NovelToon NovelToon
BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Pelakor / Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Dhita selalu percaya bahwa pernikahan yang ia bangun dengan Reza adalah rumah yang kokoh—tempat ia menaruh seluruh harapan, kasih sayang, dan kesetiaannya. Namun semua runtuh ketika cinta pertama Reza kembali muncul, menghadirkan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.

Dalam hitungan hari, Dhita yang selama ini berjuang mempertahankan rumah tangga justru dipaksa menerima kenyataan pahit: Reza menceraikannya demi perempuan yang pernah ia cintai bertahun-tahun lalu. Luka itu dalam, merembes sampai ke bagian hati yang Dhita pikir sudah kebal.

Di tengah serpihan hidup yang berantakan, Dhita harus belajar berdiri lagi—menata hidup tanpa sosok yang selama ini ia sayangi, menghadapi pandangan orang, dan menerima bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan berakhir. Namun Tuhan tak pernah meninggalkan hati yang hancur. Dalam perjalanan menyembuhkan diri, Dhita menemukan kekuatan yang tak pernah ia sadari, serta harapan baru yang perlahan mengetuk pintu hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Prasangka Keji

Pagi itu, sejak matahari belum sepenuhnya naik, Ditha sudah mondar-mandir di dapur cateringnya. Tangannya tak berhenti memeriksa daftar pesanan, sesekali membuka tutup box makanan, memastikan jumlah dan isinya benar-benar sesuai. Wajahnya tampak serius, bukan karena lelah, melainkan karena rasa tanggung jawab yang besar. Dia kembali mengecek satu per satu, khawatir ada yang terlewat atau kurang lengkap.

Di sekelilingnya, para pegawai bergerak cepat. Ada yang mencatat, ada yang mengemas, ada pula yang bersiap mengangkat pesanan ke kendaraan. Setiap instruksi dari Ditha didengar dengan saksama.

"Tolong ya, Pak Budi,” ucap Ditha sambil menyerahkan secarik kertas, “temani Mas Hasan antar pesanan ini ke alamat yang tertera. Ini lengkap dengan rincian orderannya.”

Pak Budi mengangguk, menerima kertas itu dengan penuh perhatian.

Ditha lalu menatap keduanya, suaranya tegas namun tetap hangat. “Antar dengan ramah! Jangan lupa ucapkan terima kasih karena sudah order di tempat kita. Ingat, keberlangsungan catering ini sangat bergantung pada pelanggan. Kalau mereka puas, insya Allah mereka akan order lagi. Tapi kalau tidak, kita bukan cuma kehilangan satu pelanggan—mereka juga bisa menceritakan pengalaman itu ke orang lain.”

Dia menarik napas sejenak, lalu melanjutkan, "Kalau ada komplain, terima saja dengan lapang dada. Bilang baik-baik, 'Insya Allah ke depannya akan kami perbaiki.

Ditha menatap mereka bergantian. “Sudah ya, mengerti?”

"Siap, Bu.” Jwab Pak Budi dan Mas Hasan hampir bersamaan.

"Kalau begitu, silakan antar sekarang!” Tutup Ditha.

Keduanya segera melangkah, sementara Ditha kembali menatap dapur yang masih sibuk—pagi yang padat, tapi penuh harapan agar setiap pesanan sampai dengan baik dan membawa kepuasan bagi para pelanggan.

Pukul 10.05, suasana dapur catering mulai sedikit lengang. Semua pesanan besar sudah diantar sesuai jadwal. Tinggal pesanan online yang datang silih berganti, masuk melalui ponsel dan dicatat cepat oleh pegawai yang bertugas. Ritme kerja masih padat, tapi tak seketat pagi tadi.

Dhita akhirnya sempat menarik napas. Dia duduk sejenak di sudut meja, menikmati sarapan yang sejak pagi tertunda. Baru beberapa suap masuk ke mulutnya, ketika sebuah suara menyapanya dari depan etalase.

"Dhita? Tyas Ambardhita, ya?”

Dhita mendongak. Matanya membesar, lalu senyum spontan merekah di wajahnya. “Ya ampun… Mbak Desy? Apa kabar?”

"Baik.” Jawab perempuan itu sambil tertawa kecil. “Duh, sudah lama banget nggak ketemu.”

Dhita segera berdiri, sedikit melupakan sarapannya. “Ayo, duduk sini!” ujarnya hangat, menarik kursi di dekatnya. Dia menyambut Mbak Desy dengan wajah penuh keakraban, seolah waktu yang lama tak pernah benar-benar memisahkan mereka.

Aku nggak nyangka,” ujar Mbak Desy sambil menatap sekeliling, matanya menyapu dapur dan etalase, “kalau pemilik Dhita Catering ini adalah kamu, Dhit.”

Dhita tersenyum kecil. “Masih baru, Mbak.”

"Baru banget ya kelihatannya?”

"Iya.” Sahut Dhita pelan, ada nada ringan yang sengaja dibuat-buat. “Baru netas.”

Mbak Desy tertawa, lalu ekspresinya perlahan berubah lebih hati-hati. “Maaf ya, Dhit… kamu sama Reza udahan, ya?”

Dhita terdiam sejenak. Senyum di bibirnya tak sepenuhnya hilang, hanya menipis. “Iya, Mbak,” jawabnya akhirnya. Suaranya tenang, meski ada sesuatu yang tertahan di baliknya.

"Kok Mbak tahu?” Tanya Dhita, masih dengan senyum samar.

"Karena Reza kan sudah menikah lagi seminggu lalu, Dhit. Dia menikah dengan mantannya dulu waktu di SMA.” Jawab Mbak Desy jujur. "Kebetulan aku juga diundang. Teman-teman kantor dulu diundang semua.”

"Oohhh…” Dhita mengangguk pelan. Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Tak ada tanya, tak ada komentar lanjutan.

"O ya, Mira juga kemarin cerita pas pulang dari undangan Reza. Kata dia, "Dulu Dhita gak percaya waktu kita ngomong kalau Reza Don Juan. Padahal waktu itu kita ngomong serius lho, Dhit. Ternyata bener kan? Dia kayak gimana?"

"Iya Mbak, aku kira dulu Mbak cuma bercanda." Dhita tersenyum samar.

Dia lalu meraih gelas minumnya, meneguk sedikit, sebelum mengangkat wajah dan mengalihkan arah obrolan. “By the way, Mbak masih kerja di kantor yang dulu?”

"Masih lah, Dhit.” Jawab Mbak Desy. “Main dong kapan-kapan ke sana!”

Dhita tersenyum lebih lebar kali ini. “Insya Allah, Mbak. Kalau sempat.”

"O ya Mbak, Mbak Mira dan Mbak Windy masih di sana juga?"

"Mira masih, kalau Windy dah resign, karena diboyong suaminya ke Kalimantan."

"Oh gitu."

Percakapan pun mengalir ke hal-hal ringan, sementara di balik sikap tenangnya, Dhita tetap menjaga hatinya—seperti catering yang ia bangun, pelan-pelan ia belajar berdiri lagi, meski bekas luka itu masih ada.

"Mbak, kedatangan Mbak ke sini memang mau order, ya?” tanya Dhita, suaranya ramah, berusaha tetap profesional meski obrolan tadi sempat menyentuh hal pribadi.

"Iya.” Jawab Mbak Desy sambil mengangguk. "Mau order bento tiap hari untuk anakku. Dia masih duduk di TK.”

"Oh, boleh banget, Mbak,” respon Dhita antusias. “Untuk anak TK memang ada menu khusus, gizinya disesuaikan.”

Dhita langsung berdiri dan meraih buku display yang terletak di rak depan. Dia membukanya perlahan, lalu menunjuk beberapa halaman. “Ini contoh bento-nya ya, Mbak. Bisa pilih menu harian, atau nanti kita susun rotasi menunya biar anak nggak bosan.”

Wajah Mbak Desy tampak tertarik, sementara Dhita kembali tenggelam dalam perannya—bukan hanya sebagai pemilik catering, tapi juga seseorang yang sedang membangun ulang hidupnya, satu pesanan demi satu pesanan.

Desy akhirnya pamit setelah semua detail pesanan menu harian untuk anaknya dicatat dengan rapi. Dia berdiri sambil merapikan tasnya, wajahnya tampak puas.

"Nanti aku promosiin ke teman-teman di kantor ya, Dhit.” Ucapnya tulus.

Dhita tersenyum lebar, rasa syukur jelas tergambar di wajahnya. “Alhamdulillah, terima kasih banyak sebelumnya ya, Mbak.”

Mereka saling berpamitan. Setelah Desy melangkah keluar, Dhita sempat berdiri sejenak menatap pintu yang tertutup. Ada rasa hangat di dadanya—bukan hanya karena mendapatkan pelanggan baru, tapi karena dia mulai merasakan bahwa perlahan hidupnya kembali bergerak ke arah yang lebih baik.

Dhita baru saja kembali duduk di kursinya ketika notifikasi pesanan kembali bermunculan di layar ponsel. Jemarinya lincah membalas satu per satu, wajahnya fokus, sesekali tersenyum kecil membaca detail order pelanggan. Kesibukan itu sempat membuatnya lupa pada lelah.

Tetiba ponselnya berdering.

Dhita refleks mengangkatnya, mengira ini panggilan dari pelanggan baru.

"Selamat pagi, Dhita Catering di sini, ada yang bisa kami bantu?” Ucapnya ramah, seperti biasa.

Di seberang terdengar suara perempuan, datar namun tajam.

"Saya mau bicara dengan Dhita, owner catering ini.”

"Iya, saya Dhita. Ada yang bisa kami bantu, Kak?” Jawabnya masih sopan.

Namun detik berikutnya, nada suara itu berubah kasar, penuh kebencian.

"Gak usah berramah tamah. Lu memikat pelanggan lu pakai kecantikan lu ya? Dasar janda gatel. Pantes aja pelanggan saya pindah semua ke situ. Ada bonusnya ya? Bonus tidur sama janda!”

Dhita membeku.

Senyum di wajahnya lenyap seketika. Matanya membesar, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dadanya terasa dihantam keras, napasnya tertahan di tenggorokan. Dia ingin bicara, ingin membela diri, tapi suaranya seperti menghilang.

"Klik.”

Telepon itu terputus.

Dhita menatap layar ponselnya yang kini gelap. Tangannya gemetar, perlahan turun dan meletakkan ponsel di meja. Tenggorokannya terasa perih, dadanya sesak. Kata-kata hina itu berputar-putar di kepalanya, menusuk harga dirinya tanpa ampun.

Matanya berkaca-kaca. Dia menggigit bibir, menahan agar air mata tidak jatuh. Bukan karena dia merasa bersalah, tapi karena dia terluka—terlalu dalam. Usaha yang dia bangun dengan kerja keras, begadang, dan doa, direndahkan begitu saja oleh prasangka keji.

Dhita menarik napas panjang, bahunya naik turun. Ada perih yang mengendap di dadanya, namun di balik rasa sakit itu, perlahan tumbuh ketegaran. Dia mungkin kaget dan terluka, tapi dia tahu satu hal: dia tidak mencuri dari siapa pun, dan dia tidak akan tunduk pada hinaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!