“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikrar dibalik tirai
Hening yang membekap ruangan terasa lebih tajam dari bilah belati mana pun. Kata-kata Radya menggantung di udara, beracun dan dingin, meresap ke dalam pori-pori kulit Raras. Tumbal. Alat. Sesuatu yang akan dibuang.
Gemetar di tangannya tak bisa lagi ia kendalikan. Ia menatap map biru di atas meja rias, lalu pada pulpen hitam yang tergeletak di atasnya. Benda-benda mati itu terasa seperti hakim dan algojo yang siap mengeksekusi sisa harga dirinya. Di benaknya, wajah pucat ibunya dan senyum penuh harap adiknya berperang melawan jeritan jiwanya yang terhina.
Perang itu tidak berlangsung lama.
Dengan napas yang tercekat, Raras meraih pulpen itu. Ujungnya terasa sedingin tatapan Radya. Ia membuka map itu, menemukan lembaran-lembaran kertas yang dipenuhi pasal-pasal hukum yang tidak sepenuhnya ia mengerti, namun intinya begitu jelas, ia tidak memiliki hak apa pun selain uang yang dijanjikan.
Raras adalah properti sewaan.
Matanya tertuju pada kolom tanda tangan yang kosong di halaman terakhir. Di sanalah ia harus membubuhkan namanya, Raras Inten, menukarnya dengan lima miliar rupiah dan masa depan keluarganya.
“Cepat,” desis Radya, tidak sabar.
Raras tidak menatapnya. Ia hanya menunduk, membiarkan rambutnya yang tergerai menutupi wajahnya. Tanpa suara, dengan gerakan yang terasa berat seolah sedang mengangkat beban satu ton, ia membubuhkan tanda tangannya. Tinta hitam itu meresap ke kertas, mengesahkan penjualannya.
Selesai.
Ia mendorong map itu kembali ke arah Radya.
“Sudah.”
Radya mengambil map itu, memeriksanya sekilas dengan ekspresi puas yang dingin. Ia tidak mengucapkan terima kasih. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Pria itu hanya berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Raras sendirian di dalam sangkar emasnya, dengan aroma penghinaan yang pekat tertinggal di udara.
***
Fajar bahkan belum merekah sempurna saat seorang pelayan tua mengetuk pintu kamarnya. Langit masih berwarna nila, dihiasi bintang-bintang terakhir yang enggan padam.
Tidak ada gaun pengantin yang megah, tidak ada riasan wajah yang meriah. Hanya sebuah kebaya kutubaru berwarna putih gading yang sederhana dan selembar kain batik klasik yang disodorkan oleh pelayan itu dalam diam.
Pernikahan ini adalah sebuah rahasia. Sebuah transaksi sunyi yang harus disembunyikan dari dunia luar.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian itu, Raras berjalan seorang diri menyusuri koridor yang remang-remang menuju Paviliun Tua. Udara pagi yang dingin terasa menusuk kulit, tetapi tidak sedingin kekosongan di dalam hatinya.
Di dalam paviliun, suasana terasa sakral sekaligus mencekam. Aroma dupa cendana yang pekat memenuhi ruangan. Eyang Putra sudah duduk bersila di atas amben, mengenakan beskap berwarna hitam legam, wajahnya setenang arca batu.
Radya berdiri di dekatnya, kaku dalam balutan kemeja batik lengan panjang yang serasi dengan warna beskap Eyang. Wajahnya datar, matanya menatap lurus ke depan, menghindari tatapan Raras.
Hanya ada dua orang lain di sana, seorang penghulu tua berwajah teduh yang dipanggil dari kampung terdekat dan Bayu, yang berdiri di sudut ruangan seperti bayangan setia.
“Sudah siap, Nduk Raras?” tanya Eyang Putra, suaranya memecah keheningan.
Raras hanya mampu mengangguk. Ia duduk bersimpuh di atas tikar pandan yang telah disiapkan, menjaga jarak beberapa jengkal dari Radya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena bahagia, melainkan karena takut dan gentar.
Sang penghulu membuka suara, memulai prosesi dengan doa-doa lirih. Suaranya yang serak dan berwibawa terdengar seperti gema dari masa lalu.
Raras menundukkan kepalanya dalam-dalam, mencoba memusatkan pikirannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, seburuk apa pun keadaan ini, ia tidak akan menodai kesakralan sebuah ikrar pernikahan di hadapan Tuhan. Ia akan tulus, setidaknya untuk bagiannya.
“Ananda Radya Maheswara bin Cokrodinoto,” ucap sang penghulu, suaranya kini lebih mantap.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Raras Inten binti Prawiro, dengan maskawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar lima miliar rupiah, dibayar tunai.”
Keheningan sesaat. Semua mata tertuju pada Radya. Di bawah cahaya temaram lampu gantung, Raras bisa melihat rahang Radya mengeras. Selama sepersekian detik, sebuah kilasan emosi melintasi matanya, bukan untuk Raras, melainkan sebuah rasa bersalah yang tajam yang ditujukan untuk orang lain. Untuk Ayunda.
Lalu, dengan suara yang dingin, datar, dan tanpa emosi sedikit pun, seolah sedang membacakan laporan keuangan, Radya menjawab, “Saya terima nikah dan kawinnya Raras Inten binti Prawiro dengan maskawin tersebut, dibayar tunai.”
Satu tarikan napas.
“Bagaimana para saksi?” tanya penghulu.
“Sah,” jawab Eyang dan Bayu hampir bersamaan. Suara mereka menggema di paviliun yang senyap.
Sah.
Satu kata itu kini mengikatnya pada laki-laki yang menganggapnya tak lebih dari sebuah tumbal. Raras merasakan matanya memanas, tetapi ia menahannya sekuat tenaga. Ia tidak akan menangis. Tidak di sini. Tidak di depan mereka.
Setelah doa penutup dibacakan, Radya berbalik, bukan untuk menatap istrinya, melainkan untuk menghadap Eyang.
“Tugasku sudah selesai, Eyang,” katanya dengan nada formal.
“Sesuai permintaan Eyang.”
“Tugasmu baru saja dimulai, Dya,” balas Eyang, tatapannya tajam.
“Antar istrimu ke kamarnya.”
Radya tampak ingin membantah, tetapi satu tatapan dari kakeknya membuatnya bungkam. Dengan enggan, ia mengulurkan tangannya ke arah Raras. Sebuah isyarat agar Raras mencium tangannya, sebuah sandiwara kecil untuk memuaskan sang kakek.
Tangan Raras bergetar saat menyentuh kulitnya. Dingin. Ia menunduk, menyentuhkan punggung tangan Radya ke keningnya sekilas, tanpa menciumnya. Saat ia mengangkat wajah, mata mereka bertemu untuk pertama kalinya sejak ikrar diucapkan. Di sana, di kedalaman mata hitam itu, Raras tidak melihat apa-apa selain kekosongan dan penolakan.
Radya menarik tangannya dengan kasar. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan keluar dari paviliun, langkahnya cepat dan tegas, seolah ingin segera lari dari tempat itu.
“Radya!” panggil Eyang, suaranya meninggi.
Radya berhenti di ambang pintu, tapi tidak menoleh.
“Aku ada rapat penting pagi ini. Aku akan pergi ke apartemen.”
Lalu ia lenyap ditelan kegelapan subuh yang tersisa, meninggalkan pengantinnya berdiri sendirian di hari pernikahan mereka.
Raras mematung di tempatnya, merasakan penghinaan terakhir itu membakar habis sisa-sisa kekuatannya. Ia kini resmi menjadi Nyonya Cokrodinoto, seorang istri yang ditinggalkan bahkan sebelum matahari terbit.
Seorang pelayan tua yang tadi membantunya menghampiri dan berbisik pelan, “Mari, Nyonya. Saya antar ke kamar Anda.”
Kamar pengantin. Sebuah ruangan mahaluas dengan ranjang berukuran raksasa yang dihiasi kelambu putih tipis. Di atas seprai sutra, beberapa kuntum melati ditaburkan, menebarkan aroma wangi yang kontras dengan kepahitan di hati Raras. Semuanya telah disiapkan, sebuah panggung indah untuk sebuah drama yang pemeran utamanya telah melarikan diri.
Pelayan itu membantunya melepaskan sanggul sederhananya, lalu pamit undur diri, meninggalkan Raras seorang diri dalam keheningan yang memekakkan telinga. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya meraba seprai yang dingin. Ia sendirian. Benar-benar sendirian.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga, mengalir tanpa suara membasahi pipinya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa tersesat di dalam istana megah ini. Dengan lunglai, ia merebahkan tubuhnya, memeluk bantal yang terasa empuk namun kosong.
Saat tangannya meraba-raba di bawah bantal, mencari sedikit kelembutan, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Bukan benda yang seharusnya ada di sana.
Penasaran, ia menarik benda itu keluar dari bawah bantal.
Sebuah kantong beludru kecil berwarna hitam. Tangannya yang gemetar perlahan membuka tali pengikatnya. Isinya ia tuang ke telapak tangan. Bukan perhiasan. Bukan uang.
Benda itu, sebuah kepingan kayu kecil berukir aksara kuno, terasa berdenyut di telapak tangannya, memancarkan kehangatan yang aneh dan…