Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
badai dan darah
Malam di penthouse itu terasa makin menyesakkan. Setelah seharian terjebak tanpa sinyal, mondar-mandir bosan, dan sempat ketiduran di sofa ruang tengah, Rara akhirnya terbangun karena udara sekitar mendadak dingin.
Jam dinding baru saja menunjuk pukul sepuluh malam. Tepat saat ia mengerjap, suara petir menggelegar, disusul suara bantingan pintu utama yang begitu keras sampai lantainya bergetar. Derap langkah kaki yang panik langsung memecah kesunyian.
"Bawa kotak P3K darurat! Sekarang!" teriak Bara dengan suara menggelegar.
Rara yang tadinya masih setengah ngantuk langsung melonjak kaget. Ia mengendap-endap dari balik pilar, mengintip situasi. Napasnya langsung tercekat. Arka datang dengan kemeja robek dan bersimbah darah segar yang mengalir deras dari perut serta lengannya. Bau anyir tembaga seketika menusuk hidung.
Bara memapah bosnya ke sofa dengan wajah pucat pasi. "Bos, kita harus ke klinik jaringan kita sekarang! Pendarahannya nggak mau berhenti!"
Arka meringis, tangannya mencengkeram kuat pinggiran sofa. "Nggak usah" desisnya serak, napasnya memburu. "Naga Hitam. mereka mantau semua klinik di luar. Obati di sini."
"Tapi pelurunya masih bersarang di dalam! Saya bukan dokter bedah, Bos!" Bara panik bukan main, keringat dingin bercucuran deras di pelipisnya.
"Panggil, Dokter Haryo" titah Arka terbata, menahan sakit luar biasa sampai urat di lehernya menonjol keluar.
"Dia lagi di luar kota, baru bisa sampai subuh!" teriak Bara frustrasi. "Sialan! Kalau dibiarin begini, lo bisa kehabisan darah sebelum subuh tiba, Bos!"
"Cari, cara lain" balas Arka semakin lemas.
Mendengar perdebatan mereka, lutut Rara lemas seketika. Logikanya menyuruh untuk lari secepat mungkin dan mengunci diri di kamar. Tapi saat melihat Arka kembali terbatuk hebat hingga darah segar tumpah dari mulutnya, kakinya malah melangkah maju tanpa bisa dicegah.
Refleks, Bara menoleh dan langsung menodongkan pistol tepat ke wajah Rara.
"Kembali ke kamar, Nona! Jangan bikin saya bunuh kamu malam ini!" bentak Bara penuh ancaman, matanya memerah karena panik luar biasa.
Rara mengangkat kedua tangan dengan gemetar hebat, air matanya sudah tumpah membasahi pipi. "Gue nggak bakal kabur! Tapi tangan lo gemetar parah, Bara! Lo nggak bakal bisa nolongin dia dalam kondisi panik kayak gini!"
"Keluar dari sini atau saya tembak kaki kamu sekarang juga!"
"Gue pernah ikut PMR waktu SMA!" Rara nekat memotong, suaranya naik satu oktaf karena emosi dan takut yang jadi satu. "Gue ngerti cara nekan pendarahan darurat! Kalau lo buang waktu buat nodong gue, bos lo bakal mati dalam tiga menit ke depan!"
Bara melirik Arka yang napasnya sudah tersengal-sengal dan mulai lunglai. Keadaan genting membuat bodyguard itu menyerah pada waktu. Ia menyambar handuk putih dan melemparkannya ke lantai dekat kaki Rara.
"Teken lukanya sekuat tenaga! Jangan dilepas sedetik pun!" seru Bara sambil buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menelepon bantuan medis darurat secara sembunyi-sembunyi.
Rara langsung berlutut di sebelah sofa. Dua tangan mungilnya menyambar handuk itu, menekan sekuat tenaga ke luka robek di perut Arka.
Argh!
Arka mendesis keras, kepalanya mendongak ke belakang dengan mata terpejam rapat. Otot-otot di sekujur tubuhnya menegang kaku, sementara tangannya refleks mencengkeram pergelangan tangan Rara sampai cengkeramannya terasa mau patah.
"Lepas" geram Arka tertahan dengan sisa tenaganya, napasnya mendesing tepat di depan wajah Rara. "Tangan kotor, jangan sok pahlawan di sini."
"Bacot banget!" Rara balas membentak, isakannya makin kencang karena takut sekaligus kesal setengah mati. Dia makin memperkuat tekanannya di luka itu meski tangan Arka mencengkeramnya makin kuat. "Gue lagi nyoba nyelamatin nyawa lo, Bos Mafia! Kalau lo mati kehabisan darah di sini, emangnya lo pikir siapa yang bakal ngasih makan Oyen besok?!"
Arka perlahan membuka mata sayunya. Di tengah rasa sakit luar biasa dan bau anyir darah yang pekat, sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyuman lemah yang mengejek.
"Kau perempuan paling gila yang pernah saya temui seumur hidup" bisik Arka pelan, suaranya nyaris hilang ditelan badai.
Cengkeraman tangan Arka di pergelangan Rara mendadak mengendur, lalu jatuh lemas ke lantai. Mata pria itu tertutup rapat dan kepalanya terkulai ke samping. Kesadarannya total menghilang akibat rasa sakit yang teramat sangat.
Rara terduduk lemas di samping sofa yang berlumuran darah, napasnya terengah-engah di tengah badai malam yang mengamuk di luar sana.