Nikayla Pramusti yang sedang menempuh gelar S1 di salah satu kampus ternama di Yogyakarta, tidak sengaja bertemu dengan Arka Raditya Pratama. Awalnya mereka hanya berteman, tapi waktu terus berlalu dan tumbuh benih-benih cinta diantara mereka.
Disaat Nikayla dan Arka berniat untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, tiba-tiba ayah Nikayla jatuh sakit dan meminta Nikayla untuk menikah dengan laki-laki pilihan ayahnya.
Nikayla kini tengah berada di posisi yang sulit untuk menentukan pilihan. Di satu sisi ia sangat mencintai Arka dan di sisi lain ia nggak mau memperburuk keadaan ayahnya yang kini sedang sakit jika ia menolak perjodohan ini.
Disaat ia harus memilih salah satu antara Arka dan ayahnya, manakah yang akan dipilih Nikayla? Apakah dia akan menerima perjodohan itu dan meninggalkan Arka? atau dia akan menolak perjodohan itu dan bersatu dengan Arka, lelaki yang sangat dia cintai.
Ikuti terus ceritanya..selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rosshie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan aku..
Malam sebelum pernikahan..
Kay duduk termenung didalam kamar, ini adalah malam terakhir dia melajang, karena besok dia akan menikah dengan Ardi. Kay teringat akan Arka. Dia sangat merindukan Arka, ingin sekali Kay melarikan diri dari pernikahan ini dan berlari menemui Arka.
Terdengar suara pintu di ketuk.
Tokk..tokk..tokk..
"Sayang, boleh Bunda masuk," ucap Merisa.
"Masuk saja, Bun," sahut Kay dari dalam kamar. Merisa membuka pintu.
"Kamu belum tidur sayang?" Merisa melangkah masuk kedalam kamar Kay.
"Belum mengantuk, Bun." Kay duduk di sofa.
Merisa menghampiri Kay dan duduk di samping Kay.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Merisa sambil menatap wajah anaknya yang terlihat begitu sedih.
"Bun, Kay nggak mau menikah. Kay nggak bisa menikah dengan orang yang enggak Kay cintai. Kay hanya ingin menikah dengan Arka, karena hanya Arka yang sangat cintai," ucap Kay, tanpa sadar air mata menetes membasahi kedua pipinya.
"Sayang, lupakanlah Arka, dia bukan jodoh kamu sayang. Besok kamu akan menikah dengan Ardi, jangan kecewakan Ayah kamu sayang," ucap Merisa sambil memeluk Kay.
"Gimana caranya Kay melupakan Arka, Bun. Sampai sekarang saja Kay belum memberitahu Arka kalau Kay akan menikah. Kay nggak sanggup memberitahunya, Kay nggak mau menyakitinya, Bun," ucap Kay disela tangisannya.
Merisa membelai rambut Kay dengan sangat lembut. Kay memeluk erat tubuh mamanya.
"Sayang, dengan kamu tidak memberitahu Arka tentang ini, maka kamu akan menambah sakit di hatinya."
"Kay nggak mau kehilangan Arka, Bun. Kay nggak mau Arka menjauh."
Tiba-tiba ponsel Kay berbunyi. Merisa mengambil ponsel dari atas meja.
"Siapa, Bun?"
"Arka."
"Sini, Bun, biar Kay yang angkat," pinta Kay.
"Nggak sayang, mulai malam ini ponsel kamu Bunda pegang, kamu nggak boleh bicara sama Arka. Kamu harus melupakannya, kalau sampai ayah kamu tau, Bunda nggak tau apa yang akan terjadi sama ayah kamu," tolak Merisa.
"Tapi, Bun--"
"Nggak sayang, Bunda melakukan ini demi kebaikan kamu."
Kay menatap mamanya dengan tatapan sendunya, bahkan Kay rela berlutut didepan mamanya. Gadis itu memohon kepada mamanya agar bisa berbicara dengan Arka untuk terakhir kalinya. Merisa tidak tega melihat anaknya berlutut didepannya.
"Sayang bangunlah, Bunda akan membiarkan kamu bicara sama Arka, tapi sekali ini saja itu pun didepan Bunda."
Kay langsung berdiri dan memeluk mamanya dengan sangat erat. Kay berterima kasih kepada mamanya. Dengan senyuman yang mengembang Kay mengangkat telfon dari Arka.
"Halo sayang," sahut Kay dengan suara paraunya.
"Kamu kenapa sayang? apa kamu habis menangis?" Tanya Arka cemas.
"Aku nggak apa-apa kok, aku menangis karena aku sangat merindukanmu," ucap Kay berbohong.
Merisa menatap Kay dan mendengar percakapan Kay dengan Arka, karena Kay melouspaker ponselnya atas permintaan mamanya.
"Aku juga merindukanmu sayang, disini aku sangat kesepian karena tidak ada kamu," ucap Arka dengan wajah sedihnya.
"Sayang, aku minta maaf ya," ucap Kay.
"Minta maaf untuk apa? kamu kan nggak ada salah sama aku," ucap Arka bingung.
"Sayang, jika dengan sengaja aku sudah menyakiti hati kamu, apa kamu akan memaafkan aku, apa kamu akan membenciku?"
"Aku tau jika kamu melakukan kesalahan dan menyakiti hati aku itu bukan karena disengaja, tapi itu kamu lakukan demi kebaikan aku, aku nggak akan membencimu, karena aku sangat mencintaimu."
Air mata Kay menetes dan membasahi kedua pipinya, rasanya semakin sesak dia rasakan.
"Sayang aku minta maaf dan jangan pernah kamu maafkan kesalahan aku ini, bencilah aku, aku nggak pantas untuk kamu cintai," ucap Kay disela tangisannya.
"Ada apa sayang? apa ada sesuatu terjadi padamu? kasih tau aku," ucap Arka cemas.
"Sayang, aku berharap kamu akan bahagia," ucap Kay dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Tentu aku akan bahagia sayang, karena kamu ada di samping aku, aku akan segera menikahi mu dan menjadikan kamu milikku seutuhnya."
"Sayang, apa kamu ingat kata-kata aku saat terakhir kali kita bertemu, jika kamu tau sesuatu akan berakhir buruk sanggupkah kamu menghentikannya di saat semua masih terasa indah," ucap Kay sambil menghapus air matanya.
"Tentu aku ingat, saat itu aku menjawab aku akan menghentikannya, karena aku ingin akhir yang bahagia."
"Tapi aku nggak sanggup sayang, walau aku akan menderita akhirnya, tapi aku tetap nggak sanggup untuk menghentikannya."
Merisa tidak menyangka cinta Arka begitu besar kepada Kay, dia tidak tega melihat Kay menangis. Dia mengambil ponsel Kay dan mematikan telfonnya.
"Sudah cukup sayang, Bunda nggak tega melihatmu semakin menderita lagi, lupakanlah Arka," ucap Merisa sambil menghapus air mata Kay.
"Kau sudah mengatakan apa yang harus Kay katakan sama Arka, semoga dia bisa bahagia tanpa Kay," ucap Kay sambil memeluk tubuh mamanya.
"Sekarang kamu istirahat, besok adalah hari pernikahan kamu. Bunda ingin kamu terlihat cantik di hari bahagia kamu."
"Itu bukan hari bahagia aku, Bun. Tapi itu adalah awal dimulainya penderitaan aku, dimana aku harus hidup dengan orang yang nggak aku kenal, bahkan aku nggak mencintainya, kebahagiaan ini hanya untuk Ayah dan Bunda, bukan untuk aku," gumam Kay dalam hati.
"Sekarang Bunda akan meninggalkanmu agar kamu bisa istirahat." Merisa berdiri dan keluar dari kamar Kay.
"Apa Kay sudah tidur, Bun?" Tanya David.
"Baru mau tidur, Yah. Dia sangat gugup untuk acara besok," ucap Merisa berbohong.
Merisa tidak ingin membuat suaminya khawatir, jika dia mengetahui Kay baru saja menangis dan ingin membatalkan pernikahannya.
"Kenapa Ayah belum tidur?"
"Ayah nggak bisa tidur, Ayah sudah nggak sabar menanti hari esok dan melihat Kay menikah."
"Bunda juga sudah nggak sabar ingin melihat Kay menikah," ucap Merisa dengan menampakkan senyum palsunya.
"Apa yang Ayah lakukan sudah benarkan, Bun. Kay akan bahagiakan, Bun?"
"Tentu Kay akan bahagia, Yah, karena Ardi itu anak yang baik."
"Semoga Kay bahagia, semoga Ardi bisa membuat Kay melupakan Arka, semoga Kay mau menerima Ardi sebagai suaminya dan belajar untuk mencintainya, semoga saja, Yah," gumam Merisa dalam hati.
"Sekarang ayo kita tidur, karena besok adalah hari bahagia untuk Kay," ajak Merisa.
"Baik, Bun. Ayah juga ingin kelihatan bugar besok pagi," ucap David sambil tersenyum.
~oOo~
Cerita aku yang ini benar-benar tidak mendapat respon dari para reader ya, mungkin cerita aku benar-benar membosankan..😔😔😔, hanya tinggal kasih like saja sulit..tinggal nulis coments saja sulit..😔😔😔 author jadi nggak semangat menulis nie..😔😔😔 hasil karyaku jelek banget ya menurut kalian semua..😢😢😭😭
semangat arka 💪💪