NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Di Bawah Pengawasan Maut

Raden masih berdiri mematung di ambang pintu dengan pistol yang masih teracung siaga.

Otot-otot berurat di lengannya menegang hebat. Ia siap untuk melepaskan peluru pada siapa pun yang berani mengancam keselamatan gadisnya.

Namun, pemandangan di depannya benar-benar merusak suasana tegang yang berusaha ia bangun sejak tadi.

Di sana, Ayah Alana sedang duduk bersila di depan meja kayu sambil memakan nasi padang yang terlihat lezat.

Bahkan jemarinya sibuk memilah tulang ayam dari bumbu rendang yang pekat seperti kabut asap saat kebakaran.

"Eh, ada Nak Raden? Sini duduk. Keburu dingin nih nasinya, ayo cepetan dimakan."

"Kan sayang kalau rendangnya mubazir, enak banget loh ini," ucap Ayah Alana dengan wajah tanpa dosa.

Alana yang saat ini berdiri di belakang Raden hanya bisa menghela napas panjang.

Ia memijit pelipisnya yang mendadak pening melihat tingkah konyol ayahnya di situasi hidup dan mati begini.

Aura malaikat maut Raden seketika luntur persis kayak baju yang keseringan dicuci.

Kini ekspresinya berganti dengan kebingungan yang terlihat sangat langka di wajah tampannya.

"Ayah... Ayah nggak apa-apa? Ayah nggak disandera atau diapa-apain kan? Ada yang lecet nggak, Yah?" tanya Alana memastikan.

Ia menghambur memeluk tubuh ayahnya, memeriksa setiap jengkal kulit pria tua itu dengan cemas.

"Disandera? Emangnya Ayah punya utang sampai harus disandera segala?"

"Tadi itu ada kurir antar makanan, katanya dari teman kamu. Ayah pikir ya rezeki anak sholeh, jadi Ayah sikat saja langsung daripada nggak ada yang makan kan," jawab Ayah sambil menjilati bumbu yang tersisa di jempolnya.

Melihat itu, Raden tak lantas santai. Ia melirik pistol di tangannya, lalu beralih melirik bungkus nasi padang di meja.

Rasanya benar-benar di luar prediksi seorang dokter ahli bedah sepertinya.

"Ayah tahu nggak, tadi Raden sampai mau dobrak pintu loh karena takut Ayah kenapa-napa?" bisik Alana gemas.

"Waduh, maaf Den kalau Ayah bikin kamu khawatir. Eh tapi pintu apartemen mahal loh, jangan didobrak. Rugi nanti kamu."

"Mending sekarang Raden duduk dulu sini, ini ada kerupuk kulit renyah banget serenyah mulut tetangga," balas Ayah Alana santai.

Raden berdeham pelan, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah jatuh ke level paling bawah.

Ia segera menyimpan kembali pistolnya di balik pinggang kemeja mahalnya, lalu bergerak menyisir setiap sudut ruangan dengan mata tajam.

"Yah, kurirnya siapa? Apa dia bawa sesuatu yang mencurigakan? Ciri-cirinya gimana?" tanya Raden dengan suara berat yang sengaja ia buat sedingin mungkin.

"Pakai jaket abu-abu Den, helmnya nggak dilepas. Buru-buru gitu orangnya kayak lagi ngejar setoran," sahut Ayah Alana sambil terus mengunyah.

Raden berhenti tepat di depan meja makan. Matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan di bawah kolong meja kayu itu.

Ia lalu berjongkok, mengabaikan debu yang mungkin menempel di celana kain seharga mobil miliknya.

Ia kemudian meraba bagian bawah meja dengan sarung tangan medis yang selalu ia simpan di saku.

Klik.

Sebuah alat penyadap berukuran sangat kecil, sekecil kancing baju, menempel di sana.

Alat itu berkedip merah dengan sangat halus, seperti mata orang kurang tidur. Wajah Raden seketika mengeras.

Tak jauh dari sana, terdapat selembar kelopak mawar hitam asli yang diselipkan rapi di celah meja.

"Bangsat. Ternyata mereka sudah masuk ke sini sebelum kita sampai," desis Raden dengan suara dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.

Tanpa basa-basi, ia langsung berbalik dan menyambar tangan Alana dengan gerakan yang posesif juga waspada.

"Ikut aku sekarang. Jangan banyak tanya. Bawa ayahmu. Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama," perintah Raden tanpa bantahan.

"Loh... loh kenapa Den? Nasinya baru habis setengah... rendangnya juga masih sisa satu potong besar, mubazir!" protes Ayah Alana lemas.

"Astaga Om! Besok saya belikan restorannya beserta koki-kokinya, tapi sekarang nyawa kalian lebih penting daripada sepotong rendang itu!" bentak Raden frustrasi.

Melihat hal itu, Alana langsung menarik tangan ayahnya. "Yah, ayo please nurut saja sama Dokter Raden kalau mau selamat!"

Raden menarik Alana dan ayahnya keluar, tapi langkah mereka mendadak terhenti karena Ayah Alana berbalik ke dapur.

"Eh, mau ke mana lagi, Om?!" teriak Raden yang sudah hampir meledak kepalanya karena terlalu frustrasi.

"Bentar Den tunggu, air mineralnya sayang kalau ditinggal, lagi seret nih tenggorokan habis makan rendang."

Ayah Alana menyambar botol air sambil berlari kecil. Raden cuma bisa mengusap wajahnya kasar.

"Tuhan berikanlah aku kesabaran lebih menghadapi keluarga ini, banyak banget dramanya," gumam Raden pasrah.

Namun saat mereka baru menginjakkan kaki di koridor luar, suasana yang tadinya kocak itu mendadak hilang ditelan bumi.

Jepret!

Tiba-tiba lampu koridor mati total secara serentak. Kegelapan langsung menyelimuti mereka bertiga dalam sekejap mata.

"Den! Kenapa ini? Aku takut..." bisik Alana pelan sambil mencengkeram erat kemeja Raden hingga bagian punggungnya kusut.

"Tetap tenang di belakangku Sayang, jangan lepaskan bajuku sedikit pun!"

Raden langsung pasang badan untuk melindungi mereka dengan tubuhnya yang kokoh.

Dalam kegelapan, indra pendengaran Raden yang tajam menangkap sebuah derap langkah sepatu mendekat dengan sangat cepat.

Langkah itu terdengar sangat cepat, secepat kereta api yang melintas.

Srettt!

Sebuah kilatan benda tajam menyambar di kegelapan, mengincar posisi Alana berdiri.

Dengan sigap, Raden menarik Alana ke pelukannya lalu melepaskan satu tendangan berputar yang sangat keras.

DUAKKKK!

Terdengar suara tubuh yang menghantam dinding cukup keras disusul rintihan kesakitan dari penyusup misterius.

Raden tidak memberi ampun. Ia kemudian melayangkan pukulan uppercut ke rahang lawan. Orang itu pingsan tanpa sempat mengeluh.

"Ayo cepat ke parkiran sekarang! Kita tidak punya banyak waktu!" teriak Raden.

Ia menggendong paksa Ayah Alana yang kakinya mendadak lemas tak bertulang karena ketakutan.

"Waduh Den, pelan-pelan dong! Nasi padang saya bisa keluar lagi kalau digoncang begini," keluh Ayah Alana di bahu Raden.

Mereka berlari kencang menembus kegelapan hingga sampai di depan mobil mewah Raden yang mesinnya sudah menderu siap tempur.

Tanpa aba-aba, Raden langsung membanting pintu mobil, mengunci nya otomatis lalu menginjak kuat pedal gas.

Ban mobil berdecit kencang meninggalkan jejak hangus di aspal jalanan.

Di dalam mobil, Raden tetap menggenggam erat tangan Alana, menyalurkan ketenangan meski ia sedang menyetir dengan kecepatan tinggi.

"Tenang Sayang, kamu aman bersamaku. Aku tidak akan membiarkan iblis itu menyentuhmu sedikit pun."

Tiba-tiba, ponsel Raden bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan suara muncul dari ponsel Alana yang sempat hilang tadi.

Raden lalu menekan tombol loudspeaker.

Di seberang sana terdengar suara tawa melengking mirip genderuwo. Suara Suster Mia yang membuat bulu kuduk meremang.

"Hhhh hihihi... Dokter Raden... Anda pikir apartemen itu incaran utama kami? Ternyata Anda terlalu meremehkan kami."

"Coba cek spion mobil Anda sekarang. Hadiah yang sesungguhnya sedang mengejar Anda menuju liang lahat. Jadi bersiaplah!"

Raden spontan melirik ke spion tengah. Matanya menyempit tajam melihat motor sport hitam membuntuti mereka di kegelapan.

Pengendara motor itu mengenakan helm full face gelap, melaju kencang seperti pembalap tanpa menyalakan lampu depan sedikit pun.

Tangan pengendara itu perlahan terangkat, mengarahkan pistol hitam ke arah ban mobil Raden.

"Tundukkan kepala kalian sekarang! Jangan ada yang menoleh sedikit pun ke belakang!" teriak Raden sambil membanting setir cukup ekstrem.

DORRR!

Suara tembakan pecah di tengah jalanan yang sepi.

Menandakan bahwa malam ini baru saja dimulai peperangan, sekaligus malam paling panjang bagi mereka.

*******

Catatan Penulis:

DOORRR! Jantung aku mau copot pas ngetik bagian akhir tadi! 😱💥

Antara tegang karena dikejar penembak, tapi juga pengen ngakak gara-gara Ayah Alana yang lebih mikirin rendang daripada nyawa sendiri. Definisi santuy yang sesungguhnya! 😂

Kira-kira Dokter Raden bisa lolos nggak ya dari maut malam ini?

LIKE & FAVORITKAN kalau kalian dukung Dokter Raden gas pol!

KOMEN dong, siapa yang ikutan laper pas Ayah Alana bahas nasi padang? 🤣

1
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
muna aprilia
lanjut
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia gak ada kapok kapok nya yaa😤😤😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ku pikir ibu nya benaran meninggal ternyata oh ternyata 😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
hahahaahhahah😄😄😄😄
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia benar benar menyebalkan😤😏
dhya_cha7: "Hahhaha.. iya bener banget nih, Suster Mia emang hobinya jadi obat nyamuk ya! 😂 Eh iya, aku juga mau ngucapin terima kasih banyak buat gift kopinya, hehehe lumayan banget buat asupan tenaga buat ngadepin dr. Raden yang makin nakal di bab depan. Stay tune terus ya, Kak!! ❤️🔥"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya bagus seru lagi
dhya_cha7: "Makasih ya sudah baca! Itu baru pemanasan loh, bab ke depannya bakal makin seru dan panas. Jadi, stay tune terus ya bareng dr. Raden! 🔥❤️"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!