NovelToon NovelToon
Man Jadda Wajada

Man Jadda Wajada

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:156.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rahma AR

IG Rahma_ar77
TIKTOK RahmaAR

Bagi Hasan, mencintai harus memiliki. Walaupun harus menentang orang tua dan kehilangan hak waris sebagai pemimpin santri, akan dia lakukan demi mendapatkan cinta Luna.

Spin of sweet revenge

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MJW 13 Masih bersama Luna

Hasan menuruti titah Luna, menunggu gadis itu di luar ruangan pasiennya.

Dia kemudian menelpon uminya

"Aku pulangnya agak malam, umi," ucapnya setelah menjawab salam dari uminya.

"Kamu sama Luna?"

Hasan terdiam mendengar tebakan uminya.

"Iya, umi. Aku masih menunggu Luna di rumah sakit."

Hening, belum ada jawaban uminya.

Hasan juga diam seolah menunggu perkataan uminya.

"Hasan....."

"Ya, umi....."

"Ingat, ya, nak. Kalian belum halal."

Hasan tau, dia sudah cukup banyak melakukan dosa. Terutama zina matanya yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Luna.

"Besok aku akan membawa Luma ke rumah, umi."

Hening lagi. Sepertinya uminya selalu terkaget kaget mendengar perkataan Hasan. Hingga dia butuh menenangkan dirinya dulu sebelum menjawab.

"Kakek dan nenekmu belum dikabari tentang ini."

Hasan mendengar helaan nafas berat uminya.

"Kapan kakek dan nenek datang?" Hasan tau kalo kakek dan neneknya akan datang sebentar lagi.

"Mungkin beberapa hari lagi."

"Kalo begitu, umi dan abi kenalan yang dulu dengan Luna."

Hening lagi, kali ini agak lama.

Hasan mendengar suara langkah beberapa pasang sepatu yang sepertinya akan keluar dari balik ruangan yang sedang dia tungguin.

"Umi...., sudah dulu, ya. Nanti saja kita bicara di rumah." Setelah mengucapkan salam Hasan menutup telponnya sebelum mendengar jawaban uminya.

Dugaannya benar, Luna akhirnya keluar bersama dengan suster Tika.

"Sudah selesai?" tanya Hasan saat mata mereka beradu tatap.

"Mau pergi kencan, ya, dokter?" tanya suster Tika dengan tatapan jenaka dan kepo sebelum Luna menjawab pertanyaan Hasan.

Luna melirik susternya kesal.

Sementara suster Tika seolah tidak mengerti dengan kekesalan Luna. Hatinya sekarang malah sangat senang karena yakin kalo nona dokternya beneran jadian dengan malaikat penjaga pintu surga yang sudah jadi topik utama para tenaga medis.

Teman temannya sesama suster yang mendengar ceritanya saja tadi saat menunggu Luna sudah sangat heboh. Apalagi dibuktikan dengan kedatangan mereka berdua.

Bagi suster Tika dan teman temannya, memandang yang tampan dan ramah begini adalah obat suntuk mereka selama mengurus pasien. Pikiran jadi cepat fresh lagi.

"Mau pulang," jawab Luna sambil jalan duluan membuat perawatnya tersenyum lebar karena sudah hapal watak nona dokternya.

Hasan tersenyum tipis pada suster Tika membuat hatinya seperti disiram es batu. Dingin dan menyegarkan.

Hasan menjejeri langkah Luna.

"Pasiennya habis operasi apa?" tanya Hasan memulai percakapan mereka.

"Lipoma."

"Sejenis kanker, ya?" Hasan pernah mendengarnya.

" Bukan. Tumor jinak," jelas Luna pelan.

"Di tubuh kamu ngga ada benjolan, kan?" tanya Luna sambil menatap Hasan. Agak khawatir karena tau laki laki ini tidak aware dengan kesehatannya

"Benjolan seperti apa?"

Luna menekan lengannya sendiri dengan tangannya yang bebas.

"Kalo kamu merasa ada yang menonjol dan lunak atau keras, segera periksa ke dokter. Misalnya di sini." ucapnya setelah menyingsingkan lengan jas dokternya hingga siku.

Hasan mengangguk.

"Biasanya kalo perempuan di payu .... em..." Hasan ngga jadi melanjutkan kalimatnya. Dia mengalihkan tatapannya ke arah lain.

Harusnya yang dikatakan Hasan dapat dengan wajar direspon Luna. Dia juga sering menjelaskan hal itu pada pasiennya dengan manekin setengah badan.

Tapi karena ini Hasan, wajah Luna jadi merona karena malu.

Kenapa harus menyebutin bagian itu, sih, omelnya kesal bercampur malu.

"Ya, selain tempat itu, leher dan ketiak juga perlu dicek." Luna menyabarkan rasa malunya saat menjelaskannya.

Hasan mengangguk.

Luna melepas jas dokternya ketika mereka melewati ruang laundry dan meletakkan jas dokternya di sana. Kemudian menyemprotkan antiseptik ke tangannya. Juga tangan Hasan.

"Ya, sorry tadi aku mengatakan hal itu. Istri temanku di Amerika mengidap kanker payudara karena terlambat deteksi dininya," jelas Hasan melanjutkan ucapannya yang sempat terjeda.

Oooh, batin Luna mulai mengerti.

"Aku harap kamu sebagai dokter lebih sering memeriksa diri sendiri. Jangan salah paham, kadang kesibukan membuat kita suka mengabaikannya."

"Seperti kamu? Hipertensi dan radang karena kurang istirahat?" sarkas Luna.

Hasan tersenyum tenang mendengar sindiran Luna.

"Kalo kita sudah menikah, kita bisa saling mengingatkan."

Ucapan Hasan mengandung makna ambigu bagi Luna. Apalagi tadi dia menyinggung bagian sensitifnya. Pipinya semakin merona.

Maksudnya dia akan rutin memeriksa....? Luna! Stop dengan pikiran gilamu!"

Luna menatap ke arah lain, ke arah bunga bunga atau pohon pohon pohon yang ada di sana yang bisa menghilangkan pikiran kotornya.

"Kamu suka makan nasi padang?" tanya Hasan sangat membukakan pintu mobil untuk Luna. Mereka sudah sampai di parkiran.

"Suka. Aku sudah lama ngga makan gulai tunjang," jawab Luna antusias.

"Ada rumah makan padang yang baru buka. Temanku yang punya. Mau ke sana?" tanya Hasan lembut. Begitu juga tatapannya.

Hasan... Kamu kenapa lupa? Ngga boleh pandangi perempuan yang belum halal sampai begitu, protes Luna dalam hati dengan jantung yang ngga pernah bisa normal jika bersama Hasan.

"Bo boleh." Luna mengumpati mulutnya yang tergagap saat memberi jawaban. Dia segera masuk ke dalam mobi. Karena agak tergesa, hampir kepalanya menyeruduk bagian atas mobil. Tapi tangan Hasan dengan cepat menahan bagian atas mobilnya

"Hati hati," ucap Hasan lembut.

Luna merasakan dia cosplay jadi patung karena jarak mereka yang cukup dekat. Harum nafas Hasan terhidu dan terasa hangat di pipinya. Jantung Luna berdebar kencang. Aliran darahnya juga mengalir lebih deras. Bahkan Luna bisa menatap wajah Hasan sangat jelas. Matanya, hidungnya dan rahang kokohnya. Rambut depan Hasan bahkan berjuntai mengenai keningnya.

Hasan juga sama terkesimanya dengan dirinya. Sedikit lagi bibirnya bisa menyentuh kening Luna membuat dia tersadar dan reflek menjauhkan jarak mereka.

Hasan tersenyum kikuk dan Luna dengan grogi cepat cepat memasuki mobil Hasan.

Hasan menutup pintu tanpa melihat Luna, dia berjalan pelan sambil menghembuskan nafas berulang kali.

Tadi hampir saja, batinnya. Dia hampir menci um kening Luna. Jantungnya berdebar keras dan cepat jika mengingatnya.

Dia harus bisa secepatnya menghalalkan Luna.

*

*

*

Luna dapat melihat betapa ramahnya pemilik restoran padang menyambutnya. Seorang laki laki muda seusia dengan mereka.

"Jadi ini dia orangnya?" tebak teman Hasan saat melihat Luna. Dia tersenyum ramah pada Luna yang menatapnya bingung karena mendengar ucapannya.

Hasan hanya mengangguk kaku, seakan tidak ingin temannya menjelaskan maksudnya pada Luna.

"Aku sudah menyediakan tempat buat kalian. Oh ya, kenalkan, namaku Tendri."

"Luna."

"Aku sudah pernah mendengar namamu dari Hasan," ceplos Tendri saat mereka sudah melangkah masuk ke dalam rumah makan padang yang di desain untuk kalangan milenial.

Luna menatap Hasan yang kali ini malah seperti tidak mau menatapnya.

Aneh, batin Luna heran.

"Aku dan Hasan teman waktu di Amerika," tukas Tendri lagi.

Ooh.... Pantasan mereka akrab, batin Luna.

"Ini tempat kalian. Menunya sedang disiapkan," pamitnya sambil tersenyum penuh makna pada Hasan.

"Terimakasih," jawab Hasan yang diangguki Tendri.

"Kamu sering cerita tentang aku?" tanya Luna begitu Tendri sudah menjauh.

"Ngga apa apa, kan?" jawab Hasan tenang.

"Ngga apa apa kalo ceritanya baik baik saja."

Hasan masih tersenyum sambil menatap wajah datar Luna.

"Aku cerita sama dia, kalo aku harus kerja sangat keras di sini demi seorang gadis yang namanya Luna Kanina."

DEG DEG DEG

Rasanya tulang tulang Luna.menjadi lemah semua mendengarnya. Tubuhnya terasa sangat ringan seakan dia bisa melayang sekarang.

Dia kenapa, merayu terus, sih

1
Novano Asih
harusnya Hasan jujur saja dengan sifat aslinya Laila biar neneknya nyahok
Novano Asih
kayaknya Laila mau nekat deh buka cadar🤭🤭
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
nangis sampai segitunya, kenapa aku jadi ikut mewek nih 😭
Yana Phung
Cerita kakak author yg satu ini selalu seru
kalian harus baca
coba aja baca satu karya dulu, nanti akan merembet penasaran ke Cerita yg lain
Novano Asih
Aku selesai baca Naresh cs cus lgsg kesini kan masih nyambung biar nggak lupa hehehe
Santai Dyah
memang harus di lihat perjuangan hasan
Elisabeth Ratna Susanti
selamat tahun Baru 🥰
Lailatunnasihah Nasihah
yeayyyyyy
.....akhirnya ada extra part nya. kurang panas thor.🤣🤣🤣🤣. BTW thanks dh ksh extra partnya.di tunggu xtra part brikutnya🤣🤣🙏🙏
✨@dian_$💫
lanjut cerita siapa lagi niih authoorr. setia menanti loooh🤩
Rahma AR: cerita Adelia ya....
total 1 replies
Santai Dyah
hadir thor
Diyah Saja
jadi kucing garong ntar Gus Hasan nya😄
Diyah Saja
wah awal nya sudah bikin deg deg an niat hati mau kasih kejutan kael yg malah terkejut
Diyah Saja
makasih mbak rahmaaa karya nya bagus2 sekali 😍😍
Diyah Saja
ciyeeeeee jodohnya mbak Adel Otewe 😍😍😍😍
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
maaf baru sempat mampir lagi di karya sekeren ini🥰👍
Khaira Almahendra
/Good/
LikCi Vinivici
mekeyot nii si Charlotte, gigit jari
LikCi Vinivici
Luna kena sawan pengantin baru😄😄🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!