Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 – Jejak Pengkhianat
Pagi itu, rumah keluarga Kazuma dipenuhi kesunyian yang tidak biasa. Hawa dingin dari sisa hujan semalam seolah masih menempel pada dinding-dinding rumah. Aromanya bercampur dengan bau obat antiseptik dari perban Kenji yang belum sempat diganti. Kenji duduk di ruang tamu, bahunya masih terbalut, tapi bukan rasa sakit fisik yang membuat tubuhnya kaku melainkan semua yang terjadi di atap sekolah semalam.
Ryuga menghilang, Ren tidak diketahui keberadaannya. Dan ledakan yang mengguncang atap sekolah masih terngiang setiap kali Kenji memejamkan mata. Kazuma memanggilnya sejak subuh tanpa penjelasan. Ketika pria itu muncul dari lorong kamar, wajahnya tampak lebih tua dari hari-hari sebelumnya. Ada kelelahan, ada ketakutan, ada sesuatu yang seperti sudah lama ingin ia sembunyikan.
“Kenji,” panggilnya pelan. “Kita perlu bicara.”
Kenji menatapnya dingin. “Tentang apa? Tentang Ryo yang ditembak? Tentang orang bertopeng yang muncul di atap? Atau tentang Ryuga?”
Kazuma menghela napas panjang, seakan semua itu adalah beban yang tidak ingin ia tanggung. “Semua itu berbahaya. Papa hanya ingin kau selamat. Kau harus menjauh dari Ren Hirano.”
Kenji mengepalkan tangan. “Karena dia Hirano? Atau karena dia tahu sesuatu tentang Mama?”
Kazuma memalingkan wajah, bahkan sedetik itu saja sudah cukup membuat Kenji yakin ada sesuatu yang sangat besar yang disembunyikan oleh papanya.
“Ryuga sangat berbahaya,” lanjut Kazuma. “Jangan dekati dia lagi.”
Kenji berdiri perlahan, memandang ayahnya lama. “Kenapa Papa selalu berubah saat nama dia disebut?”
Kazuma tidak menjawab.
“Mulai besok kau tidak boleh keluar rumah,” tegas Kazuma. “Dan kau tidak boleh bertemu Ren atau keluarganya. Situasi ini sudah diluar kendali.”
Kenji menahan napas. “Papa menyembunyikan sesuatu.”
“Kenji—” bentak Kazuma.
“Aku bertanya.” Kenji menatapnya lurus, tajam. “Apa hubungan Papa dengan Ryuga?”
Kazuma kembali menghindari tatapan itu.
“Pertemuan selesai,” katanya akhirnya.
Kenji berjalan melewatinya tanpa menoleh, tetapi saat hendak keluar ruangan, ia melihat laci di meja kerja Kazuma sedikit terbuka seolah ditutup terburu-buru. Kenji mendekati laci itu. Dan ketika ia menariknya perlahan, napasnya hilang, ada sebuah kalung hitam dengan liontin perak. Kalung yang sama yang dipakai Ryuga semalam. Tangan Kenji bergetar hebat.
“Papa …” Kenji berbisik. “Jadi Papa tahu?”
Kazuma terbelalak. “Kenji, jangan—!”
Tapi Kenji sudah menutup laci itu dan pergi tanpa sepatah kata pun. Kazuma hanya bisa berdiri di belakangnya, wajahnya memucat. Rahasia yang ia sembunyikan dua belas tahun akhirnya retak.
Keesokan harinya Kenji memaksa dirinya datang ke sekolah. Tubuhnya masih lemah, tapi berada di rumah hanya membuat pikirannya semakin kacau. Langkahnya terdengar pelan di lorong sekolah, namun mata-mata siswa mengikuti setiap gerakannya.
“Ada apa sih sama Kenji?” tanya salah satu siswa.
“Dia makin dingin.” Bisik salah satu siswa lain ke temannya.
“Katanya terlibat perkelahian lagi.” Bisikan itu seperti jarum menusuk telinga Kenji, tapi ia tidak menggubrisnya.
Mira langsung menghampirinya. “Kenji! Kamu akhirnya masuk juga! Kamu kelihatan pucat, serius.”
“Aku nggak apa-apa,” jawabnya pelan.
Mira menatapnya tajam. “Kamu bohong.”
Kenji menunduk. Ia tahu Mira bisa membaca suasana hatinya lebih baik dari siapapun. Sebelum Mira bisa bertanya lebih jauh, Yuto dan Akira datang tergesa-gesa.
“Ken!” seru Yuto. “Kamu harus lihat. Loker kamu …”
Akira melanjutkan, “Dirusak seseorang.”
Kenji langsung pergi ke lorong loker. Pintu loker Kenji penyok hebat, gemboknya tergantung setengah patah seolah seseorang memukulnya dengan benda keras, saat Kenji masih memperhatikan lokernya, Yuto berdiri dekat Kenji.
Yuto menyerahkan sesuatu. “Dan saat kami sampai lokermu sudah rusak dan kami menemukan ini juga, Ken.”
Sebuah kertas kecil, lusuh, dengan tulisan tangan miring seperti ditulis terburu-buru. Kenji membuka lipatan itu, bukan hanya keluarga Hirano yang membohongimu. Tanyakan pada Kazuma tentang malam rumah ibumu terbakar. Darah Kenji seperti berhenti mengalir.
Mira membaca dari belakang dan terkejut. “Kenji, ini tulisan …”
Kenji mengangguk. Matanya kosong. “Ini tulisan Mama.”
Lorong mendadak menjadi senyap. Hanya napas mereka bertiga yang terdengar. Akira berbisik, “A-apa mungkin cuma mirip?”
“Tidak.” Kenji menggeleng lemah.
“Aku tahu tulisan Mama. Aku hafal setiap hurufnya,” kata Kenji tidak percaya.
Yuto menelan ludah. “Tadi ada orang yang mengikuti kami. Tapi begitu kami kejar, dia kabur. Dia menjatuhkan ini.”
Akira menyodorkan benda kecil sebuah bros hitam dengan simbol T merah. Simbol yang sama seperti topeng pria di atap gedung kemarin. Kenji mematung.
Mira mengambil bros itu, lalu wajahnya memucat. “A-aku pernah lihat simbol ini …”
Kenji menoleh cepat. “Di mana?”
Mira menggigit bibir. “Di kotak lama Mama. Tapi Mama selalu bilang aku nggak boleh buka kotak itu. Katanya itu peninggalan masa lalu yang berbahaya.”
Darah Kenji kembali berdegup keras. Bagaimana keluarga Mira bisa terhubung ke simbol Takatori? Brak! Lampu lorong padam. Terdengar suara siswa berteriak pecah di seluruh gedung. Hanya lampu darurat merah yang menyala, memberi cahaya suram pada lorong yang panjang.
“Kenji …” Yuto berbisik ketakutan.
“Kayaknya ada orang lain.” Kenji menoleh perlahan.
Di ujung lorong tepat di area paling gelap seseorang berdiri diam, tinggi, tidak bergerak, dan sorot matanya memantul dalam gelap seperti mata hewan. Orang itu mengangkat satu jari mengarah tepat ke Kenji.
“Siapa kau?!” teriak Kenji.
Orang itu tidak menjawab, ia mengangkat sesuatu. Petir menyambar dari jendela, dan cahaya itu memperlihatkan sebuah foto. Foto itu basah, remuk, tapi jelas Kenji kecil, usia 3 tahun, berdiri di depan rumah mamanya. Dan di belakangnya seseorang berjas hitam dengan simbol Takatori. Kenji membeku, tubuhnya dingin, kepalanya berputar.
“Tidak mungkin,” kata Kenji dengan suara lirih.
Sosok itu menunduk sedikit, lalu berlari ke gelap dengan kecepatan yang mustahil dimiliki manusia biasa. Kenji hendak mengejar, tapi Mira menarik lengannya. Akira dan Yuto setuju dengan apa yang dilakukan oleh Mira.
“Kenji! Jangan! Itu bisa jebakan!” Kenji tidak bergerak. Napasnya kacau.
Untuk pertama kalinya, rasa takut menguasainya sepenuhnya, seseorang dari keluarga Takatori telah mengawasinya sejak kecil, seseorang yang tahu tentang rumah yang terbakar.
Seseorang yang mungkin terlibat dalam kematian ibunya.
Dan orang itu baru saja muncul di sekolah, di lantai paling atas gedung sekolah, di balik dinding tua yang lembab, seseorang memegang radio kecil.
“Target sudah bereaksi. Fase kedua siap dimulai.” Terdengar suara dari seberang dingin, berat, tidak berperasaan.
“Bagus. Pastikan Kenji Kazuma tidak mati.” Lampu indikator berkedip merah.
“Belum saatnya,” lanjut suara itu.
Hening sesaat. Lalu suara itu menambahkan, dengan nada yang lebih rendah, sambil menatap ke arah Kenji dan teman-temannya. Ia menatap sangat lama lalu sosok tersebut tersenyum kecil.
“Whisperer ingin dia hidup,” kata sosok tersebut.