Ji Fan, seorang pemuda dari clan ji yang memiliki mata misterius, namun akibat mata nya itu dia menjadi olok-olokan seluruh clan.
Didunia yang kejam ini, sejak kecil dia hidup sebatang kara tanpa kultivasi, melewati badai api sendirian. Sampai pada akhirnya dia tanpa sengaja menemukan sebuah buku tua yang usang. Buku itu adalah peninggalan ayahnya yang didapat dari seorang laki laki paruh baya dimasa lampau. Awalnya dia tidak mengerti buku apa itu, Tetapi setelah mempelajari bahasa dewa kuno, dia mulai mengerti, buku itu adalah buku Teknik Terlarang Kultivasi Naga Kegelapan. Dalam buku itu tertulis berbgai ilmu pengetahuan dan langkah-langkah jalan kultivasi, sejak saat itu Ji Fan berubah dari yang awalnya sampah menjadi kultivator puncak yang ditakuti di seluruh alam. Dan orang-orang memanggilnya dengan sebutan 'Orang Buta Dari Kegelapan Naga' .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bingstars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Pengumuman Tetua Zhen menggantung berat di udara, mematikan sisa harapan peserta. Sepuluh orang.
Hanya sepuluh orang yang akan hidup dari seratus kultivator yang tersisa.
Ji Fan merasakan dingin menusuk tulang, dan itu bukan karena angin, melainkan karena kenyataan brutal yang baru saja diucapkan Tetua Zhen. Ini bukan ujian; ini adalah eksekusi massal.
Ji Fan segera menepi, mencari sudut paling gelap di lapangan sambil mengabaikan tatapan sinis Chen dan pengikut Chen. Ji Fan duduk bersandar di tembok, terengah-engah.
"Minum ramuan itu, sekarang!" perintah Naga Kecil mendesak di kepala Ji Fan. "Ramuan murahan itu hanya akan memperlambat pendarahanmu, tidak akan menyembuhkan tulang retakmu. Tapi itu lebih baik daripada nol."
Ji Fan membuka tutup botol yang dilempar Su Meng tadi. Cairan itu berwarna hijau pucat dan berbau mint. Ji Fan menenggaknya sekaligus. Sensasi dingin menjalar cepat ke seluruh tubuh Ji Fan. Rasa perih di rusuk Ji Fan mereda, berubah menjadi rasa kebas yang tumpul, tetapi tidak hilang sepenuhnya.
"Aku butuh waktu untuk mencerna ini," ucap Ji Fan dalam hati.
"Kau tidak punya waktu," balas Naga Kecil. "Begitu gong berbunyi, mereka akan mengincar mangsa termudah. Kau terlihat seperti cacing tanah yang diinjak. Target utama."
Ji Fan memejamkan mata. Ji Fan memaksa Qi Kegelapan-nya yang sisa sedikit itu untuk mengalir ke area rusuk dan betis, membantu kerja ramuan dingin tersebut.
"Aku tidak bisa lari lagi," tekad Ji Fan dalam hati. "Aku harus membunuh."
Ji Fan tidak pernah membunuh manusia yang tidak berniat membunuh Ji Fan atau anggota Klan Ji. Rasa mual melanda perut Ji Fan. Namun, Ji Fan segera menekan perasaan itu. Jika Ji Fan ragu, Ji Fan yang akan menjadi mayat berikutnya.
Ji Fan merasakan dua aura Qi yang panik bergerak ke arahnya. Dua kultivator Tingkat 4, wajah mereka pucat pasi karena ketakutan, mencari tempat bersembunyi. Mereka melihat Ji Fan yang duduk bersandar dan tampak lemah.
"Itu! Dia terluka! Ayo kita selesaikan dia cepat-cepat!" bisik salah satu dari mereka.
Ji Fan tidak menunggu. Ji Fan bangkit, tubuh Ji Fan terasa kaku, tapi mata Ji Fan kini setajam silet.
GONG!
Gong berdentum kencang, menandai dimulainya Arena Darah.
Kekacauan pecah seketika. Teriakan, ledakan Qi, dan jeritan kesakitan meledak di seluruh lapangan. Beberapa orang yang panik berusaha memanjat tembok, tapi segera disambar oleh panah-panah Qi yang ditembakkan Tetua Zhen dari atas, tubuh mereka jatuh lemas ke tanah.
Dua kultivator Tingkat 4 yang mengincar Ji Fan kini berlari menyerang. Mereka mengeluarkan pedang berkarat.
"Ambil Qi nya!" teriak salah satu.
Ji Fan tidak menggunakan jurus Qi Kegelapan mencolok. Ji Fan tahu setiap serangan Qi yang kuat akan menarik perhatian Tetua Zhen dan yang lainnya.
Ji Fan menggunakan kelincahan murni yang ia pelajari dari Naga Kecil. Ji Fan menghindari sabetan pedang pertama dengan gerakan memutar tubuh. Sembilan puluh persen energi Ji Fan disalurkan untuk mengendalikan rasa sakit di rusuknya.
Pedang kultivator kedua datang menusuk ke dada Ji Fan.
Ji Fan memiringkan tubuh sedikit, membiarkan pedang itu lewat hanya beberapa sentimeter dari kulit Ji Fan. Pada saat yang sama, Ji Fan meluncurkan tinju cepat, memadatkan Qi Kegelapan sekecil mungkin, langsung ke tenggorokan kultivator pertama.
Ji Fan tidak memukul tulang. Ji Fan mengincar urat nadi dan jakun.
KREK!
Suara tulang rawan leher patah terdengar renyah. Mata kultivator itu membelalak kaget, dan kultivator itu jatuh ke tanah tanpa suara. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya, membasahi debu.
Ji Fan menatap tubuh itu sekilas, tanpa ekspresi.
"Sialan kau!" teriak kultivator kedua, panik melihat temannya tewas dalam satu pukulan sunyi. Kultivator itu mengayunkan pedangnya membabi buta.
Ji Fan tahu pedang itu mengandung racun. Ji Fan tidak bisa mengambil risiko terkena goresan sedikit pun.
Ji Fan mengaktifkan Jurus Tangan Bayangan, kali ini menggunakan Qi Kegelapan lebih banyak. Lima jari Ji Fan berubah menjadi cakar hitam yang memancarkan aura dingin.
WUSHH!
Ji Fan mencengkeram pergelangan tangan kultivator itu sebelum pedang itu sempat bergerak. Ji Fan meremasnya.
Krak!
Krak!
Tulang pergelangan tangan kultivator itu remuk menjadi serpihan. Kultivator itu menjerit kesakitan, pedangnya jatuh ke tanah.
Ji Fan tidak memberi ampun. Dengan mata dingin, Ji Fan menarik tubuh kultivator itu mendekat dan menghantamkan lutut Ji Fan keras-keras ke wajah kultivator itu.
BUAGH!
Suara hidung patah. Kultivator itu jatuh pingsan, hidungnya mengeluarkan darah segar yang deras.
Ji Fan berdiri di atas dua tubuh. Napas Ji Fan memburu, dan rasa sakit di rusuk Ji Fan kini kembali berdenyut, menuntut bayaran atas gerakan keras yang Ji Fan lakukan. Tapi Ji Fan sudah mendapatkan yang Ji Fan butuhkan: darah dingin.
"Bagus, Bocah," puji Naga Kecil, suaranya terdengar puas. "Mati atau cacat permanen. Itu cara mainnya."
Ji Fan tidak menjawab. Ji Fan menendang pedang beracun itu menjauh. Ji Fan mengambil kantong kultivator yang tewas itu, merampas pil dan koin yang ada di sana, dan segera menyingkir. Ji Fan tidak mau berada di dekat mayat yang akan menarik perhatian.
Di tengah lapangan, Tuan Muda Chen sudah menjadi pusat perhatian. Chen dikelilingi oleh dua pengikut setianya yang masih Tingkat 5. Chen sendiri, sebagai Tingkat 6, menggunakan Jurus Api yang mencolok, membakar beberapa lawan hingga menjerit kesakitan.
"Kau lihat, Tikus?" teriak Chen sambil menghancurkan perisai Qi seorang kultivator lain dengan tinju berapi. "Kekuatan! Itu yang dibutuhkan! Bukan tikus yang bersembunyi!"
Chen dan pengikut Chen bergerak seperti mesin pembunuh, menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalan mereka. Mereka telah membunuh setidaknya lima orang.
Tiba-tiba, mata Chen tertuju pada Ji Fan yang sedang mengelap darah di sudut bibir Ji Fan. Chen tidak senang melihat Ji Fan masih hidup.
"Hei! Kau yang lusuh!" seru Chen, menunjuk Ji Fan. "Kau berani mencemari arena ini dengan darah rendahanmu! Kau tidak pantas melangkah ke Akademi!"
Chen menoleh ke salah satu pengikut Tingkat 5 yang tersisa. "Pergi! Urus sampah itu! Robek tubuhnya dan bawa telinganya padaku! Aku ingin melihatnya merangkak!"
Pengikut Chen menyeringai jahat. Pengikut itu adalah pria besar dan kekar, Qi-nya padat dan stabil.
"Dengan senang hati, Tuan Muda Chen!" seru pengikut itu.
Pengikut Chen itu berjalan cepat, mengabaikan pertempuran lain di sekitarnya. Pengikut itu tahu Ji Fan adalah mangsa empuk yang sudah terluka parah.
Ji Fan merasakan Qi padat pria itu bergerak ke arah Ji Fan. Tingkat 5. Kuat dan segar, tanpa luka sedikit pun. Sedangkan Ji Fan terluka, kelelahan, dan Qi Kegelapan Ji Fan sudah banyak terkuras.
"Masalah datang menghampirimu," ejek Naga Kecil. "Kau tidak bisa menggunakan kecepatan atau kelincahan seperti tadi. Pria ini besar dan kuat."
Ji Fan menarik napas dalam. Ji Fan memegang rusuk Ji Fan. Rasa sakit itu kini menjadi alarm, bukan lagi halangan.
"Aku harus menyingkirkan dia dalam satu serangan. Jurus paling mematikan yang aku punya," ucap Ji Fan dalam hati.
Pengikut Chen tiba di depan Ji Fan, seringai kemenangan sudah terukir di wajah pengikut itu.
"Selamat tinggal, tikus jalanan!" seru pengikut itu.
Pengikut Chen melancarkan Jurus Angin-Baja, mengayunkan pisau besar yang memancarkan Qi tajam. Pisau itu menyasar leher Ji Fan dengan niat membunuh yang jelas.
Ji Fan tahu ini adalah serangan mematikan yang tidak bisa dihindari dengan mudah.
Waktu terasa melambat. Ji Fan melihat jalur pisau itu dengan jelas.
Ji Fan tidak bergerak mundur. Ji Fan maju ke dalam jalur serangan itu, menggunakan kecepatan minimal. Ji Fan membiarkan pisau itu menggores bahu Ji Fan sedikit rasa sakit yang tajam, tapi Ji Fan mendapatkan kesempatan yang Ji Fan butuhkan.
Saat pisau itu lewat, Ji Fan menggunakan kedua tangannya. Ji Fan memadatkan sisa seluruh Qi Kegelapan yang Ji Fan miliki, mengabaikan rasa sakit di dada Ji Fan, dan mengarahkannya ke titik pusat vital pengikut Chen Dantiannya.
Ji Fan melepaskan Jurus Cakar Naga Kegelapan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan klan. Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk merusak.
CHRRRTTT!
Cakar hitam itu menembus pelindung Qi pengikut Chen seolah pelindung itu terbuat dari kertas tipis.
Entah itu naga hitam di TOS Fang Xie Yue atau yang di Soul Land, yang duo itu, I weak for black dragons heheh..
Tapi overall, pacing kultivasinya terasa too fast. Biasanya kultivasi bisa sampai ratusan chapter, sedangkan di sini naiknya brak–brak banget. Jadi ada bagian sepele yang malah kepanjangan, sementara bagian yang harusnya epic justru terasa singkat.
Even so, dari cara nulis, penyampaian cerita, humor, sampai flow-nya. it works. Tulisan kakak rapi banget dan tetap enjoyable to read.
Respect, kak. ⭐⭐⭐⭐⭐ well deserved!
1-1-26
16.22 wib
1-¹-20²⁶
01-01-2026