NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Suara bor mesin dan palu terdengar bergemuruh dari balik terpal biru yang menutupi bagian tengah bangunan.

Brak!

Sebongkah besar dinding bata runtuh menciptakan kepulan debu putih yang tebal.

Arka berdiri mengawasi para pekerja konstruksi yang sedang menjebol dinding pembatas antara eks restoran Elysium dan eks restoran Kusuma.

Dua bangunan raksasa itu perlahan menyatu menjadi sebuah aula makan yang luasnya bisa menampung ribuan tamu sekaligus.

"Mas Arka, spanduk pengumuman lowongan kerja sudah saya pasang di depan restoran dan saya sebarkan di sosial media." Nisa datang menghampiri sambil membawa papan jalan berisi kertas.

Nisa kini terlihat lebih profesional dengan seragam kemeja putih dan tanda pengenal bertuliskan "Manajer Operasional" di dadanya.

"Bagus Nisa, dengan luas restoran sebesar ini, kita butuh minimal tiga puluh pelayan dan sepuluh asisten koki cadangan." Arka mengangguk puas melihat asisten pertamanya itu kini berkembang pesat.

Hanya butuh waktu beberapa jam setelah pengumuman itu disebar, halaman parkir restoran Arka langsung dipenuhi oleh ratusan pelamar kerja.

Mereka semua tahu bahwa bekerja di Dapur Arka Absolute yang sedang meroket ini adalah jaminan gaji tinggi dan fasilitas mewah.

Antrean panjang terbentuk mulai dari lobi hingga ke trotoar jalan raya.

"Baiklah Nisa, kita mulai sesi wawancara kilatnya sekarang, jangan biarkan pelamar menunggu terlalu lama di bawah terik matahari." Arka berjalan menuju meja wawancara yang disiapkan di sudut lobi.

Arka duduk dengan santai sementara Nisa memanggil pelamar pertama masuk.

Seorang pemuda berpenampilan rapi dengan gel rambut tebal duduk di hadapan Arka.

"Selamat pagi Pak Arka, nama saya Toni, saya berpengalaman menjadi pelayan di hotel bintang lima selama dua tahun." Pemuda itu memperkenalkan diri dengan percaya diri.

Arka tidak banyak bicara, ia langsung mengaktifkan fitur andalannya di dalam pikiran.

"Sistem, Mata Dewa Penilai."

Layar biru transparan seketika memunculkan angka di atas kepala Toni.

[Nama: Toni]

[Potensi Bakat: 60/100 (Pelayan Standar)]

[Tingkat Loyalitas: 30/100 (Mudah disuap oleh pesaing bisnis)]

Arka tersenyum tipis dan langsung menggelengkan kepalanya.

"Maaf Mas Toni, Anda belum memenuhi kualifikasi kami, silakan coba lagi di tempat lain." Arka menolak dengan sopan namun sangat tegas.

Toni mengerutkan kening karena ia merasa pengalamannya sangat bagus, namun ia tidak berani membantah Aura Dominasi yang memancar dari Arka.

Proses penyaringan berlangsung sangat cepat bagaikan mesin sortir otomatis.

Arka hanya menerima pelamar yang memiliki tingkat loyalitas di atas angka tujuh puluh dan potensi bakat di atas enam puluh.

Ia tidak peduli pada ijazah atau pengalaman kerja mereka, selama angkanya hijau di mata sistem, ia langsung menerimanya.

"Selamat, kamu diterima, langsung ambil seragammu pada Nisa." Ucap Arka pada seorang gadis pelamar yang baru lulus SMA.

Gadis itu menangis terharu karena tidak menyangka bisa diterima tanpa tes yang rumit.

Dalam waktu dua jam, Arka telah berhasil menyaring tiga puluh pelayan baru yang semuanya memiliki loyalitas tinggi dan sifat pekerja keras.

"Mas Arka, kuota untuk asisten dapur masih kurang dua orang lagi, tapi pelamarnya tinggal sedikit." Bisik Nisa sambil memeriksa catatannya.

Tepat saat Nisa berbicara, seorang pria paruh baya melangkah masuk ke dalam lobi dengan langkah yang agak pincang.

Pria itu mengenakan pakaian kemeja flanel yang sudah pudar warnanya dan sebuah topi pet usang.

Wajahnya dipenuhi keriput dan tangannya terlihat kasar penuh bekas luka bakar tipis yang identik dengan tangan seorang koki tua.

"Permisi, apakah lowongan untuk bagian dapur masih ada Nak?" Pria tua itu bertanya dengan suara serak yang berat.

Arka menatap pria tua itu dan entah mengapa ia merasakan sebuah kedekatan emosional yang aneh.

"Masih ada Pak, silakan duduk dan perkenalkan diri." Arka mempersilakan pria itu duduk dengan sangat hormat.

"Namaku Dirga, umurku lima puluh lima tahun, aku dulu pernah bekerja sebagai koki keliling di kota ini." Pak Dirga memperkenalkan diri sambil membuka topinya.

"Sistem, gunakan Mata Dewa Penilai pada Bapak ini." Perintah Arka.

Cahaya biru memindai Pak Dirga dan memunculkan hasil yang membuat mata Arka membelalak sempurna.

[Nama: Dirga]

[Potensi Bakat: 95/100 (Koki Legendaris Tersembunyi)]

[Tingkat Loyalitas: 100/100 (Loyalitas Mutlak Berdasarkan Ikatan Darah Tak Kasat Mata)]

"Ikatan darah tak kasat mata? Apa maksudnya sistem?" Batin Arka dengan jantung yang mulai berdebar kencang.

Sistem tidak memberikan jawaban lebih lanjut, namun angka seratus persen pada loyalitas itu adalah hal yang sangat langka, bahkan mengalahkan loyalitas Nisa.

"Pak Dirga, dengan pengalaman dan tangan Anda yang penuh cerita ini, Anda langsung saya terima bekerja hari ini juga." Arka berdiri dan menjabat tangan Pak Dirga dengan hangat.

"Terima kasih Nak Arka, aku tidak akan mengecewakan kepercayaanmu." Pak Dirga tersenyum tulus hingga keriput di matanya terlihat sangat jelas.

Saat Pak Dirga hendak berbalik untuk mengikuti Nisa, mata tua itu tiba-tiba tertuju pada sebuah foto kecil yang terpajang di meja kerja Arka.

Itu adalah foto mendiang ayah Arka saat masih muda dan baru mulai merintis warung tendanya.

Langkah kaki Pak Dirga terhenti seketika dan tangannya sedikit gemetar menunjuk foto tersebut.

"Nak Arka, apakah pria di foto ini adalah ayahmu?" Tanya Pak Dirga dengan suara yang tiba-tiba bergetar menahan emosi.

"Benar Pak, itu adalah almarhum ayah saya yang mewariskan warung tenda kecil dulu." Jawab Arka dengan nada sedikit bingung.

Air mata perlahan menggenang di pelupuk mata Pak Dirga yang mulai memerah.

"Ya Tuhan, pantas saja aku merasa sangat mengenali wajahmu dan nama restoranmu ini." Pak Dirga mengusap matanya dengan punggung tangannya yang kasar.

"Arka, aku adalah adik kandung dari ayahmu, aku adalah pamanmu yang sudah pergi merantau puluhan tahun lamanya." Pengakuan Pak Dirga itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.

Arka terdiam mematung, ia mencoba mencerna kalimat yang baru saja ia dengar.

Ayahnya memang pernah bercerita bahwa ia memiliki seorang adik laki-laki yang kabur dari rumah saat masih muda untuk mengejar mimpi menjadi koki di kapal pesiar.

"Paman Dirga? Apakah ini benar-benar Paman?" Arka berjalan maju dan menatap wajah pria tua itu lebih dekat.

"Maafkan Paman karena tidak pernah pulang saat ayahmu masih hidup dan saat kau sedang kesusahan Arka." Pak Dirga memeluk Arka dengan sangat erat.

Arka membalas pelukan itu dengan perasaan haru yang luar biasa, ia tidak menyangka akan menemukan keluarga kandungnya yang tersisa di tengah proses wawancara kerja.

Inilah penjelasan logis mengapa sistem mencatat tingkat loyalitas seratus persen yang didasari oleh ikatan darah.

"Paman tidak perlu meminta maaf, Paman pulang di saat yang sangat tepat." Arka melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar.

"Dengan pengalaman Paman sebagai koki legendaris, kita akan mengubah Dapur Arka Absolute menjadi restoran nomor satu di negara ini." Ucap Arka dengan kobaran semangat yang menyala-nyala.

"Aku akan memberikan semua ilmu masak yang kumiliki untuk membantumu Arka, ini adalah sumpahku sebagai pamanmu." Pak Dirga menjawab dengan tekad yang tak kalah membara.

Kehadiran Pak Dirga di dalam dapur Arka membawa perubahan yang sangat masif pada manajemen masak mereka.

Keesokan harinya, saat dinding pembatas dua gedung itu selesai diruntuhkan dan dibersihkan, Arka berdiri di tengah aula raksasa restorannya.

Deretan puluhan meja marmer tertata sangat rapi, memancarkan aura kemewahan yang elegan.

Puluhan pelayan berseragam rapi berdiri berbaris mendengarkan instruksi terakhir dari Nisa.

Sementara di dalam dapur bintang empat, Pak Dirga dengan cekatan memimpin sepuluh asisten koki cadangan.

Kemampuan Pak Dirga dalam mengatur ritme pemotongan bahan baku dan persiapan bumbu dasar sungguh luar biasa, sangat pantas menyandang nilai potensi sembilan puluh lima dari sistem.

"Dengan bantuan Paman Dirga, aku kini bisa fokus seratus persen hanya pada proses memasak utama tanpa harus kelelahan menyiapkan bahan." Batin Arka dengan lega.

Teng teng teng!

Suara lonceng raksasa di depan restoran dibunyikan, menandakan Dapur Arka Absolute resmi dibuka kembali dengan kapasitas gabungan yang baru.

"Silakan masuk Bapak Ibu sekalian, selamat datang di kekaisaran kuliner kami!" Nisa menyambut para pelanggan dengan suara lantang dan senyum merekah.

Ribuan pelanggan yang sudah rindu dengan masakan Arka langsung membanjiri aula raksasa itu seperti air bah.

Dalam waktu kurang dari satu jam, ratusan porsi sop buntut dan sate sapi lumer sudah tersaji di meja-meja pelanggan.

Kecepatan penyajian restoran itu meningkat hingga tiga kali lipat berkat sinergi antara sistem otomatisasi Arka dan manajemen dapur Pak Dirga.

[Kemajuan Misi Keempat: 3.500 / 10.000 Pelanggan.]

Layar biru sistem terus memperbarui angka kemajuan misi Arka dengan kecepatan yang mengagumkan.

Arka tidak henti-hentinya tersenyum sambil mengayunkan kualinya.

Ia kini memiliki kekayaan, fasilitas bintang empat, keluarga yang kembali pulang, dan tim yang sangat loyal.

Namun, Arka tahu bahwa kesuksesan yang terlalu cepat pasti akan mengundang predator baru yang jauh lebih besar dan buas daripada keluarga Kusuma.

Srenggg! Wushhh!

Arka menatap api biru di kompornya, bersiap menghadapi badai apa pun yang akan mencoba menghalangi jalannya untuk menjadi Dewa Kuliner sejati.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!