Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-Puing yang Tersisa
Mendung menggantung rendah di atas langit Jakarta, membawa hawa dingin yang merayap masuk melalui celah-celah jendela kaca kantor administrasi The Golden Bridge. Nadia sedang merapikan beberapa dokumen beasiswa ketika Rina mengetuk pintu. Penampilan Rina hari ini jauh lebih sederhana; ia mengenakan kemeja linen tanpa perhiasan mencolok, wajahnya tampak lebih segar meskipun tanpa riasan mahal yang dulu selalu ia kenakan untuk menandingi Kirana.
"Nadia, kau punya waktu sebentar? Ada sesuatu yang harus kau lihat," ujar Rina, suaranya mengandung nada kecemasan yang tertahan.
Nadia meletakkan pulpennya. "Tentu, Rina. Masuklah. Ada apa? Apa ini soal komite baru?"
Rina duduk dan meletakkan sebuah ponsel di atas meja Nadia. Di layarnya, sebuah artikel berita dari portal hukum lokal terpampang. Judulnya tajam: “Gugatan Cerai dan Kepailitan: Kejatuhan Dinasti Wijaya.”
"Bapak Wijaya resmi mengajukan gugatan cerai pagi ini," bisik Rina. "Dia tidak hanya menceraikan Kirana, Nadia. Dia juga mengajukan perlindungan kepailitan untuk perusahaan propertinya di Jakarta, sementara seluruh aset pribadinya di luar negeri sudah bersih secara hukum. Dia meninggalkan Kirana dengan tumpukan hutang yayasan dan tanggung jawab pidana sendirian."
Nadia membaca artikel itu dengan teliti. Ia tidak terkejut, namun ada rasa sesak yang muncul saat menyadari betapa pragmatisnya dunia di balik Gerbang Mahoni itu. "Dia memotong bebannya. Persis seperti yang kuprediksikan. Dia menyelamatkan dirinya sendiri dan membiarkan Kirana tenggelam."
"Bukan itu yang paling parah," Rina menggeser foto di ponselnya. Itu adalah foto rumah Kirana di Cluster Puri Kencana. Ada garis polisi dan stempel penyitaan dari bank di gerbang mahoninya yang legendaris. "Rumah itu disita. Kirana dan Vanya diminta mengosongkan tempat itu dalam empat puluh delapan jam. Nadia, mereka tidak punya tempat tujuan. Semua keluarga Kirana sudah menjauh sejak skandal ini pecah."
Nadia bersandar di kursinya, menatap langit-langit. "Dunia yang dibangun di atas pasir memang akan runtuh saat badai datang, Rina. Tapi aku tidak menyangka Bapak Wijaya akan sekejam ini pada putrinya sendiri."
"Vanya sedang di perpustakaan sekarang," Rina menambahkan. "Aksa bersamanya. Aku melihat mereka tadi. Anak itu... dia terlihat seperti mayat hidup. Dia tahu ayahnya membuang mereka."
Nadia segera berdiri dan berjalan menuju perpustakaan sekolah. Ruangan itu sunyi, hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan gesekan lembaran buku. Di sudut paling belakang, di antara rak buku filsafat yang jarang dikunjungi, ia menemukan Aksa dan Vanya.
Vanya duduk mematung, menatap sebuah buku terbuka yang tidak dibacanya. Aksa duduk di sampingnya, memegang sebuah kotak susu kotak yang belum dibuka, seolah-olah itu adalah satu-satunya bentuk penghiburan yang bisa ia tawarkan.
"Vanya," panggil Nadia lembut.
Vanya mendongak. Matanya bengkak dan merah. "Ibu Nadia... Ayahku... dia benar-benar melakukannya. Dia pergi ke Singapura semalam tanpa mengatakannya padaku. Dia hanya mengirim pesan singkat lewat pengacaranya."
Nadia duduk di hadapan mereka, menarik kursi kayu yang berderit pelan. "Aku sudah dengar soal berita itu, Vanya. Aku sangat menyesal kau harus melalui ini."
"Kenapa, Bu?" Vanya bertanya, suaranya pecah. "Kenapa semuanya hilang begitu cepat? Rumah itu, baju-bajuku, teman-teman ibuku... mereka semua hilang seperti debu. Apakah selama ini aku hanya hidup di dalam gelembung?"
"Gelembung itu indah selama ia masih utuh, Vanya," jawab Nadia. "Tapi ia tidak memiliki fondasi. Ibumu membangun segalanya dengan citra, dan ayahmu membangun segalanya dengan transaksi. Ketika transaksi itu merugi, dia pergi. Itu bukan salahmu."
"Tapi besok aku tidak punya tempat tinggal!" Vanya mulai terisak, bahunya berguncang. "Ibuku sedang di kantor pengacara, dia terus berteriak-teriak di telepon, mencoba memanggil orang-orang yang dulu memujanya, tapi tidak ada yang mengangkat. Kami sendirian."
Aksa menoleh ke arah ibunya, matanya memohon. "Bu, kita tidak bisa membiarkan mereka di jalanan, kan? Meskipun Ibu Kirana... maksudku, Vanya tidak salah apa-apa."
Nadia terdiam sejenak. Otak strategisnya berteriak bahwa melibatkan diri lebih jauh dengan Kirana adalah risiko yang tidak perlu. Namun, nuraninya sebagai seorang ibu bicara lebih keras.
"Vanya, dengarkan aku," Nadia memegang tangan gadis itu yang dingin. "Aku punya sebuah apartemen kecil di dekat kantor lamaku. Itu tempat yang dulu aku gunakan untuk bekerja larut malam. Tidak mewah, tidak ada gerbang mahoni, dan tidak ada pelayan. Tapi itu bersih dan aman. Kau dan ibumu bisa tinggal di sana sampai situasi hukumnya jelas."
Vanya tertegun. "Anda... Anda mau membantu kami? Setelah apa yang ibuku lakukan pada Aksa? Setelah Anda yang membongkar semua rahasianya?"
"Aku membongkar rahasianya karena aku ingin kebenaran, bukan karena aku ingin melihatmu kelaparan di jalan," ujar Nadia tegas. "Keadilan sudah ditegakkan. Balas dendamku sudah selesai saat nama Aksa dibersihkan. Sekarang, ini soal kemanusiaan."
Sore harinya, Nadia menemui Kirana di sebuah kafe kecil di luar area sekolah. Pertemuan ini jauh lebih menyakitkan daripada pertemuan di kantor kemarin. Kirana tampak hancur. Ia terus--menerus mengecek ponselnya yang tetap hening.
"Wijaya menceraikanku, Nadia," ujar Kirana tanpa salam pembuka, matanya kosong menatap cangkir kopi hitamnya. "Dia mengambil semua rekening bersama. Dia bahkan membatalkan asuransi pendidikan Vanya. Dia bilang aku 'liabilitas' yang merusak portofolionya."
"Dia seorang pengecut, Kirana. Kita berdua tahu itu sekarang," balas Nadia.
"Aku meremehkanmu," Kirana terkekeh pahit, air mata jatuh ke pipinya yang tirus. "Aku pikir kau hanya kerikil. Ternyata kau adalah longsoran yang meruntuhkan gunungku. Dan sekarang, aku bahkan tidak punya atap untuk putriku."
"Kau punya apartemenku," Nadia mengulurkan sebuah kunci perak di atas meja. "Gunakan itu. Jangan anggap ini sebagai sedekah. Anggap ini sebagai pinjaman moral. Aku ingin Vanya tetap sekolah di sini sampai dia lulus. Dia punya bakat, Kirana. Jangan hancurkan masa depannya lebih dari ini."
Kirana menatap kunci itu seolah-olah itu adalah benda asing yang panas. "Kenapa kau melakukan ini? Kau seharusnya tertawa melihatku membusuk."
"Karena jika aku membiarkanmu membusuk di depan mata putrimu, maka aku tidak lebih baik dari wanita yang mencoba menghancurkan putraku dua tahun lalu," jawab Nadia dingin namun tulus. "Aku ingin Aksa melihat bahwa kekuatan yang sebenarnya bukan terletak pada kemampuan menghancurkan, tapi pada kemampuan untuk tetap menjadi manusia saat musuhmu jatuh."
Kirana menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis sesenggukan. Untuk pertama kalinya, tidak ada drama, tidak ada manipulasi, hanya seorang wanita yang menyadari bahwa seluruh hidupnya telah menjadi elegi yang salah.
Malam itu, Nadia membantu Vanya mengemasi beberapa koper pakaian di rumah megah itu sebelum petugas bank datang untuk mengunci gerbang secara permanen. Ruangan-ruangan besar yang dulu penuh dengan tawa palsu dan dekorasi mahal kini terasa hampa dan bergemuruh oleh gema langkah kaki mereka.
"Terima kasih, Bu Nadia," bisik Vanya saat mereka berdiri di depan gerbang mahoni untuk terakhir kalinya. "Aku berjanji akan membayar semua bantuan ini suatu hari nanti."
"Bayarlah dengan menjadi dirimu sendiri, Vanya," Nadia tersenyum, mengelus pipi gadis itu. "Jadilah orang yang tidak butuh gerbang mahoni untuk merasa berharga."
Saat mobil Nadia melaju meninggalkan Cluster Puri Kencana, ia melihat ke kaca spion. Gerbang mahoni itu kini tampak gelap, tidak lagi bercahaya. Penjaganya sudah pergi, penghuninya sudah terusir, dan kebohongannya sudah terungkap.
"Ibu," panggil Aksa dari kursi samping. "Apa Ibu merasa sedih untuk mereka?"
Nadia merenung sejenak, menatap jalanan Jakarta yang basah oleh sisa hujan. "Ibu merasa sedih atas waktu yang mereka buang untuk mengejar bayangan, Aksa. Tapi Ibu merasa senang karena malam ini, kita semua bisa tidur dengan hati yang bersih."
Nadia tahu, perjuangan membangun kembali integritas di The Golden Bridge masih panjang, dan mungkin Kirana akan menghadapi persidangan yang berat bulan depan. Namun, malam ini, di dalam mobil kecilnya, ia merasakan kemenangan yang paling hakiki: kemampuannya untuk mengampuni tanpa melupakan, dan kekuatannya untuk membangun dari puing-puing yang tersisa.