjauh darinya. Latar belakang danau lepas yang cukup menenangkan, tentu Kinan tahu di mana itu.

"Ternyata adik sepupu kamu foto kita diam-diam waktu itu ya, Lin?" lirih Kinan dengan senyuman lembut.

Perlahan, dia seolah ditarik kembali ke masa itu. Samar dia dapat mendengar suara tawa lepas yang menggema di dinding alam. Aroma parfum lembut yang dia hirup begitu memeluk tubuh perempuan favoritnya. Serta bagaimana hangatnya kecupan kecil yang jatuh di pipinya kala matahari mulai turun.

Tanpa sadar, setitik air mata yang dia tahan akhirnya luruh juga. "Aku kangen kamu, Olin. Kangen... banget."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!