Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.
Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. Dua Arah
Rencana yang Bergerak Bersamaan
Kesibukan Adit tidak lagi bisa disebut biasa. Dalam beberapa minggu terakhir, ritme hidupnya berubah perlahan tapi pasti. Jika dulu ia masih bisa pulang sebelum jam makan malam, kini jarum jam sering sudah melewati angka sebelas saat pintu rumah terbuka.
Malam itu pun sama.
Lampu ruang tamu masih menyala. Naya duduk di sofa dengan punggung bersandar, sebuah map tipis terbuka di pangkuannya. Ia tidak menyalakan televisi. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan menemani penantiannya.
Saat pintu dibuka, Naya menoleh.
“Kamu baru pulang?” tanyanya lembut.
Adit mengangguk sambil melepas sepatu. Wajahnya lelah, dasinya sudah dilonggarkan. “Iya. Maaf, rapatnya molor.”
“Masuk dulu. Aku bikinin teh hangat.”
Adit tersenyum tipis. Ia tahu Naya tidak akan bertanya macam-macam. Perempuan itu selalu tahu kapan harus bicara, dan kapan memilih diam.
Di ruang makan, Adit duduk sambil memijat pelipis. Teh hangat mengepul di depannya, tapi belum juga disentuh.
“Kerjaan kamu makin berat?” tanya Naya akhirnya.
Adit terdiam sejenak sebelum mengangguk. “Iya. Proyek yang aku pegang berkembang lebih besar dari rencana awal. Sekarang dampaknya ke banyak divisi.”
Ia tidak menceritakan semuanya. Tentang rapat tertutup sore tadi. Tentang satu pertanyaan yang membuatnya berpikir lama.
‘Kamu siap kalau tanggung jawabmu ditambah?’
Pertanyaan itu tidak terdengar seperti basa-basi. Adit tahu, jika jawabannya salah, langkahnya bisa berhenti di situ. Dan jika jawabannya benar, hidupnya tidak akan sama lagi.
“Aku bilang aku siap,” ujar Adit pelan.
Naya hanya mengangguk. “Kalau itu hasil kerja keras kamu, jalani saja.”
Tidak ada kalimat penyemangat berlebihan. Tidak ada tuntutan. Justru itu yang membuat Adit merasa sedikit sesak. Ia sadar, semakin tinggi tanggung jawabnya, semakin sedikit waktu yang bisa ia beri.
Malam itu, mereka tidur tanpa percakapan panjang. Bukan karena masalah, tapi karena masing-masing sedang memikul pikirannya sendiri.
Pagi harinya, Naya sudah bersiap sejak subuh. Ia mengenakan pakaian sederhana, kerudung berwarna netral, dan sepatu datar yang nyaman. Setelah memastikan rumah dalam keadaan rapi, ia berangkat menuju lokasi tanah yang baru ia beli.
Udara pagi masih sejuk ketika ia tiba. Tanah kosong itu kini tidak lagi benar-benar kosong. Beberapa tumpukan material sudah tersusun rapi. Seorang mandor berdiri bersama tiga pekerja, menunggu kedatangannya.
“Selamat pagi, Bu Naya,” sapa sang mandor sopan.
“Pagi,” jawab Naya singkat. “Kita langsung lihat rencananya.”
Mandor itu membuka gambar kasar bangunan di atas kap mobil. Naya berdiri di sampingnya, memperhatikan setiap garis dengan saksama.
“Bangunan dua lantai, Bu,” jelas sang mandor. “Lantai bawah sepuluh kamar, lantai atas sepuluh kamar. Tangga di tengah supaya aksesnya seimbang.”
“Ukuran kamar?” tanya Naya.
“Tiga kali empat.”
Naya menggeleng pelan. “Tiga setengah kali empat. Biar lebih lega.”
Mandor itu mencatat cepat. “Baik, Bu.”
Naya lalu bertanya tentang ventilasi, pencahayaan, sistem air, hingga jalur pembuangan. Tidak ada satu pun yang ia lewati begitu saja. Baginya, kosan ini bukan proyek coba-coba. Ini adalah rencana jangka panjang yang ia bangun dari perhitungan matang.
“Saya tidak mau asal cepat,” ujar Naya tegas. “Yang penting kuat dan nyaman.”
Mandor itu mengangguk penuh hormat. Ia terbiasa menghadapi pemilik yang hanya menekan soal biaya. Naya berbeda. Ia tahu apa yang ia inginkan, dan tahu mengapa itu penting.
Setelah diskusi selesai, para pekerja mulai bersiap. Naya berdiri agak menjauh, menatap tanah itu sekali lagi. Dalam benaknya, ia membayangkan bangunan dua lantai berdiri tegak. Kamar-kamar yang kelak terisi. Kehidupan orang-orang yang akan datang dan pergi.
Ada rasa puas yang tenang. Tapi juga kesadaran bahwa semakin besar yang ia bangun, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Di tempat lain, Raka menutup map tebal di hadapannya dengan wajah serius. Masalah di cabang perusahaan itu jauh lebih rumit dari perkiraannya. Angka-angka di laporan tidak masuk akal. Ada kebocoran yang tidak bisa dibiarkan.
Ia segera menghubungi Sagara.
“Bang, aku harus ke luar kota hari ini,” kata Raka tanpa basa-basi. “Cabang timur bermasalah. Kalau nggak segera dibereskan, bisa panjang urusannya.”
Sagara terdiam di seberang sana. “Penyelidikan soal perempuan itu?”
“Terpaksa aku tunda dulu,” jawab Raka jujur. “Aku nggak bisa bagi fokus.”
Sagara menghela napas pelan. Ada kekecewaan yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya, namun logikanya berkata lain. “Perusahaan memang harus didahulukan. Lanjutkan nanti kalau sudah selesai.”
“Baik, Bang.”
Raka mematikan telepon. Ia bersandar di kursi, menatap langit-langit. Nalurinya mengatakan perempuan itu bukan kebetulan. Tapi untuk saat ini, tugasnya jelas.
Beberapa jam kemudian, ia sudah berada di bandara, meninggalkan kota dengan satu urusan belum selesai.
...****************...
Selamat pagi readers selamat membaca
Like komennya dong..
Masa lalu adit sudah mendekat begitu juga masa depan untuk naya sedikit sedikit sudah mulai terbuka..
Pantengin terus ya.. Terimakasih love you all..