Dilarang keras menyalin, menjiplak, atau mempublikasikan ulang karya ini dalam bentuk apa pun tanpa izin penulis. Cerita ini merupakan karya orisinal dan dilindungi oleh hak cipta. Elara Nayendra Aksani tumbuh bersama lima sahabat laki-laki yang berjanji akan selalu menjaganya. Mereka adalah dunianya, rumahnya, dan alasan ia bertahan. Namun semuanya berubah ketika seorang gadis rapuh datang membawa luka dan kepalsuan. Perhatian yang dulu milik Elara perlahan berpindah. Kepercayaan berubah menjadi tuduhan. Kasih sayang menjadi pengabaian. Di saat Elara paling membutuhkan mereka, justru ia ditinggalkan. Sendiri. Kosong. Hampir kehilangan segalanya—termasuk hidupnya. Ketika penyesalan akhirnya datang, semuanya sudah terlambat. Karena ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata maaf. Ini bukan kisah tentang cinta yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Nayomi menghela napas lega begitu keluar dari salah satu bilik toilet. Wajahnya sedikit pucat, tapi langkahnya langsung terhenti ketika melihat Elara berdiri tak jauh dari wastafel, menatap pantulan dirinya sendiri dengan mata kosong.
“Woi, El,” panggil Nayomi sambil mendekat. “Lo kenapa? Kok bengong?”
Elara tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap terpaku pada cermin, seolah pikirannya tertinggal entah di mana.
“Nay…” suaranya bergetar.
Nayomi langsung siaga. “Eh, kenapa? Lo kenapa?”
Elara berbalik. Matanya sudah berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan sesuatu yang terlalu berat untuk disimpan sendiri.
“Gue… dituduh ngebully Vira.”
“Hah?” Nayomi refleks menaikkan nada suaranya. “Kok bisa?”
Elara membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dadanya naik turun tidak teratur. “Tadi… waktu lo masih di dalem. Dia masuk ke sini. Awalnya dia—” Elara terhenti. Suaranya pecah. “Gue nggak bisa, Nay… gue nggak kuat. Gara-gara dia, sahabat-sahabat gue marah sama gue.”
Air mata akhirnya jatuh juga.
Nayomi langsung memegang kedua bahu Elara. “El, tarik napas. Pelan. Buang.”
Elara menurut, meski napasnya masih tersendat.
“Oke,” ucap Nayomi lebih tenang. “Nanti lo ceritain pelan-pelan. Sekarang jawab gue satu hal dulu. Lo nggak ngelakuin itu, kan?”
Elara menggeleng cepat. “Gue sama sekali nggak nyentuh dia. Gue nggak bully dia, Nay. Demi apa pun.”
“Berarti beres,” kata Nayomi mantap. “Kita tahu lo nggak salah.”
Elara tertawa kecil tanpa suara. “Tapi mereka nggak tahu. Mereka langsung percaya.”
Nayomi mengepalkan tangannya. “Sekarang gini. Kita ke rooftop. Lo butuh udara. Jangan di sini.”
Ia meraih tangan Elara dan menggenggamnya erat. Tanpa sadar, layar ponsel Nayomi yang sejak tadi diletakkan di wastafel masih menyala, merekam diam-diam. Namun Nayomi tak peduli. Fokusnya cuma satu: Elara.
Begitu mereka keluar dari toilet, suasana berubah.
Tatapan-tatapan tajam langsung menghantam Elara dari segala arah. Bisik-bisik terdengar jelas, tanpa usaha untuk disembunyikan.
“Gila ya… nggak nyangka Elara bisa ngebully anak baru.”
“Katanya gara-gara cemburu sama Arsen.”
“Ih, cemburu buta banget. kaya bocah baru pacaran aja."
Langkah Elara melambat. Bahunya turun. Kepalanya tertunduk, seolah beban di pundaknya semakin berat dengan setiap bisikan yang lewat.
Nayomi menoleh dan melihat itu.
“Eh,” katanya tegas. “El, jangan nunduk.”
Elara tidak menjawab.
“Lo dengar nggak?” suara Nayomi meninggi sedikit. “Jangan nunduk. Kalau lo nunduk, mereka bakal ngerasa bener.”
Elara menggeleng lemah. “Gue nggak bisa, Nay… gue capek.”
Nayomi menghentikan langkah mereka. Ia berdiri tepat di depan Elara, memaksa sahabatnya itu menatapnya.
“Dengerin gue,” ucap Nayomi pelan tapi keras. “Lo nggak salah. Dan gue ada di sini.”
Ia menggenggam tangan Elara lebih erat. “Kalau lo jatuh, gue yang berdiriin. Tapi lo jangan nyerah sekarang.”
Elara menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tapi ada sedikit hangat dari genggaman Nayomi.
Mereka melanjutkan langkah menuju tangga rooftop, meninggalkan lorong penuh bisikan di belakang.
Namun tanpa mereka sadari, cerita sudah terlanjur menyebar. Dan nama Elara mulai berubah—bukan lagi sebagai siswi tenang yang disukai banyak orang, melainkan sebagai gadis yang dituduh kejam pada anak baru.
Sementara itu, di balik semua tatapan dan bisik-bisik itu, satu orang tersenyum tipis.
Karena apa yang ia rencanakan… berhasil.
Dan ini baru permulaan.
★★★
Angin sore berhembus kencang di rooftop sekolah. Langit mulai berubah warna, dari biru terang menjadi jingga pucat. Elara dan Nayomi berdiri di sana, berdampingan, membiarkan rambut mereka tertiup angin tanpa peduli. Tidak ada suara selain desir angin dan detak hati Elara yang masih terasa sesak.
Elara menatap kosong ke arah pagar besi rooftop. Matanya terlihat kosong, seolah pikirannya jauh melayang ke kejadian beberapa jam lalu.
“Nay…” suara Elara pelan, hampir tenggelam oleh angin. “Gimana kalau Nio nggak percaya sama gue?”
Nayomi menoleh cepat. Ia bisa melihat kegelisahan di wajah Elara, kegelisahan yang jarang sekali gadis itu tunjukkan pada orang lain.
“Dia pasti percaya,” jawab Nayomi yakin. “Lo nggak pernah ngelakuin hal kayak gitu sebelumnya, El. Semua orang yang kenal Lo beneran pasti tahu.”
Elara menghela napas panjang. “Tapi tadi… mereka semua percaya sama Vira. Bahkan Ezra.”
Nada suaranya bergetar. Nayomi tanpa ragu langsung meraih Elara dan memeluknya erat, seolah ingin menahan semua beban yang hampir merobohkan sahabatnya itu.
“Dengerin gue,” ucap Nayomi tegas namun lembut. “Kalau pun suatu hari nanti mereka ragu sama Lo, gue selalu ada di sisi Lo. Jangan pernah ngerasa sendirian, El.”
Pelukan itu membuat pertahanan Elara runtuh. Matanya memanas.
“Makasih, Nay,” ucapnya lirih. “Lo selalu ada pas gue lagi rapuh.”
Mereka melepaskan pelukan perlahan. Elara mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri, namun nada kecewa tetap terdengar jelas ketika ia kembali bicara.
“Gue kecewa banget sama mereka, Nay. Bisa-bisanya percaya sama orang baru… daripada sahabat yang udah lama mereka kenal.”
Nayomi menyilangkan tangannya di dada. Wajahnya berubah serius. “Jujur aja, gue curiga.”
Elara menoleh. “Curiga apa?”
“Kayaknya Vira emang sengaja,” ucap Nayomi pelan. “Bukan cuma mau jatuhin Lo, tapi juga merusak hubungan Lo sama Arsen… dan sama mereka semua.”
Elara terdiam. “Entahlah… gue juga bingung sama itu anak."
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Hingga tiba-tiba Nayomi membelalakkan mata, seolah baru mengingat sesuatu yang sangat penting.
“Eh, El,” panggil Nayomi tiba-tiba.
“Apa?” Elara menoleh heran.
“Waktu gue masuk toilet tadi… Lo inget kan HP gue masih nyala? Masih ngerekam?”
Elara membeku sesaat. Lalu perlahan mengangguk. Detik berikutnya, mata mereka saling menatap, dan senyum tipis muncul di wajah masing-masing.
“Artinya…” ucap mereka hampir bersamaan.
“Kejadian tadi kerekam sama HP gue,” lanjut Nayomi cepat. Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
Mereka duduk di lantai rooftop, bersandar pada dinding. Nayomi membuka galeri video. Layar ponsel menampilkan rekaman dari toilet perempuan—jelas terlihat Vira masuk, jelas terdengar ancaman, dan sangat jelas bagaimana Vira melukai dirinya sendiri.
Elara menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. Bukan karena sedih kali ini, melainkan karena lega.
“Akhirnya… ada bukti,” ucapnya pelan.
“Kita harus ke BK sekarang,” kata Nayomi spontan. “Ini cukup buat bersihin nama Lo.”
Elara menggeleng. “Jangan, Nay.”
Nayomi menatapnya kaget. “Kok jangan? Ini kesempatan Lo.”
“Elu tau kan,” ucap Elara dengan nada lebih tenang namun penuh perhitungan. “Vira pasti belum berhenti sampai di sini. Dia pasti punya rencana lanjutan.”
Nayomi terdiam, lalu perlahan mengangguk. “Jadi Lo mau…”
“Kita simpan dulu bukti ini,” lanjut Elara. “Dan bongkar semuanya di waktu yang tepat. Sekalian.”
Sudut bibir Nayomi terangkat. “Wah… Lo pinter juga sekarang.”
Elara tersenyum kecil
“Kali ini,” sambung Nayomi, “kita yang bikin mereka nyesel.”
Angin kembali berhembus kencang di rooftop. Namun kali ini, hati Elara terasa sedikit lebih ringan.
Masalah belum selesai. Tapi setidaknya, ia tidak lagi sendirian—dan kebenaran kini ada di tangannya.