NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 009

Surat Cinta

Dan sampai Sekar benar-benar berdiri di depan pagar rumah Oma Lien, Kevin tidak melepaskan tangannya.

Setelah itu, Kevin pulang dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.

Sekar berdiri di balik pagar, menatap motor hitam yang menjauh di bawah gerimis tipis. Telapak tangannya masih hangat. Di sela-sela jarinya, seolah masih ada bentuk jari Kevin yang menggenggamnya.

Ia baru masuk rumah ketika Oma Lien memanggil dari ruang tengah.

"Sekar, kenapa berdiri lama di depan? Hujan-hujan begitu."

Sekar cepat-cepat melepas sepatu. "Nggak apa-apa, Oma."

Oma Lien menatapnya dari balik kacamata baca. Matanya turun ke pipi Sekar yang merah, lalu ke tangan yang sejak tadi disembunyikan di balik tas.

"Diantar teman?"

Sekar hampir tersedak napas sendiri.

"Teman sekolah."

"Laki-laki?"

Sekar diam terlalu lama.

Oma Lien tidak marah. Ia hanya tersenyum kecil, lalu kembali melipat koran di pangkuannya. "Kalau teman baik, kapan-kapan ajak masuk. Oma buatkan bakpao."

Bakpao.

Sekar tiba-tiba membayangkan Kevin duduk kaku di ruang tengah, menerima bakpao dari Oma Lien dengan kedua tangan, tidak tahu harus bersikap seperti apa. Bayangan itu membuat hatinya lembut.

"Nanti," jawabnya pelan.

Malam itu, Sekar tidur sambil memegang tangan kanannya sendiri.

Di tempat lain, Kevin tidak tidur sama sekali.

Kamar kosnya sempit, hanya cukup untuk satu ranjang, meja kecil, lemari plastik, dan gantungan jaket di belakang pintu. Dari jendela, lampu jalan masuk sebagai garis kuning pucat di lantai. Di atas meja, ada buku tulis murah yang dibelinya dari toko alat tulis setelah mengantar Sekar pulang.

Buku itu sudah penuh sobekan kertas.

Kevin duduk membungkuk, pulpen di tangan, rambut biru berantakan karena terlalu sering ia usap ke belakang. Di lantai, bola-bola kertas berserakan seperti bukti kekalahan.

Ia sudah menulis sejak sore.

Lebih tepatnya, ia mencoba menulis.

Kalimat pertama terlalu kaku. Kalimat kedua terdengar seperti pesan ancaman. Kalimat ketiga membuatnya sendiri ingin merobek halaman.

"Gue suka lo."

Kevin menatap tiga kata itu lama-lama.

Terlalu pendek.

Ia mencoret.

"Lo mau jadi pacar gue?"

Terlalu mendadak.

Ia mencoret lagi.

"Sekar, sejak lo datang, hidup gue jadi..."

Kevin berhenti. Tangannya menggantung di atas kertas.

Jadi apa?

Lebih ramai. Lebih ribet. Lebih berbahaya karena ia mulai memikirkan seseorang saat menyeberang jalan, saat makan, saat menyalakan motor, saat melihat puding karamel di etalase kantin.

Lebih hangat.

Kata itu membuat dadanya terasa aneh.

Kevin menjatuhkan pulpen dan menutup wajah dengan kedua tangan.

Ada ketukan di pintu.

"Bro, lo hidup?" suara Bryan terdengar dari luar.

Kevin mengangkat kepala. "Pergi."

Pintu terbuka sedikit. Bryan memasukkan kepala tanpa rasa bersalah. "Kalau lo bilang pergi, biasanya artinya masuk tapi jangan banyak ngomong."

"Gue bisa tendang lo keluar."

"Bisa, tapi sebelum itu gue mau lihat kenapa saudara angkat gue yang biasanya cuma nulis contekan bengkel tiba-tiba beli buku baru."

Bryan masuk, lalu langsung melihat lantai.

Matanya membesar.

"Astaga. Ini apa? Lo bikin skripsi?"

Kevin meraih bola kertas terdekat dan melemparnya. Bryan menghindar sambil tertawa.

"Surat cinta?"

"Diam."

"Benar surat cinta?"

Kevin tidak menjawab.

Itu jawaban yang cukup.

Bryan duduk di tepi ranjang, wajahnya berubah dari mengejek menjadi tertarik sungguhan. "Buat Sekar?"

Kevin mengambil pulpen lagi. "Menurut lo buat siapa?"

"Kalau buat gue, gue pindah kos malam ini."

"Keluar."

"Oke, oke." Bryan mengangkat kedua tangan, tetapi tidak bergerak pergi. "Lo mau nulis apa?"

Kevin menatap kertas kosong. "Nggak tahu."

Bryan terdiam sebentar. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak bercanda.

"Tulis yang paling benar aja."

"Apa?"

"Yang kalau nggak lo tulis sekarang, besok lo nyesel."

Kevin memegang pulpen lebih erat.

Menyesal.

Ia belum tahu bahwa di kehidupan lain, penyesalan akan menjadi kuburan panjang bagi dirinya. Ia belum tahu bahwa gadis bernama Sekar itu sudah datang dari masa depan yang hancur. Tetapi entah kenapa, setiap kali melihat Sekar tersenyum, Kevin merasa jika ia melepas terlalu lama, sesuatu akan merenggutnya dari dunia.

Perasaan itu membuatnya takut.

Dan Kevin benci takut.

Bryan berdiri. "Gue beli mi instan. Jangan mati sebelum suratnya selesai."

Setelah Bryan pergi, kamar kembali sunyi.

Kevin menulis lagi.

Kali ini, ia tidak mencoba membuat kalimat indah. Ia menulis seperti caranya berbicara. Pendek, canggung, sedikit kasar di tepi, tetapi tidak bohong.

Lewat tengah malam, ia akhirnya berhenti.

Di kertas putih yang sudah agak kusut karena terlalu sering disentuh, hanya ada tiga kalimat.

Kevin membacanya sekali.

Lalu dua kali.

Lalu ia melipat kertas itu sebelum keberaniannya habis.

Keesokan paginya, Sekar menemukan sesuatu di dalam buku latihan matematika sampul biru gelap.

Ia sedang membuka halaman pertama ketika selembar kertas terlipat jatuh ke atas meja. Tulisan di bagian depan hanya satu kata.

Sekar.

Tulisan itu miring. Tekanannya terlalu kuat sampai hampir menembus kertas. Sekar langsung tahu siapa pemiliknya.

Jantungnya mulai berlari.

Yola yang duduk di sebelahnya langsung mendekat. "Apa itu?"

Sekar cepat menutup kertas dengan telapak tangan. "Bukan apa-apa."

"Kalau bukan apa-apa, kenapa muka lo seperti habis menang undian?"

Sekar tidak menjawab. Ia berdiri begitu bel istirahat berbunyi, membawa buku itu ke koridor belakang yang lebih sepi. Tangannya gemetar saat membuka lipatan kertas.

Di sana, tiga kalimat menunggunya.

Sekar,

Gue nggak pandai ngomong, jadi gue tulis.

Gue suka lo, lebih dari yang bisa gue jelasin.

Kalau lo mau, jadi pacar gue.

Sekar membaca sekali.

Dua kali.

Pada bacaan ketiga, matanya mulai panas.

Pada bacaan keempat, ia tertawa kecil sambil menutup mulut.

Pada bacaan kelima, ia menekan kertas itu ke dada.

Tiga kalimat.

Hanya tiga kalimat, tanpa bunga, tanpa perumpamaan, tanpa janji panjang. Tetapi bagi Sekar, itu lebih berharga dari semua kata manis yang pernah ia dengar dari siapa pun.

Karena Kevin menulisnya.

Karena di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah sempat menerima satu pun pengakuan darinya.

Karena kali ini, Kevin tidak menunggu sampai makam dan hujan untuk mencintainya diam-diam.

"Sekar."

Suara itu membuatnya menoleh.

Kevin berdiri beberapa langkah darinya, satu tangan di saku celana, wajahnya terlihat lebih tegang daripada saat menghadapi pemuda di tempat biliar. Bryan mengintip dari ujung koridor, tetapi begitu Kevin menoleh, ia pura-pura melihat poster kebersihan.

Sekar menggenggam surat itu.

"Kamu taruh di bukuku?"

"Iya."

"Kapan?"

"Tadi pagi."

"Kamu masuk kelasku?"

"Yola yang taruh."

Dari kejauhan, Yola tiba-tiba batuk keras, jelas ketahuan.

Sekar hampir tertawa, tetapi matanya masih basah.

Kevin melihat air mata itu dan langsung menegang. "Lo nangis?"

"Nggak."

"Kertasnya jelek?"

"Nggak."

"Tulisannya nggak kebaca?"

"Kebaca."

"Terus kenapa?"

Sekar melangkah mendekat. Setiap langkah membuat jantung Kevin terlihat makin tidak tenang. Ia mungkin bisa melawan siapa pun, tetapi menghadapi Sekar dengan surat di tangan membuatnya seperti anak laki-laki yang baru pertama kali berani meminta sesuatu.

Sekar berhenti tepat di depannya.

"Kev."

"Hmm?"

"Aku mau."

Kevin tidak langsung bereaksi.

Sekar mengangkat kertas itu sedikit. "Jadi pacarmu. Aku mau."

Di ujung koridor, Bryan mengeluarkan suara tertahan. Yola mungkin memukul lengannya karena suara itu langsung hilang.

Kevin menatap Sekar. Ada sesuatu yang pecah pelan di matanya, bukan luka, melainkan pertahanan yang akhirnya tidak sanggup berdiri.

"Serius?"

Sekar mengangguk.

"Sekar, gue bukan cowok baik."

"Aku tahu."

"Gue sering bikin masalah."

"Aku tahu."

"Orang bakal ngomong macam-macam."

"Biarin."

Kevin terdiam.

Sekar menggenggam surat itu dengan dua tangan. "Kamu tanya aku mau atau tidak. Jawabanku mau."

Angin lewat dari jendela koridor, membawa bau hujan yang belum turun. Kevin mengeluarkan tangan dari saku. Pelan, sangat pelan, ia mengambil tangan kanan Sekar.

Kali ini, tidak ada alasan jalan besar. Tidak ada motor. Tidak ada gerimis.

Ia menggenggam karena ingin.

"Berarti mulai sekarang," kata Kevin, suaranya rendah, "lo pacar gue."

Sekar tersenyum. "Iya."

"Kalau ada yang ganggu, bilang gue."

"Iya."

"Kalau pulang, tunggu gue."

"Iya."

"Kalau makan, sama gue."

Sekar tertawa kecil. "Iya, Kev."

Kevin menatap senyumnya, lalu akhirnya membalas dengan senyum kecil yang jarang sekali muncul.

Di ujung koridor, suara tepuk tangan pelan terdengar.

Bryan keluar dari balik poster kebersihan dengan wajah paling tidak bersalah. Di belakangnya, Yola menutup mulut, matanya merah sedikit seperti orang menahan haru sekaligus ingin tertawa.

"Selamat, Kak Sekar," kata Bryan dengan nada resmi yang dibuat-buat. "Akhirnya ada manusia yang mau menerima paket lengkap Kevin Senja Halim."

Kevin menatapnya. "Lo mau mati?"

"Lihat, baru jadian sudah mengancam saudara sendiri." Bryan menunjuk Kevin, lalu menoleh pada Sekar. "Kalau butuh pengaduan, lapor ke gue."

Yola menyikut Bryan. "Jangan rusak momen."

Sekar menatap Yola. "Kamu tahu?"

"Aku yang taruh suratnya di buku lo," Yola mengaku. "Dia datang ke kelas pagi-pagi, mukanya kayak mau ujian hidup. Aku kasihan."

Kevin mengalihkan wajah. "Gue nggak minta dikasihani."

"Iya, iya," kata Yola cepat. "Tapi kalau nanti bikin Sekar nangis, gue lapor Bu Wati."

Kevin menatap Yola, lalu menatap Sekar yang masih menggenggam suratnya.

"Gue nggak akan bikin dia nangis," katanya.

Kalimat itu sederhana, tetapi udara di koridor mendadak tenang. Sekar tahu Kevin tidak pandai membuat janji panjang. Justru karena itu, satu kalimat pendek darinya terasa seperti sesuatu yang ia ukir di dalam hati.

"Jadi ini rahasia?" tanya Sekar pelan.

Kevin menggenggam tangannya lebih kuat.

"Nggak perlu disembunyiin."

Bryan langsung bersiul.

Kevin melanjutkan sebelum Bryan membuka mulut lagi. "Tapi juga nggak perlu diumumin kayak pasar."

Sekar tertawa. "Baik."

Saat mereka kembali ke kelas, Kevin berjalan di sampingnya sampai depan pintu, masih menggenggam tangan Sekar. Beberapa siswa melihat. Beberapa berbisik. Kevin tidak peduli. Sekar juga mencoba tidak peduli, tetapi dadanya terasa seperti penuh cahaya.

Hari itu, Sekar melipat kembali surat cinta pertamanya dan menyimpannya di halaman paling dalam buku biru gelap.

Tiga kalimat, tulisan miring dan agak berantakan.

Sekar membacanya tujuh belas kali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!