Mari menepi dari kisah Cinderella Story (Pangeran tampan/CEO menikahi Upik Abu), kisah kawin kontrak, dan juga kisah menikah dengan keterpaksaan karena balas budi. Saatnya kita belajar dari pengalaman ana yang aku tulis dikarya perdanaku ini.
Ana merupakan mahasiswi magang di PT. Asri Global Tbk, di perusahaan tersebut ana bertemu dengan seorang pria yang benama julio, julio merupakan manager acounting di divisi tempat ana magang.
Sejak pandangan pertamanya dengan ana, julio sudah menaruh hati terhadap ana, sehingga ia mendekati ana.
Tak banyak rekan-rekan kantornya yang mengetahui jika ternyata julio telah memiliki istri dan anak di kampung halamannya, begitu pun dengan ana.
Hingga hubunganan mereka mereka yang sudah terlalu jauh, sampai pada akhirnya ana mengandung anak julio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Seperti biasanya Ana bangun pagi-pagi sekali, ia membuat sarapan untuk dirinya dan juga Rio. Saat Ana tengah sibuk memasak, Bik Ima memberitahunya jika ada dua orang wanita yang datang mencarinya.
"Non, di depan ada tamu yang cari Non Ana."
"Siapa Bik, pagi-pagi buta begini bertamu?" Ana merasa heran ada seseorang yang mencari dirinya, seingatnya ia tak mengatakan kepada siapa pun tentang keberadaannya di rumah Rio selain kepada Mia.
"Saya tidak tau Non, saya sudah menyuruhnya untuk menunggu di depan."
"Oh ya sudah, Bibi tolong teruskan ya."
Ana berjalan meninggalkan dapur menuju ke ruang tamu untuk menemui orang yang mencarinya. Ana sama sekali tak merasa mengenalnya saat ia melihat kedua wanita yang sedang menunggunya diruang tamu.
"Ada keperluan apa Mbak-Mbak ini mencari saya?" tanya Ana dengan ramah.
"Perkenalkan Mbak Ana, saya Rina dan ini rekan saya Ayu. kami MUA dan hairdo profesional, kami ingin membantu Mbak Ana merias wajah dan rambut Mbak Ana."
"Tapi maaf Mbak, saya tidak merasa menghubungi kalian."
"Aku yang mengubungi mereka, ini kan hari spesial untukmu. Aku ingin kamu tampil lebih cantik di hari wisudamu sayang." Rio berjalan mendekati Ana dan mempersilahkan Rina dan Ayu untuk merias wajah Ana.
Selagi Ana di rias oleh Rina dan Ayu, Rio menyempatkan diri untuk meeting dengan tim accountingnya via zoom, Rio meeting tepat di sebelah Ana yang sedang di rias
"Meeting apa Kak, pagi-pagi buta begini?" tanya Ana.
"Hari ini masih ada audit eksternal, jadi aku ingin mengontrol sudah sejauh mana persiapan data untuk auditnya," jawab Rio.
Rio berusaha menjadi karyawan yang profesional dan bertanggung jawab meski dirinya sedang cuti untuk menemani Ana ke acara wisudanya.
"Thank you Casandra. Okay, next report, Kai" Rio meminta Kai menyampaikan laporannya.
Sesekali Ana memperhatikan Rio yang sedang meeting dengan timnya, ternyata jabatan tak lantas membuat Rio berubah, ia tetap Rio yang dulu ia kenal saat masih menjadi pembimbing lapangannya, sosok pria yang bukan hanya ramah terhadap dirinya namun kepada semua orang termasuk bawahannya.
"Kakak aku sudah selesai." Ana memberi tahu Rio.
Sekilas Rio meliht ke arah Ana kemudian ia menganggukan kepalanya.
"I close today's meeting, thank you so much for your time. I hope you have a nice day, bye." Rio mengakhiri meeting paginya bersama dengan timnya, kemudian ia mematikan laptopnya.
"Sebentar ya Sayang, aku mandi dulu." Rio menutup laptopnya dan bergegas ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.
Ana yang telah siap untuk berangkat mondar-mandir menunggu Rio dengan gelisah di ruang tamu.
'Kenapa lama sekali mandinya?' gumam Ana dalam hati.
Ana semakin tidak sabar ketika waktu menunjukan pukul 07.30, akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri Rio dikamarnya.
Ana yang melihat pintu kamar Rio tidak tertutup dengan rapat, mengintip Rio dari balik pintu namun ia tidak juga menemukan Rio di dalam kamarnya.
Dengan perlahan Ana masuk ke dalam kamar Rio, Ana terkejut melihat beberapa sketsa gambar wajah yang mirip dengan dirinya berbaris terpajang di dinding kamar, yang paling menarik perhatian Ana adalah sketsa gambar seorang pria yang sedang membantu seorang wanita mengambilkan buku di rak buku yang tinggi, perasaan cemburu mulai merasuki hati Ana. "Dasar buaya," gerutunya.
Tiba-tiba Ana di kejutkan dengan suara Rio dari belakang tubuhnya, Ana terlihat gugup seperti orang yang tertangkap basah sedang melakukan kejahatan.
"Ma...af a...ku tak sengaja masuk ke kamar Kak Rio." suara Ana terdengar terbata-bata.
Rio mengambil sketsa gambar yang dilihat oleh Ana, kemudian Rio memperlihatkan kepada Ana. Rio menunjuk tanggal, bulan dan tahun yang tertera di bawah sketsa tersebut.
"Kamu lihat sayang, tahun yang tertera dalam sketsa ini? ini tahun di mana aku bertemu dengan seorang wanita cantik di perpustakaan daerah kampung halamanku. Mungkin saat ini wanita itu sudah melupakan kejadian itu, tapi aku tidak pernah melupakannya, wanita itu selalu ku sebut dalam doa di sepertiga malam," ucap Rio sembari tersenyum sumringah.
Perasaan sesak memenuhi dada Ana, Ana terbakar api cemburu, namun Ana berusaha menyembunyikan perasaannya. Ruang kamar Rio yang semula terasa sejuk tiba-tiba terasa panas dan pengap, Ana ingin cepat-cepat keluar dari kamar Rio, ia sudah tidak tahan lagi berada di kamar Rio.
'Jika Kak Rio memang mencintai wanita lain mengapa tidak mengejar wanita itu saja? mengapa harus melamarku dan setiap hari memanggilku sayang, seolah-olah dia benar-benar mencintaiku!!! ternyata semua pria sama saja,' gumam ana dalam hati.
Rio menyadari perubahan raut wajah Ana, ia mengambil satu sketsa lagi kemudian memberikannya kepada Ana.
"Tidakkah kamu menyadari ini wajah siapa?" tanya Rio.
Ana memperhatikan wajah yang ada dalam sketsa yang di tunjukan oleh Rio, wajah itu benar-benar mirip dengan wajahnya.
"Lantas apa hubungannya wanita itu denganku? apa kak Rio mendekatiku karena aku terlihat mirip dengan wanita itu. Ahhh sungguh jahat sekali Kak Rio menjadikan aku hanya bayang-bayang dari wanita yang ia cintai," gumam Ana.
"Ini wajahmu sayang, gadis yang pernah aku tolong di perpustakaan daerah itu adalah kamu Ana sayang. Jika kamu tidak percaya, coba perhatikan dengan baik ada tahi lalat di pergelangan tangan gadis ini."
Ana mulai membuka-buka memori dalam pikirannya, ya pada tahun itu ia memang berlibur ke rumah neneknya "Ah, ya pada saat itu aku sedang mencari buku favoritku, ya benar aku ingat. aku ingat semuanya sekarang, ternyata...."
huuuu... hiks....
Ana memeluk Rio dengan erat, menangis tersedu-sedu dalam pelukan Rio.
"Bodoh... bodoh... kenapa aku begitu bodoh dan jahat terhadap Kakak. Aku selalu berfikir jika Kak Rio hanya merasa iba terhadapku, bahkan tadi aku sempat berpikir jika aku hanya menjadi bayang-bayang wanita lain yang kakak cintai. Maaf... maafkan aku kak huuu... hikss..."
"Sayang, sudah sejak lama aku menaruh hati padamu, namun aku tak pernah memiliki keberanian untuk menyatakannya." Rio mengelus punggung Ana dengan lembut.
Perlahan ia teringat sesuatu, ia melepaskan pelukan Rio.
"Tapi aku tidak pantas untuk Kak Rio, aku sudah tidak suci lagi, bahkan kini aku mengandung anak pria lain, pria sebaik Kak Rio pasti nanti akan mendapatkan wanita yang lebih baik dariku." Ana merasa jika dirinya tak pantas untuk Rio.
Rio merangkum wajah aja yang telah beruraian air mata, ia menyatukan keningnya di kening Ana.
"Tidak ada manusia yang suci, begitu pula dengan aku. Aku memiliki dosa yang banyak hanya saja Allah menutup aibku. An, aku sangat mencintaimu, aku mencintai semua bagian dari dirimu, termasuk janin yang sedang kau kandung."
Rio berlutut mencium dan membelai perut Ana dengan lembut, perlakuan Rio terhadapnya membuat Ana tak dapat menahan harunya, isakan tangisnya semakin kencang, Rio pun kembali berdiri dan memeluk Ana.
"Hei tenanglah sayang, jika kamu menangis seperti ini nanti make upmu luntur."
Rio menepuk-nepuk punggung Ana dengan lembut, agar Ana menghentikan tangisnya. setelah tangisan Ana mereda, Rio menyuruh Ana untuk memperbaiki makeupnya.
"Aku perbaiki make upku dulu sebentar ya, Kak."
"Aku tunggu di mobil ya."
Ana mengangguk dan bergegas ke kamarnya untuk memperbaiki make upnya yang sedikit berantakan, setelah dirasa tampilannya pas Ana mengambil handphonenya dan memasukannya ke dalam tasnya, ketika hendak memasukan handphone ke dalam tasnya, Ana melihat kota beludru pemberian Rio.
Ana tersenyum sambil membuka kotak beludru tersebut, kemudian ia memasukan cincin pemberian Rio dijari manisnya.
"Yuk berangkat!" Ana duduk di samping Rio yang mengemudikan mobilnya.
Sepanjang perjalanan menuju tempat wisuda Ana, tangan kiri Rio menggenggam erat tangan Ana, sedangkan tangan kanannya memegang stir kemudi.
Rio tersenyum senang saat melihat Ana telah menggunakan cincin pemberiannya, terbesit dalam benak Rio untuk sedikit menggoda Ana.
"Jadi mulai hari ini sudah tidak manggil Kakak lagi kan?"
"Maksud Ka Rio?"
"Kan sekarang udah jadi calon suamimu."
"Kak Rio maunya di panggil apa?"
"Hmm... apa ya??" Rio pura-pura berpikir
"Bebz atau Baby juga boleh," ucap Rio sembari tersenyum.
"Iiih... kak Rio ini alay banget sih, kaya anak SMA saja."
"Aku panggil Sayang saja ya, biar sama dengan Kak Rio."
"Coba ulangin?" pinta Rio.
"Kakak... aku malu" Ana menutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya, Ana merasa malu karena Rio terus-menerus menggodanya.
Sesampainya di parkiran gedung tempat Ana wisuda, Rio menggenggam tangangan Ana dan menatap wajahnya.
"Sayang, Aku tidak bisa menjanjikan kemewahan duniawi kepadamu, Tapi aku akan memastikan aku akan selalu ada untukmu dan memastikan hidupmu tak akan abu-abu ataupun gelap dengan adanya kehadiranku."
suka sama cerita nya walau baca yg 21+ tapi tetap bagus cerita nya walau belum baca semua bab nya