Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Kekhawatiran Alya
Sinar matahari pagi yang hangat mulai menembus sela-sela atap ruko, menyinari lorong sepi di samping gudang tua. Bumi mengerjapkan matanya perlahan. Hal pertama yang ia dengar saat kesadarannya kembali bukan lagi keheningan malam, melainkan suara dengung ramai dari obrolan orang-orang di sekitarnya.
"Eh, lihat deh, ini masih napas gak sih?"
"Gak tahu, dari subuh tadi posisinya udah telungkup begini di depan kios. Badannya kaku banget."
"Aduh, panggil polisi aja apa ya? Jangan-jangan udah meninggal karena digebukin preman kemarin!"
Bumi mengernyitkan dahi. Ia membalikkan badannya menjadi telentang, membuat orang-orang yang berkerumun di sekelilingnya langsung terperanjat mundur beberapa langkah. Bumi duduk dan meregangkan kedua tangannya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, mendapati sekitar sepuluh orang pedagang dan kuli pasar sedang menatapnya dengan wajah pucat dan mata melotot.
"Loh? Masih hidup ternyata!" seru salah seorang ibu penjual sayur sambil mengelus dadanya lega.
Bumi memegangi kepalanya yang terasa agak linglung. Ia langsung teringat kejadian semalam. Kakek misterius berpakaian hitam yang memberinya ramuan pahit hangat itu sudah tidak ada lagi di sana. Lorong itu kosong, hanya menyisakan kerumunan warga pasar yang penasaran. Kakek itu benar-benar sudah menghilang tanpa jejak, seperti ditelan bumi. Bumi meraba saku celananya dengan cepat. Lembaran uang upah harian dari kepala blok kemarin ternyata masih utuh terselip di sana.
Namun, di dalam saku celana yang sama, ada sesuatu yang terasa mengganjal. Bumi menariknya keluar. Itu adalah secarik kertas memo misterius yang terlipat rapi. Karena situasi sedang ramai dan kepalanya masih sedikit bingung, Bumi memutuskan untuk menyimpannya kembali tanpa menyadari isi atau arti dari memo tersebut saat itu.
"Permisi! Tolong minggir dulu semuanya! Permisi!"
Sebuah suara melengking yang sangat familier memecah kerumunan dari arah belakang. Alya menerobos barisan orang-orang dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang sangat pucat. Begitu matanya menangkap sosok Bumi yang sedang duduk di lantai semen basah, air mata langsung mengalir di pipinya.
"Tuh kan, bener! Ini Mas Bumi!" pekik Alya lemas, langsung berlutut di samping Bumi tanpa memedulikan lantai yang kotor.
"Mbak Alya? Kok bisa ada di sini?" tanya Bumi terkejut.
"Mas Bumi, kamu dari mana aja sih?!" seru Alya, suaranya bergetar antara marah, panik, dan lega yang campur aduk. "Saya dari semalam nyari-nyari kamu tahu! Habis pulang kuliah sore, saya langsung ke kosan kamu tapi kamarnya dikunci. Saya tungguin di warung sampai tengah malam kamu gak lewat-lewat. Subuh tadi saya nyari lagi keliling pasar sampai nanya ke Kang Bendot. Kata Kang Bendot kamu udah pulang dari sore kemarin. Saya khawatir banget, saya pikir kamu dicegat preman itu lagi!"
Bumi merasa sangat bersalah melihat mata Alya yang sembap karena menangisinya. "Aduh, maaf banget ya, Mbak Alya. Semalam saya... saya mendadak lemas banget pas jalan pulang, terus ambruk di sini sampai ketiduran."
"Ketiduran gimana sampai dicurigai meninggal begini sama orang-orang!" omel Alya sambil menyeka air matanya kesal.
Warga pasar yang melihat kalau pemuda itu hanya pingsan karena kelelahan akhirnya membubarkan diri satu per satu, kembali ke lapak dagangan mereka masing-masing. Kini tinggal Bumi dan Alya yang masih terduduk di depan kios kelontong yang tutup.
Bumi mencoba menggerakkan kakinya yang kemarin dihantam balok kayu oleh Garong. Ia terbelalak kaget. Saat berdiri, ia sama sekali tidak merasakan rasa linu atau nyeri sedikit pun. Bumi melompat kecil di tempat, memutar pundaknya, dan meraba perutnya yang kemarin terasa remuk.
"Loh... kok..." gumam Bumi dengan wajah tidak percaya.
"Kenapa, Mas? Ada yang patah ya? Badan kamu sakit semua pasti, kan?" tanya Alya panik, ikut berdiri dan bersiap memegangi lengan Bumi.
Bumi menggelengkan kepala dengan cepat, matanya berbinar-binar penuh keheranan. "Enggak, Mbak. Ini aneh banget. Saya ngerasa sangat sehat sekarang! Demam saya semalam langsung hilang total, terus semua memar di badan saya rasanya udah gak sakit sama sekali. Malah... tenaga saya seolah makin bertambah berkali-kali lipat dari biasanya, Mbak. Badan saya rasanya enteng banget!"
Alya menatap Bumi dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan tidak percaya. "Jangan ngaco deh, Mas. Kemarin malam kamu itu pucat beneran kayak orang mau mati, jalan aja diseret-seret. Masa sekarang tiba-tiba langsung sehat walafiat begini? Jangan sok kuat dulu!"
"Beneran, Mbak Alya! Saya gak bohong. Lihat nih, saya gerak-gerak gini udah gak ada rasa sakitnya sama sekali," kata Bumi meyakinkan sambil mempraktikkan gerakan memukul angin dengan lincah dan bertenaga. Ramuan dari kakek misterius semalam benar-benar ajaib dan bekerja luar biasa di dalam tubuhnya.
Alya tetap menggelengkan kepalanya, raut wajah khawatirnya belum sepenuhnya hilang. Ia memegang pergelangan tangan Bumi dengan erat.
"Udah, pokoknya gak mau tahu. Sekarang Mas Bumi langsung ikut saya pulang ke warung!" ajak Alya memaksa, menarik tangan Bumi agar berjalan mengikutinya.
Bumi menahan langkah kakinya sehingga Alya tidak bisa menariknya. "Eh, mau ngapain ke warung, Mbak?"
"Ya mau dirawat lah! Ibu udah nungguin di rumah, udah nyiapin air hangat sama obat-obatan juga buat kompres luka kamu. Biar kamu bisa istirahat total di tempat yang layak dulu hari ini, gak boleh kerja dulu pokoknya!" perintah Alya dengan nada yang tidak mau dibantah.
Bumi tersenyum tipis, lalu dengan lembut melepaskan genggaman tangan Alya. "Mbak Alya... makasih banyak ya atas kebaikan Mbak dan Ibu. Tapi, saya terpaksa menolak kalau buat dirawat di warung."
"Loh, kenapa lagi sih? Kok ditolak terus dari kemarin?" tanya Alya cemberut, merasa usahanya sia-sia.
"Bukannya saya menolak niat baik Mbak, tapi seperti yang saya bilang tadi, tubuh saya sekarang beneran sudah sehat total. Malah saya ngerasa fit banget buat langsung kerja panggul lagi pagi ini di tempat Kang Bendot. Kalau saya malah tiduran di warung Mbak padahal badan saya segar begini, rasanya saya jadi orang pemalas yang gak tahu diri, Mbak," jelas Bumi dengan gaya bahasanya yang santai namun penuh pengertian.
Alya menatap mata Bumi yang jernih dan tidak lagi tampak sayu seperti kemarin. Ia mendesah panjang, menyadari kalau pemuda di depannya ini memang memiliki tekad yang sangat keras dan tidak suka merepotkan orang lain jika merasa masih sanggup.
"Kamu ini bener-bener ya, Mas... keras kepalanya gak ketulungan," gerutu Alya, namun sudut bibirnya mulai tersenyum tipis melihat Bumi sudah kembali bersemangat. "Tapi, beneran ya badan kamu udah gak apa-apa?"
"Beneran seratus persen, Mbak Alya," jawab Bumi mantap sambil menepuk dadanya sendiri, menghasilkan bunyi buk-buk yang mantap tanpa ada ringisan sakit sedikit pun.
Bumi menatap wajah Alya dengan pandangan yang sangat dalam dan tulus. Dada pemuda itu mendadak dipenuhi rasa hangat yang luar biasa, rasa hangat yang belum pernah ia rasakan sejak terusir dari tanah kelahirannya sendiri.
"Mbak Alya... terima kasih banyak ya. Saya bener-bener gak tahu harus ngomong apa lagi. Mbak Alya sampai rela nyariin saya semalaman dari subuh begini cuma karena khawatir sama kondisi kuli pasar kayak saya. Ibu juga sampai ikut repot di warung," ucap Bumi, suaranya sedikit merendah karena terharu.
Alya agak salah tingkah mendengarnya, pipinya sedikit merona merah. "Ih, apa sih, Mas Bumi. Kan udah saya bilang dari kemarin, kita kan udah berteman, jadi ya wajar kalau saling khawatir."
"Bukan cuma berteman, Mbak," potong Bumi lembut sambil tersenyum tulus. "Gara-gara perhatian dari Mbak Alya sama Ibu dari semalam, saya ngerasa... saya ngerasa kayak punya keluarga sendiri di tempat asing yang keras ini. Ibu kota yang tadinya kelihatan serem banget buat saya, sekarang kerasa jauh lebih hangat karena ada warung nasi Mbak Alya sama Ibu."
Mendengar pengakuan jujur dari Bumi, mata Alya kembali berkaca-kaca, namun kali ini karena rasa haru yang mendalam. Ia mengangguk-angguk kecil dengan senyuman termanisnya.
"Iya, Mas Bumi. Ibu juga udah menganggap Mas Bumi kayak anak sendiri kok sejak dengar cerita perjuangan Mas Bumi yang rajin. Jadi, kalau ada apa-apa atau kalau lagi kesusahan, jangan sungkan buat datang ke warung kita ya. Anggap aja itu rumah kedua Mas Bumi di sini," kata Alya tulus.
"Pasti, Mbak Alya. Kebetulan nanti siang kalau udah dapat upah panggul, saya pasti mampir buat sarapan merangkap makan siang di warung Ibu," kelakar Bumi membuat suasana tegang sejak subuh tadi akhirnya cair sepenuhnya oleh tawa renyah mereka berdua.
"Nah, gitu dong! Ya sudah, kalau emang mau langsung kerja, sana samperin Kang Bendot. Kasihan dia tadi subuh juga ikut panik pas saya tanyain urusan kamu," ujar Alya mengingatkan.
"Siap, Mbak Alya! Saya pamit ke blok barat dulu ya. Titip salam buat Ibu di warung!" pamit Bumi sambil memungut tas karung goninya dari lantai semen dengan gerakan yang sangat ringan dan bertenaga.
"Iya, nanti saya sampaikan! Kerjanya yang hati-hati, Mas Bumi! Jangan berantem sama preman lagi!" teriak Alya melambaikan tangannya saat Bumi mulai berjalan menjauh meninggalkan lorong gudang tua tersebut.
Bumi berjalan membelah keramaian pasar pagi itu dengan dada yang membusung penuh rasa optimisme baru. Rasa sakit, lelah, dan frustrasinya akibat kejadian pembegalan kemarin seolah lenyap tak berbekas, digantikan oleh kekuatan fisik misterius yang meluap-luap serta kehangatan kasih sayang dari keluarga barunya di perantauan. Tanpa ia sadari, petualangan besar hidupnya di ibu kota baru saja dimulai dari secarik memo misterius yang masih tersimpan rapi di dalam saku celana lusuhnya.