NovelToon NovelToon
Merawat Majikan Lumpuh

Merawat Majikan Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Mafia
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

semakin terkekang..

Indira menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih tak karuan. Rasa perih di dadanya akibat gigitan Arjuna tadi masih terasa, namun rasa sesak di dadanya karena kebebasannya yang terenggut jauh lebih menyakitkan.

​Ia berjalan gontai memasuki gerbang sekolah, mengabaikan tatapan beberapa siswa yang penasaran melihatnya keluar dari mobil mewah tadi.

"Indira,,siapa yang mengantar kamu barusan? mobilnya mewah banget deh!" salah satu temannya memberondong pertanyaan.

"Sepupu." jawab Indira singkat.

malas rasanya berbicara panjang lebar.

​Pikiran Indira sama sekali tidak tertuju pada papan tulis. Bayangan wajah Arjuna yang posesif dan dingin terus menghantui.

​"Indira! Kamu melamun?" bisik Maya, teman sebangkunya.

"Ah, tidak Maya. Aku hanya sedikit pusing," jawab Indira berbohong.

​Maya menyenggol lengan Indira sambil menggoda. "Tadi itu siapa? Kak Bima nyariin kamu terus lho. Katanya kamu lari waktu disamperin. Ada apa sih?"

​Indira hanya tersenyum kecut. "Bukan siapa-siapa, May. Cuma sepupu jauh."

"Masak sih? sepupu kamu orang kaya raya?" Maya tidak percaya kalau Indira punya keluarga yang kaya raya,pasalnya temannya itu anaknya seorang pembantu,tidak mungkin sepupunya membiarkan mereka sampai bekerja di rumah orang kaya jadi pembantu.

"Salah punya sepupu kaya raya? jangan pernah berpikir kenapa kami miskin smentara sepupuku kaya,," dengus Indira seperti bisa menebak isi kepala temannya tersebut.

"Heheh,tau aja kamu aku sedang mengatakan itu dalam hati."

Maya cengengesan karena isi kepalanya diketahui temannya tersebut.

"ckk,,nggak semua kan satu keluarga itu harus kaya semua? jadi stop berpikir yang aneh aneh!" Indira menjitak kepala temannya itu.

***

​Malam Harinya: Di Kediaman Arjuna

​Suasana rumah terasa lebih mencekam dari biasanya. Indira baru saja selesai mandi ketika pintu kamarnya diketuk dengan kasar. Tanpa menunggu izin, Arjuna masuk dengan setelan piyama sutra hitamnya.

​Tatapan pria itu langsung tertuju pada leher Indira yang masih basah. Ada kilat obsesi di matanya yang tak bisa disembunyikan.

​"Kemari," panggil Arjuna dengan nada rendah.

​Indira mendekat dengan gemetar. "Tuan, aku akan memompa asiku,,karena aku banyak tugas dari sekolah." ucap Indira.

​"Aku tidak ingin minum dari gelas,aku akan minum dari wadahnya langsung." potong Arjuna cepat.

 Ia menarik pinggang Indira hingga gadis itu terduduk di pangkuannya di tepi ranjang.

"Tenggorokanku mulai terasa panas lagi. Sepertinya dosis siang tadi kurang."

​Indira hanya bisa pasrah saat tangan kekar Arjuna mulai membuka kancing daster tipisnya.

​Kedua bongkahan kenyal Indira menyembul indah.

Siapa saja pasti akan iri melihat betapa indahnya wadah itu.

Dengan cepat Arjuna mengkenyot puting berwarna pink tersebut.

​Saat Arjuna sedang menyesap cairannya dengan rakus, ponsel pria itu yang tergeletak di meja samping tempat tidur bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal yang membuat mata Indira yang setengah terpejam tanpa sengaja membaca nya.

"Apa yang kamu lihat?" bentak Arjuna.

Membuat Indira ter lonjak kaget.

​"Ma-maaf tuan... aku tidak sengaja..."

​"Ingat posisimu, Indira. Kamu hanya 'wadah'. Jangan pernah mencoba mencampuri urusan pribadiku, atau kau akan tahu akibatnya yang lebih buruk dari sekadar diusir."

​Arjuna bangkit setelah menguras cairan milik gadis itu, meninggalkan Indira yang hampir menangis di kamar yang gelap,karena bentakan dan kalimat pedas pria itu.

 Indira menyadari satu hal: Arjuna bukan hanya pria sakit yang butuh obat, tapi dia juga pria yang mudah meledak.

​Indira hanya bisa terpaku menatap punggung Arjuna yang berlalu pergi meninggalkan kamarnya. Kata-kata "Kamu hanya wadah" terus berdengung di telinganya, merobek sisa-sisa harga diri yang ia miliki.

​***

"Bu,,aku semakin tidak nyaman dengan semua ini,," rengek Indira pada ibunya.

"Nak,Ibu paham perasaan mu,,tapi kamu sedang menolong nyawa den Arjuna dari kematian, bersabarlah sebentar lagi sayang,,den Arjuna pasti akan sembuh sebentar lagi,," ucap ibunya memelas.

"Tapi aku sangat risih bu dengan semua ini,,belum lagi tuan Arjuna melarang ku dekat dengan pria lain,biar apa coba?" rengek gadis berhidung mancung itu lagi.

Darsih hanya bisa mengelus rambut panjang putrinya,,dia juga tidak bisa menimbangi masalah yang tengah putrinya alami.

Di satu sisi Darsih kasihan melihat putrinya yang sangat terikat dengan putra majikannya.

Sementara di sisi lain dia juga tidak tega membiarkan putra dari majikannya itu mati karena penyakit langka yang diderita.

***

​Pagi itu, saat Indira hendak melangkah keluar rumah, ia melihat mobil hitam yang sudah sangat ia kenali terparkir di depan. Sosok pria tegap yang sudah sering mengantarnya selama ini berdiri di samping pintu.

​"Pagi, Indira. Ayo masuk," sapa Toni datar.

​Indira mendesah pasrah. Ia sudah mengenal Toni sebagai anak buah kepercayaan Arjuna yang paling setia. "Kak Toni, apa harus seperti ini setiap hari? Aku merasa seperti tawanan."

​Toni membukakan pintu tanpa ekspresi yang berubah. "Saya hanya menjalankan perintah Tuan Arjuna, Indira. Kamu tahu sendiri bagaimana beliau kalau perintahnya tidak dituruti. Jangan buat posisi saya susah."

​Indira masuk ke mobil dengan bahu yang merosot. Di dalam, ia melihat teman-teman sekolahnya tertawa sambil berjalan kaki di trotoar, sementara ia harus bersembunyi di balik kaca film yang gelap. Ia merasa terasing dari dunianya sendiri.

​Di sekolah, tekanan itu semakin terasa menyesakkan. Toni tidak hanya sekadar mengantar, tapi ia tetap bersiaga di sekitar gerbang atau di kantin dari kejauhan. Kehadiran Toni yang sudah dikenal Indira sebagai "pengawasnya" membuat Indira merasa tidak punya ruang bernapas.

​Saat jam istirahat, Bima kembali mencoba menghampirinya. "Ra, kamu kenapa sih? Makin hari makin tertutup. Aku mau ajak kamu ke kantin bareng..."

​Indira melirik ke arah gerbang, di mana Toni berdiri sambil memegang ponselnya, seolah siap mengambil foto atau melaporkan apa pun yang dilihatnya. Jantung Indira berdegup kencang karena ketakutan.

​"Jangan sekarang, Kak Bima... tolong jangan dekat-dekat aku," bisik Indira dengan suara gemetar. "Aku sedang diawasi."

​"Diawasi siapa? Pria di depan gerbang itu?" tanya Bima heran.

​Indira tidak berani menjawab. Ia langsung membalikkan badan dan lari menuju kelas dengan air mata yang mulai menggenang. Teman-temannya mulai menjauh karena merasa Indira kini memiliki "bodyguard" dan kehidupan yang misterius. Indira merasa semakin kesepian di tengah keramaian sekolah.

​Siang itu, saat jam istirahat kedua, tenggorokan Arjuna kembali terasa panas dan mencekat. Toni dengan sigap membawa Indira menuju mobil mewah Arjuna yang sudah menunggu di sudut parkiran yang sepi.

​Begitu Indira masuk, pintu langsung terkunci otomatis.

Arjuna tampak sangat berantakan, dasinya sudah longgar, dan wajahnya memerah menahan sakit di tenggorokan.

​"Lama sekali!" desis Arjuna, langsung menarik Indira ke pangkuannya.

​"Maaf Tuan, tadi ada tugas sedikit..."

​"Toni bilang pria bernama Bima itu mencoba bicara lagi padamu. Kenapa kau tidak tegas mengusirnya?" Arjuna langsung menyingkap seragam Indira dengan kasar, matanya menatap tajam ke arah dada Indira yang sudah merembes karena asi yang penuh.

​"Aku sudah berusaha, Tuan... tapi dia yang datang," rintih Indira pelan.

​Arjuna tidak peduli. Ia langsung menyesap pucuk pink itu dengan rakus, seolah ingin menghisap seluruh kehidupan dari tubuh Indira.

Indira hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, meremas rok sekolahnya dengan kuat. Air matanya mengalir membasahi pipi saat merasakan hisapan yang begitu kuat dan posesif dari tuannya.

​Ia merasa tercekik. Di luar ada Toni yang mengawasinya seperti elang, dan di dalam ada Arjuna yang menganggapnya tak lebih dari sebuah properti. Indira benar-benar merasa kehilangan masa mudanya.

​'apa aku kabur saja ya? tapi kalau aku kabur bagaimana dengan sekolah ku? belum lagi ibu masih terjebak dirumah itu'

bathin Indira.

Uang di ATM Indira baru masuk sebanyak 50 juta dari Arjuna,sebagai imbalan atas asi yang diambilnya darinya.

'Tidak! aku harus bertahan sampai uang itu cukup membeli rumah kecil.'

bathinnya lagi.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!