NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Berlutut

"Bu Fenny," katanya pelan, "sekarang giliranku."

Satu jam kemudian, sepuluh mobil hitam berhenti berurutan di depan Rumah Besar Sutanto.

Gerbang besi yang biasanya membuat Keira merasa kecil, malam itu terbuka sebelum ia menyentuh bel. Pengawal Liem turun lebih dulu, semuanya berjas gelap, langkah mereka rapi dan tenang. Tidak ada yang berteriak. Justru karena terlalu tenang, para pelayan di halaman langsung berhenti bekerja.

Keira turun dari mobil terakhir.

Ia tidak memakai gaun pesta. Tidak juga pakaian kantor. Hanya kemeja putih, celana hitam, rambut diikat rendah, dan plester baru di punggung tangan. Di tangannya ada map tipis berisi foto, tangkapan layar, dan rekaman suara dari ponsel preman yang sempat diamankan pengawal.

Rumah itu pernah membuatnya menunduk.

Malam ini, rumah itu membuka jalan.

Pelayan tua yang berjaga di pintu utama pucat. "Nyonya Keira..."

"Jangan panggil aku nyonya," kata Keira. "Aku bukan bagian dari rumah ini lagi."

Ia masuk.

Ruang tamu sedang ramai oleh kepanikan kecil. Sherly berdiri dari sofa dengan wajah kesal, masih mengenakan pakaian rumah mahal. Bu Fenny muncul dari arah tangga, alisnya mengerut saat melihat rombongan pengawal.

"Apa-apaan ini?" bentaknya. "Kau pikir rumah keluarga Sutanto bisa dimasuki preman?"

Keira berhenti di tengah ruang tamu. Sepuluh pengawal berdiri di belakangnya, membentuk garis yang membuat seluruh ruangan terasa lebih sempit.

"Preman?" Keira tersenyum tipis. "Menarik. Aku baru saja bertemu beberapa orang seperti itu pagi ini."

Wajah Sherly berubah.

Sangat cepat, tetapi cukup bagi Keira.

Bu Fenny tetap mengangkat dagu. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Keluar dari rumahku sebelum aku memanggil polisi."

"Panggil." Keira melempar map ke meja. Foto-foto lima pria di gang tersebar. Ada foto pipa besi, helm, ponsel, dan tangkapan layar pesan. "Aku juga ingin mendengar bagaimana Ibu menjelaskan pesan ini."

Sherly mengambil satu foto, lalu wajahnya pucat.

Bu Fenny tidak menyentuh apa pun. "Bukti palsu."

"Belum melihat sudah bilang palsu?"

"Karena kau selalu mencari cara memfitnah keluarga ini."

Keira menatapnya lama. "Tiga tahun aku diam, Bu Fenny. Kalau aku memang suka memfitnah, seharusnya arisan Ibu sudah bubar sejak lama."

Para pelayan yang berdiri di sudut menunduk lebih dalam. Mereka tahu sebagian besar cerita itu benar.

Sherly melempar foto ke meja. "Kau datang membawa pengawal untuk menakuti kami? Jangan lupa, ini rumah Sutanto."

"Justru karena ini rumah Sutanto, aku datang."

Keira memberi isyarat.

Dua pengawal maju, membawa salah satu preman yang tadi tertangkap. Wajah pria itu lebam, tangannya diikat kabel plastik, tetapi ia masih sadar. Begitu melihat Bu Fenny, matanya langsung bergerak menghindar.

Bu Fenny melangkah mundur setengah langkah.

"Kau kenal dia?" tanya Keira.

"Tidak."

Keira menunduk kepada pria itu. "Siapa yang menyuruhmu?"

Pria itu menelan ludah. "Saya tidak tahu namanya."

Satu pengawal memutar rekaman suara dari ponsel.

Suara Bu Fenny terdengar jelas, meski rendah.

Aku butuh orang. Bukan untuk membunuh. Cukup buat dia kapok keluar rumah dengan wajah utuh.

Ruangan membeku.

Sherly menjatuhkan foto di tangannya.

Bu Fenny memucat, tetapi mulutnya masih keras. "Itu bukan suaraku."

Keira menatapnya dengan tenang. "Kalau begitu kita serahkan ke ahli forensik suara. Sekalian laporan percobaan penganiayaan berencana. Aku yakin polisi senang menerima bukti yang rapi."

"Kau berani mengancamku?"

"Tidak." Keira melangkah mendekat. "Aku hanya memberi tahu konsekuensi."

Map di meja tetap terbuka, seperti surat dakwaan kecil yang diam-diam menunggu tanda tangan.

Sherly tiba-tiba berteriak, "Semua ini karena kau! Kalau kau tidak mempermalukanku di pesta, Mama tidak akan..."

Ia berhenti.

Terlambat.

Keira menoleh kepadanya. "Mama tidak akan apa?"

Sherly menggigit bibir. Air mata marah mulai menggenang. "Aku tidak bilang apa-apa."

"Berlutut."

Satu kata itu membuat seluruh ruang tamu terdiam lagi.

Sherly membelalak. "Apa?"

Keira menatapnya. "Berlutut."

Bu Fenny maju. "Jangan kurang ajar! Sherly putri keluarga Sutanto."

"Dan aku pernah berdiri di halaman rumah ini di bawah hujan karena sup Rayhan kurang panas." Suara Keira tetap rendah. "Aku pernah dipaksa minta maaf atas gelang yang tidak kucuri. Aku pernah dicaci anak panti di depan tamu. Tiga tahun kalian menginjakku. Sekarang, berlutut."

Sherly menggeleng keras. "Tidak!"

Keira mengangkat ponsel. "Aku bisa mengirim rekaman ini ke polisi dan ke semua grup media sekarang. Dalam sepuluh menit, berita keluarga Sutanto menyewa preman untuk merusak wajah mantan menantu akan menjadi judul utama."

Bu Fenny meraih sandaran sofa untuk menahan tubuhnya.

Sherly menatap ibunya, berharap dibela. Namun Bu Fenny hanya menatap rekaman itu dengan wajah kaku.

"Mama..." suara Sherly pecah.

Keira tidak menurunkan ponsel.

Pelan-pelan, lutut Sherly menyentuh lantai.

Suara kecil itu terdengar jelas di ruang tamu.

Keira menatapnya tanpa berkedip.

Tidak ada kebahagiaan liar di dadanya. Yang ada hanya rasa keadilan yang terlambat datang.

"Ambil ponsel itu," kata Keira.

Sherly mengangkat wajah. "Apa lagi yang kau mau?"

"Baca pesannya."

"Tidak."

Keira menurunkan ponselnya sedikit, memperlihatkan tombol kirim yang sudah membuka kontak pengacara dan nomor darurat. "Aku tidak memohon."

Sherly menatap Bu Fenny, tetapi ibunya hanya membeku. Pada akhirnya, Sherly mengambil ponsel preman itu dengan tangan gemetar.

Suaranya nyaris tidak terdengar saat mulai membaca, "Target keluar dari vila. Pastikan wajahnya hancur."

"Lebih keras," kata Keira.

Sherly menggigit bibir sampai pucat. "Target keluar dari vila. Pastikan wajahnya hancur."

Para pelayan di sudut ruang tamu saling pandang. Salah satunya menunduk cepat, air mata menumpuk di matanya. Ia pernah membantu Keira mengeringkan rambut setelah malam hujan itu, tetapi terlalu takut melawan Bu Fenny.

Keira melihatnya, lalu kembali kepada Sherly.

"Sekarang katakan apa yang pernah kau panggil aku di rumah ini."

"Keira, jangan keterlaluan," desis Bu Fenny.

"Keterlaluan?" Keira menatapnya. "Ibu menyewa orang untuk menghancurkan wajahku. Aku hanya meminta putrimu mengulang kata-kata yang dulu ia ucapkan dengan bangga."

Sherly menangis lebih keras. "Aku pernah memanggilmu perempuan panti, pembawa sial, menantu gratisan."

"Dan?"

"Dan aku pernah menyuruh pelayan tidak memberimu makan malam kalau kau membantah Mama."

Kalimat itu membuat ruang tamu benar-benar sunyi.

Untuk pertama kalinya, beberapa pelayan berani mengangkat wajah. Mereka tidak bicara, tetapi tatapan mereka cukup menjadi saksi.

"Minta maaf," katanya.

Sherly menangis karena malu. "Maaf."

"Untuk apa?"

"Untuk..." Sherly menggenggam roknya. "Untuk semua yang pernah kukatakan."

"Dan untuk rencana pagi ini."

Sherly menutup mata. "Untuk rencana pagi ini."

Bu Fenny menoleh tajam. "Sherly!"

"Diam, Ma!" Sherly akhirnya meledak. "Mama yang menelepon mereka!"

Kebenaran itu keluar dengan cara paling buruk.

Pada saat yang sama, pintu utama terbuka.

Rayhan masuk.

Ia masih mengenakan kemeja kerja, wajahnya tampak lelah, tetapi langkahnya berhenti ketika melihat Sherly berlutut, Bu Fenny pucat, dan Keira berdiri di tengah ruang tamu dengan sepuluh pengawal di belakangnya.

"Apa yang terjadi?" tanyanya.

Bu Fenny seperti melihat penyelamat. "Rayhan! Lihat perempuan ini. Dia membawa orang masuk dan memaksa adikmu berlutut!"

Sherly menangis lebih keras. "Koh..."

Rayhan menatap Keira.

Dulu, tatapan seperti itu cukup membuat Keira menjelaskan dengan tergesa, takut ia salah paham.

Malam ini, Keira hanya menunjuk meja.

"Baca."

Rayhan mengambil foto dan melihat layar ponsel yang masih menampilkan pesan. Lalu pengawal memutar ulang rekaman suara.

Suara Bu Fenny memenuhi ruangan untuk kedua kalinya.

Wajah Rayhan berubah pelan. Bukan marah kepada Keira. Bukan juga bingung. Kali ini, kemarahannya bergerak ke arah lain.

"Mama," katanya rendah.

Bu Fenny mundur. "Itu tidak seperti yang kau pikirkan."

"Mama menyuruh orang menyerang Keira?"

"Mama hanya ingin memberi pelajaran. Dia sudah menghancurkan wajah keluarga kita!"

Rayhan menutup mata sebentar, seolah menahan sesuatu yang berat. Ketika membukanya lagi, suaranya lebih dingin.

"Sherly tetap berlutut sampai Keira menyuruhnya berdiri."

Sherly tersentak. "Koh!"

Keira menatap Rayhan.

Untuk pertama kalinya, pria itu tidak berdiri di depan keluarganya untuk melindungi mereka dari akibat perbuatan sendiri. Ia berdiri di samping kebenaran, meski terlambat.

Sedikit.

Hanya sedikit, Keira merasa ia terlihat seperti laki-laki yang seharusnya sejak dulu ada.

Namun rasa itu segera ia kubur.

"Tidak perlu," kata Keira. "Aku tidak datang untuk menikmati orang berlutut terlalu lama. Aku datang agar kalian ingat, aku bukan lagi perempuan yang bisa kalian injak."

Sherly langsung berdiri dengan kaki gemetar.

Keira mengambil kembali ponselnya. "Bukti ini tetap kusimpan. Kalau ada serangan kedua, aku tidak akan datang membawa pengawal. Aku akan datang membawa polisi."

Bu Fenny menggertakkan gigi. "Kau..."

"Cukup, Ma," potong Rayhan.

Bu Fenny terdiam karena nada itu.

Keira berbalik hendak pergi.

Rayhan memanggil, "Keira."

Ia berhenti, tetapi tidak menoleh.

"Tanganmu," kata Rayhan pelan. "Terluka?"

Keira melihat plester di punggung tangannya.

Pertanyaan itu masih terlambat.

"Bukan urusanmu."

Ia berjalan keluar bersama pengawal.

Di halaman, udara malam terasa lebih ringan. Namun sebelum masuk mobil, Keira mendengar suara Rayhan dari dalam rumah, rendah tetapi tajam.

"Mama, kalau kau menyentuh Keira sekali lagi, aku sendiri yang akan menyerahkan bukti itu ke polisi."

Keira berhenti setengah detik.

Lalu ia masuk ke mobil.

Ketika gerbang Sutanto tertutup di belakangnya, ia melihat rumah itu dari kaca gelap dan berbisik, "Ini baru permulaan."

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!