Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran
Rafael memperhatikan ketiga cucunya yang sedang duduk diam juga sambil memandangnya. Mereka tidak menangis sama sekali dan mata mereka hanya berkedip-kedip memandang pria setengah baya itu.
"Kenapa melihatku sampai segitunya?" tanya Rafael.
"Di mana Mama?" tanya Fared.
"Kalian tidak akan kembali kepadanya lagi, sekarang makanlah makanan di depan kalian!" ucap Rafael.
"Nggak mau! Apa kita sedang main culik-culik kan?" tanya Farid.
"Kalian sama persis seperti Papa kalian saat masih kecil, cerewet dan selalu ingin tahu," jawab Rafael.
"Huh! Kami nggak suka Opa! Opa jahat, kenapa juga Opa culik kami?" tanya Farad.
Rafael menghela nafas panjang, sejak tadi pertanyaan hanya memutar disitu saja.Ternyata menghadapi tiga anak kembar ini memang harus punya kesabaran yang ekstra tinggi.
Riana datang membawakan buah mangga kupas, ia sebenarnya masih ragu apakah mereka benar-benar anak kandung Leon? Tapi tadi ia juga sudah membaca hasil tes DNA yang dikirim ke rumahnya oleh Leon.
"Jadi kamu membawa mereka dari ibunya?
Jika wanita itu melaporkan ke polisi atas dasar penculikan bagaimana?" tanya Riana.
"Tidak akan, wanita itu tidak akan berani melakukannya," jawab Rafael.
"Kamu sudah mendengar dari keluarga Miki? Mereka membatalkan perjodohan ini."
"Aku juga tidak peduli."
Riana kesal dengan respon suaminya.
"Kamu ini bagaimana? Keluarga Miki sangat bermanfaat buat kita."
"Miki jauh lebih buruk dari apa yang kita pikirkan dan dia juga tidak hamil anak Leon," jawab Rafael.
Bruttttttt
Tiba-tiba terdengar suara kentut dan itu adalah salah satu si kembar, ternyata Fared yang sedang sakit perut, bau itu sangat menyengat di seluruh ruangan dan ia mondar-mandir sambil memegangi pantatnya.
"Aduh! Aduh! Aku mau pup...." teriak Fared.
"Hei! Hei!" teriak Riana panik saat bocah itu berlari kesana kemari karena takut menyenggol vas dan guci mahalnya.
Fared lalu berjongkok di pojokan, Riana menghampirinya dan menarik untuk lekas ke kamar mandi. Setelah selesai mereka keluar dari kamar mandi dan Riana merasa kesal karena salah satu dari mereka malah pipis di dalam guci.
"Dasar bandel!" teriak Riana.
Farad dengan santai menaikkan resleting celananya dan kembali duduk dengan tatapan datar.
"Dasar! Ibumu pasti mengajarkanmu seperti ini. Tidak tahu sopan santun, didikan orang miskin memang payah!" ucap Riana sambil menghampiri gucinya yang sudah menjadi kotor.
Rafael masih santai sambil menyeruput kopinya sementara Farid mulai berlari mengelilingi ruangan itu, Riana semakin panik sampai ia pusing sendiri dengan sikap cucu-cucunya.
"Rafael! Apa-apaan ini? Kenapa kamu diam saja saat mereka bertingkah seperti ini? Pasti ini didikan Alya pelayan itu," ucap Riana kesal.
"Selagi tidak menghancurkan rumah ini tak masalah," jawab Rafael santai.
Saat bersamaan terdengar suara guci yang pecah dan benar saja jika Farad yang menyenggolnya. Riana sangat geram sekali dan memelototi tajam mereka, sementara Rafael masih santai karena dia merasa barang itu bukan miliknya.
"Keluar kalian dari ruangan ini!" teriak Riana.
"Ampun! Nenek lampir," ucap mereka bersamaan.
"Didikan orang miskin seperti ini, tidak sudi aku punya cucu dari rahim wanita miskin itu," ucap Riana sambil membereskan gucinya yang pecah. "Rafael, kembalikan mereka kepada ibunya! Kenapa juga kamu membawanya kemari?"
Saat bersamaan Leon datang, ia mendekati si kembar yang duduk di pojok dengan wajah ketakutan.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Leon kepada ketiga anak kembarnya.
"Nenek peyot itu galak banget," ucap Fared.
"Hah?! Siapa yang kamu panggil nenek peyot?" tanya Riana mendelik.
Leon menghela nafas panjang.
"Jangan bilang begitu, ya. Beliau ibunya Papa," ucap Leon lembut.
Leon lantas melihat ke arah papanya yang masih duduk diam menikmati kopi.
"Kenapa Papa mengambil paksa mereka dari Alya?" tanya Leon.
"Leon, kenapa kamu menyerahkan diri ke polisi? Kamu membuat saham kita menjadi anjlok," ucap Rafael."Karena aku mau bertanggung jawab dengan perlakuan kasar ku pada Alya di masa lalu. Apa itu salah?"
Rafael berdiri, ia mendekati Leon lalu memukulnya, wajah ketiga kembar menjadi kaget sementara sudut bibir Leon mulai berdarah. Tak hanya sekali pukulan, Rafael mendekati putranya itu dan menghantamnya lagi.
"Kamu pikir kamu siapa? Perusahaan lebih penting dari pada wanita itu. Kamu tidak ingat perjuangan kita supaya perusahaan jatuh ke tangan kita? Tindakan bodoh mu bisa menghancurkan semuanya!" teriak Rafael.
"Papa hanya memikirkan perusahaan saja, selama ini aku hanya sebatas alat Papa saja, aku bukan robot mu yang bisa Papa atur ini dan itu. Aku juga sedang memperjuangkan ketiga anakku dan lebih berharga dari pada perusahaan Kakek!" jawab Leon.
"Kamu sudah dicuci otak oleh wanita jalang itu. Kamu sudah berubah."
"Alya bukan wanita jalang! Dia mantan istriku, selama ini aku yang salah," sahut Leon.
Rafael mendekati Leon lagi dan hendak memukul, saat bersamaan Farad berlari ke arah Rafael dan menghentikannya.
"Sudah!" Mata Farad memerah ingin menangis.
"Minggir!" ucap Rafael.
"Nggak mau! Jangan pukul Papaku lagi!" Farad mulai menangis.
Leon terkejut karena bocah itu sudah mau mengakuinya sebagai papa.
Rafael mendorong Farad sampai bocah itu terjatuh, Leon yang kesal dan tidak terima lantas memukul papanya sampai tersungkur. Riana tidak bisa berkata apa-apa saat melihat pertengkaran ayah dan anak itu.
Ini semua gara-gara wanita jalang itu.
Batin Riana sambil mendekati suaminya.
"Papa bisa menyakiti aku tapi jangan pernah sentuh anak-anakku!" ucap Leon.
Leon lantas membawa ketiga anaknya itu pergi dari sana, ia sudah tidak peduli lagi dengan nasib hubungannya dengan sang ayah.Sesampainya di mobil, Rick terkejut melihat sang bos sudah babak belur.
"Bos, wajahmu kenapa?" tanya Rick.
"Tak apa."
Leon memandang wajah anak-anaknya yang masih ketakutan, ia memeluk mereka dengan erat dan mencium pucuk kepalanya masing-masing. Mereka menangis sesenggukan dan pasti setelah ini mereka menjadi trauma.
"Ini kita mau kemana, Bos?"
"Alya menunggu di kostnya, kita ke sana saja."
"Oke, siap!"
Rick melajukan mobilnya ke kos Alya, dalam perjalanan Leon terus menenangkan ketiga putranya itu dan sedikit memikirkan papanya yang tadi sempat ia pukul sampai tersungkur. Pasti setelah ini dia akan mendapatkan masalah besar dan bisa saja diusir dari perusahaan.
Sesampainya di tempat kos.
Alya berdiri saat melihat mobil Leon datang, setelah berhenti dan pintu terbuka.Ketiga anak-anaknya langsung turun dari mobil kemudian memeluk ibunya dengan erat.
"Mama!"
"Sayang!" Alya memeluk mereka dengan erat dan menangis terharu karena mereka bisa pulang kepadanya.
Leon melihat sambil tersenyum, andai dulu dia tidak menyakiti Alya pasti saat ini dia bisa bergabung memeluk mereka. Alya berdiri dan melihat wajah Leon yang babak belur.
"Makasih," ucap Alya.
"Tak masalah," jawab Leon.
"Wajahmu kenapa?"
"Tak apa, hanya luka biasa."
"Mama! Papa dipukul Opa," jelas Farid.
"Benarkah? Ayo masuk dulu! Aku akan obati."
"Tak perlu, ini hanya luka biasa," jawab Leon.
Alya menggelengkan kepalanya. "Kamu bisa infeksi nanti, masuk dulu! Di kos ku ada kotak obat kok."
Mereka lalu masuk ke dalam.
Alya duduk di samping Leon yang terbaring lemah di sofa kosnya. Wajah Leon babak belur dengan luka lebam dan memar di sekitar bibir. Alya dengan hati-hati membersihkan luka itu menggunakan kapas yang dibasahi alkohol. Leon menahan rasa sakitnya sambil terus memandang Alya dengan tatapan bersalah.
"Alya, maafkan aku," gumam Leon pelan. Alya menatap Leon sejenak, lalu kembali fokus mengobati lukanya.
"Aku tahu, luka ini tidak seberapa dibanding luka batin yang pernah aku berikan padamu. Namun, aku bersumpah akan berubah dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
"Aku tidak mau membahas masa lalu."
"Kenapa? Aku bisa menyembuhkannya."
Alya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau membahas itu."
"Baiklah, maafkan aku."Si kembar datang membawakan minuman untuk Leon, pria itu sangat senang sekali dan lantas meminumnya tapi ternyata malah asin.
"Kenapa?" tanya Alya heran.
"Asin," ucap Leon tapi masih menelan teh itu.
Alya mencicipinya, ternyata si kembar malah memasukkan garam.
"Tak apa, mereka tidak tahu," jawab Leon.
Alya membereskan kotak obat itu dan sudah mengobati luka-luka pada wajah Leon.
"Terima kasih, Alya."
"Sama-sama, kamu bisa pergi. Aku tidak enak sama anak kos lain karena mereka bisa salah sangka pada kita."
"Aku mengerti, sekali lagi terima kasih."
Setelah Leon pergi, Alya duduk di sofa sambil melamun, ia melihat tangannya sendiri saat tadi mengobati pria itu."Mama?" ucap Farad.
"Kalian tidak apa-apa?"
"Iya, Papa Leon nyelametin kami, dia sampai dipukuli sama Opa," jelas Farid.
"Tapi kenapa Mama malah murung?" tanya Fared.
Alya menggelengkan kepalanya. "Tak apa, terlalu banyak yang sudah kita lewati di sini dan Mama sangat bingung ke depannya harus bagaimana."
"Aku nggak mau pindah, aku mau dekat sama Papa," ucap Farid.
"Hem... kita tak akan pindah apalagi Mama juga baru bekerja di sini dan tidak enak sama Pak Agra jika berhenti mendadak."
***
Siang hari.
Leon memasuki kantornya dengan langkah cepat, namun langkahnya terhenti begitu melihat sosok yang tidak diinginkan duduk santai di kursi direktur miliknya. Agra tersenyum sinis sambil melambaikan tangan ke arah Leon."Hei, Leon! Kursi direktur ini enak banget, ya?" ejek Agra, sambil tertawa kecil.
Merasa kesal dan geram, Leon berjalan cepat mendekati Agra.
"Lo ngapain di sini? Pergi!" bentak Leon, sambil menarik kerah kemeja Agra dan mengangkatnya dari kursi.
"Aku hanya ingin merasakan duduk di kursi panas ini," jawab Agra sambil mencoba melepaskan diri dari cengkraman Leon.
"Jangan ganggu kerjaan gue. Sekarang keluar dari sini!" Leon menghardik, menunjuk pintu dengan wajah yang semakin merah.
"Sepertinya aku yang akan menjadi direktur untuk menggantikan mu," kata Agra sambil tersenyum lebar, membanggakan dirinya sendiri.
Leon menatap Agra dengan tatapan tajam yang menusuk hingga ke hati, kemudian dengan nada sinis.
"Oh, serius? Gue nggak percaya. Kayaknya nggak mungkin deh! Kemampuan lo masih di bawa gue," jelas Leon."Hahaha.... percaya diri sekali, kemampuanmu sudah menurun drastis apalagi di pikiranmu sekarang hanya Alya dan Alya saja," jawab Agra.
"Kenapa? Dia saja tak masalah jika aku mendekatinya, malahan sepertinya tidak akan lama lagi kami akan rujuk," ucap Leon.
"Oh benarkah? Intinya aku yang akan menggantikan mu di sini."
Leon hanya tertawa sinis. "Ngimpi lo! Gue yang lebih berhak ada di posisi ini."
"Setelah kamu hampir menghancurkan saham perusahaan ini?"
"Semuanya akan kembali normal," jawab Leon.
"Tugasmu berat kali ini, kamu harus mempertahankan perusahaan ini dan mempertahankan Alya serta anak-anaknya, jika tidak maka mereka semua akan jatuh ke tanganku," ucap Agra.
"Jangan sentuh Alya dan anak-anakku!" ancam Leon.
"Terserah! Mereka tau lebih membutuhkan siapa," jawab Agra.
Leon merasa kesal sementara Agra berhasil memanasi pria itu, ia lantas pergi dari sana dan bersiap untuk melakukan rencana.
Setelah itu Leon dengan langkah cepat berjalan menuju ruang rapat, ia telah mengirim pesan singkat kepada semua orang yang terkait untuk mengadakan pertemuan dadakan. Ia merasa ini adalah saat yang tepat untuk menjelaskan situasinya dan merancang strategi perusahaan ke depan. Sesampainya di ruangan, Leon terkejut melihat ruang rapat yang kosong tanpa ada satu pun orang yang datang.
Pikirannya langsung kalut merasa kecewa dan marah atas sikap yang ditunjukkan oleh rekan-rekannya. Ketika Leon hendak keluar dari ruangan, ia terperanjat melihat sosok yang sangat familiar bagi dirinya. Rafael berdiri di depan pintu dengan wajah datar dan dingin.
"Kenapa tidak ada orang yang datang pada pertemuan ini?" tanya Leon dengan nada tinggi.
Rafael menatap Leon dengan pandangan yang tajam, ia kemudian berkata, "Aku sudah membatalkan pertemuan mu, Leon. Aku ingin bicara empat mata denganmu."
Leon merasa jantungnya berdebar kencang, ia tahu bahwa topik pembicaraan mereka pasti tidak akan mengenakkan.
Rafael kemudian melanjutkan, "Kamu tahu betul bahwa ulahmu menyerahkan diri ke polisi karena kasus KDRT yang menimpa istri lamamu telah membuat saham perusahaan anjlok. Aku tidak bisa membiarkan kamu terus merusak perusahaan ini."
"Papa, aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk keluarga dan perusahaan ini. Aku percaya, jika aku jujur tentang masa lalu, kita bisa memperbaiki situasi ini."
"Kamu telah membuat keputusan yang salah, Leon. Aku memintamu untuk angkat kaki dari perusahaan ini. Aku tidak ingin melihat kamu merusak lebih banyak lagi. Aku akan mengurus semuanya dari sekarang."Leon merasa hatinya hancur, ia tidak pernah menyangka bahwa ayahnya sendiri akan mengusirnya dari perusahaan yang telah ia bangun bersama-sama.
"Oke, aku pergi dari sini. Aku tidak akan lupa bagaimana cara Papa menyingkirkan kakek. Papa begitu serakah sampai melakukan berbagai cara supaya kakek bisa cepat mati dan sekarang Papa mengusirku begitu saja," ucap Leon.
"Apa maksudmu? Kakekmu meninggal karena usianya," ucap Rafael agak panik.
"Oh ya? Tenang saja! Saat ini mulutku masih terkunci tapi sepertinya tidak akan lama aku akan membuka semuanya," jawab Leon lalu pergi dari sana.
Tak berselang lama.
Alya duduk di ruang tamu, menatap televisi dengan ekspresi terkejut. Berita tentang pemecatan Leonhart Varellion menjadi headline utama di berbagai stasiun televisi.
Alya menggigit bibirnya, merasakan kekhawatiran dan rasa iba yang meluap-luap dalam hatinya. Walau pria itu pernah menyakitinya, tapi Alya masih punya perasaan karena Leon adalah ayah kandung dari ketiga anaknya. Alya ingin menghubunginya tapi dia tidak punya nomor Leon.
Saat bersamaan seseorang datang mengantarkan paket besar, Alya tidak merasa memesannya tapi paket itu datangnya dari seseorang.
"Dari Pak Agra?" gumam Alya.
Dia lantas membawa paket itu ke dalam kosnya dan anak-anaknya kepo dengan isi paket itu.
"Mama ini dari siapa? Besar banget kotaknya," ucap Farid.
"Dari Om Agra, bos Mama di tempat kerja."
Alya membukanya, di dalamnya terdapat laptop baru serta beberapa mainan, anak-anaknya sangat senang sekali dan bersorak gembira.
"Kenapa dia mengirimkan semua ini?" tanya Alya.
"Wah.... laptop baru, pasti ini untukku,"jawab Farad.
Alya mengambil semua barang yang dipegang si kembar, ia harus mengembalikan semua itu karena termasuk barang-barang mahal.
"Mah, kenapa sih?"
"Mama harus kembalikan."
"Lah, Mama gak asyik," ucap Fared.
Ponsel Alya berbunyi, ia mendapatkan pesan dari Agra.
Pak Agra: Ini buat anak-anakmu, semoga kalian suka. Tolong diterima dan jangan ditolak atau aku akan kecewa.
Alya terdiam sejenak, ia tidak tahu harus berkata apa, tapi yang jelas semua ini berlebihan bagi pegawai biasa seperti Alya. Farad menghidupkan laptop itu, ia terlihat senang sekali bahkan di sana juga sudah disiapkan situs-situs coding dan beberapa alamatnya.
"Wah... Om Agra bener-bener keren," ucap Farad.
"Lihat nih, aku juga dapat ponsel dan bolpoinnya," jawab Fared yang suka menggambar.
"Itu tablet namanya, bisa buat kamu menggambar," jawab Farad.
"Oh iyakah? Keren banget," ucap Fared.
Sementara Farid mendapatkan ponsel baru untuk bermain game dengan spesifikasi tinggi.
"Ini semua bukan mainan kalian, ini alat untuk orang dewasa," jelas Alya bingung kenapa Agra mengirimkan semua ini.
"Ini juga ada mainannya loh, Mah," sahut Farad.
"Iya, tapi anak seusia kalian tidak pantas bermain gadget," jawab Alya.
"Nggak mau! Aku mau ini, aku nggak mau mengembalikannya," sahut Fared.
Ada yang tidak beres di sini, Alya
merasa anak-anaknya tidak bisa berpikir seperti anak seusia mereka. Kenapa juga Agra bisa tahu apa yang disukai ketiga anak kembarnya?
Di sisi lain, Leon berada di dalam mobilnya dan menuju ke pantai untuk merenung. Sesampainya di sana Leon duduk di tepi pantai melamun sambil menatap laut yang luas.
Pikiran dan perasaannya kacau balau setelah kehilangan jabatan direktur perusahaan yang selama ini dia pegang erat. Ia merasa sudah hancur tak ada lagi tujuan hidup yang jelas. Tangan kirinya menggenggam pasir putih yang mengalir perlahan di antara jemarinya. Angin pantai yang sejuk mencoba menghibur hatinya yang terluka.
"Bagaimana hidupku sekarang? Apa yang harus kulakukan?" gumam Leon dengan nada lemah.
Tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu, hanya ombak yang bergerak naik turun di depannya.
Leon menghela napas panjang, menenangkan diri sambil merapikan rambutnya yang terkena angin.
Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari-lari di sepanjang pantai, tertawa bahagia tanpa beban. Leon menatap anak itu, seakan melihat sosok dirinya yang dulu, penuh semangat dan ceria.
Dalam diam, Leon mengambil keputusan untuk bangkit dan mencoba hal baru. Dia tidak ingin terus terpuruk dalam rasa sedih dan penyesalan. Leon mengumpulkan keberaniannya untuk memulai kembali hidup dari nol, menemukan tujuan hidup yang baru, dan menjalani hidup dengan lebih baik serta jika bisa bersama Alya dan anak-anak kembarnya.
"Aku masih ada harapan yaitu Alya dan tiga anak kembarku, aku harus bangkit demi mereka."