NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Gala Dinner

Rayhan tidak langsung membawa Senja pulang.

Setelah mobil keluar dari hotel, dia meminta sopir berbelok ke arah SCBD. Senja duduk di kursi belakang, jas Rayhan masih menutupi bahunya. Dia sempat ingin mengembalikannya, tetapi Rayhan sedang menatap ponsel, wajahnya dingin, seolah pria yang tadi menyampirkan jas di depan banyak orang hanyalah bayangan singkat yang lewat.

"Kita ke mana?" tanya Senja.

"Wijaya Tower."

"Aku ikut?"

"Kamu sudah di mobil."

Senja menatapnya. "Maksudku, kenapa?"

"Ada dokumen yang harus kutandatangani. Setelah itu pulang."

Jawaban itu terdengar seperti keputusan final. Namun beberapa menit kemudian, Rayhan menambahkan, "Kamu bisa menunggu di lounge eksekutif. Lebih tenang daripada lobby hotel tadi."

Senja menunduk pada jas di bahunya. "Aku tidak bilang lobby tadi tidak tenang."

"Wajahmu bilang."

Dia tidak punya jawaban untuk itu.

Di Wijaya Tower, pegawai resepsionis kembali menyambut dengan sangat sopan. Kali ini tatapan mereka tidak hanya berhenti pada Rayhan, tetapi juga pada jas yang masih menutupi bahu Senja. Bisik-bisik tidak terdengar, namun Senja bisa merasakan berita kecil itu akan lebih cepat naik lift daripada mereka.

Lift eksekutif sedang dipakai untuk tamu direksi, jadi seorang staf mengarahkan mereka ke lift privat sisi lain yang kebetulan diisi beberapa investor asing dan dua pria lokal bersetelan mahal.

Rayhan jelas tidak senang, tetapi tetap masuk.

Senja berdiri di sisi kiri lift, dekat dinding kaca buram. Jas Rayhan terlalu besar untuk tubuhnya, membuat gaun hijaunya hanya terlihat sebagian. Saat lift naik, salah satu pria lokal terus melirik ke arahnya melalui pantulan pintu baja.

Awalnya Senja mengira dia salah lihat.

Lalu tatapan itu turun ke bahunya, ke lekuk gaun yang tertutup sebagian jas, lalu kembali ke wajahnya.

Senja menegang.

Rayhan yang sedang membaca pesan di ponsel tiba-tiba mematikan layar.

Dia bergeser setengah langkah.

Gerakan itu kecil, tetapi cukup untuk menutup seluruh pandangan pria itu ke arah Senja. Tubuh Rayhan berdiri di antara mereka, bahunya menjadi dinding yang dingin dan tegas.

Lift masih naik.

Tidak ada suara.

Pria itu cepat mengalihkan pandangan ke angka lantai.

Senja menatap punggung Rayhan.

Dia tidak mengatakan apa pun. Tidak menoleh. Tidak bertanya apakah Senja tidak nyaman. Namun dia tahu. Dan dia bergerak sebelum Senja harus meminta.

Ketika pintu lift terbuka di lantai empat puluh dua, Rayhan keluar lebih dulu, lalu menahan pintu dengan tangan.

"Jalan."

Senja keluar.

Di koridor eksekutif yang sunyi, dia akhirnya berkata, "Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Di lift."

"Lift penuh."

"Tidak sepenuh itu."

Rayhan menatapnya sebentar. "Pria itu tidak sopan."

"Kamu melihat?"

"Aku tidak buta."

Senja memeluk jas di bahunya sedikit lebih erat. "Aku juga bisa mengurus tatapan seperti itu."

"Aku tidak bilang kamu tidak bisa."

"Tapi kamu tetap berdiri di depan."

"Karena aku bisa."

Jawaban itu sederhana, terlalu sederhana, dan membuat Senja tidak tahu harus meletakkan rasa hangat yang naik di dadanya.

Lounge eksekutif Wijaya Tower jauh lebih tenang daripada lobby hotel. Ada sofa abu-abu, rak buku bisnis, mesin kopi yang tidak boleh disentuh Senja karena Tante Lian, dan jendela besar yang memperlihatkan Jakarta siang hari.

Rayhan meninggalkannya di sana selama dua puluh menit.

Senja menghabiskan waktu dengan membaca brosur klinik anak dari charity luncheon tadi. Dia memotret halaman program pemeriksaan, lalu mengirimkannya kepada Lara.

Senja: Menurutmu, sanggar bisa bikin pertunjukan kecil untuk donasi?

Lara: Kamu baru jadi Nyonya Wijaya seminggu sudah mau bikin proyek sosial?

Senja: Bukan proyek sosial. Mungkin pertunjukan kecil.

Lara: Tanya Ko Jefri. Tapi aku suka idenya.

Senja tersenyum.

Untuk pertama kalinya, status Nyonya Wijaya tidak terasa hanya seperti ruang sempit. Mungkin, jika dia cukup hati-hati, status itu bisa menjadi pintu untuk hal yang benar-benar dia pilih.

Rayhan kembali dengan seorang asisten yang membawa map. Dia melihat brosur di tangan Senja.

"Masih soal klinik?"

"Aku berpikir, mungkin sanggar bisa membuat pertunjukan kecil untuk donasi pemeriksaan anak."

"Butuh sponsor?"

Senja langsung menatapnya. "Aku baru berpikir."

"Berpikir biasanya butuh angka."

"Aku tidak sedang meminta uangmu."

"Aku tidak bilang kamu meminta."

Senja menutup brosur. "Aku ingin tahu dulu apakah Ko Jefri setuju. Kalau langsung memakai nama Wijaya, semuanya jadi besar dan orang lupa tujuannya."

Rayhan memperhatikannya beberapa detik.

"Kalau kamu butuh ruang, Gedung Kesenian Jakarta punya program kemitraan."

Senja terkejut. "Kamu tahu?"

"Wijaya Group pernah jadi sponsor renovasi sistem lampu mereka."

"Oh."

"Aku bisa memberi kontak. Tanpa memakai nama Wijaya di depan."

Senja menatapnya, memastikan dia tidak salah dengar. "Kamu mau membantuku tanpa mengambil alih?"

Rayhan diam sebentar. "Kamu yang bilang tidak ingin hidupmu lebih sempit."

Kalimat itu mengembalikan percakapan semalam ke antara mereka.

Senja menunduk, tersenyum kecil. "Aku akan pikirkan."

"Pikirkan setelah makan."

"Rayhan."

"Aku hanya mengingatkan."

"Seperti Tante Lian."

"Jangan mulai."

Kali ini, tawa Senja terdengar lebih jelas. Asisten yang berdiri di belakang Rayhan tampak terkejut, mungkin karena jarang melihat seseorang tertawa kepada Pak Wijaya tanpa kehilangan pekerjaan.

Sore itu, ketika mereka pulang, sebuah undangan sudah menunggu di Wijaya Mansion.

Di dalam mobil, Senja akhirnya melepas jas dari bahunya dan melipatnya hati-hati.

"Ini," katanya, menyodorkan jas itu.

Rayhan melihatnya sekilas. "Pakai sampai rumah."

"Kita sudah di mobil."

"AC mobil dingin."

"Aku tidak sedingin itu."

"Kamu selalu bilang begitu sebelum tanganmu seperti es."

Senja terdiam karena kalimat itu terlalu tepat.

Dia menarik kembali jas itu, tetapi tidak langsung memakainya. "Kamu memperhatikan tanganku?"

Rayhan menatap layar ponsel. "Sulit tidak memperhatikan kalau kamu sering menggenggam sesuatu sampai buku jarimu putih."

Senja menunduk pada jemarinya sendiri.

Selama ini, dia mengira kebiasaan itu hanya terlihat olehnya.

"Aku tidak sadar," katanya.

"Mulai sadar."

Tidak lembut. Namun tidak juga melukai.

Senja menyampirkan jas itu lagi di bahunya sampai mobil masuk ke halaman Wijaya Mansion.

Amplop tebal warna ivory diletakkan di atas meja foyer. Huruf emas di depannya menulis nama Rayhan Wijaya dan Senja Wijaya.

Pak Hadi menyerahkannya kepada Rayhan.

"Undangan gala dinner dari Dewan Kesenian Jakarta, Tuan muda. Minggu depan."

Senja yang berdiri di sampingnya langsung mengangkat wajah.

Dewan Kesenian Jakarta.

Nama itu terkait langsung dengan dunia tari, sponsor, panggung, dan semua orang yang selama ini memandangnya hanya sebagai istri muda keluarga Wijaya.

Rayhan membuka amplop dan membaca cepat.

"Kamu ingin datang?" tanyanya.

Senja menatap undangan itu. "Aku... seharusnya datang. Ko Jefri mungkin juga diundang."

"Kalau begitu kita datang."

Sederhana.

Seolah keputusan sebesar itu hanya soal memilih rute pulang.

Senja menerima kartu undangan dari tangannya. Di bagian bawah tertulis dress code: formal evening.

Dia belum tahu bahwa gala dinner itu akan menjadi panggung berikutnya bagi Serena dan para perempuan yang ingin melihatnya jatuh.

Untuk saat ini, yang dia tahu hanya satu hal: Rayhan tidak bertanya apakah dia pantas datang.

Dia bertanya apakah dia ingin datang.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!