NovelToon NovelToon
CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Sistem / Cintapertama / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aulia risti

Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman paksa

Mereka tiba di mansion pribadi Lucien.

“Di laci paling bawah. Kotak P3K,” perintahnya singkat.

Elara menurut. Saat ia berbalik, Lucien sudah membuka kemejanya.

“A—apa yang Anda lakukan?!” Elara refleks menutup mata.

“Berhenti bertanya. Obati lukaku.”

“Tapi—”

“Ini perintah.”

Dengan terpaksa, Elara mendekat. Dia menunduk, berusaha keras menghindari pandangannya.

“Bagian mana yang kau obati?” tanya Lucien.

Namun tangan Elara justru menyentuh perutnya yang keras.

“Astaga!”

Elara menarik tangannya dengan gugup, wajahnya memanas.

“Ma—maaf. Aku tidak sengaja.”

Lucien tidak langsung menjawab.

Tatapan pria itu turun perlahan, mengikuti gerak tangan Elara yang kini gemetar.

“Fokus, Lukanya di sini.”

Lucien menunjuk lengannya, tanpa mengalihkan perhatian pada Elara.

Elara mengangguk cepat. Dia mengambil kapas dan antiseptik, berusaha mengabaikan jarak mereka yang terlalu dekat. Setiap kali jarinya menyentuh kulit Lucien, tubuhnya menegang.

“Perih?” tanyanya pelan, nyaris berbisik.

Lucien tersenyum tipis.

“Aku pernah merasakan yang lebih parah.”

Jawaban itu membuat Elara terdiam. Tangannya berhenti sesaat. Dia mendongak menatap Lucien, hingga mata mereka lagi-lagi bertemu.

Lucien mengamati wajahnya dari jarak dekat. Hidungnya, bibirnya, bahkan mata coklat bersih yang selalu membuat nya bergetar itu. Semua nya sempurna.

Lanjutkan Elara bertanya "lebih parah?"

Lucien mengangguk.

“Aku berperang saat usiaku enam belas,” katanya datar.

Tangan Elara berhenti bergerak.

“Waktu itu… Aku mendapatkan delapan jahitan karena terkena sabetan pedang.”

Elara refleks menggenggam kapas lebih erat.

“Delapan…?” suaranya nyaris tak terdengar.

“Ya.” Lucien mengangguk singkat.

“Dokter keluarga bilang aku beruntung,” ucap Lucien pelan.

“Karena sabetan itu tidak sampai memutus uratnya. Jika iya… mungkin aku sudah mati.”

Nada suaranya datar, seolah membicarakan sesuatu yang bukan tentang dirinya sendiri.

Elara menatap lengannya. Bekas luka itu samar, hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama.

“Kau tahu yang kupikirkan hanya satu—kalau aku mati, semuanya akan berakhir begitu saja. Tidak ada pewaris. Tidak ada penyatuan. Tidak ada pilihan.”

Lucien Tertawa kecil, pahit. “Bahkan saat hampir mati, aku masih memikirkan tanggung jawab"

“Pasti… sakit sekali,” ucap Elara lirih.

Lucien menoleh. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu lagi.

Kata-kata itu sederhana. Tapi mampu menembus dinding hatinya.

Ketika semua orang hanya menatap nya sebagai Marquis. Namun Elara berbeda.

Gadis itu tidak melihat Marquis Kaelmont.

dia melihat Lucien—seorang manusia.

Tanpa sempat berpikir, tanpa mampu mengendalikan dorongan yang membuncah, tangan Lucien bergerak cepat. Jemarinya mencengkeram tengkuk Elara, menariknya mendekat.

Chup

Bibir Lucien menekan bibirnya.

Elara terkejut. Tubuhnya menegang, pikirannya kosong sejenak sebelum kesadaran menghantam keras. Elara mendorong dada Lucien, berusaha melepaskan diri—namun tenaganya tak sebanding.

“Lepaskan—” katanya terputus di sela napas yang bergetar.

Lucien tersadar, dia segera melepaskannya.

Lucien menatap wajah Elara. “Elara… aku—”

Kata-kata itu mati sebelum sempat lahir.

Elara menatapnya dengan amarah yang bergetar, bercampur sedih yang tak bisa disembunyikan.

“Aku benci,” suaranya pecah. “Aku benar-benar bencimu, Taun Marquis.”

Elara berbalik, berlari meninggalkan mansion itu tanpa menoleh lagi. Air mata jatuh begitu saja.

Bukan ciuman itu yang paling melukainya.

Melainkan kenyataan bahwa Lucien, seperti dengan mudah merendahkannya.

Sementara Lucien berdiri didepan jendela, matanya melihat Elara yang berlari pergi meninggalkannya mansion.

“Apa yang telah aku lakukan…” bisiknya. Entah merasa bersalah atau tidak tapi perasaan nya bercampur tak karuan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!