Karena setiap orang memiliki rahasia.
Ellio yang baru sadar dari koma baru tahu bahwa gadis yang menjadi alasannya untuk bertahan hidup ternyata sudah membagi hatinya untuk orang lain. Patah hati tentu membuat Ellio hampir kehilangan arah. Namun, tekad untuk mendapatkan kembali cintanya mendorong ia lebih keras untuk segera pulih.
Di saat yang sama, ada Putri
yang mencintai Ellio dalam diam. Ia yang hanya berperan sebagai figuran di kisah cinta Ellio dan Shanum. Dia yang selalu ada untuk Ellio, malah menjadi tersangka yang harus di adili untuk kesalahan yang sebenarnya tidak patut di salahkan. Jatuh cinta.
Siapa yang bisa memvonis bahwa jatuh cinta adalah kesalahan ? Mungkin hanya Ellio. Dan, ketika Ellio baru menyadari arti kehadiran Putri, gadis itu sudah pergi. Menghilang seperti permintaan Ellio terakhir kali.
Cinta, benci serta sebuah tahta yang harus di teruskan, bagaimana kisah ini akan berakhir ?
Baca juga :
~Bima & Ellena : Pernikahan Kontrak
~Senja di Moorea
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSP#23
"Kamu pikir, Putri barang rongsokan ?" Ellena mencubit lengan Bima gemas.
"Abis, omongannya nyakitin banget loh, sayang." Rengek Bima tak terima.
"Biarin aja. Gak usah di dengerin." Sahut Ellena.
"Kok kamu malah lebih belain dia daripada aku, sih ?"
"By, jangan mulai bertingkah lagi deh. " Ujar Ellena memperingatkan.
"Kamu emang nggak sayang sama suami kamu sendiri, ya ?"
Ellena memijit ujung pelipisnya. Menghadapi Bima ternyata lebih sulit ketimbang menghadapi Putri. Suaminya jauh lebih merepotkan berkali-kali lipat jika sedang merajuk di banding Putri, si bungsu yang manja.
"Ihhh.. Ada bapak-bapak ngambek." Cibir Putri yang baru saja keluar dari dapur dengan sepiring puding di tangannya. Hasil dari mengubek-ubek isi kulkas orang yang sedang dia katai bapak-bapak.
Bima langsung mendesis sebal ke arah Putri. Ingin rasanya dia melempar gadis yang sedang asyik menikmati pudingnya itu ke luar angkasa sana. Biarkan saja gadis itu terdampar di Mars dan berteman dengan alien penghuni planet itu.
"Bapak lagi nyumpahin, Putri ya ? Hayo, ngaku !" Telunjuk gadis polos itu lagi-lagi tertuju ke arah Bima. Membuat pria bermata elang itu benar-benar habis kesabaran. Lagipula, dapat kekuatan darimana dia sampai bisa membaca pikiran Bima ?
"Sayang, bisa nggak kamu suruh dia pulang aja ?" Tanya Bima kepada Ellena sambil menunjuk balik Putri.
"Yee bapak ngapain sih ? Suka-suka aku dong mau di sini atau mau pulang. Sensi banget jadi orang."
"Heh, bocah ! Ini rumah saya tau. Hak saya dong nyuruh kamu pulang."
"Ngaku-ngaku ! Ini kan rumah om Satya bukan rumah Pak Bima." Jawab Putri dengan lidah menjulur. Mengejek manusia kutub kesayangan Ellena sebelum kembali bergabung dengan teman-temannya untuk duduk di sofa.
"By, kamu kok malah ketularan sifat kekanakan Putri, sih ?" Tanya Ellena terkekeh kecil.
"Sembarangan. Gak mungkin lah sayang." Sangkal Bima cepat. Mana mau dia di katai ketularan sifat bocah si pahit lidah itu. Ya, si pahit lidah. Setidaknya, itu julukan baru untuk Putri dari Bima Dirgantara mulai hari ini.
* * *
Selesai makan siang ramai-ramai, mereka kembali berkumpul bersama di belakang rumah, tepatnya di gazebo pinggir kolam renang. Cuaca sedang tidak panas karena mendung yang masih setia menggelayuti awan-awan putih di atas sana. Musim penghujan memang sudah mulai tiba akhir-akhir ini.
"Put, kata Bima waktu malam aku culik, kamu nelpon Bima ya ?" Ellene menyibak keheningan dengan pertanyaan yang baru saja kembali terlintas di kepalanya setelah beberapa hari berlalu.
"Iya." Jawab Putri membenarkan.
"Kata kamu, Ellio ada yang nyerang kan ?"
"Iya." Gadis itu masih betah menjawab dengan jawaban singkat. Jangan tanya kenapa. Itu semua karena mulut kecilnya sedang sibuk mengunyah keripik kentang yang baru saja di belikan Sam, tangan kanan Bima.
"Terus, yang nolongin Ellio siapa ? Soalnya yang aku dengar dari percakapan Om Teguh di telepon, yang nyelamatin Ellio itu cewek jago beladiri. Sampai-sampai Om Teguh mengira kalau itu orang suruhan Bima."
"Uhuk,, Uhuk,, " Putri tersedak keripik kentang yang dia makan. Buru-buru dia menyambar air mineral yang di sodorkan Shanum untuk meredakan batuknya.
"I-itu, kebetulan waktu Putri pergokin mereka , Putri kan teriak, terus anak bapak-bapak di kamar sebelah yang datang nolongin. Ternyata, dia jago beladiri." Ucapnya mengarang cerita yang sedikit masuk akal.
"Tapi, kalau kamu teriak, bukannya orang-orang rumah sakit harusnya dengar ?" Ujar Shanum menimpali.
"Namanya juga udah larut malam. Jadi, wajar kalau suasana udah mulai sepi dan gak ada yang dengerin teriakan Putri."
Gadis itu tersenyum. Berusaha meyakinkan semua orang bahwa dongeng yang dia ceritakan adalah kebenaran. Hampir semuanya percaya, namun tidak untuk seseorang yang duduk di gazebo sebelah bersama orang kepercayaannya. Pria bermata elang itu merasa ada yang ganjil dalam cerita yang di kisahkan Putri.
Anak bapak-bapak yang di rawat di ruang sebelah ? Ayolah ! Itu omong kosong. Satu bangsal rumah sakit itu sudah di sewa oleh Bima agar tidak ada orang yang sembarangan bisa masuk. Jadi, mana mungkin kamar sebelah ada penghuninya.
"Kamu percaya pada bocah pahit lidah itu, Sam ?"
"Hah ? Pahit lidah ?" Sam tidak mengerti siapa yang Bima maksud.
Bima berdecak kesal melihat wajah kebingungan Sam. " Maksud saya si Putri. Kamu percaya sama omongannya ?"
Sam mengangguk mengerti. Dia baru paham kalau Bima begitu dendamnya pada Putri yang mengatainya bapak-bapak sehingga dia memberi julukan khusus untuk gadis tukang suruh-suruh itu. Ya, si tukang suruh-suruh. Mentang-mentang Sam selalu menyupiri Bima, gadis itu dengan lancangnya menyimpulkan bahwa Sam adalah supir keluarga Dirgantara. Dan, karena pemikiran itulah tercetus perintah agar Sam ke mini market depan komplek untuk membeli keripik kentang.
"Menurut saya, gadis itu tidak mengatakan kebenaran, tuan muda."
Bima menyeringai tipis. "Saya pikir, hanya saya saja yang berpikiran begitu. Ternyata kamu juga."
Bukan rahasia bagi Sam bahwa semenjak Bima mengakui cintanya terhadap Ellena, pria yang dulunya dingin itu sudah mencari tahu tentang identitas semua orang yang terkait dengan Ellena. Bukan hanya keluarga, melainkan teman-teman dan rekan kerja Ellena juga tak luput dari pengawasannya.
Dari situ, Bima mulai mencurigai satu orang yang identitasnya paling tidak mudah di lacak. Bahkan, Sam yang mencoba meretas data Putri di situs kependudukan sipil pun tidak bisa menemukan catatan apa-apa mengenai gadis itu. Tentang keluarga, latar belakang pendidikan dan asal-usulnya sama sekali tidak ada yang jelas. Semuanya abu-abu. Atau, bisa di bilang bahwa nama Putri Syifana sebenarnya tidak pernah terdaftar sebagai warga negara Indonesia.
Jika ada yang bertanya apakah Bima merasa Putri berbahaya, maka jawabannya ya. Tetapi, itu hanya di awal saja. Lama-kelamaan dia mulai berpikir bahwa jika Putri memang berniat jahat pada Ellena, seharusnya niatnya sudah terlaksana sudah sejak dulu sekali. Gadis bertampang polos itu memiliki lebih dari 1001 peluang untuk melenyapkan Ellena jika itu memang tujuannya mendekati Ellena. Tetapi, tidak. Putri justru melindungi Ellena, menjaga istri kecilnya sampai dia datang dan menjadi pangeran berkuda putih untuk gadis manis itu.
Bima tidak tahu apa yang di sembunyikan Putri dari mereka semua. Namun, yang pasti, Bima bisa menebak, bahwa hidup gadis itu tidak semudah yang di perlihatkannya sehari-hari. Atau, bisa jadi jika perilaku manja, polos dan menyebalkannya itu hanyalah sebuah kedok. Tak ada yang tahu.
"Kita ikuti saja alur permainan si pahit lidah itu, Sam. Selama dia tidak membahayakan Ellena, maka dia tidak perlu kita usik."
"Baik, tuan muda." Sam mengangguk paham.
Putri
Shanum
Ellena
Bima
murat tau nggk klo putri anak.adimas