Soraya Kusuma, Gadis Yang Akrab Di Sapa Raya Anak Dari Wijaya Kusuma Dan Naraya Sekar Sari, sejak Ia Lahir Hidupnya Sudah Penuh pantangan. Ada Beberapa Pantangan Yang Tidak Boleh Di Lakukan Oleh Raya Yaitu Pergi Ke Air Terjun.
Larangan Itu Sudah Di Beritahukan Oleh Ibunya Raya. Saat Usianya Genap Sepuluh Tahun.
Namun Saat Raya Menginjak Usia Sembilan Belas Tahun Ia Diam-Diam Pergi Ke Sebuah Curug Bersama Kedua Teman Nya. Karena Mereka Membangun Sebuah Komunitas Untuk Di Unggah Di Sosial Media Nya. Hanya Untuk Memecahkan Sebuah Misteri Yang Sudah Di percaya Oleh Ibunya.
"Yang Sudah Di Takdirkaan Akan terus Membersamai" Ujar Arya Narendra
Sosok Laki-Laki Tampan Yang Membuat Mata Raya Terazimat Saat Pertama Kali Melihat Nya.
( Sambungan Kisah dari Cinta beda Alam )
" Happy Reading "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Mobil Mula Memasuki Desa pasir Putih, Yang Hanya Bisa Di Lewati untuk Satu Mobil, Alamat GPS yang sudah Sampai Di Titik Tujuan.
Tama Menguap, karena Lelah Nya Perjalanan Dari Rumah Sakit ke Jawa Barat, "ngantuk Gua Ja..." Tama Mengusap wajah nya Gusar
"Sabar Ma... Semoga Saja Sih usaha Kita Ngak Sia-Siakan!" Maja Lebih Dulu Keluar Dari Mobil.
"Bi... Desta Bangun Sudah Sampai Nih," Bibi Puspita Dan Desta Di Bangunkan oleh Tama.
Bu Nara Masih Berada Di Pangkuan Desta, Desta Dan Juga Bibi Puspita Membuka Mata, Saat Maja Dan Tama Membangunkan Mereka.
"Eh-Sudah Sampai..." Bibi Puspita Membuka matanya perlahan.
terlihat Sebuah Bangunan rumah panggung Yang terlihat Masih Sama, tidak pernah Berubah, masih Sama Seperti Dua puluh Tahun yang Lalu.
Di Depan Rumah Terlihat Ada Seorang Wanita Muda yang Sedang Mengirig beras, wanita itu Nampak Tersenyum ramah, Menyambut Kedatangan rombongan Bibi Puspita.
"permisi Neng, Maaf Mau tanya Apa Abah Basir Nya Ada?" Ucap Bibi Puspita ragu-ragu.
Wanita Muda itu Memperhatikan Wajah Bibi Puspita, Dari Kepala Sampai Ke ujung rambut, "Apa Ada Yang Di Bawa Arad-Aradan Lagi?" Ucap wanita Muda, Kini Raut wajah nya Nampak Datar,
Bibi Puspita Terdiam, Karena Bu Nara Masih Berada Di Dalam Mobil.
"Jangan risau Bi, Mari Masuk Dulu, Kita Bicara Di Dalam Saja." Wanita Muda Bernama Anjani Menaruh Tampah Di Dalam, Dan Mempersilahkan Rombongan Bibi Puspita Masuk Ke Dalam.
"Silahkan Masuk Kang...." Ucap Anjani pada Maja Dan Juga Tama.
Sementara Bu Nara Sudah Di Bawa Masuk Ke Dalam, Dan Beliau Dibaringkan Di Tikar Batu Wangi..
Saat Masuk Ke Dalam, Suasana nya Nampak Berubah Mistis, Karena Bisa Di Katakan. Mereka Membawa Jasad Seseorang yang Jiwa nya Tersesat Ke Alam lain.
Wajah Bu Nara Masih Sama Tidak Pucat Dan Sama Seperti orang yang Sedang tertidur, Namun Sangat Menakutkan Jika Di pandang terlalu Lama, Karena Wajah itu Tiba-Tiba Akan Tersenyum Sendiri, Dan Menangis Seolah Tangisan nya Yang Sangat Menyayat Hati.
"Merinding Gua Cuks...." Maja Mengusap Kedua Lengan Nya. Bulu Kuduk nya Merinding Saat Berada Di Dalam Rumah Anjani.
"udah Diem Ah,,, Kebiasaan Luh" Gerutu Tama Mengusap tengkuk Nya.
Sementara Desta Masih Sibuk Berdzikir Dengan Jari Jemari Nya.
"Silahkan Diminum...." Anjani Keluar Memasuki ruang Tamu, Membawa empat Cangkir Kopi yang Masih Mengepul Panas.
Tangan Maja Sedikit Bergetar Saat Menerima Gelas Yang Di Berikan Anjani, Jika Di Lihat Wajah Anjani Sangat Cantik, Namun Terpancar Aura Mistis Di wajah nya.
"Silahkan...." Anjani Duduk Bersama Mereka, Sambil Mendekap Nampan Plastik Di Pangkuan Nya.
"Jadi Sudah Berapa Lama ibunya Tidak Sadarkan Diri?" Anjani Membuka Pembicaraan. Saat Sama Sekali Mereka Semua Nampak Masih Bingung, Di Tambah Wajah Lelah Mereka Yang begitu Nyata.
"Sudah Mau Satu Minggu Neng...." Bibi Puspita Tersenyum Getir Meskipun Aslinya Ia Masih Bingung, Karena Sejak Tadi ia Tidak Nampak Abah Basir Ada,
"Apa Sebenarnya Abah Basir Sudah......" Gumam Bibi Puspita Sedikit Menerka.
"Maaf untuk Sebelum nya, perkenalkan Saya Anjani, Saya Adalah Cucu nya Beliau Dan Abah Basir Sudah wafat Lima Tahun yang Lalu." Anjani Menunduk Sedih.
Namun ia Juga Faham, Kalau Semasa Hidup dulu Kakeknya Sering Menolong orang Yang Jiwa nya Tersesat.
tentu Saja Maja, Tama, Bibi Puspita Dan Juga Desta Merasa Sedih, Karena ternyata orang Yang mereka Tuju Sudah wafat.
"Jadi Apa Yang Harus Kami Lakukan?" Tama Bersuara ia tidak Sabar Jika Sampai Bu Nara terus menerus pingsan.
"iya Kami Sangat Merasa Kehilangan Beliau, Apakah Tidak Ada Cara Lain Lagi Buat Kesembuhan Bude Nara? kami Sudah Kehilangan Mba Raya, Dan Kami Juga Ngak Mau kehilangan Bude Nara." Desta Menangis Sesenggukan, Rasa Lelah Dan Juga Rindu tidak Bisa ia Tahan Lagi.
"Jadi Beliau Bukan Satu-Satunya Yang Hilang?" Anjani Juga Nampak Tercengang.
Semua Nampak Kompak Menggeleng, "Sahabat Kami, Yang Sudah Kami Anggap Sebagai Saudara Sendiri. Namanya Soraya Dia Adalah Anak Bu Nara." Ucap Maja, Sambil Menoleh ke Arah Bu Nara Namun Hanya Sekilas.
Anjani Manggut-Manggut. "Bagimana Bisa?" Anjani Menatap Mereka Bergantian.
Maja Dan Juga Tama Menunduk Mereka Berdua Merasa Bersalah. "Kamilah penyebab Nya." Ucap Mereka Berdua.
Anjani terdiam Saat Tama Dan Maja Menceritakan Semuanya, Tampa Ragu Maja Dan Tama Berbagi Cerita Langsung pada orang Yang baru Pernah ia temui.
"Jadi Tolong Bantu Kami, Agar Mereka Kembali." Tama Memohon Pada Anjani.
Anjani Tersenyum Getir Sambil menggeser sedikit Duduk Nya. "Aku Tidak Yakin Aku Bisa Melakukannya Seperti Abah Dulu Kang.... Karena Biasanya Jiwa Yang tersesat Akan Betah Tingal Di Alam Sana." Anjani Tersenyum.
Namun Mereka Berempat ingin Menangis, "Jangan Menakut Neng... Beliau Adalah Keluarga Kami Satu-Satunya." Bibi Puspita Mengusap Keringat Di Kening Nya.
"Baiklah,,, Tolong Bantu Saya Kang petikan Bunga Tujuh Rupa Di Depan Rumah, Dan Ambil Air Sungai Di Dekat Sini, Dan Cari Yang Arusnya Berjalan Kang, Bukan Air Yang Tenang." Ucap Anjani.
"Yah Baik, Kami Segera Kembali." Maja Dan Tama Langsung Beranjak Dari Duduk nya. Dan Keluar Rumah Beriringan.
Di Depan Rumah Maja Dan Tama Berbagi Misi, Tama Mengambil Air Sungai, Dan Maja Memetik Bunga Tuju rupa Di Samping dan Juga Depan Halaman Rumah Anjani.
"Awas Nyasar,,, Ati-Ati yah..." Maja Tersenyum Masam.
"iya udah Cepet Sono Luh...Cari Bunga Nya." Tama Sedikit Mendorong Tubuh Maja.
Sementara di dalam ruang tamu terlihat Anjani Terpejam, Sambil sesekali menarik Nafas Dalam. Bibi Puspita Dan Juga Desta Saling Tatap, Desta terus Berdzikir Bibi Puspita Juga Melakukan Hal Yang Sama, Sambil Sesekali Mereka Melirik Ke Arah Bu Nara.
Dan Tidak Berselang Lama Maja Dan Tama Datang, Beruntung Mereka Tidak Mendapatkan Ganguan Dari Makhluk Gaib.
"Ini Bunga Nya..." Ucap Maja.
"Dan ini Air Nya." Ucap Tama.
Mereka Berdua Pun Duduk Kembali, Bibi Puspita Dan Desta Berharap Agar Bu Nara Segera Sadar Dari pingsan nya.
Semua orang yang Berada Di Dalam ruangan Terdiam, Karena Nampaknya Anjani Sedang Melakukan Negosiasi. Tangan Anjani Mengepal Kencana, Matanya Terpejam, Mulutnya Kamat-Kamit Nampak Seperti Sedang Membaca Sesuatu. ingatnya Menerawang Jauh Ke Dimensi Lain, Mencari Keberadaan Jiwa Bu Nara, Dan Juga Raya.
Semua Nampak Masih Sangat Gelap Dan pekat oleh Kabut, Meskipun Anjani Tidak Sesakti Abah Basir Dulu, Jika Abah Basir Bisa Langsung Merogo Sukmo, Dan Anjani Hanya bisa Menerawang Jauh.
terawangan nya Sudah Masuk Ke Dalam istana Brawijaya, Namun ternyata Yang ia Lihat Bukan Hanya Jiwa Bu Nara Dan Raya Saja yang Tersesat Ada Wanita Cantik yang tubuhnya Semakin Kurus ya itu Sinta.