Cerita ini kelanjutan dari novel "Mencari kasih sayang"
Pernikahan adalah ibadah terpanjang karena dilakukan seumur hidup. Pernikahan juga disebut sebagai penyempurnaan separuh agama.
Dua insan yang telah di satukan dalam ikatan pernikahan, tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Hari memiliki rahasia yang dapat menghancurkan kepercayaan Resa. Apakah dia dapat bertahan?
Resa menemukan kebenaran tentang Hari yang telah menyembunyikan kebenaran tentang status nya. Resa merasa dikhianati dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia harus memaafkan Hari atau meninggalkannya?
Apakah cinta Resa dan Hari dapat bertahan di tengah konflik dan kebohongan? Apakah Resa dapat memaafkan Hari dan melanjutkan pernikahan mereka?
Apakah mereka akan menemukan kebahagiaan atau akan terpisah oleh kebohongan dan konfliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 jalan jalan
Setelah menimang-nimang, Resa akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah Haji Surya lebih dulu. Dia tak mungkin menunggu suaminya sedangkan di sana ada beberapa orang yang tidak bersikap baik pada dia. Selain itu, dia juga merasa tak nyaman dan canggung karena belum terlalu akrab dengan keluarga mertuanya.
Badannya saat ini juga merasa lemas, mungkin karena sakit kemarin belum benar-benar pulih. Dengan berat hati, Resa meminta izin kepada Hari untuk kembali ke rumah Haji Surya. Hari mengizinkan dengan menarik napas dalam-dalam, karena dia tahu bahwa istri nya tidak bisa duduk nyaman di sana.
Dengan menarik napas lega, Resa kembali ke rumah Haji Surya yang terasa nyaman. Meskipun sering merasakan kesepian karena tak ada kegiatan atau pun orang yang menemani nya, Resa merasa lebih tenang di sana. Haji Surya jarang mau mengobrol, dia sering menghabiskan waktunya tiduran di kamarnya sendiri sambil menonton chenel olahraga yang tayang di layar TV nya.
Resa memijat kepala nya yang terasa pening, tubuhnya selalu gemetar di kala masa-masa sulit yang ia lalui berkelebatan dalam pikiran nya. Dan itu akan terjadi kalau dia sedang di landa kecemasan yang berlebihan atau terlalu banyak pikiran.
Dia selalu banyak memendam dari dulu karena introvert nya yang menghambat dia sangat susah berbagi cerita pada orang lain. Kesendirian nya sudah menjadi hal biasa untuk dia bisa menenangkan hati dan pikirannya. Resa merasa lebih nyaman ketika dia sendirian, karena dia bisa mengontrol emosi dan pikirannya dengan lebih baik.
Dalam kesunyian, Resa bisa memproses semua pikiran dan perasaannya, dan mencari jalan keluar dari masalah yang dia hadapi. Meskipun kesendirian bisa membuatnya merasa sedih dan kesepian, tapi bagi Resa, itu adalah cara yang paling efektif untuk menenangkan dirinya dan mencari kekuatan untuk menghadapi hari-hari berikutnya.
Resa memang selalu berhati-hati bersikap dan berusaha untuk tidak menimbulkan masalah. Namun, tampaknya tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghindari gunjingan orang lain. Selalu ada orang yang suka berbicara seenak hati mereka, tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.
Resa tidak bermaksud mengeluh dengan nasibnya, tapi dia merasa sakit hati ketika mendengar gunjingan orang lain. Dia merasa bahwa orang-orang tersebut tidak memiliki hak untuk menghakimi dirinya, terutama karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya.
"Kenapa mereka harus begitu?" Resa berpikir dalam hati. "Apa yang mereka dapatkan dari menggunjingkan dirinya?" Dia tidak bisa memahami mengapa orang-orang tersebut tidak bisa membiarkan dirinya hidup dengan damai.
Resa menyelam semakin dalam dalam lamunannya, namun terganggu oleh notifikasi pesan yang berbunyi. Fokusnya teralihkan pada layar ponsel yang menyala. Entah suatu kebetulan, Hari selalu bertukar ponsel dengan Resa tanpa menggantikan kartu SIM-nya.Tangan lemas nya meraih benda pipih itu dan membuka pesan yang entah dari siapa.
Namun, matanya membulat ketika melihat nama kakak iparnya yang tertera di layar ponselnya. Dengan ragu, Resa membuka dan membaca pesan tersebut. "Hari, jangan lupa nanti sebelum balik ke rumah Haji Surya, antar kan dulu ke sini uang untuk cicilan koperasi."
Gadis itu berpikir keras dan bertanya-tanya. Cicilan? Koperasi? Dia sama sekali tak tahu apa-apa dan tak tahu apa itu koperasi karena suaminya tak pernah memberi tahu tentang apa pun. Resa merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dan dia mulai merasa curiga tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Resa berpikir bahwa tak ada lagi rahasia yang disembunyikan dari dirinya, tetapi dugaannya salah. Ternyata banyak hal yang suaminya tutupi dari dia.
Resa memutuskan untuk menunggu Hari pulang dan kemudian akan menanyakan tentang hal tersebut. Dia tidak ingin membuat kesimpulan yang salah atau membiarkan pikirannya terus-menerus memikirkan tentang pesan tersebut.
Saat Hari pulang, Resa menyambutnya dengan senyum dan langsung menanyakan tentang pesan tersebut. "A, aku ingin bertanya tentang sesuatu," kata Resa dengan nada yang santai.
Hari terlihat sedikit terkejut, tapi dia langsung meminta Resa untuk melanjutkan. "Apa itu,Ai?" tanya Hari dengan nada yang penasaran.
Resa langsung menunjukkan pesan tersebut pada Hari dan menanyakan tentang cicilan koperasi. "Apa ini, A? Cicilan koperasi? Aku tidak tahu apa-apa tentang ini," kata Resa dengan nada yang penasaran.
Pria itu gelagapan, bagaimana dia menjelaskan pada istrinya? Namun, dia mengingat bahwa istrinya yang Kuper dan tidak tahu apa-apa tentang itu. Dia mencoba memberikan alasan yang masuk akal.
Setelah berpikir beberapa saat, Hari menjawab, "Itu Ai, kemarin sempat ngambil TV untuk di rumah utama. Mungkin Thia minta aku untuk bayarin yang bulan ini, karena kita biasa beli keperluan keluarga dengan cara patungan."
Resa percaya begitu saja dan bertanya, "Oh, jadi koperasi itu semacam tempat kredit barang gitu?"
Hari melirik Resa, tak menyangka istri akan beranggapan seperti itu. Tapi, dia mengiyakan dugaan istrinya agar tak membahas berkepanjangan. "Iya,bisa dibilang gitu," jawab Hari dengan senyum yang tidak terlalu yakin.
Untuk menebus rasa bersalahnya, Hari mengajak Resa untuk jalan-jalan.
Resa tersenyum ceria dan segera bersiap-siap. Saat di perjalanan, Hari menyarankan Resa untuk pergi ke salon untuk memotong rambutnya yang terlihat panjang dan merepotkan.
"Ai, rambutmu sudah terlalu panjang. Bagaimana kalau kita potong saja?" tanya Hari dengan nada yang persuasif.
Resa terlihat sedikit ragu, tapi Hari melanjutkan, "Aku pikir itu akan membuatmu lebih nyaman dan cantik."
Resa sendiri tidak merasa bahwa rambutnya merepotkan, tapi dia tidak ingin menolak keinginan suaminya. "Baiklah, aku setuju," kata Resa dengan senyum. "Tapi ke salon khusus muslimah aja, Aku gak mau di potong rambut sama laki-laki," kata Resa dengan nada yang tegas.
Hari mencoba meyakinkan Resa. "Kenapa Ai, kan sama aja. Malah banyak di sini salon yang sudah profesional dan hasilnya sangat bagus."
Tapi Resa tidak terpengaruh. "Emangnya AA ridho aurat aku dilihat dan di pegang orang lain?" tanya Resa dengan tatapan menyelidik.
Hari tak merespon karena ucapan istri nya ada benarnya juga. Dia merasa tertampar oleh ucapannya sendiri. Dia hanya fokus menjalankan motor sport nya dan matanya mencari salon khusus muslimah seperti permintaan istrinya.
Setelah beberapa saat mencari, Hari akhirnya menemukan salon khusus muslimah yang terlihat nyaman dan bersih. Dia memarkirkan motor sport nya dan membantu Resa turun.
"Baiklah, Sayang. Kita sudah sampai. Salon ini khusus untuk muslimah, jadi kamu tidak perlu khawatir," kata Hari dengan senyum.
Resa tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih,A. Aku merasa lebih nyaman sekarang."
Hari membantu Resa masuk ke dalam salon dan menunggu di luar sambil berselancar di sosmed. Sementara itu, Resa duduk di kursi salon dan menunggu penata rambut yang akan memotong rambutnya.
Penata rambut yang cantik dan ramah datang dan menyapa Resa. "Assalamualaikum, Neng. Selamat datang di salon kami. Apa yang bisa saya bantu hari ini?"
Resa tersenyum dan menjawab, "Waalaikumsalam,Teh. Saya ingin memotong rambut. Saya ingin model yang sederhana dan mudah diatur."
Penata rambut itu mengangguk dan memulai pekerjaannya. Resa duduk santai dan menikmati proses memotong rambutnya. Sementara itu, Hari menunggu di luar dengan sabar,dan sesekali melihat ke dalam salon untuk memastikan bahwa Resa baik-baik saja.
Setelah sekitar 30 menit, penata rambut itu selesai memotong rambut Resa. Resa melihat ke cermin dan tersenyum puas dengan hasilnya. "Terima kasih, Teh. Saya sangat suka dengan hasilnya," kata Resa dengan senyum.
Penata rambut itu tersenyum dan menjawab, "Sama-sama,Neng. Semoga senang dengan hasilnya."
Setelah Resa keluar dari salon, Hari membantu Resa naik ke motor sportnya dan mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka.
Setelah beberapa saat berkendara, Hari berhenti di sebuah tempat makan yang terlihat lezat. "Kamu lapar, Ai? Kita makan dulu ya " kata Hari dengan senyum.Resa tersenyum dan mengangguk. "Boleh,A."
Setelah mereka makan, Hari membawa Resa ke tempat pusat perbelanjaan terbesar di kota Intan itu. Dengan raut wajah ceria, Resa mengikuti kemanapun suami membawanya. Namun, senyum cerianya pudar ketika dia tak sengaja bertemu dengan teman masa sekolah dulu,Rina.
Rina menyapa Resa dan bertanya dengan siapa dia di sana. "Hai, Resa! Lama tidak jumpa! Kamu di sini dengan siapa?" tanya Rina dengan nada yang penasaran.
Resa terlihat sedikit terkejut dan tidak nyaman dengan pertanyaan Rina. Dia tidak tahu harus menjawab apa, karena dia tidak ingin membicarakan tentang kehidupan pribadinya.
"Hai, Rina! Lama tidak jumpa memang," jawab Resa dengan senyum yang tidak terlalu ceria.
Resa menjawab dengan ragu, "Aku... aku di sini dengan..." Namun, ucapannya terhenti ketika Hari memanggil namanya.
Rina melirik pada sosok pria yang sedang memilihkan jaket untuk Resa. "Siapa Res, paman kamu?" tanya Rina dengan tatapan menyelidik.
Resa menggeleng. "Bukan Rin, dia suamiku," jawab Resa yang tersenyum pada Hari yang masih menunggu Resa menghampiri nya.
Rina menatap keduanya bergantian dengan tatapan tak menyangka dan disertai senyum menyeringai seolah meremehkan. Resa merasa tak nyaman dan segera menghampiri suaminya, berusaha bersikap biasa.
Hari bertanya pada Resa, "Siapa Ai?" dengan nada yang penasaran.
Resa tersenyum dan menjawab, "Teman sekolah dulu, Rina. Kami tidak pernah bertemu lagi sejak lulus sekolah."
Hari mengangguk dan tersenyum. "Oh, begitu. Senang kamu bisa bertemu lagi dengan teman lamamu."
Resa mengangguk dan membalas senyum Hari. Mereka berdua melanjutkan berbelanja, meninggalkan Rina yang masih terlihat sedikit terkejut dan tidak percaya bahwa Resa sudah menikah.
Sementara itu, Rina masih berdiri di tempat yang sama, memandang ke arah Resa dan Hari yang sudah jauh. Dia tidak bisa percaya bahwa teman sekolahnya dulu sudah menikah dengan pria yang terlihat pantas menjadi pamannya Tapi masih terlihat sangat tampan . Rina merasa penasaran tentang kehidupan Resa yang sekarang.
tapi di dunia nyata ada sih org sprti ini