Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011
Video Hafeng memayungi Meiran dari studio ke gerbang samping menyebar lebih cepat daripada hujan kering di halaman kampus.
Pagi berikutnya, grup angkatan penuh dengan potongan gambar: Hafeng memegang maket, Hafeng memiringkan payung, Hafeng menyentuh siku Meiran ketika ia hampir terpeleset. Tidak ada satu pun foto yang memperlihatkan wajah Hafeng dengan jelas, tetapi semua orang tahu itu dia.
`Asisten pribadi rasa bodyguard.`
`Katanya benci, tapi payungnya miring ke Meiran.`
`Wanyu lihat ini belum?`
Meiran membaca tiga pesan pertama, lalu mematikan layar.
Ia duduk di kantin tengah, tempat paling ramai saat jam makan siang, dengan semangkuk bakmi dan segelas es teh tawar. Hafeng berdiri di samping meja, membawa nampan miliknya sendiri dan wajah yang lebih dingin daripada es di gelas Meiran.
"Duduk," kata Meiran.
Hafeng menatap kursi kosong di depannya. "Aku tidak perlu makan denganmu."
"Aku tidak menyuruhmu makan denganku. Aku menyuruhmu duduk karena kamu menghalangi jalur orang."
Chiko yang sudah duduk di meja sebelah langsung mengangkat jempol pada Meiran.
Hafeng duduk dengan gerakan kaku.
Lima detik kemudian, Soe Wanyu datang.
Tentu saja.
Meiran bahkan tidak perlu melihat pintu untuk tahu. Suasana kantin berubah duluan. Bisik-bisik turun, ponsel mulai mengarah, dan seseorang di belakang berkata pelan, "Drama lagi."
Wanyu berdiri di ujung meja dengan wajah yang terlihat lelah dan prihatin. Ia membawa botol air mineral hangat.
"Ko Hafeng," katanya lembut, "aku bawakan air hangat. Kemarin kamu kehujanan, kan?"
Hafeng menatap botol itu, lalu Meiran.
Meiran mengangkat alis. "Kenapa melihatku? Aku tidak melarangmu minum."
Hafeng tidak mengambil botol itu.
Wanyu menggenggam botol lebih erat. "Meiran, aku ingin bicara baik-baik."
"Di kantin?"
"Karena kamu membuat semuanya terjadi di depan orang."
Kalimat itu cukup keras untuk meja sekitar mendengar.
Bagus.
Meiran meletakkan sumpitnya.
"Silakan."
Wanyu menarik napas, seolah mengumpulkan keberanian. "Aku tahu kamu menang taruhan. Tapi memperlakukan Ko Hafeng seperti asisten, menyuruhnya membeli kopi, membawa barang, memperbaiki printer, memegang payung sampai dia kehujanan... bukankah itu terlalu jauh?"
Kantin makin sunyi.
Hafeng menegang.
Wanyu menatap beberapa mahasiswa di sekitar, lalu menurunkan suara sedikit, cukup pelan untuk terdengar lebih tulus tetapi masih bisa ditangkap banyak telinga.
"Aku membaca komentar di grup. Orang-orang mulai menertawakan Ko Hafeng. Mereka bilang dia kalah harga diri, bilang dia berubah jadi pengawalmu. Kamu mungkin menganggap ini lucu, tapi dia juga punya reputasi. Keluarganya, dosen-dosen, semua bisa melihat."
Beberapa mahasiswa yang tadi merekam langsung menurunkan ponsel mereka sedikit.
Serangan itu lebih rapi daripada sekadar mengeluh. Wanyu tidak membela dirinya. Ia membela reputasi Hafeng, sesuatu yang akan terdengar mulia bagi siapa pun yang tidak mendengar nada kepemilikan di baliknya.
Meiran melirik Hafeng.
Pria itu tidak menatap Wanyu. Matanya justru turun pada botol air hangat di tangan perempuan itu, seolah benda itu tiba-tiba lebih sulit diterima daripada payung basah kemarin.
Meiran mengambil tisu, menyeka ujung jari, lalu menjawab, "Kamu sudah selesai?"
Wanyu tampak tersakiti. "Aku bicara karena peduli."
"Pada siapa?"
"Tentu pada Ko Hafeng."
"Kalau begitu tanya dia."
Wanyu terdiam.
Meiran menoleh pada Hafeng. "Lo Hafeng, apakah kemarin aku memaksamu melanggar hukum?"
"Tidak."
"Apakah aku menyuruhmu melakukan sesuatu yang menyentuh batas pribadimu?"
Hafeng menatapnya dengan kesal. "Tidak."
"Apakah kamu bisa menolak jika aku melanggar perjanjian?"
"Bisa."
Meiran kembali menatap Wanyu. "Dengar?"
Wanyu memucat sedikit, tetapi cepat memulihkan ekspresi. "Dia tentu akan menjawab begitu karena banyak orang melihat."
Ah.
Serangan kedua.
Meiran membuka tas, mengeluarkan kertas taruhan yang sudah dilaminasi, lalu meletakkannya di meja kantin. Suara plastik menyentuh meja terdengar ringan, tetapi efeknya seperti palu.
"Ini perjanjian yang dia tanda tangani. Baca bagian batas kampus, hukum, dan batas pribadi."
Wanyu tidak mengambilnya.
Seorang mahasiswa di meja sebelah malah condong untuk membaca.
Meiran melanjutkan, "Instruksi kemarin: membawa map, membuka printer macet, memegang payung, membawa maket. Semua terkait tugas kampus. Kalau menurutmu itu terlalu jauh, jelaskan bagian mana yang melanggar."
Wanyu menggigit bibir. "Kamu tahu bukan itu maksudku."
"Aku tidak tahu maksud yang tidak kamu ucapkan."
Chiko hampir tersedak minuman.
Hafeng menunduk, menahan sesuatu yang mungkin bukan senyum, tetapi cukup untuk membuat Wanyu melihat.
Dan itu kesalahan Hafeng.
Mata Wanyu langsung memerah tipis.
"Ko Hafeng, kamu juga membiarkan dia bicara seperti ini padaku?"
Hafeng mengangkat kepala. "Kamu yang mulai."
Tiga kata.
Tiga kata yang membuat meja di sekitar mereka seolah lupa bernapas.
Wanyu membeku.
Meiran juga terdiam setengah detik.
Bukan karena ia terharu. Ia tidak sebodoh itu. Hafeng tidak sedang membelanya karena sayang. Ia hanya tidak suka fakta dipelintir. Tetapi di depan publik, efeknya sama: Wanyu kehilangan posisi sebagai perempuan yang otomatis dilindungi.
**【Sistem Predator】Respons sosial berubah. Dominasi narasi Host meningkat.**
Meiran menyimpan kertas taruhan kembali.
"Wanyu," katanya pelan, "kalau kamu benar-benar peduli pada Hafeng, berhenti menggunakan kepedulianmu untuk mengambil suara darinya."
Wanyu menatapnya.
"Dia bisa bicara sendiri. Dia bisa menolak sendiri. Dia bahkan bisa kalah sendiri."
Beberapa mahasiswa menunduk menyembunyikan tawa.
Hafeng menatap Meiran. "Kalimat terakhir tidak perlu."
"Perlu. Supaya lengkap."
Wanyu meletakkan botol air di meja dengan gerakan pelan. "Aku tidak pernah berniat mengambil suara siapa pun."
"Kalau begitu mulai sekarang, berhenti menjawab untuknya."
Kali ini tidak ada yang bicara.
Wanyu menarik napas, dan matanya benar-benar basah sekarang. Entah karena marah, malu, atau karena ia sadar air mata masih senjata yang efektif.
"Kamu pintar bicara, Meiran," katanya lirih. "Tapi kepintaran tidak membuatmu otomatis benar. Semua orang bisa melihat Ko Hafeng tidak nyaman."
Meiran mengangguk. "Bisa jadi."
Jawaban itu membuat Wanyu kembali kehilangan pijakan.
"Kalau begitu..."
"Kalau begitu kita pakai prosedur." Meiran membuka ponselnya dan meletakkannya di meja. "Tulis keluhan resmi ke koordinator jurusan. Sebutkan instruksi mana yang melanggar batas. Aku akan hadir, Hafeng hadir, saksi hadir, dan perjanjian ini juga hadir. Kalau aku salah, aku berhenti hari ini."
Kantin kembali meledak dalam bisik-bisik.
Wanyu tidak bergerak.
Meiran mendorong ponselnya sedikit. "Mau aku bantu ketik?"
Wajah Wanyu memerah, kali ini bukan sedih yang cantik, melainkan panas yang tidak bisa disembunyikan.
Hafeng akhirnya bicara, lebih pelan daripada sebelumnya tetapi cukup jelas.
"Tidak perlu laporan."
Wanyu menoleh padanya. "Ko Hafeng..."
"Aku bilang tidak perlu."
Meiran menatap Hafeng. Ia masih terlihat kesal, tetapi nada suaranya tidak memberi ruang untuk Wanyu menyelamatkan wajah dengan alasan lain.
Itu pukulan terakhir.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran selalu kalah dalam adegan seperti ini karena ia berteriak lebih dulu. Wanyu cukup menunduk, dan semua orang akan berpihak pada perempuan yang terlihat lebih lembut.
Hari ini Meiran tidak memberi panggung untuk air mata.
Ia memberi pertanyaan.
Dan pertanyaan memaksa orang memilih antara fakta dan perasaan.
Wanyu mengambil kembali botol air itu. Tangan kanannya sedikit gemetar.
"Aku mengerti," katanya.
Namun matanya berkata sebaliknya.
Ia berbalik pergi. Kali ini tidak ada yang mengejarnya, bahkan Hafeng.
Saat punggung Wanyu menghilang di pintu kantin, suara kantin kembali naik, tetapi nadanya berubah. Bukan simpati untuk Wanyu. Bukan juga ejekan penuh untuk Meiran. Lebih seperti orang-orang baru saja melihat aturan permainan diganti di depan mata mereka.
Di grup angkatan, pesan baru masuk bertubi-tubi.
`Ternyata ada perjanjiannya jelas.`
`Wanyu kenapa jawab terus buat Hafeng?`
`Kalau Hafeng sendiri bilang tidak perlu laporan, ya sudah.`
`Meiran serem, tapi argumennya rapi.`
Satu video pendek muncul, menampilkan Meiran mendorong ponsel ke tengah meja dan menawarkan prosedur resmi. Dalam hitungan detik, komentar yang semula menertawakan Hafeng berubah menjadi perdebatan tentang batas kepedulian Wanyu.
Meiran membaca sekilas, lalu membalik ponselnya.
Ia tidak butuh semua orang menyukainya.
Cukup membuat mereka berpikir dua kali sebelum percaya air mata Wanyu.
Chiko pindah ke meja mereka tanpa izin.
"Aku mau duduk di sini. Meja ini lebih seru."
Hafeng menatapnya. "Pergi."
"Tidak bisa. Aku saksi sejarah."
Meiran mengambil sumpitnya lagi. "Kalau mau duduk, pesan makanan sendiri."
"Siap, Bu Lim."
Hafeng melirik Chiko dengan tatapan membunuh.
Chiko langsung berdiri. "Baik, aku pergi."
Meiran akhirnya menyesap es teh tawarnya. Dingin di lidahnya menenangkan sisa panas dari adegan tadi.
**【Sistem Predator】Nilai Cinta target berubah.**
Nilai Cinta: -50.
Meiran melirik Hafeng.
Pria itu sedang menatap pintu tempat Wanyu keluar, tetapi bukan dengan rindu. Lebih seperti seseorang yang baru menyadari bahwa kebiasaan lama tidak selalu benar.
Sebelum Meiran sempat mengatakan apa pun, seorang petugas kampus datang ke meja mereka sambil membawa kotak putih panjang dengan pita abu-abu.
"Maaf, Bu Lim. Ada kiriman untuk Lim Meiran."
Semua mata di sekitar langsung kembali menyala.
Di atas kartu kecil yang terselip di pita, tertulis nama pengirim dengan huruf tipis.
Kho Yanting.
Hafeng menatap kotak itu.
Beberapa mahasiswa yang baru saja selesai membahas Wanyu langsung mengalihkan ponsel mereka ke kotak putih itu. Nama Kho Yanting punya daya tarik berbeda. Jika Hafeng adalah drama kampus, Yanting adalah pintu menuju dunia konglomerat yang lebih dewasa, lebih mahal, dan lebih sulit dijangkau.
Chiko bersiul pelan. "Hari ini kantin menang banyak."
Udara di meja mereka berubah lagi.