Semenjak mama dan kakek meninggal, hidup Ryuna seperti kereta api tanpa rel. Memiliki papa, namun dia tak pernah mencintai mamanya dan menginginkan dirinya. Bagi papanya, hidup dengan mamanya itu hanya sebuah kecelakaan dan paksaan.
Memiliki kepribadian introvert dan pendiam. Ryuna sering kali di-bully dan dipandang remeh oleh teman-teman satu sekolahnya.
Hidup Ryuna terasa komplit.
Ya, komplit untuk semua luka dan derita.
Tapi, sikap lembut Barry padanya membuat Ryuna sering kali marah dan tak membutuhkan belas kasihannya.
Barry menegaskan bahwa dia benar-benar mencintainya. Tapi, semua lelaki di mata Ryuna sama saja. Mereka hanya sosok pria kasar yang berhati dingin.
Apakah Barry juga bersikap dingin seperti papanya suatu hari nanti? Apakah mungkin cinta yang dilontarkan Barry itu tidak semata-mata hanya untuk menjebak lalu mempermalukannya di depan semua orang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei68, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23. Keinginan Viona
Setiap embusan napas akan selalu ada alasan untuk melangkah, dan tujuanku ke sekolah untuk melihat Rafan.
"Ah senangnya." Viona tersenyum lebar.
Dia menatap jalannya yang menuntunnya untuk masuk ke pekarangan sekolah. Pagi yang cerah ini dia mengembangkan senyumannya, dihirupnya udara segar lalu mengembuskannya melalui hidung.
Saat kepalanya mendongak menatap langit, sepasang matanya menangkap dua orang berlawanan jenis tengah mengobrol di balkon gedung sekolah. Mereka terlihat berbicara serius, Viona menyipitkan matanya. Ada perihal apakah yang mereka bicarakan, dia hendak berteriak memanggil, namun dibatalkannya, mana mungkin boleh berteriak sementara dia di sekolah. Kesopanan dan tata krama sangat dihargai di sana. Bisa-bisa pak satpam malah menyeretnya keluar dari sekolah.
Viona memutuskan untuk menyusul mereka di balkon kamar. Segera dia masuk ke gedung sekolah dan menaiki anak tangga yang begitu banyak, mungkin ada 59 anak tangga yang harus dinaikinya.
“Gue jadi penasaran mereka membicarakan apa?” Ujarnya.
Karena setahunya, Ryuna tak pernah sekalipun berbicara dengan Rafan. Jangankan berbicara, menyapa saja tidak pernah.
Saat sampai di lantai dua, dia langsung berlari ke balkon. Namun, sayang tak dijumpainya siapa pun di sana. Viona mengerlingkan pandangannya mencari sosok dua orang itu, tapi tetap saja nihil.
Mungkin mereka telah selesai berbicara dan pergi. Dihelanya napas lelah, sudah terburu-buru menaiki anak tangga hasilnya malah begini.
Viona berjalan dengan gontai menuju kelasnya, apa dia benar-benar melihat mereka berbicara empat mata di balkon sekolah atau dirinya sedang berhalusinasi? Apa mungkin yang dilihatnya itu adalah orang lain? Karena akhir-akhir ini dia tak lagi mencoba mendekati Rafan sebab dirinya lelah. Rafan tak pernah meliriknya ataupun sekadar membalas senyumannya.
Setibanya di ambang pintu kelas, Viona melihat keberadaan Ryuna duduk di bangkunya sambil membaca buku novel. Sedangkan Rafan juga berada di bangkunya, tangannya sibuk membolak-balikkan halaman bukunya.
Viona menghela napas kecil, semakin hari semakin tampan saja. Begitu yang dipikirkannya, ingin menyapa tapi tak pernah dibalas menyapa juga.
“Fan, help me please.” ucap Vintaria yang tiba-tiba datang meminta bantuan pada cowok tampan itu yang meniliknya dengan heran.
“Kenapa?” Tanyanya dengan nada biasanya, dingin.
Vintaria duduk di kursi kosong di depan Rafan karena pemiliknya mungkin belum datang.
"Tentang rumus bagian ini, aku kurang paham gimana cara nyelesain soalnya. Apa lo bisa bantu?” Tanyanya.
Rafan menerima sebuah catatan yang diulurkan Vintaria, di sana tertulis beberapa rumus fisika yang cukup sulit. Dia menautkan alisnya seperti sedang berpikir lalu kemudian mengangguk kecil.
“Lo tinggal pahami saja soal ini lalu....” Rafan menjelaskannya seperti guru yang menerangkan pelajaran kepada muridnya. sesekali dia menatap Vintaria lalu kembali menunduk, melihat ke buku.
Tak lupa, Rafan memberi sebuah catatan kepada Vintaria agar bisa dihapalnya.
“Nyebelin.” Umpat Viona pelan.
Kenapa selalu aja Vintaria yang berhasil bikin Rafan berbicara, beruntung sekali dia. Vintaria memutuskan untuk berjalan saja menuju bangkunya, menghampiri Ryuna yang sedang menghayati isi novel yang dibacanya.
“Kenapa? Lo keliatan gusar.” Tanyanya. Ryuna beralih pandangan ke sampingnya, Viona hanya mengerucutkan bibirnya kesal.
“Gue rasa gue harus bisa ngelupain daripada hati gue bertambah panas.” Ungkapnya. Pandangannya lurus, sorot matanya tajam.
Ryuna menoleh ke Rafan yang sedang mengajari Vintaria dengan serius. “Gue rasa lo perlu mencari sebuah alasan kalau mau dekat sama dia,” Usulnya.
“Gimana?” tanya Viona heran.
“Belajar sama dia. Cari materi yang nggak lo ngerti lalu tanyain ke dia,” Sarannya.
“Hampir semua materi pelajaran yang nggak gue ngerti Ryuna, jadi gue nggak mau ngelakuin itu atau gue nanti di cap cewek terbodoh oleh dia.” Viona menolak usulan tersebut.
“Lupain aja kalau gitu,” Sarannya lagi.
“Gue nggak bisa, Ryu,” Ungkapnya. Viona memelas. Ryuna berdengus.
“Ya udah, terserah lo," Jawabnya. Pasrah, dia tak mau berdebat lagi. Lelah.
“Gue rasa Vintaria juga suka sama Rafan. Gue nggak bisa membiarkan ini, gue nggak mau ada saingan.” Ucapnya dengan berapi-api.
“Jangan berkelahi cuma karena lelaki.” kata Ryuna memperingatkannya.
Viona menoleh ke samping. “Gue bakal berkolaborasi sama dia secara sehat, and no bully. Oh iya, Ryu... bukannya lo tadi ada di...”
Din... din...
Bel masuk berbunyi dengan merdu membuat para murid-murid masuk ke kelas dengan teratur dan bersamaan dengan itu mulut Viona terkunci dan tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Walaupun dia mencoba untuk melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus, tetap saja dia tak bisa menyelesaikannya karena bu Minata datang dengan setumpuk kertas yang jumlahnya sebanyak murid di kelas dan sepertinya mereka hari ini akan membahas soal untuk persiapan ujian karena sebentar lagi akan ada ujian akhir semester.
“Ryu, tadi itu...” Viona mencoba kembali bertanya karena rasa penasarannya telah memuncak, tapi Ryuna malah memotong pembicaraannya.
“Diamlah,” Suruhnya.
“Ish...” Viona menggerutu pelan padahal dia hanya ingin menyampaikan pertanyaan yang masih bersarang di kepalanya.
...***...
Di lapangan setelah jam istirahat, sekumpulan para murid SMA Klaria 1 senang memperhatikan anak cowok bermain basket yang bergerak begitu lincahnya. Kini para cowok kelas XI.2 melawan tim cowok kelas Xl.5.
Mereka terlihat lebih keren membuat para kaum hawa berteriak menyemangati mereka. Terutama menyemangati teman sekelas mereka masing-masing, termasuk si Viona yang menarik paksa Ryuna agar mau menemaninya untuk menyaksikan pertandingan Rafan dan teman-temannya melawan tim cowok kelas XI.5.
“Huaah... Kak Rafan semangat!” Teriak seorang gadis berparas cantik. Dia anak kelas sepuluh.
“Dia keren ya.” kata teman sebelahnya. Dia memakai bando biru tua, cantik.
“Iya, beruntung banget gue bisa jadi pacarnya.” kata temannya yang satu lagi. Meski pipinya yang chubby, tapi dia terkesan imut.
Tiga orang cewek sedang menceritakan tentang Rafan. Bukan hanya Viona dan Vintaria saja yang mengagumi Rafan, tapi anak-anak di kelas lain ternyata juga merasakan hal yang sama.
Hal itu malah membuat Viona jengkel, semakin banyak saingan untuk bisa menarik perhatiannya Rafan. Terlebih lagi anak-anak di kelas lain juga memiliki paras yang tak kalah cantik, hal itu tentu membuat Viona minder. Tapi, tak mau mundur karena perasaannya yang telah melambung tinggi hanya kepada Rafan.
“Saingan gue semakin bertambah Ryu.” Bisik Viona pada sahabatnya, Ryuna yang terlihat tenang menyaksikan permainan basket.
“Lupain aja,” Sarannya lagi. Dia tampak tak bersemangat lagi untuk membahas perihal itu.
Hanya kata itulah yang bisa diucapkan oleh seorang Ryuna. Matanya terus menatap ke lapangan mengabaikan ekspresi Viona yang kini terlihat kesal.
“Bagi lo mudah Ryu, tapi nggak gue. Perasaan gue ini sudah lebih terhadapnya...”
“Makanya jangan terlalu suka atau lo bakal dapetin akibatnya, kekecewaan.” ucap Ryuna datar.
Dia berkata seperti itu karena rasa sukanya kepada laki-laki itu belum juga terhapus sepenuhnya, di raut wajahnya mungkin biasa tapi tidak dengan hatinya yang selalu ingin bertemu dengan sosok Dewa yang akhir-akhir ini dirindukannya.
Sayang sekali, kenapa aku merindukan jodoh orang lain? Bodoh. Batin Ryuna. Dia menghela napas kecil, mencoba untuk melupakannya.
Diliriknya Viona yang kini sudah diam, dia tetap terfokus pada pertandingan hingga akhirnya muncullah kabar jika tim Rafan memenangkan Permainan basket.
"Yeaah!" Suara Viona kembali terdengar. Sifat anggun sepertinya tidak cocok padanya.
Tentu saja bukan hanya Viona yang berteriak senang. Siapa saja yang mendukung Rafan berteriak kegirangan, terutama pada Viona yang berteriak dengan semangat, melupakan kekecewaannya yang baru saja mengurung senyumnya.
“Semangat Rafan!” Teriak Viona dengan senyum merekah.
Sementara di tengah lapangan sana Barry tersenyum pada Ryuna yang secara tak sengaja juga menatapnya. Tak ingin membuat cowok itu kecewa lagi, dia hanya bisa membalas senyuman itu meski terkesan kikuk.
Bagiku kedamaian adalah jawabannya sekarang meski tetap hatiku merasa kesepian karena bukan orang yang aku rindukan yang ada di sana. Begitu pikirnya. Ryuna bertepuk tangan di saat semua pendukung mereka bertepuk tangan dengan semangat.
...***...
“Lo keren, gue suka,” Ucapnya. Viona mengacungkan kedua jempolnya memberi pujian pada Rafan yang kini sudah berada didekatnya.
Setelah pembubaran permainan basket, Barry dan dua temannya beristirahat di bawah pohon sembari menyeka keringatnya. Tak lama setelah itu datanglah dua orang cewek yang berbeda sikap menyapa mereka. Tentu saja Viona yang memaksa Ryuna untuk menghampiri ketiga laki-laki tampan itu.
Rafan enggan membalas pujian itu dan hanya mengulas senyum tipis. Sepertinya dia mulai berubah setidaknya hanya tidak bersikap dingin lagi. Tentu saja hal itu membuat Viona terkejut terkejut.
“Apa? Lo... lo baru aja tersenyum sama gue meski tersenyum tipis? Oh my....” Viona melambaikan tangannya karena tersipu.
“Jangan bucin,” Ejek Barry. Dia meletakkan keduanya tangannya di pinggang, matanya menyapu keadaan sekitar kemudian berhenti di salah satu pemandangan cantik. Siapa lagi kalau bukan Ryuna?
“Bukan bucin. Gue itu lagi mengekspresikan rasa senang gue,” Selanya. Viona tersenyum manis pada Rafan yang mengusap tengkuknya.
Sementara Barry tersenyum khasnya pada Ryuna, kali ini dengan hal yang tak terduga pula. Cewek itu membalas senyumannya. Tentu saja dia terkejut karena senyumannya dibalas.
“Aku senang kamu membalas senyumku, Ryuna.” Ungkap Barry yang saat ini hanya bisa mengekspresikan rasa senangnya melalui wajahnya yang berseri.
“Ah, sekarang lo yang jadi bucin. Memang dasarnya lo itu bucin ya? Haha....” Viona melambaikan tangannya, dia menatap datar.
"Terserah apa kata lo, jangan ngajak gue gelut ya, nggak sempat,” Ketusnya. Barry melengos.
“Ish, memangnya lo pikir gue mau gitu kelahi bareng lo?” Bantah Viona.
Barry hendak protes lagi, namun dilerai oleh Lucio yang sedari tadi hanya diam.
“Jangan seperti anak kecil. Buat apa ribut-ribut hanya perihal kecil aja." kata Lucio, menengahi mereka.
“Sok iya lo, Cio.” Protes Viona bersedekap dada dan menjauh dari Barry. Begitu juga dengan Barry, dia memilih berdiri di samping Rafan.
“Kita kembali ke kelas aja yuk, bentar lagi bunyi bel masuk.” Ajak Rafan yang berjalan mendahului mereka.
Ryuna, Viona, Barry dan Lucio hanya mengikutinya. Masuk kembali ke gedung sekolah, sesekali para penggemar cowok tampan itu disapa oleh cewek-cewek yang mayoritas teman seperjuangan dan kakak kelas yang parasnya lumayan cantik.
Melihat ketenaran Barry dan dua temannya, membuat dua cewek yang bersama mereka ini ikut tersorot. Siapakah mereka yang bisa dekat dengan tiga cowok tampan itu?
Di sisi lain, sorot mata tajam dari seorang cewek misterius menyeringai kecil, tatapan matanya saja terlihat tidak menyukai keberadaan Ryuna dan Viona yang terselip di antara mereka. Bibirnya mencebik kemudian pergi begitu saja dari persembunyiannya.
Terima kasih
semangat dan sukses selalu ya
jgn lupa mmapir ya 🤗😍
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
sukses iya kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karya pertamaku yang menceritakan tentang cowok letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
salam damai dari keturunan raja