NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

Bab 23: Konspirasi Bayangan dan Sumpah di Atas Darah.

​Dermaga Barat masih menyisakan bau mesiu dan amis air laut saat mobil Alaska menderu meninggalkan area pelabuhan. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, keheningan terasa begitu pekat. Sania duduk di kursi penumpang, jemarinya yang masih gemetar memeluk mushaf kecilnya erat-erat. Sementara itu, Alaska mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya belum padam, ia hanya sedang menekannya agar tidak meledak dan menakuti wanita di sampingnya.

​"Tuan Alaska," suara Sania memecah keheningan, lembut namun memiliki resonansi yang kuat. "Luka di bahu Anda... darahnya merembes lagi."

​Alaska melirik sekilas ke bahu kirinya. Kemeja hitamnya yang mahal kini tampak basah dan lengket.

"Ini bukan apa-apa dibandingkan apa yang hampir kau alami, Sania."

​"Sakit adalah pengingat bahwa kita masih manusia, Tuan. Tapi kebencian... itu adalah racun yang membuat kita lupa cara menjadi manusia," lanjut Sania.

​Alaska tidak menjawab. Pikirannya melayang pada satu nama yang sejak tadi mengusik logikanya. Bara.

​Di Mana Bara?

​Selama ini, Bara adalah bayangan Alaska. Sebagai tangan kanan sekaligus kepala keamanan The Fortress, tidak mungkin seorang pun bisa masuk ke kamar Sania tanpa sepengetahuan Bara. Terlebih lagi, Elina, ibu Alaska seharusnya berada dalam pengawasan ketat tim Bara setelah upaya intervensinya di masa lalu.

​"Ke mana kau, Bara?" geram Alaska dalam hati.

​Begitu sampai di gerbang utama benteng, Alaska tidak langsung menuju bangunan utama. Ia menghentikan mobilnya di depan pos penjagaan satelit. Ia keluar, menarik napas dalam udara malam yang dingin, dan memberi isyarat agar tim medis segera membawa Sania masuk melalui jalur aman.

​"Bawa dia ke kamarnya. Pastikan empat wanita penjaga bersertifikat militer berdiri di depan pintunya. Jika ada yang mencoba mendekat, bahkan ibuku sekalipun... eksekusi di tempat," perintah Alaska dingin.

​Sania menatap Alaska dari balik jendela mobil sebelum dibawa pergi. Tatapannya penuh kesedihan, seolah ia tahu bahwa malam ini belum akan berakhir dengan kedamaian.

​Jejak Penghianatan di Ruang Rahasia.

​Alaska melangkah menuju ruang kendali keamanan di rubanah. Ia mengharapkan kehadiran Bara di sana, sedang mengoordinasikan pengejaran terhadap sisa-sisa anak buah Dante atau menyelidiki pergerakan Elina. Namun, ruangan itu hanya diisi oleh operator teknis yang tampak ketakutan.

​"Di mana Bara?" tanya Alaska singkat.

​"Tuan... Tuan Bara... dia tidak kembali sejak sore tadi," jawab salah satu operator dengan suara bergetar. "Terakhir kali dia terlihat di rekaman CCTV adalah saat ia menerima panggilan telepon dari sebuah nomor satelit yang tidak terdaftar. Setelah itu, ia mengambil motor dan pergi tanpa pengawalan."

​Alaska mengerutkan kening. Pikirannya mulai menyusun kepingan teka-teki. Jika Bara menghilang tepat sebelum Elina masuk dan menculik Sania, kemungkinannya hanya dua: Bara diculik, atau Bara berkhianat.

Namun, Alaska lebih mengenal Bara daripada siapapun. Mereka tumbuh bersama di medan perang.

​Ia memeriksa log komunikasi terakhir di komputer utama. Sebuah pesan teks singkat muncul di layar yang telah dihapus, namun berhasil dipulihkan oleh sistem keamanan cadangan:

​"Elina memegang kuncinya. Temui aku di Gudang 07 jika ingin dia tetap hidup."

​"Kunci?" gumam Alaska.

Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu apa yang dimaksud dengan "kunci". Itu bukan tentang harta, melainkan rahasia kematian ayahnya, sebuah misteri yang selama ini hanya diketahui oleh Elina dan Bara.

​Ternyata, ibunya tidak hanya bermain dengan nyawa Sania. Ia menggunakan titik lemah terbesar Bara untuk menjauhkan pria itu dari Alaska.

​Pertemuan di Ambang Kehancuran.

​Alaska tidak membuang waktu. Ia memacu motor besarnya menuju Gudang 07, sebuah tempat penyimpanan lama di pinggiran kota yang sudah tidak terpakai. Di sana, ia menemukan motor Bara tergeletak di tanah dengan noda darah di atas joknya.

​"BARA!" teriak Alaska.

​Suara langkah kaki pelan terdengar dari balik tumpukan peti kayu. Seorang pria muncul dengan langkah terseok. Pakaian taktisnya koyak, dan wajahnya lebam parah. Itu Bara. Di belakangnya, berdiri tiga pria berseragam hitam dengan senjata laras panjang yang diarahkan ke kepala Bara.

​"Jangan mendekat, Tuan," suara Bara parau. "Ibumu... dia gila. Dia menyandera adikku. Dia tahu aku tidak akan pernah mengkhianatimu, jadi dia menggunakan satu-satunya keluargaku yang tersisa."

​Alaska berhenti. Matanya menyipit melihat sosok Elina yang muncul dari bayang-bayang di lantai atas gudang. Wanita itu tidak lagi tampak seperti ibu yang elegan, ia tampak seperti predator yang terpojok.

​"Kau lihat, Alaska?" teriak Elina dari atas. "Beginilah cara dunia bekerja. Loyalitas itu murah. Cinta itu kelemahan. Kau hampir menghancurkan kerajaan yang kubangun demi wanita cadar itu, maka aku harus menghancurkan sistem pendukungmu satu per satu. Dimulai dari anjing setiamu ini!"

​"Ma, lepaskan dia," suara Alaska sangat rendah, hampir seperti geraman naga yang siap menyemburkan api. "Kesabaranku sudah habis di dermaga tadi. Jangan buat aku melakukan sesuatu yang akan membuatku mengutuk namamu selamanya."

​"Pilih, Alaska!" Elina tertawa histeris. "Biarkan wanita itu pergi dari hidupmu selamanya, atau tangan kananmu ini mati malam ini juga!"

​Cahaya dalam Kegelapan.

​Di tengah ketegangan yang memuncak, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tenang. Bukan langkah kaki sepatu bot militer, melainkan langkah kaki ringan yang membawa kedamaian.

​Sania.

​Dia ada di sana. Ternyata dia tidak masuk ke kamarnya, dia mengikuti Alaska dengan bantuan salah satu supir yang masih setia kepadanya karena kebaikan hatinya selama tinggal di benteng.

​"Nyonya Elina," suara Sania bergema di gudang tua itu.

​Semua mata tertuju padanya. Alaska terkejut bukan main.

"Sania! Pergi dari sini!"

​Sania mengabaikan perintah Alaska. Ia berjalan maju hingga berada di tengah-tengah antara Alaska dan para penculik Bara. Ia berdiri tegak, cadarnya tertiup angin malam yang masuk melalui celah-celah gudang.

​"Nyonya," ucap Sania tenang. "Anda mencari saya? Anda merasa saya adalah ancaman bagi putra Anda? Jika nyawa saya yang Anda inginkan agar Tuan Bara bebas dan Tuan Alaska berhenti membenci Anda, maka ambillah. Tapi saya mohon, jangan kotori tangan Anda lagi dengan darah orang yang tidak bersalah."

​Elina terpaku. Keberanian Sania yang menyerahkan diri tanpa rasa takut sedikitpun membuatnya goyah.

​"Kau... kau pikir kau pahlawan?" suara Elina bergetar.

​"Saya bukan pahlawan. Saya hanya hamba Allah yang tahu bahwa tidak ada sehelai daun pun yang jatuh tanpa izin-Nya," jawab Sania. "Anda melakukan ini karena takut kehilangan Tuan Alaska. Tapi sadarkah Anda, bahwa dengan cara ini, Anda sudah kehilangannya sebelum dia benar-benar pergi?"

​Akhir dari Sebuah Amuk.

​Momen keraguan Elina adalah celah yang dibutuhkan Alaska. Dengan kecepatan yang tidak manusiawi, Alaska mencabut pisau lempar dari balik sepatunya dan mengenai tangan salah satu penjaga Bara, sementara tangannya yang lain menarik pelatuk senjata ke arah lampu gantung utama.

​PRANG!

​Gudang menjadi gelap gulita selama beberapa detik. Dalam kegelapan itu, Alaska bergerak seperti bayangan. Ia melumpuhkan dua penjaga lainnya dalam hitungan detik. Bara, meski terluka, berhasil melakukan serangan balik dan membebaskan diri.

​Saat lampu darurat menyala, Alaska sudah berdiri di depan Sania, melindunginya dengan seluruh tubuhnya. Bara berdiri di samping mereka, napasnya tersengal namun matanya kembali tajam.

​Elina terjatuh di lantai atas, terduduk lemas. Ia menyadari bahwa ia telah kalah. Bukan kalah oleh senjata, tapi kalah oleh ketulusan yang tidak ia mengerti.

​Alaska menatap ibunya untuk terakhir kali malam itu.

"Leo, bawa dia ke kediaman lama di luar negeri. Awasi dia 24 jam. Jangan biarkan dia menyentuh alat komunikasi apapun. Dia tetap ibuku, tapi dia bukan lagi bagian dari hidupku!" perintah Alaska pada komandan keamanan kedua setelah Bara yang baru sampai di sana.

​Kepulangan dan Janji Baru.

​Matahari mulai mengintip di ufuk timur saat mereka kembali ke The Fortress. Bara segera dibawa ke ruang medis, sementara Alaska duduk di teras depan bersama Sania.

​Luka di bahu Alaska sudah dibalut kembali oleh Sania dengan telaten.

​"Kenapa kau datang ke sana?" tanya Alaska, suaranya kini melunak.

​"Karena saya tidak ingin Anda memikul beban sebagai seorang anak yang mencelakai ibunya sendiri," jawab Sania. "Amarah mungkin bisa memenangkan pertempuran, Tuan, tapi hanya pengampunan yang bisa memenangkan peperangan di dalam hati."

​Alaska menatap langit yang mulai membiru. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, hatinya merasa ringan. Ia menyadari bahwa kekuatannya selama ini adalah semu. Kekuatan sejati ada pada wanita yang sedang memegang tasbih di sampingnya ini, wanita yang mampu menjinakkan naga di dalam dirinya tanpa satu pun kata makian.

​"Sania," panggil Alaska.

​"Iya, Tuan?"

​"Mulai hari ini, tidak akan ada lagi rahasia. Dan tidak akan ada lagi yang bisa menyentuhmu. Aku bukan lagi pelindungmu karena kewajiban... tapi karena kau adalah cahaya yang menuntun langkahku keluar dari kegelapan."

​Sania hanya menunduk, namun doa-doa syukur mengalir deras dari hatinya. Badai telah berlalu, namun jejak-jejak cahaya mulai tampak jelas di dermaga kehidupan mereka yang baru.

​__Kekuatan sejati tidak diukur dari seberapa keras pukulanmu, melainkan dari seberapa besar kesabaranmu saat dunia memaksamu untuk menjadi jahat. Jangan pernah merusak kehormatan yang telah dijaga dengan doa, karena ia yang menjaga batasan Allah, maka Allah-lah yang akan menjadi perisainya di saat pedang manusia tak lagi mampu melindunginya__

​Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!