NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Berondong

Terjerat Cinta Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Selingkuh / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Pihak Ketiga / Beda Usia
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alana Xaviera merasa seperti sosok yang terasing ketika pacarnya, Zergan Alexander, selalu terjebak dalam kesibukan pekerjaan.

‎Kecewa dan lapar akan perhatian, dia membuat keputusan nekad yang akan mengubah segalanya - menjadikan Zen Regantara, pria berusia tiga tahun lebih muda yang dia temui karena insiden tidak sengaja sebagai pacar cadangan.

‎"Jadi, statusku ini apa?" tanya Zen.

‎"Pacar cadangan." jawab Alana, tegas.

‎Awalnya semua berjalan normal, hingga ketika konflik antara hati dan pikiran Alana memuncak, dia harus membuat pilihan sulit.


‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 : TCB

"Jangan percaya kata-katanya, Om. Dia hanya anak muda yang sedang dimabuk asmara, tidak mungkin dia benar-benar serius terhadap Alana."

Zen menoleh pada Zergan. Memang, tujuan awalnya dia datang kesana hanya ingin menemui Alana, tapi melihat ada kedua orang tua Alana jadi dia pikir sekalian saja dia mengutarakan keinginannya.

Disisi lain, Alana mengangkat tangannya perlahan dan melepaskan cincin yang diberikan Zergan untuknya saat pria itu melamarnya pada malam itu. Langkahnya bergerak maju dan berhenti tepat didepan Zergan, meraih tangan pria itu dan meletakkan cincin itu di telapak tangannya.

"Sebaiknya kamu pulang dan jangan pernah menemuiku lagi, Zergan. Dan tolong pertemukan Karina dengan putrinya. Antara kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi, jadi sebaiknya kita urusi kehidupan kita masing-masing."

"Alana." dengan gerakan cepat, Zergan meraih tangan Alana dan menggenggamnya. "Tolong... Aku tahu kamu masih memiliki perasaan cinta untukku. Aku minta maaf, tapi tolong jangan bersikap seperti ini."

"Zergan." panggil David, dia mendekat dan menarik lengan Alana yang satunya kebelakang hingga pegangan tangan Zergan terlepas. "Jangan terus menekan dan menyudutkan Alana. Kamu punya masa lalu yang belum kamu selesaikan, jika kalian menikah pun masa lalu kamu akan tetap membayangi kehidupan kalian."

"Sebaiknya sekarang kamu pulang, dan jangan libatkan putriku dalam masalahmu lagi." lanjut David, tatapannnya kini beralih pada Zen. "Dan untuk kamu anak muda, sebaiknya kamu juga pulang. Saya hargai niat baik kamu yang ingin menjalin hubungan serius dengan putri saya, tapi saya butuh bukan sekedar ucapan. Kamu lihat sendiri apa yang semalam terjadi, putri saya baru saja batal bertunangan, saya tidak ingin Alana hanya dijadikan sebagai mainan. Jika kamu benar-benar serius, tunjukkan dan buktikan. Saya akan menunggu disini untuk melihat keseriusan kamu."

Tangan Amara melingkar di punggung Alana, membawanya untuk masuk kedalam rumah dengan diikuti oleh David dibelakangnya. Suasana kembali hening selama beberapa saat setelah pintu gerbang kembali ditutup dengan rapat oleh pak Nanto.

"Aku masih belum menyerah, aku akan mendapatkan Alana kembali bagaimana pun caranya." tekan Zergan, menatap tajam pada Zen sebelum akhirnya dia berbalik dan masuk kedalam mobilnya.

Ditempatnya berdiri, Zen menatap kepergian mobil Zergan dari tempat itu, lalu dia beralih menatap rumah Alana yang tampak sepi dari luar. Alana adalah anak tunggal, Zen paham jika orang tua Alana pasti tidak akan semudah itu percaya dengan kesungguhannya setelah apa yang terjadi semalam, dimana kebenaran tentang Zergan terungkap sampai Alana dan Zergan harus batal pertunangan dan putus hubungan.

-

-

-

"Ya ampun... Ini wajah apa peta bumi." setelah meletakkan piring berisi lauk dimeja makan, Jihan menghampiri sang putra yang baru datang di ruang makan untuk sarapan.

"Berantem sama kamu siapa semalam? Apa ini ada hubungannya dengan Alana? Mama kan sudah bilang kalau---"

"Ma." potong Zen, menarik kursi untuk dia duduki. "Memar-memar ini tidak ada hubungannya dengan Alana."

Jihan menghela napas panjang, "Terus kamu mau pergi kekantor dengan wajah babak belur seperti ini?" dia ikut duduk disamping sang putra. "Lebih baik kamu fokus dengan pekerjaan kamu dulu sampai kamu jadi orang sukses setelah itu kamu baru boleh melamar Alana, Mama tidak akan melarang."

"Sampai menunggu aku sukses itu akan memakan waktu yang cukup lama, Ma. Aku takut Alana dan orang tuanya menganggap jika aku tidak benar-benar serius," Zen mengutarakan kekhawatirannya.

"Tapi menikah itu juga tidak hanya butuh modal cinta, Zen. Ada tanggungjawab yang harus kamu penuhi dan Mama khawatir kamu tidak siap," ujar Jihan.

"Begini saja," Bram yang sedari tadi memang sudah duduk di sana akhirnya angkat bicara. "Bagaimana kalau nanti malam kamu ajak Alana makan malam disini, biar Mama sama Papa bisa lebih dekat dan mengenal calon menantu kami."

"Pa." desis Jihan, menatap tajam pada sang suami. Namun, Bram menanggapinya dengan santai dan menganggukkan kepalanya kecil, seolah permintaannya barusan bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan.

Sementara Zen hanya diam, sepertinya tidak ada salahnya mengikuti permintaan papanya untuk membawa Alana makan malam dirumahnya dan membiarkan Alana untuk lebih mengenal dekat dengan keluarganya.

Selesai sarapan dan Zen sudah berangkat lebih dulu, Jihan menahan tangan suaminya saat dia mengantar suaminya itu ke teras rumah.

"Mengundang Alana untuk makan malam, apa artinya kamu setuju Zen menjalin hubungan dengan wanita itu?" tanya Jihan. "Pa, Zen masih terlalu muda untuk menikah, setidaknya tunggu sampai dua atau tiga tahun lagi."

Bram tersenyum, mengusap-usap lembut lengan istrinya. "Mama tidak usah khawatir tentang itu, Papa tahu apa yang harus Papa lakukan. Sebaiknya Mama pergi berbelanja dan masak yang enak-enak untuk menyambut kedatangan calon menantu kita nanti malam."

Meskipun suaminya berkata demikian, Jihan tetap saja khawatir. Dia menatap kepergian mobil suaminya dengan wajah campuran antara bingung dan khawatir. Bagaimana jika setelah acara makan malam nanti, suaminya langsung menyuruhnya untuk mempersiapkan lamaran untuk Alana?

-

-

-

Hari ini Zen sengaja pulang lebih awal dari kantor dan langsung pergi kerumah Alana untuk menjemputnya. Siang tadi dia sudah menelfon Alana dan mengutarakan keinginannya untuk mengajaknya makan malam dirumahnya. Meskipun awalnya Alana ragu-ragu, tapi akhirnya dia setuju dan meminta Zen untuk menjemputnya tepat waktu.

Kedatangan Zen langsung disambut oleh Amara yang kebetulan memang ada dirumah, sementara suaminya belum pulang dari kantor.

"Maaf, Tante, kalau terkesan mendadak. Orang tua saya, terutama papa saya ingin mengenal Alana lebih dekat. Tante tidak keberatan kan kalau saya ajak Alana makan malam dirumah saya?" tanya Zen yang kini sudah duduk di sofa ruang tamu.

Amara menghela napas, "Jujur Tante masih ragu dengan kesungguhan kamu, Zen. Tapi Tante tidak akan melarang jika kamu ingin mengajak Alana makan malam bersama keluarga kamu."

"Alana baru saja batal bertunangan setelah mengetahui Zergan sudah memiliki anak dari wanita lain, jadi tolong jaga hati dan perasaannya, jangan buat dia larut dalam kesedihan." sambung Amara.

Zen mengangguk, "Saya mengerti, Tante."

Sepuluh menit kemudian Alana yang sudah siap dengan penampilannya pun segera turun dan datang ke ruang tamu untuk menemui Zen. Gaun biru muda yang dikenakannya membuat Alana terlihat cantik malam ini, ditambah lagi dengan rambutnya yang disusun rapi dengan jepit bunga putih yang menyala diantara helaian rambut hitamnya.

‎‎Zen tersenyum saat melihatnya, dia langsung berdiri dan berpamitan pada Amara dengan nada sopan.

‎‎"Makasih ya, Tan. Saya ajak Alana kerumah saya dulu."

‎‎Amara berdiri di teras dan menatap kepergian mobil Zen dari halaman rumahnya. Meskipun masih ragu, benaknya selalu terngiang pertanyaan apakah ini yang terbaik untuk Alana? ‎Apakah Zen benar-benar yang pantas?

‎‎Tapi, dia tidak ingin menghalangi lagi kedekatan Alana dengan Zen. Setidaknya sampai Alana benar-benar melupakan Zergan dan rasa sakit hatinya atas perbuatan Zergan.

-

Sementara itu, Alana hanya duduk diam selama berada didalam mobil. Dia memang sudah mengenal mamanya Zen dengan cukup baik, tapi untuk papanya Zen, Alana belum pernah bertemu apalagi sampai ngobrol. Bagaimana jika papanya Zen mengatakan sesuatu yang menyudutkannya nanti.

"Ada apa? Kenapa kamu diam saja?" Zen menoleh, menatap Alana sebentar sebelum kembali fokus menatap jalanan didepannya.

"Aku merasa takut dan sedikit tegang. Tiba-tiba papa kamu mengajak untuk makan malam, bagaimana jika beliau tidak menyukaiku?" suara Alana terdengar pelan dan penuh keraguan.

Zen tersenyum dan mengusap kepala Alana dengan lembut. "Papaku orang yang baik dan bijaksana, beliau pasti tidak akan mempersulitmu dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkanmu."

Suasana kembali hening dengan Alana yang memilih untuk kembali diam. Sesampainya di rumah, Bram langsung menyambut kedatangan mereka, sementara Jihan masih berada didapur dan sedang menyiapkan makan malam yang hampir selesai dengan dibantu oleh seorang asisten rumah tangganya.

"Jadi ini yang bernama Alana. Cantik ya," puji Bram. "Sambil nunggu mamanya Zen nyiapin makanan, ayo duduk-duduk dulu disini sambil ngobrol-ngobrol."

"Makasih, Om." Alana tersenyum, lalu duduk bersebelahan dengan Zen. Seorang pelayan datang dengan membawa nampan berisi tiga cangkir teh untuk mereka dan menaruhnya di atas meja.

‎"Alana, putra Om ini berniat menjalin hubungan serius dengan kamu. Bagaimana, apa kamu siap?" tanya Bram tanpa ingin berbasa-basi.

Zen dan Alana saling menatap sebentar. Jika ditanya siap atau tidak sebenarnya Alana sudah siap, tapi yang dia takutkan justru Zen. Zen masih muda dan masih memiliki mimpi-mimpi yang ingin diraih, apakah menikahinya adalah keputusan yang tepat?

"Jika kalian berdua sudah sama-sama siap dan serius dengan hubungan ini, Om ingin kalian berdua pergi kerumah neneknya Zen dan tinggal disana dulu selama satu bulan." lanjut Bram.

"Rumah nenek? Tapi untuk apa, Pa?" tanya Zen bingung.

"Anggap saja ini sebagai ujian untuk kalian berdua. Setelah satu bulan kalian pulang dan mengantongi restu dari nenek kamu, Papa akan langsung siapkan acara lamaran dan pernikahan untuk kalian berdua." jawab Bram begitu yakin, lalu dia meraih gagang cangkirnya dan menyeruput tehnya sedikit.

Tidak tahu apa tujuan papanya ingin dia dan Alana datang dan tinggal di rumah neneknya. Tapi neneknya orang yang galak dan tegas, Alana tidak akan kuat tinggal lama-lama disana. Bukannya dapat restu, yang ada malah dapat tekanan.

Bram meletakkan cangkirnya kembali diatas meja. "Oya, Alana, apa kamu sudah pernah tidur dengan Zen?" tanyanya dengan santainya.

Alana yang sedang menyeruput tehnya pun langsung tersedak saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Om Bram.

"Uhuukk... Uhuukk..."

-

-

-

Bersambung....

1
Zuri
yg kamu lewatkan banyak Zergan. karena kamu hanya fokus pada dirimu sendiri🤧
Zuri
mantanmu itu lohh Lana🤧
Zuri
oohhh kok udahann /Grin//Grin/
Zuri
tangan sakit tak menghalangi untuk raba meraba, remas meremas🤣
Zuri
akhirnya ketemuuu🥹
Zuri
yg kamu sebut rendahan itu udah kamu coblos berkal kali loh🤧
D_wiwied
tebakanmu bener Al, zergan biang keroknya
Khusnul Khotimah
aduhh kenapa mbak Mina bilang KLO diajak kakaknya Zen.
s moga zergan tidak cari keberadaan zen
markona
ini jg mulut nya mba mina GK bisa semua sekali menyembunyikan sesuatu mulutnya rombeng bgt jangan jangan mba mina ini naksir bgt ke zergan, pecat aj Alana itu pembantu mu mulut GK bisa dijaga, heran dan km Alana pura pura aj GK tau masalah ini ke zergan apa lg NT klu zergan ingin cari tau tentang Zen ke km, disitu lah bisa km curiga,
lia juliati
biarin aja orng jahat kerna karna trus d bayar tunai
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
mana suasana nya mendukung lagi ya zen.berduan,hujan pula.hemmmmmm....
POV setan 😈"lanjutkan, jangan berhenti"


Emang ada yang kamu lewatkan gan degan alias zergan.yaitu tentang kemungkinan terkecil dari setiap kejadian.harusnya,kamu pastiin mayat nya zen.kalo blm lihat dengan mata,kepala,pundak dan kaki.jangan lgsg menyimpulkan Zen udah end.
Resa05
wah ngga sabar nih tungguin cerita selanjutnya
Bunda HB
ART ember mulut e apa2 bilang sama zearga .bilang aja gk tau.art nya pecat aja gk guna. 🤭🤭
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
ingat zergan! siapa menanam, bakal memanenn, jika kamu menanam bunga lateng, jangan harap akan memanen mawar. jadi jangan salahkan zen sama Alana, jika akan mengirimmu masuk hotel prodeo wkwkw
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
Awalnya aku cium-ciuman
Akhirnya aku peluk-pelukan
Tak sadar aku dirayu setan
Tak sadar aku ku kebablasan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduaan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran suka gelap-gelapan

Dangdutann dulu gaes..Ben tambah semangat goyangnya 💃🤣
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
yaeelahhh zen zen, sudah macam orang kelaparan saja 🤣 Tangan sakit tak menghalangi kegiatan jamah, menyesap dan meremat 🤦‍♀️ yang sakit tangannya penting itunya tak sakit, gass lahhh wkwkw
Khusnul Khotimah
baca bab ini q baca pelan pelan ikut berdebar jantungku....🤭
🔥Violetta🔥: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
Pertemuan yang kuimpikan
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan
Sakit karena perpisahan
Kini telah terobati
Kebahagiaan yang hilang
Kini kembali lagi...nyanyi sek Ben nggak oleng wkwkwkwk
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™: kita mah anak buahnya Mr crab yang mata duitan 🤣🤣
total 6 replies
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
wah wah wah kamu meremehkan karina..zergan! demi anak, seorang ibu bisa melakukan apa saja. meskipun nyawa taruhannya..jadi jangan main2 dengan sosok yang di panggil ibu.
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
Mereka yang ketemu, aku yang deg-deg serrrrrr. Lana, cerita juga ya, kalo kamu positip.serius dech, doi pasti seneng banget.


Di episode ini aku hawatir sama Karina well.serius, zergan kek psikopat.halalin semua cara buat dapetin keinginannya.
🔥Violetta🔥: Minta didemo si Ntoon 😅😅
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!