NovelToon NovelToon
ASI, Untuk Majikanku

ASI, Untuk Majikanku

Status: tamat
Genre:Tamat / CEO / Romansa
Popularitas:406.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Lusica Jung 2

Aneh Tapi Nyata. Nathan mengidap sebuah penyakit yang sangat aneh dan langka. Dia selalu bergantung pada Asi untuk menjaga kestabilan tubuhnya. Hampir setiap bulan sekali penyakitnya selalu kambuh sehingga Nathan membutuhkan Asi untuk mengembalikan tenaganya. Pada suatu ketika, stok ASI yang dia miliki benar-benar habis sementara penyakitnya sedang kambuh. Kedatangan Vivian, pelayan baru di kediaman Nathan mengubah segalanya. Mungkinkah Nathan bisa sembuh dari penyakit anehnya, atau dia harus terus bergantung pada Vivian? Hanya waktu yang mampu menjawab semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Malam Yang Mengairahkan

Derit ranjang dan dessahan Vivian memecah kesunyian malam. Nathan menggenggam tangan Vivian sambil mellumat bibirnya dengan ganas.

Tubuhnya bergerak dengan ritme intens, setiap gerakan penuh gaiirah. Pakaian mereka berserakan di lantai, tanda dari gaiirah yang membara dan malam yang penuh keintiiman. Kedua tubuh mereka menyatu dalam tarian penuh hasrat, membawa mereka ke puncak kenikmatan yang tak terucapkan.

Vivian menggigit bibirnya untuk menahan dessahan yang semakin keras. Nathan terus menggerakkan tubuhnya dengan kecepatan yang meningkat, setiap gerakan lebih dalam dan kuat. Keringat mengalir di dahi mereka, menambah keintiman malam itu. Vivian melingkarkan kakinya di pinggang Nathan, memperdalam koneksi mereka.

"Kau menikmatinya, sayang," bisik Nathan di telinga Vivian, suaranya serak dan penuh gaiirah.

Vivian hanya bisa mengangguk, terlalu larut dalam gelombang sensasi yang menyerangnya. Tangannya mencengkram kuat bahu Nathan, merasakan setiap otot yang tegang dan bergerak. Rasa sakit dan kenikmatan bercampur, membawa mereka ke ambang batas yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

Dessahan dan bisikan mereka memenuhi ruangan, hingga akhirnya dengan satu gerakan terakhir yang dalam, mereka mencapai puncak bersama-sama. Tubuh mereka gemetar, napas terengah-engah, namun ada senyum kecil di wajah keduanya, tanda kepuasan yang telah mereka raih bersama.

Nathan mengakhirinya dengan mencium bibir Vivian sebelum beranjak dari atas tubuhnya. Tubuh mereka masih terhubung oleh sisa-sisa keintiiman yang baru saja mereka bagikan.

"Kalau lelah, langsung tidur saja," ucap Nathan dengan nada lembut yang jarang terdengar. Dia mengecup kening Vivian, memberikan sentuhan terakhir sebelum bangkit dan menuju kamar mandi.

Vivian menatap Nathan yang perlahan menjauh, perasaan hangat masih memenuhi dirinya. Dia menutup matanya, merasakan kelelahan yang menyenangkan setelah malam yang penuh gairah. Suara air mengalir dari kamar mandi membuatnya merasa tenang, dan dalam beberapa menit, dia terlelap dalam tidur yang dalam dan nyenyak.

Setelah membersihkan diri, Nathan mengenakan pakaiannya kembali dan berjalan menuju ruang keluarga. Langkahnya tenang, namun pikirannya sibuk. Dia mengambil sebatang rokok dari laci dan menyalakannya, menghirup dalam-dalam asap yang menenangkan. Dengan satu tangan, dia menuang segelas wine merah, warna merah tua berkilau di bawah cahaya lampu.

Nathan duduk di sofa, menghadap jendela besar yang memperlihatkan pemandangan malam yang tenang. Dia menatap ke luar, pandangannya kosong meski pikirannya penuh. Asap rokok yang dihembuskannya berputar-putar di udara sebelum lenyap, menyatu dengan keheningan malam.

"Sudah dua hari sejak Arnold keluar dari penjara," pikir Nathan sambil menyeruput wine-nya. Dia merenung tentang ancaman yang mungkin datang, namun ekspresinya tetap tenang. Dia tahu dunia yang dia masuki penuh bahaya, dan dia selalu siap menghadapinya.

Nathan menghisap rokoknya sekali lagi, merasakan nikotin yang menenangkan sarafnya. Pikirannya kembali pada Vivian, wanita yang tanpa sadar telah merubah hidupnya. Senyum tipis terlintas di wajahnya, senyum yang hanya muncul saat dia memikirkan Vivian.

Waktu berlalu, malam semakin larut. Nathan menghabiskan wine-nya dan memadamkan rokok terakhirnya. Dia berdiri, meregangkan tubuh sebelum melangkah kembali ke kamar. Ketika dia membuka pintu, dia melihat Vivian yang tertidur pulas di tempat tidur, wajahnya terlihat damai dan lelah.

Nathan berbaring di samping Vivian, hati-hati agar tidak membangunkannya. Dia menarik selimut, menutupi tubuh mereka berdua. Dengan satu tangan, dia merengkuh Vivian, memeluknya dengan lembut. Dia tahu, malam ini adalah malam yang panjang dan melelahkan, namun ada perasaan tenang yang menyelimuti dirinya.

"Selamat malam," bisiknya, meskipun dia tahu Vivian tidak bisa mendengarnya.

Dengan mata terpejam, Nathan membiarkan dirinya terhanyut dalam tidur, ditemani oleh wanita yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Malam yang panjang dan penuh kehangatan kini berakhir dengan kedamaian yang tenang.

***

Sang rembulan telah kembali ke singgasananya, dan mentari mulai menampakkan diri di ufuk timur. Cahaya lembut pagi menembus tirai jendela, mengusir sisa-sisa kegelapan malam. Nathan membuka matanya perlahan, merasakan kehangatan tubuh Vivian di sampingnya.

Nathan tersenyum tipis. "Kau benar-benar sangat cantik, Vivian, bahkan ketika tidur pun kau terlihat begitu cantik." ucapnya setengah berbisik.

Vivian masih tertidur lelap, wajahnya damai dan cantik dalam sinar matahari pagi. Nathan meraih sehelai rambut yang jatuh di wajahnya, menyelipkannya dengan lembut di balik telinga. Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya melihat Vivian yang begitu tenang. Dia perlahan-lahan bangkit, berusaha untuk tidak membangunkannya, dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Usai membersihkan diri, Nathan menuju dapur. Pikiran tentang tugas-tugas yang menanti sudah mulai memenuhi kepalanya. Dia menyiapkan secangkir kopi hitam, menyesapnya perlahan sambil merenung. Pikirannya kembali pada Arnold dan ancaman yang mungkin datang.

Setelah menyiapkan kopi, Nathan menuju ruang kerjanya, membawa setumpuk dokumen yang harus diperiksa dan ditandatangani. Dia duduk di meja kerjanya, membuka laptop dan mulai bekerja. Suara ketikan keyboard memenuhi ruangan, menandakan kesibukan yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Sementara itu, Vivian terbangun dari tidurnya. Dia merenggangkan tubuhnya, menghirup udara pagi yang segar. Memandang ke arah jendela, dia tersenyum melihat sinar matahari yang cerah. Dia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke dapur dan mendapati secangkir kopi yang sudah disiapkan Nathan. Vivian tersenyum, merasakan perhatian kecil yang selalu diberikan suaminya.

Vivian kemudian menuju ruang kerja Nathan. Dia melihat suaminya yang sudah tenggelam dalam tumpukan dokumen. "Selamat pagi," sapa Vivian dengan lembut.

Nathan menoleh dan tersenyum tipis. "Selamat pagi," balasnya singkat, matanya kembali fokus pada layar laptop. "Kau sudah bangun?" Vivian mengangguk menjawab pertanyaan Nathan.

Vivian mendekat, meletakkan tangannya di bahu Nathan. "Kau bekerja terlalu keras. Jangan lupa untuk beristirahat," ucapnya.

Nathan mengangguk pelan. "Aku tahu. Aku akan istirahat nanti. Ada banyak hal yang harus diselesaikan," jawabnya dengan nada datar, namun ada kelembutan dalam matanya yang hanya ditunjukkan pada Vivian. "Apa kau tidur dengan nyenyak?"

"Ya," Vivian mengangguk. "Hanya saja Miss-V-ku terasa sedikit nyeri, semalam kau sangat brutal Nathan."

Nathan terkekeh ringan. "Maaf. Baiklah, lain kali aku akan melakukannya dengan lebih lembut lagi, aku janji."

Vivian tersenyum dan segera mencium pipi Nathan sebelum beranjak pergi. "Baiklah. Aku akan menyiapkan sarapan. Jangan terlalu lama di sini," katanya sambil berjalan keluar dari ruang kerja Nathan.

Nathan menghela napas panjang, merasakan sedikit beban yang terangkat. Dia melanjutkan pekerjaannya, namun kini dengan pikiran yang sedikit lebih tenang, dia tau Vivian selalu ada di sisinya. Hari yang cerah ini adalah awal dari perjalanan baru hidup mereka, namun bersama Vivian, Nathan merasa lebih siap menghadapi apa pun yang datang di masa depan.

***

Bersambung

1
Uniie Gentra
maaf thor baru aja pindah kamar koq nathan udah bilang kita sudah resmi menjadi suami istri nikahnya juga kan belom trus tadi nathan bilang akan mempersiapkan dokumen untuk pernikahan mereka....aku agak bingung di situasi itu
imhe devangana
tokyo atau london thor?
imhe devangana
untung doni disini ngk sprti crt lain klu di tolak akan melakukan apa sj yg penting bisa bersama wanita yg dicintai.mungkin doni cm kagum sj bkn cinta atau obsesi.😁😁😁😁
imhe devangana
Arnold salah langkah,harusnya dia ngk melibatkan viviant akibtnya adiknya yg ngk th apa2 pun jd sasaran nathan.sdh th nathan mengerikan
imhe devangana
jngn sampai nnti monica keluar dr rumah xi & bertm dg Arnold dan membocorkan semua rahasia nathan klu vivian orng plng berhrg buat dia
imhe devangana
thor apakah nathan seorng ketua Mafia?
Ruk Mini
cakep..man hrs tangguh nenk
Ruk Mini
bisa ye penuh luka msh bermesraan.. hadeuhhhhh bank..bank
Ruk Mini
sadizzzz
Ruk Mini
cpt cetak junior mu bank
Ruk Mini
cb dr kmren..ga bakal kehilangan kn bank..
Ruk Mini
ga tau ape tuan y kejam .main2 ..kena akibat y kn
Ruk Mini
ko bisa lolos..bukan y sgt ketat penjagaan y🥹
Ruk Mini
cacat .. tpi cakep ok lh
Ruk Mini
lg tgl nikmati aje pake berulah
Ruk Mini
usil y kelewatan kau babank imutz
Ruk Mini
lg ngg2 yg lancang dpt akibatnya
Ruk Mini
cari gara2 sih
Ruk Mini
slalu ada waktu untuk bermesraan
Ruk Mini
senang y bank..org kota k desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!