Kisah ini lanjutan dari KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS seasons 1
Banyak adegan kasar dan umpatan di dalam novel ini.
Cerita akan di mulai dengan Cassia, si Antagonis yang mendapatkan kesempatan terlahir kembali, di sini semua rahasia akan di ungkap, intrik, ancaman, musuh dalam selimut dan konflik besar, kisah lebih seru dan menegangkan.
Jangan lupa baca novel KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS season 1 agar makin nyambung ceritanya. Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Amelia memandang Nafisha, dia tersenyum tipis. Senyum yang membuat perasaan tak nyaman hadir dalam hati Nafisha.
'Apa lagi yang ia rencanakan?' batin Nafisha dengan mata berkilat mencari jawaban atas senyum Amelia.
"Serakah benda itu!" kata Amelia lagi, dia dan Nafisha berdiri di pertengahan tangga atas paling akhir.
"Aku tidak mau, akan aku buat Smith tahu bahwa mereka memelihara ular!" ucapnya sinis.
"Oh iya? Apa kau tak sadar, Nafisha? Bahwa kau lebih ular berbisa dari pada aku," hinanya dengan senyum yang tak bisa lagi Amelia sembunyikan.
"Itu bukan urusanmu," balasnya kesal.
"Jelas ini menjadi urusanku, karena kau mendadak masuk menjadi putri asli Smith dan ingin berebut dengan ku? Apa kau sadar bahwa kau itu tak pantas," Amelia terus menyerang Nafisha tanpa ampun.
"Aku memang putri asli Amelia, apa kau tak sadar bahwa kaulah yang tak pantas itu?" balas Nafisha tak kalah tajam.
Amelia terkekeh, dia menatap Nafisha dengan senyum sinis, dan tanpa aba-aba ia menarik tangan Nafisha untuk merebut pulpen perekam di tangan Nafisha.
"Lepaskan Nafisha!" bentak Amelia.
"Tidak akan, kau tak tahu diri!" Nafisha tak kalah kuat untuk mempertahankan apa yang menjadi bukti kejahatan Amelia.
Saling tarik satu sama lain membuat keduanya tak sadar bahwa mereka berada pertengahan tangga. Salah langkah keduanya bisa tergelincir atau mungkin salah satunya celaka.
Amelia melirik, dia tahu ini adalah jam di mana Liam kembali sebab ia tahu benar jadwal Liam kembali di tentukan oleh Mommy dan Daddy karena keadaannya yang tak stabil.
SREET!
Pulpen itu di tarik paksa, dan Amelia berhasil mendapatkan apa yang ia mau, mematahkan pena itu hingga hancur bahkan rekaman di dalamnya tak akan bisa di selamatkan lagi.
"Kau? Kurang ajar!" teriak Nafisha.
Amelia hanya tersenyum sinis, dia kembali menarik tangan Nafisha dan itu membuat Nafisha tanpa sengaja mendorong Amelia.
"Akhhhh!" suara teriakan dari dalam rumah membuat Liam yang baru saja menginjakkan kaki di pintu utama langsung melesat masuk tanpa aba-aba.
"LIA!" teriakan Liam membuat Nafisha terkejut, matanya mendelik dengan dada berdebar tak karuan.
Liam menatap Nafisha dengan kilatan kemarahan yang jelas terpancar dari matanya.
"Bukan aku, Kak!" bisik Nafisha pelan, jelas dia tahu kejadian ini akan menjadi salahnya karena tahu betapa sayangnya mereka pada Amelia.
"Lia, bangun!" minta Liam, dia menepuk pelan pipi Amelia yang tak sadarkan diri.
Cairan merah keluar dari kening Amelia, sebab kepalanya yang terbentur pinggiran tangga. Yang agak runcing.
Perlahan mata Amelia terbuka, dia menatap Liam dengan wajah sendu dan jelas sekali terlihat ketakutan.
"Kak," panggilnya lirih.
"Bertahan ya! Akan Kakak bawa kamu ke rumah sakit!" bisik Liam. Dari sorot matanya jelas kekhawatiran itu terpancar nyata.
Menggendong Amelia ala Brydestyle dia bangun dan sebelum pergi memandang sinis Nafisha,"Kau tunggu saja!" ancaman itu mengoyak hati Nafisha yang sejak tadi sudah tak nyaman.
"Amelia, kau licik!" desisnya geram.
...****************...
Di halaman rumah sakit, mobil Liam berhenti dengan deru napasnya yang tersengal. Pintu terbuka, dan tanpa menunggu lama, dia merunduk, menggenggam tubuh Amelia yang lemah dan bibir Pucat itu dalam pelukannya.
Hatinya berdebar tak karuan, suara dunia seperti menenggelamkan dirinya dalam kebisuan yang mencekam.
"Sus, tolong! Adikku... kepalanya berdarah!" Suaranya pecah, gemetar menahan ketakutan yang hampir meremukkan jiwanya.
Perawat itu segera bergerak cepat, tangannya sigap membimbing Liam menuju brankar yang berada di dekat sana. Dengan hati-hati, mereka meletakkan Amelia di atas brankar, seolah memindahkan harapan yang rapuh.
Dorongan brankar itu menggema di lorong rumah sakit, setiap langkah seakan menggiring nyawa Amelia menari di ambang harapan dan ketakutan.
Liam mengikuti dengan napas tersengal, menahan setiap detik yang terasa seperti neraka di depan mata.
Sampai di UGD, Amelia langsung didorong masuk dengan tergesa-gesa, para dokter dan perawat sibuk memeriksa kepala dan tubuhnya yang terluka.
Suara alat medis dan bisik-bisik cemas memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang menegangkan.
Sebelum Liam sempat menyusul, seorang petugas berdiri tegap di pintu masuk, menatapnya tajam. "Maaf, Tuan. Anda tidak boleh masuk. Mohon tunggu di sini."
Hati Liam tercekat, napasnya memburu. Ia terdiam, tubuhnya gemetar, sementara matanya menatap pintu UGD yang menutup perlahan di depan sana.
Gelisah menyesak dada, ia hanya bisa berdiri terpaku, menunggu dengan harap dan takut yang bercampur jadi satu.
Waktu terasa membeku, dan setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan tak berujung.
Beberapa menit berlalu dalam penantian yang mencekam, akhirnya pintu UGD terbuka perlahan. Seorang dokter muncul, melepaskan maskernya dengan langkah berat.
"Apakah ada wali dari pasien Amelia?" suaranya memecah keheningan ruang itu, menggetarkan hati Liam yang berdiri terpaku.
Dengan napas yang tercekat, Liam melangkah maju, suaranya bergetar penuh harap, "Bagaimana keadaan adik saya, Dok?"
Dokter itu menatap serius sejenak sebelum akhirnya berkata, "Amelia baik-baik saja. Lukanya tidak terlalu dalam, hanya perlu beberapa hari istirahat agar bisa pulih."
Dada Liam yang selama ini sesak akhirnya mengembang lega, namun kecemasannya belum sepenuhnya hilang. "Apakah saya boleh melihatnya sekarang?" tanyanya dengan suara yang bergetar antara lega dan cemas.
"Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, Anda bisa menemuinya," jawab dokter dengan nada tegas namun lembut.
Liam mengangguk pelan, membalas, "Terima kasih, Dok."
Dokter itu mengusap wajahnya sejenak, lalu menoleh, "Sama-sama. Saya permisi dulu."
Pintu UGD tertutup kembali, meninggalkan Liam yang masih berdiri dengan perasaan sedikit lega.
...****************...
Di kediaman Smith, Nafisha mengurung diri di dalam kamar, dada berdetak tak menentu, bibirnya tergigit hingga perih. Panik dan gelisah membanjiri pikirannya.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana bisa begini?" gumamnya lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam kegamangan.
Bayangan kelam langsung menyeruak di benaknya ketika kakaknya pulang dan memberitahu kepada orang tua mereka tentang kejadian yang menimpa Amelia.
"Amelia... betapa liciknya kamu," desis Nafisha penuh amarah, api dendam membara di matanya yang hampir berlinang.
Hatinya gelisah, memikirkan kejadian itu yang tak sesuai dengan rencananya. Ia kira bisa dengan mudah menyingkirkan Amelia dari rumah ini, ternyata Amelia lebih licik darinya.
selalu d berikan kesehatan 😃